My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 81 : Kantor Polisi



" Seperti yang sudah kami jelaskan tadi, teman-teman Anda sudah melakukan penipuan berkedok ramalan masa depan".


" Yang sudah melaporkan mereka bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan beberapa belas orang, dan saat kami meminta kartu identitas mereka, hanya satu orang saja yang memiliki kartu tanda penduduk".


" Oleh sebab itu kami menahan teman-teman Anda di sel tahanan untuk sementara".


" Apa Anda punya wali yang bisa menjamin ke enam teman Anda?, saya rasa usia kalian masih sangat muda, seperti usia anak saya yang baru SMA".


Ucapan pak polisi memang benar, Akio dan Alma masih SMA, namun mereka tidak bisa mendatangkan wali untuk menjamin Steven dan yang lain.


Tidak mungkin Alma mengatakan pada ibunya, bahwa teman Akio sedang ditahan karena melakukan penipuan. Akio juga tidak ada saudara selain mencantumkan Steven sebagai sepupunya.


" Apa bisa diwakilkan oleh pengacara keluarga kami Pak polisi?", Akio bertanya untuk mempertimbangkan langkah apa yang akan di lakukan selanjutnya.


" Kalau ada tentu saja bisa. Dan karena mereka melakukan penipuan secara berkelompok, mungkin akan tergolong kejahatan yang direncanakan, dan sangsinya bisa cukup berat".


Akio mengangguk dan mengerti dengan penjelasan pak polisi. Betapa dirinya sangat menyesal membiarkan Steven dan kelima kawannya berkeliaran bebas. Dan inilah hasil yang didapatkan, dia harus ke kantor polisi dan mengurus mereka semua.


" Saya akan menyuruh pengacara keluarga agar secepatnya datang kemari".


Akio berdiri dan pamit keluar untuk menelepon orang kepercayaannya.


" Segeralah datang ke kantor polisi, dan bereskan semua masalah yang sudah diperbuat Steven dan kawan-kawannya".


Akio menutup telepon dan melihat Alma sedang duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang tempat mereka berdiskusi dengan petugas dari kepolisian tadi.


Alma terlihat menguap beberapa kali, mungkin dirinya lelah dan mengantuk karena cukup lama mereka berdiskusi dengan petugas dari kepolisian beberapa waktu lalu.


" Apa mau pulang dulu?, aku perhatikan kamu menguap beberapa kali, sepertinya kamu sangat mengantuk".


Akio duduk disebelah Alma sambil menepuk pundaknya yang boleh sebagai tempat bersandar untuk Alma.


Namun Alma menggeleng, " Sebenarnya aku merasa lapar, tadi sudah pesan makanan di salon, tapi belum sampai makanannya".


Mereka berdua tadi memang langsung pergi dari salon tanpa mengisi perut mereka terlebih dahulu, Akio baru teringat bahwa mereka belum makan siang. Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Ternyata cukup lama dirinya berdiskusi di dalam kantor polisi tadi. Sedangkan ke enam kawannya, sudah dimasukkan kedalam sel tahanan.


Akio pun mengajak Alma untuk makan siang.


" Baiklah kamu mau kita makan dimana?".


Alma melihat pinggir jalan sekitaran kantor polisi. Siapa tahu menemukan penjual makanan. Dan matanya berbinar ketika melihat penjual gado-gado yang kiosnya tidak terlalu jauh dari kantor polisi.


" Kita makan disana saja gimana?, aku sudah sangat lapar, dan aku ingin cepat-cepat makan", Alma menunjukkan kios yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


" Baiklah kita kesana, aku ambil mobil dulu", ucap Akio membalikkan badan untuk mengambil mobilnya. Namun Alma justru mencegahnya.


" Nggak usah bawa mobil, itu kan deket banget kiosnya, jalan kaki saja, nggak sampai 5 menit juga sudah sampai".


Alma menarik tangan Akio untuk mengikutinya. Dan benar saja tidak sampai 5 menit mereka berdua sudah sampai di kios penjual gado-gado.


" Bu, pesen gado-gado dua, satu pedes, satu nggak pedes, minumnya es teh manis dua".


Alma langsung memesan sewaktu mereka sampai di kios itu.


Ternyata di dalam kios ada beberapa polisi yang juga baru makan siang seperti mereka, mungkin para polisi itu baru pulang dari tugas luar, atau baru sempat makan.


" Ini minumannya dulu Mba, gado-gado pesanannya sebentar lagi baru jadi". Seorang pemuda seumuran Alma menyajikan es teh manis pesanan Alma dan Akio.


" Bukankah kalian anak-anak SMA Pelita Jaya?, sedang ada keperluan apa kalian datang ke kantor polisi?, aku tadi melihat kalian keluar dari sana".


Pemuda itu ternyata mengenal Alma dan Akio, karena ternyata dia salah satu penerima beasiswa keluarga miskin, yang gratis sekolah di Pelita Jaya seperti Alma.


