My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 103 : Pedih



Penerbangan antar negara yang memakan waktu hampir 40 jam, menjadikan banyak dari penumpang memilih untuk tidur di tempat duduk masing-masing. Saat pesawat mulai mengudara.


Pesawat yang sudah berada di ketinggian mulai terbang dengan stabil, dan membuat para penumpang merasa bosan dan mengantuk.


Namun saat penerbangan baru sekitar satu setengah jam, semua penumpang yang memilih untuk memejamkan mata dan beristirahat harus terbangun dari tidur mereka, suara sirine dan warning dari kru pesawat yang memberitahukan bahwa salah satu bagian mesin dari pesawat itu mengalami gagal fungsi.


Semua merasa panik, apalagi saat para pramugari menyuruh semua penumpang untuk menggenakan pelampung, karena pesawat yang semakin oleng dan saat ini mereka berada diatas ketinggian 3550 mdpl, di sekitar selat Mentawai, di sebelah barat pulau Sumatera.


Pilot yang berusaha untuk menyelamatkan para penumpang memutuskan untuk mencari daratan yang terdekat, di arahkan pesawat menuju gunung kerinci yang tidak jauh dari posisi pesawat saat ini.


Dalam pikiran sang pilot, jika memang nantinya akan ada korban, setidaknya mayat mereka bisa ditemukan jika berada di daratan.


Pesawat berusaha mendarat disekitar perkebunan teh yang sangat luas, namun karena laju kecepatan pesawat yang tinggi dan mesin sudah tidak dapat dikontrol oleh sang pilot, pesawat mendarat dengan kecepatan tinggi masuk kedalam hutan lebat di gunung kerinci.


Bagian depan pesawat mulai mengeluarkan percikan api, semua di himbau untuk menyelamatkan diri dan keluar dari badan pesawat, ada beberapa penumpang yang pingsan karena shock, Alma dan Akio saling berpegangan tangan untuk keluar dari kabin pesawat.


Namun karena semua berusaha keluar secara bersamaan terjadi aksi saling dorong, dan naas percikan api mulai merambat ke bagian tengah pesawat karena bahan bakar pesawat yang bocor.


Api semakin besar saat Alma berada di pintu pesawat untuk keluar, masih ada banyak penumpang lain yang ada di dalam pesawat, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman keras.


Blung.......


Seketika pesawat meledak dan api menyambar keseluruhan bagian pesawat. Akio mendekap erat tubuh Alma, berusaha melindungi Alma agar tidak terbakar hidup-hidup.


Semua penumpang yang masih berada di dalam pesawat terbakar hidup-hidup, bahkan karena pesawat yang meledak, tubuh mereka yang masih berada di dalam pesawat pun ikut amburadul tak berbentuk.


Sedangkan penumpang yang sudah berhasil keluar kabin, dan beberapa yang sudah turun dari pesawat seperti Akio dan Alma terlempar cukup jauh dari posisi mereka masing-masing.


Alma pun pingsan dalam dekapan Akio, yang Alma ingat Akio langsung memeluknya dan mereka berdua terlempar cukup jauh dari posisi mereka.


Beberapa jam kemudian Alma baru tersadar dari pingsannya, namun saat dia bangun keadaan hutan yang awalnya hijau sudah berubah menjadi lahan luas sisa kebakaran. Semuanya gosong dan gersang.


Dengan tubuh penuh luka, Alma berusaha melihat keadaan sekitarnya, tak jauh dari posisi Alma, dia bisa melihat sosok yang sudah hangus terbakar namun Alma masih bisa mengenal jam tangan yang dikenakannya. Jam tangan anti air, juga anti bakar, satu-satunya yang masih dikenal Alma dari tubuh Akio yang sudah gosong tak bisa dikenal.


Susah payah Alma berusaha bangkit dari posisinya, dan menghampiri tubuh Akio yang membujur tak bergerak tak jauh dari posisinya, namun usahanya tidak membuahkan hasil, luka bakar di bagian kaki dan beberapa bagian tubuh lainnya membuatnya kesakitan untuk bisa berdiri.


Terdengar bunyi helikopter yang terbang tak jauh dari posisi Alma tergeletak, namun helikopter itu terbang semakin menjauh dan tak mendarat disana.


" Tolong.....!", isak Alma berusaha minta tolong, namun suaranya terdengar begitu lirih dan tak mungkin bisa terdengar dari posisi helikopter itu.


Suara helikopter semakin menjauh dan hilang, Alma menatap sekitar, di lihatnya tak jauh dari posisi Akio, ada salah satu jasad yang tubuhnya sedang dikoyak oleh seekor harimau. Alma semakin takut, sepertinya tinggal dirinya yang masih bernafas, beberapa tubuh yang terlempar dan bisa dilihatnya sudah tak bergerak sama sekali sejak tadi, dengan keadaan hangus.


Alma juga sangat takut jika sampai harimau itu mengincarnya, semoga saja harimau itu sudah kenyang dengan memakan satu tubuh manusia yang sedang di koyaknya. Dan berharap segera datang tim SAR, karena kejadian kecelakaan pesawat mungkin sudah beberapa jam yang lalu, karena hari semakin gelap, pertanda siang hampir usai berganti dengan malam yang dingin.


Masih belum ada tanda-tanda pertolongan datang, hanya suara hewan liar dari dalam hutan, suara burung hantu dan juga suara serangga malam khas di daerah pedalaman yang masih asri. Semua suara hewan itu membuat suasana semakin menakutkan, seperti di film-film horor.


