
Hari ini hari terakhir Alma dan Akio di kelas 11 IPA 1, karena besok dia mulai bergabung di kelas 12 IPA 1, harus lebih giat belajar agar bisa mengimbangi mereka para kakak kelas yang akhirnya menjadi kawan sekelasnya.
Bel pulang berbunyi, guru sejarah yang mengisi jam pelajaran terakhir pun keluar dari kelas. Semua murid berkemas memasukkan buku dan alat tulis lainnya kedalam tas. Hingga beberapa menit, tak ada satupun dari mereka yang keluar kelas.
Semua mata tertuju pada Alma dan Akio yang juga sedang berkemas-kemas. Selesai berkemas Alma merasa aneh dengan sikap teman-teman sekelasnya yang terus menatap ke arahnya.
" Kenapa?, apa ada yang mau kalian sampaikan?". Alma menatap kawan-kawannya satu persatu.
" Kita tidak berpisah selama-lamanya, karena aku hanya pindah kelas saja. Kalian masih bisa bertemu dan melihatku saat istirahat atau sepulang sekolah". Alma tahu teman-temannya merasa kehilangan sosok Alma yang selalu menjadi percontekan setiap kali ada PR atau ulangan dadakan.
Kepindahan Alma ke kelas 12 membuat teman-teman yang lain khawatir tidak ada lagi yang akan memberi contekan PR atau contekan saat ulangan. Terutama beberapa anak laki-laki yang duduk disekitar Alma.
" Sebelumnya aku mau ngucapin makasih banget buat kamu Al, selama ini aku sudah banyak ngrepotin kamu. Sering nanya-nanya banyak hal tentang pelajaran yang belum aku pahami", gumam Mandala, kawan sekelas Alma yang duduk di samping Alma persis.
" Aku juga mau ngucapin makasih, sama kaya Mandala, aku juga sering nanya-nanya tentang pelajaran sama kamu. Good luck ya di kelas 12, semoga makin sukses", ujar Faisal.
Teriring doa juga dari teman-teman yang lain untuk Alma, dan beberapa untuk Akio. Tidak ada yang meragukan kemampuan mereka berdua di kelas baru nanti, meski mereka harus naik satu tingkatan karena mengikuti program akselerasi kelas, namun kawan-kawan yang lain yakin mereka berdua mampu dan akan terus berprestasi.
" Makasih buat doa dari kalian semua, selamat tinggal, tapi meski nanti kita sudah tidak sekelas, kalian masih tetep menjadi teman-temanku kok", Alma tersenyum menatap mereka satu persatu.
Mereka semua menyalami Alma dan Akio secara bergantian, meski baru beberapa minggu mereka menjadi teman sekelas. Namun kekompakan mereka sudah mulai terbentuk. Terutama kompak dalam hal mencotek pada Alma. Itulah sebabnya mereka merasa sangat kehilangan Alma. Dia sosok yang berjasa bagi teman-teman yang lain.
Sedikit berbeda dengan Akio, hanya beberapa yang merasa kehilangan dirinya, yaitu gadis- gadis yang diam-diam mengaguminya. Mengagumi ketampanan serta kecerdasan Akio, hanya beberapa gadis saja.
_
_
Pukul 3 sore Alma dan Akio baru saja sampai di rumah. Sedikit terlambat dari biasanya, mereka berdua cukup lama berpamitan pada kawan-kawan sekelas mereka, dan juga harus ke ruang guru terlebih dahulu menghadap wali kelas baru mereka. Menanyakan jadwal pelajaran yang baru agar besok saat berangkat dan masuk kelas baru bisa langsung menyesuaikan dengan yang lain.
" Tak ku sangka aku bisa naik kelas secepat ini, kalau kamu tidak memberitahuku tentang program akselerasi kelas mungkin aku tidak akan pernah tahu soal itu, dan masih di kelas 11".
" Kenapa kamu juga mendaftarkan aku program akselerasi kelas?".
Alma ingin tahu alasan Akio sebenarnya.
Akio yang sudah lebih dulu selesai makan siang meneguk segelas air putih terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Alma.
" Kamu pasti tahu alasannya, tentu saja karena aku tidak mau berpisah darimu".
" Aku sengaja mendaftarkan kamu juga di program akselerasi kelas, agar tahun ini kita sama-sama lulus SMA".
" Aku ingin pernikahan kita segera di umumkan secara besar-besaran pada publik. Aku sudah lelah dengan hubungan pernikahan kita yang sembunyi-sembunyi seperti selama ini".
Akio mengambil tisu dan mengelap mulutnya yang sudah selesai makan.
Alma pun tersenyum mendengar alasan Akio yang sebenarnya. Kenaikan kelas mereka berdua yang mendadak belum diketahui oleh ibunya. Alma berniat memberi tahu kepada ibunya perihal program akselerasi kelas yang diikutinya. Alma sudah menyelesaikan makan siangnya, dia mengambil piring kotor milik Akio dan membawanya ke dapur. Si bibi langsung meraih piring kotor itu dari tangan Alma untuk mencucinya.
