My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 100 : Alien



Akio memang sudah stabil kondisinya, namun sampai saat ini belum siuman, mungkin karena pengaruh bius yang diberikan padanya saat tindakan operasi tadi.


Karena hari sudah mulai gelap, Alma menyuruh Feni untuk pulang terlebih dahulu, Feni sudah menemani sejak sore tadi, bahkan baik Alma maupun Feni sampai saat ini belum ada yang mandi, maupun berganti pakaian sejak pagi.


" Fen, makasih banget ya sudah menemani aku seharian ini, aku tahu kamu pasti capek banget, aku sudah nyuruh supir Akio buat nganter kamu pulang, nanti ada orang yang akan bawakan motor kamu pulang".


Alma tahu Feni sangat lelah dan mengantuk, sejak tadi Feni terlihat menutup mulutnya yang menguap.


" Nggak usah repot-repot begitu Al, aku bisa balik sendiri bawa motor, lagian baru jam 7, jalanan pasti masih rame, lagian jarak dari sini ke rumahku juga nggak jauh-jauh amat, cuma 20 menit udah sampai". Feni sebenarnya kasihan dengan Alma yang menjaga Akio sendirian, sejak tadi Feni terus berfikir dimana keluarga Akio.


Feni tahu Akio yang seorang yatim piatu, mendengar dari gosip yang beredar disekolah jika orang tua Akio telah tiada, tapi apa dia tidak punya sanak saudara lainnya selain pemuda bernama Steven yang tadi mendonorkan darah untuk Akio.


Rasa penasaran Feni tidak mungkin akan terobati, karena satu-satunya yang tahu tentang Akio adalah Alma, dan tidak mungkin Feni menanyakan semua itu pada Alma.


" Nggak ngrepotin kok Fen, justru aku yang nggak enak sama kamu karena sudah ngrepotin kamu seharian ini".


" Sopir Akio sudah nungguin kamu di depan kamar, kasih saja kontak motor kamu sama dia, nanti akan ada yang bawain motor kamu, ngikutin di belakang mobil, sudah malam jangan pulang sendirian, terlalu beresiko, lagian aku yang bawa kamu kesini, jadi kamu harus sampai rumah dengan selamat".


Feni tidak bisa menolak permintaan Alma, dia pun keluar dari kamar Akio dirawat, Alma mengantar dan menitipkan Feni pada pak supir.


" Makasih ya Fen, hati-hati dijalan".


Alma memeluk Feni.


" Kamu juga jangan kecapekan, jangan lupa makan, kamu dari tadi belum makan apapun".


Alma mengangguk, " iya, habis ini aku makan, ibuku sedang kemari bawain baju ganti dan makan malam".


Feni mengangguk dan pergi mengikuti supir Akio menuju tempat parkiran. Alma melambaikan tangannya melepas kepergian Feni. Setelah Feni berbelok di lorong rumah sakit dan tak terlihat lagi, Alma kembali masuk ke kamar Akio dirawat.


Feni sampai diparkiran dan masuk ke dalam mobil Mercedes Benz setelah dibukakan pintu belakang oleh supir Akio.


Supir Akio terlihat memberikan kunci motor Feni pada seseorang yang berdiri di samping mobil sejak tadi. Feni melongok keluar dan memberi tahu nomor plat motornya agar lebih mudah dicari.


Saat Feni masuk dan duduk di mobil, ada beberapa kantong plastik dan paper bag yang tergeletak di kursi belakang mobil. Baunya harum dan gurih, mungkin isinya makanan.


Ada logo dari restoran terkenal di salah satu kantong plastik, dan juga ada paper bag berisi box pizza size large.


" Ini belanjaan bapak?", tanya Feni pada supir Akio, saat mobil mulai melaju. Tangan Feni sambil menggeser kantong-kantong itu.


" Bukan Mba, itu punya mba, tadi Non Alma yang nyuruh saya beli makan malam buat Mba dan keluarga mba di rumah".


Feni sampai terharu dengan perhatian Alma padanya, " padahal dia sedang banyak pikiran, tapi masih saja kepikiran nyuruh orang beliin makanan". Feni langsung mengirim pesan pada Alma mengucapkan terima kasih untuk makan malamnya.


Di dalam kamar Alma memilih untuk mandi terlebih dahulu, ibunya sudah samapai tadi s


beberapa saat setelah Alma masuk ke kamar.


Sampai saat ini Akio belum juga siuman, Alma meminta ibunya menunggu beberapa saat, sampai Alma selesai mandi dan sholat isya.


Badan sudah lebih segar setelah mandi, Alma lanjut makan malam bekal yang dibuatkan ibu khusus untuknya, nasi goreng buatan Maemunah yang terlezat bagi Alma, sudah sangat lama Alma tidak memakannya, dan Alma merindukan nasi goreng buatan ibunya itu.