Malam semakin gelap, hanya cahaya rembulan yang membuat kawasan sisa kebakaran menjadi sedikit lebih terang, harimau itu masih ditempatnya, tengah menikmati rejeki nomplok karena banyaknya mayat yang tergeletak disekitarnya.


Harimau yang sudah memakan beberapa bagian tubuh dari jasad di sebelah Akio, namun tiba-tiba pergi dan berlari begitu cepat saat terdengar bunyi sirine ambulan dan mobil patroli polisi. Yang sayup-sayup terdengar dari jalanan di bawah sana.


Alma sudah tidak berdaya, dirinya terpental cukup jauh dari posisi badan pesawat. Kemungkinan Tim SAR menemukannya akan memakan waktu cukup lama, dirinya sudah merasa kehausan dan juga kelaparan.


Saat ini sudah tengah malam, namun tim SAR baru bisa menemukan titik terjatuhnya badan pesawat, dan perjalanan dari daerah terdekat menuju gunung kerinci di posisi badan pesawat jatuh cukup memakan waktu.


Hanya doa yang terus Alma lantunkan didalam hatinya. Tenaganya semakin habis, bahkan untuk bergerak saja dia merasa tubuhnya seakan remuk tak berdaya.


Sekitar satu jam kemudian Alma mendengar bunyi berisik dari corong toa, dan ada beberapa cahaya senter, namun posisinya masih cukup jauh di bawah sana. Alma hanya berharap dirinya bisa segera ditemukan oleh para anggota pencarian itu.


Terdengar langkah kaki yang mendekat ke tempatnya. Alma belum yakin itu manusia atau hewan buas lain yang sedang mencari makanan. Alma tidak bersuara, dia harus memastikan itu langkah kaki manusia atau bukan terlebih dahulu sebelum dia bersuara.


" Apa ada yang bisa mendengar ku?!"., teriak seorang petugas pencarian.


" Pak, sepertinya ada beberapa jasad di depan sana!", suara bariton terdengar begitu keras, dan langkah beberapa kali terdengar mendekat ke arah Alma.


Alma sangat bersyukur ternyata itu adalah beberapa anggota tim SAR yang masih terus melakukan pencarian meski hari masih gelap, dan kabut pagi begitu dingin menyelimuti hutan itu.


" Tolong saya...", suara Alma begitu lirih, tapi masih bisa di dengar oleh salah satu anggota tim SAR, karena memang keadaan hutan yang sunyi.


" Siapa disana?", sebuah cahaya senter diarahkan ke posisi Alma. Alma berusaha mengangkat tangannya, agar bisa dilihat oleh mereka.


" Masih ada yang hidup Pak, tandu bawa kesini!", beberapa orang berlari kearah Alma.


" Nona mohon yang tenang, Nona sudah kami temukan, Nona pasti akan selamat", suara bariton itu berusaha menyemangati Alma.


" Tolong suami saya itu", Alma menunjuk tubuh Akio.


" Tentu saja akan kami tolong, Nona tenang saja".


" Tapi sepertinya hanya tinggal Nona ini saja yang masih selamat", bisik petugas SAR lainnya, namun masih bisa terdengar di telinga Alma.


Petugas langsung mengangkat tubuh Alma dan membawanya ke basecamp.


Sampai di basecamp ada beberapa tenaga medis yang langsung memeriksa keadaan Alma.


Salah satu dokter muda memberikan air karena Alma mengatakan dirinya haus.


" Saya dengar ada satu orang yang selamat, apa benar?", suara diluar terdengar begitu ramai.


" Sedang dalam perawatan dokter di dalam Komandan", jawab suara lain.


" Alhamdulillah hirobbil'alamin, setidaknya ada yang bisa kita tanyakan apa yang terjadi. Biarkan dia istirahat, pasti dia terluka dan masih sangat syok, setelah keadaannya membaik, baru kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan padanya".


Suara itu menghilang, saat Alma selesai di ganti pakaian dan juga menerima infus dan juga bantuan pernafasan dari slang oksigen.


" Ini akan terasa perih seperti tadi Nona, sedikit di tahan ya, beruntung luka bakarnya tidak parah, jadi semoga masih bisa sembuh dan tidak membekas".


Alma menitikkan air mata menahan perih yang dirasakan tubuhnya saat perawat mengoleskan sebuah cairan dan gel pada luka bakarnya.


" Untung saja wajah cantik nona tidak ikut terbakar, hanya cemong dan hitam, setelah dibersihkan kembali terlihat cantik". Dokter muda yang membantu menangani Alma berusaha menghibur Alma.


Namun tentu saja Alma tidak bisa tersenyum, semua anggota tubuhnya terasa sakit dan perih, bahkan air matanya terus mengalir tanpa bisa terbendung tatkala obrolan di luar terdengar ditelinga nya.


" Nona itu mengatakan jika mayat gosong yang memakai jam mahal di tangan kirinya itu adalah suaminya. Kasihan sekali, sepertinya mereka masih muda, sepertinya pengantin baru yang hendak honeymoon ke Hawaii, namun justru mengalami kecelakaan naas seperti ini" .


__________________


Maaf ya kalau bonus bab nya justru bikin mewek dan sedih, tapi memang ini akhir dari kisah Alma dan Akio yang sudah author tulis sejak awal, Akio hanya akan menjadi kisah masa lalu Alma yang tak akan pernah terlupakan.


Ini belum end y, masih ada bonus bab lagi, dan di akhir akan semakin seru.


Terimakasih yang masih mengikuti terus cerita ini 🙏🙏🙏