My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 62 : Salam Perpisahan



Banu POV


Hari terakhir di Jakarta, terjadi peristiwa yang tidak akan mungkin aku lupakan. Bogem mentah yang aku terima hari ini dari Akio suatu hari nanti pasti akan aku balas.


Laki-laki dingin dan pendiam itu ternyata pacar Alma, sungguh menyebalkan. Kenapa tidak mereka publikasikan saja hubungan mereka sejak awal. Jadi aku tidak perlu mendapatkan rasa malu seperti ini.


Aku bersikap baik-baik saja dihadapan semua orang, meski sebenarnya hatiku amat sangat sakit, marah dan juga malu tentunya. Satu pukulan yang aku terima, pasti akan aku balas dengan berkali-kali lipat.


Anak kelas 10 tapi belagu dan berani memukul wajahku. Untung saja hanya hidungku yang sedikit lebam. Kalau sampai dia berani memukul bagian wajahku yang lain akan aku pastikan, wajahnya akan berkali lipat lebih parah dari lukaku.


Siang ini usai pertemuan dengan pihak pers kami para peserta dan team pendamping sudah mengagendakan untuk mengadakan acara perpisahan di roof top hotel. Dan seperti dugaan ku, setelah kehebohan yang terjadi di restoran, Alma dan Akio tidak hadir di acara itu.


Sudah pasti Akio tidak memperbolehkan Alma mengikuti kegiatan terakhir kami di Jakarta. Dia pasti takut, karena besar kemungkinan Alma akan jatuh hati padaku dan lebih memilihku jika kami saling mengenal lebih dalam.


Aku lebih supel dan lebih pandai bergaul ketimbang si dingin Akio itu. Dia pendiam dan mudah marah, pencemburu, juga posesif, mana mungkin Alma akan bertahan lama dengan laki-laki macam itu.


Seandainya saja kami berasal dari daerah yang sama, sudah ku tikung Alma dari Akio pacarnya. Sayang sekali ini adalah hari terakhir kami bersama di Jakarta sebagai team. Nanti kami semua akan berpisah dan meninggalkan semua kenangan yang sudah kami ukir selama dua minggu ini.


Kembali ke kehidupan nyata, bersama dengan pacar posesif dan manja yang sudah dua minggu ku tinggalkan, selamat tinggal Jakarta, akan ku simpan baik-baik setiap moment yang ku ukir di sini bersamanya.


Satu jam yang lalu, semua berpesta dan bergembira di roof top hotel, hanya Lidia yang kulihat muram. Aku ajak Lidia ngobrol, dan setelah kuselidiki, ternyata Lidia sedang patah hati sama sepertiku. Bedanya aku nampak baik-baik saja, sedangkan Lidia benar-benar terlihat muram.


" Apa kamu juga sudah mengatakan perasaan kamu sama Akio?, tidak masalah jika perasaan kita tidak menerima balasan, toh setelah siang ini, kita semua akan berpisah dan mungkin tidak akan pernah dipertemukan kembali, kecuali takdir mencoba mempermainkan hati kita", ku coba menenangkan Lidia, karena melihatnya murung membuat moodku pun menjadi rusak.


Lidia menatapku sambil tersenyum getir,


" Aku lihat Alma masuk kedalam kamar Akio tadi, dia bawa nampan berisi makanan".


" Bahkan konyol banget aku ngikutin dia diam-diam, sampai nguping pembicaraan mereka dari depan pintu kamar".


" Aku mendengar Alma menyuruh Akio untuk minta maaf langsung padamu, tapi Akio menolak, bahkan Akio menyuruh Alma keluar dari kamarnya. Saat itu aku langsung pergi dari depan pintu kamar Akio dan kesini, takut ketahuan nguping". Lidia menceritakan apa yang didengarnya dari depan kamar Akio tadi.


Alma memang gadis yang sangat baik, beruntung sekali siapapun yang menjadi pasangannya, sayang sekali perkenalan kami terlalu singkat, aku berharap bisa kembali bertemu dengannya suatu hari nanti, di lain kesempatan tentunya.