Dan ternyata pemuda itu adalah kakak kelas Alma dan Akio, sekarang dia sudah kelas 12, anak penjual gado-gado yang punya cita-cita menjadi perwira polisi. Karena sering melihat bagaimana setiap hari polisi bekerja mengabdi pada negara, tentu saja memperhatikan para polisi itu dari warung gado-gado ibunya setiap hari.


Si ibu penjual gado-gado menyajikan gado-gado pesanan Alma.


" Putra saya sekolah di Pelita Jaya, sudah kelas 12 Mba".


" Tapi dia nggak pinter bergaul, pantas saja mba dan mas nya nggak kenal. Putra saya agak pendiam".


Pemuda itu menggeleng cepat, " Seandainya ibu tahu, jika pemuda yang tampan di hadapan ibu itu lebih pendiam dibandingkan dengan putra ibu ini".


" Meski pendiam, aku masih punya teman meski hanya empat anak".


" Sedangkan Akio, dia hanya mempunyai teman gadis cantik ini Bu, mereka berdua pacaran, dan hanya Alma, satu-satunya teman Akio".


Ibu-ibu penjual gado-gado tidak percaya dengan ucapan putranya, " Masa pemuda tampan dan kaya seperti Mas ini nggak punya teman. Kalau putra saya pantas, karena dia dari keluarga tidak berada, jadi tidak ada yang mau menjadi temannya".


" Bu, dia itu tampan, kaya dan sangat pintar, dia peraih medali emas olimpiade internasional, mereka berdua sama-sama anak-anak jenius. Karena itulah, mereka tidak butuh banyak teman".


" Hidup mereka akan tetap berjalan meski tidak berkawan".


Ibu penjual gado-gado merasa miris dengan ucapan putranya barusan.


" Bukan begitu Bu, pacar saya ini hanya tidak pandai bersosialisasi saja, tidak benar jika ada yang mengatakan kami tidak butuh teman". Alma mencoba membela Akio.


" Tidak perlu memberikan penjelasan pada orang yang tidak kita kenal. Aku sudah selesai makannya, untung gado-gadonya enak, kalau tidak pasti aku tidak sudi lama-lama berada disini".


Akio berdiri dari duduknya dan keluar dari kios itu dengan meletakkan selembar uang ratusan ribu.


Alma yang belum selesai makan, terpaksa meminum es teh manis hingga tandas.


" Makasih ya Bu, padahal gado-gadonya enak banget, kapan-kapan mampir lagi Bu, maaf ya atas sikap pacar saya, dia memang begitu mudah tersinggung, makanya nggak punya teman", ucap Alma dengan sangat lirih, takut Akio mendengar.


Ibu-ibu penjual gado-gado justru meminta maaf karena merasa ucapannya sudah menyinggung pemuda tampan bernama Akio itu.


Alma langsung berlari keluar mengejar Akio yang sudah cukup jauh berjalan kembali menuju kantor polisi .


" Kembaliannya masih banyak ini Mba!", teriak ibu-ibu penjual gado-gado.


" Buat ibu saja!", teriak Alma sambil berbalik dan kembali mengejar Akio.


Alma bisa melihat ibu-ibu penjual gado-gado memarahi putranya, karena sudah bersikap tidak baik pada pelanggan.


" Tunggu dong sayang..., perut aku kram nih, habis makan langsung lari-lari". Alma meminta Akio memperlambat langkahnya.


Akio berhenti tepat di pintu masuk kantor polisi. Bertepatan dengan mobil pengacara suruhannya memasuki pintu gerbang masuk kantor polisi. Akio langsung berjalan menghampiri mereka.


" Selamat siang Tuan", sapa orang kepercayaan Akio sambil membungkukkan badannya.


" Siang, mungkin sebaiknya kita langsung masuk kedalam saja", ucap Akio pada orang kepercayaannya.


" Baik Tuan", mereka bertiga masuk kedalam kantor polisi, Alma pun mengikuti mereka dari belakang.


Namun saat semuanya masuk, Alma memilih duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang tempat Akio dan pengacaranya masuk.


Tidak mengikuti mereka masuk kedalam.


_


_


" Mohon maaf Tuan, meski sudah memberikan uang jaminan, tapi tindak penipuan yang teman-teman Tuan lakukan sudah cukup memakan banyak korban. Karena itu kami harus tetap menahan mereka sesuai peraturan perundang-undangan".


Akio sudah berusaha sebisa mungkin untuk membebaskan Steven dan lainnya, tapi apalah daya, uang bukan segala-galanya, sudah ratusan juta yang Akio keluarkan sebagai uang jaminan, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan jika negara ini adalah negara berlandaskan hukum yang mengatur tentang tindakan warga negaranya, kejahatan penipuan yang dilakukan teman-temannya memang harus mendapatkan sanksi.