" Jadi tidak sampai setahun lagi kita akan mengumumkan perihal pernikahan kita pada semua orang?".
Akio mengangguk menjawab pertanyaan Alma.
" Bukankah itu juga yang kamu mau?".
Alma juga mengangguk mengiyakan. Alma mengambil ponselnya dan duduk di sofa ruang tengah, berusaha menelepon ibunya.
tuuut....tuuut....
tuuut....tuuut....
tuuut....tuuut....
Nomer Maemunah aktif, tapi tak kunjung di angkat, sehingga Alma kembali meletakkan ponselnya di meja.
" Mungkin ibu masih sibuk di kios, tapi kan biasanya ibu selalu membawa ponselnya, atau mungkin HP ibu sedang di charge, sehingga ibu tidak mendengar panggilan dariku".
Akhirnya Alma memilih menyalakan televisi untuk melihat kabar berita terbaru di televisi.
~ Terjadi erupsi gunung berapi Xxx di daerah Jawa Timur sekitar pukul 2 dini hari. Banyak warga panik dan berusaha menyelamatkan diri.......~
~ Erupsi gunung Xxx terjadi lagi sekitar pukul 2 dini hari, kabut asap tebal menutup hingga radius 4 km ........~
~ Status gunung Xxx berubah menjadi waspada, beberapa warga sekitar memilih untuk mencari tempat yang aman untuk berlindung, beberapa dari mereka memilih meninggalkan harta benda mereka.....~
Alma memilih mematikan televisi, karena hampir semua chanel di televisi menayangkan breaking news, membahas tentang bencana yang sedang terjadi di Indonesia, Alma merasa kasihan melihat mereka yang berlarian berusaha menyelamatkan diri.
" Kasihan sekali mereka yang sedang tertimpa musibah dan bencana alam. Semoga saja mereka diberi ketabahan dan kesabaran untuk menghadapi kesulitan yang sedang menimpa mereka", Alma berdoa dalam hatinya.
Kemudian Alma lebih memilih untuk kembali ke kamar mempersiapkan buku-buku pelajaran yang harus dibawanya besok.
Namun tiba-tiba Alma teringat dengan Lidia, gadis cantik yang dulu bersama-sama ke Kazakhtan sebagai delegasi dari Indonesia, Lidia berasal dari Surabaya, yang termasuk daerah Jawa timur, bagaimana keadaannya. Alma pun kembali mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Lidia. Namun sayang sekali nomernya tidak aktif, dan sudah cukup lama juga Alma tidak melihat status Lidia di WhatsApp.
" Mungkinkah dia ganti nomer?", Alma kembali meletakkan ponselnya.
" Siapa yang ganti nomer?", Akio yang baru masuk kamar langsung bertanya karena mendengar gumaman Alma.
" Lidia. Tadi aku lihat berita di televisi ada bencana alam di daerah Jawa timur, aku tiba-tiba jadi teringat pada Lidia, bukankah dia berasal dari Surabaya", ujar Alma menjelaskan.
" Jadi sekarang sudah peduli padanya?, nggak cemburu lagi?", goda Akio sambil tersenyum dikulum.
" Ish... kamu ini, aku sudah melupakan kejadian itu, malah kamu ingatkan lagi, nyebelin !", gerutu Alma sambil menutup tasnya dan menyimpannya di meja.
Alma berpindah ke atas ranjang dan tidur miring membelakangi Akio yang juga merebahkan diri di sampingnya.
" Jangan tidur, nanggung tidur jam segini, nanti bangunnya linglung". gumam Akio berbisik di telinga Alma.
Padahal dulu Alma yang mengatakan hal itu pada Akio saat Akio hendak tidur disaat sore hari. Dan kini Akio mengulang kalimatnya sama persis.
" Siapa yang mau tidur?, aku kan cuma tiduran saja, lagian aku nggak ngantuk, belum mandi juga, tapi capek, jadi mau rebahan dulu sebelum mandi", ujar Alma sambil manyun.
" Oke-oke Almaku sayang, apa mau dimandiin sama suamimu ini?, tentu saja suamimu ini akan memandikanmu dengan senang hati".
Akio kembali menggoda Alma.
Alma tidak menjawab pertanyaan Akio, karena Alma tahu Akio hanya menggodanya saja. Alma justru menutup telinganya menggunakan bantal yang tadi ditidurinya.
" Nggak lucu, kamu saja belum mandi, tapi mau mandiin Aku", ucap Alma dalam hatinya.
Akio hanya terkekeh karena tahu apa yang diucapkan Alma dalam hatinya. Tapi tidak melanjutkan kalimatnya, karena Alma memang terlihat lelah dan ingin beristirahat.