" Makan yang banyak, kamu harus jagain suami kamu yang lagi sakit, jadi kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan malah lupa makan, nanti kalau kamu ikutan sakit, siapa yang akan merawat suamimu ini?".


" Alma lagi makan, jadi ibu jangan bikin Alma sedih, kan jadi susah nelen makanannya", ucap Alma sambil meraih air putih yang ada di meja depannya.


" Iya, maaf, ibu juga nggak bisa lama-lama disini, Bara ibu titipkan ke tetangga, tadinya mau ibu ajak kesini, tapi ingat waktu kamu keguguran dulu, Bara dilarang masuk, makanya ibu nggak ngajak dia lagi".


Alma mengangguk, dan menyudahi makannya yang baru habis setengah.


" Kenapa nggak dihabiskan?, kan ibu bawa nggak banyak, dihabiskan ya, biar kenyang".


Alma menggeleng, " Alma sudah kenyang Bu, di kulkas juga ternyata ada banyak minuman dan buah, tadi baru Alma cek, mungkin salah satu fasilitas dari layanan kamar VVIP". Alma menutup kotak makan dan memasukkan kembali ke tas ibunya.


" Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja, Akio juga belum bangun, jadi kamu tungguin sambil di bawa tidur biar kamu nggak kecapekan".


Maemunah pamit pulang, dan diantar supir Akio yang sudah kembali setelah mengantar ke rumah Feni tadi.


" Tolong antar ibu saya pulang ya Pak, nanti kalau sudah antar ibu, bapak langsung pulang kerumah saja istirahat, kalau saya butuh bantuan bapak nanti akan saya telepon".


Pak supir mengangguk, meski sebenarnya kasihan pada istri majikannya, yang harus menjaga majikannya sendirian. Tapi istri majikannya sudah mengeluarkan perintah, dan itu harus dipatuhi.


Malam semakin larut, Alma seorang diri menjaga Akio di kamar rawat, akhirnya Alma pun terlelap di samping Akio, sambil menggenggam tangannya.


Tengah malam Alma terbangun karena merasakan tangan Akio yang ada dalam genggamannya bergerak.


Alma menatap wajah Akio yang terlihat sedang berusaha membuka matanya.


" Sayang, apa kamu mau sesuatu?", tanya Alma saat Akio sudah berhasil membuka mata sepenuhnya.


" H....aa.....u...ss", suara Akio lirih dan pelan.


" Aku ambilkan air ya". Alma langsung mengambil botol air mineral dan memasukkan sedotan untuk memudahkan Akio meminumnya. Hanya beberapa teguk, Akio sudah melepaskan sedotan plastik itu.


" Biar aku panggil dokter untuk memeriksa keadaan kamu", Alma memencet tombol untuk berkomunikasi dengan suster jaga.


" Suami saya baru saja siuman, bisa tolong dicek kondisinya sekarang?".


" Baik ibu..., Dokter akan segera ke kamar untuk melakukan pemeriksaan".


Bru kali ini ada yang memanggil Alma ibu, mungkin karena tadi Alma mengatakan 'suami saya', jadi yang dibayangkan oleh suster jaga adalah seorang ibu-ibu.


Tak lama kemudian dokter dan dua orang perawat sampai di kamar Akio. Dan melakukan pemeriksaan.


" Waah, saya benar-benar baru pernah mempunyai pasien seperti tuan Akio, baru dilakukan operasi tadi siang, dan darah mengucur begitu deras, tapi lihatlah saat ini, hasil dari pemeriksaan gula darah, tekanan darah, kolesterol semuanya sudah normal".


" Bahkan saya memeriksa bekas jahitan diperutnya, sudah mengering seperti jahitan sudah seminggu yang lalu", dokter jaga menjelaskan keadaan Akio saat ini.


" Mungkin benar jika pasien memang seorang alien, ada beberapa struktur organ dalam tubuh yang berbeda dengan manusia pada umumnya", bisik salah satu perawat pada perawat lainnya. Tapi Alma masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


" Kalau begitu kita lihat perkembangannya besok, kalau sudah sehat benar, tuan Akio bisa segera pulang ke rumah, meski biasanya bagi pasien operasi butuh minimal 4 hari pasca operasi untuk bisa pulang, tapi Tuan Akio lukanya sudah kering, jika tubuhnya membantu penyembuhan jadi secepat ini, mungkin besok bekas jahitan sudah tinggal meninggalkan belangnya saja".


" Dibawa istirahat dan makan yang banyak ya, biar lebih cepat pulih". Dokter senior menepuk lengan Akio, kemudian keluar kamar diikuti dua perawat yang berjalan dibelakangnya, dalam hatinya sudah memastikan jika Akio memang bukan manusia biasa, atau bisa jadi Akio benar-benar bukan manusia, dia Alien.