Aku mengikuti acara perpisahan hingga jam 2 siang, sampai acara selesai, dan semua saling ber maaf-maafan, karena sudah tentu semua punya salah, baik disengaja maupun tidak, tapi seseorang yang benar-benar harus minta maaf padaku justru tidak hadir di acara ini, dan aku harus segera pergi, karena jadwal tiket keretaku ke Bandung adalah pukul 2.30 siang.


Awalnya aku ingin berpamitan pada Alma, sehingga usai aku berkemas, aku berencana untuk menemuinya, ku ketuk pintu kamarnya, namun sepi dan tidak ada jawaban. Mungkinkah Alma tidur siang, atau dia tidak tidur, Alma mungkin tahu aku yang mengetuk, dan dia sengaja tidak membukakan pintu untukku, seolah-olah tidak tahu bahwa ada aku disini. Akhirnya ku langkahkan kakiku menuju keluar hotel, tanpa berpamitan secara langsung pada Alma.


Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal Alma, dan selamat tinggal kisah cinta yang belum sempat aku mulai.


***


Akio POV


Jam 2 siang aku terbangun dari tidurku, Alma masih meringkuk didalam pelukanku, dia nampak lelah dan masih tertidur dengan sangat pulas.


Aku bangkit dan kupakai kembali pakaianku. Karena merasa lapar, aku delivery order makan siang di restoran hotel. Namun belum lama aku memesan, aku mendengar pintu kamar yang diketuk beberapa kali oleh seseorang, saat kulihat dari lubang pintu kamarku, ternyata bukan pintu kamarku yang diketuk, melainkan pintu kamar Alma yang sedang diketuk oleh si cowok br*ngsek itu, siapa lagi kalau bukan Banu.


Aku biarkan Banu berdiri menunggu Alma di depan pintu, sampai jamuran juga nggak bakalan aku bangunkan Alma untuk menemuinya. Sekitar 10 menit kemudian kulihat dia pergi dengan wajah muram. Entah mengapa aku merasa bahagia dan senang melihatnya bersedih.


Saat aku sedang tersenyum-senyum sendiri, pintu kamarku diketuk dari luar, aku buka dan nampak seorang pelayan hotel mengantar makan siang kami. Setelah ku berikan tip, ku suruh si pelayan itu untuk pergi, tidak mungkin aku persilahkan pelayan itu mengantarkan makanan sampai masuk, karena masih ada Alma yang terbaring diatas ranjang ku dengan tubuh polosnya.


Ku dorong troli berisi penuh makan dan juga minuman pesanan ku ke dalam kamar. Namun lagi-lagi langkahku terhenti saat ku dengar Lidia memanggilku.


" Akio, tunggu sebentar !", Lidia menuju ke arahku, aku langsung keluar kamar dan menutup pintu kamarku. Aku berdiri mematung didepan pintu.


" Maaf aku mengganggu aktivitas kamu lagi", kulihat Lidia sudah berpakaian rapi dengan menggunakan kemeja putih, yang di tutup dengan hoodie pink.


" Aku mau pamitan sama kamu dan juga sama Alma harusnya, tapi aku malu untuk bertemu dengan Alma, jadi aku pamit sama kamu saja".


" Akio... terimakasih sudah hadir dalam hidupku, dan menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupku".


" Mungkin benar potongan naskah yang sering aku dengar di drama Korea, bahwa cinta pertama tidak akan pernah menjadi yang terakhir".


" Kau adalah cinta pertamaku Akio, meski kita disini hanya sebentar, dan kita hanya bersama dalam hitungan hari, tapi kenangan tentang kamu pasti akan selalu kuingat sampai akhir hidupku".


Lidia terus berbicara tanpa henti, aku hanya mendengarkan saja, tanpa berniat untuk menjawab ucapannya.


" Terimakasih kamu tidak menolak ku secara langsung dan terang-terangan, meski aku tahu kamu juga tidak akan menerimaku, karena kamu ternyata sudah memiliki kekasih hati, setidaknya dalam ingatanku aku tidak pernah di tolak oleh seorang pria".


" Andai kita bertemu dikemudian hari, aku berharap kau masih mengenaliku dan mau menyapaku"


" Selamat tinggal Akio, semoga hidupmu selalu bahagia".


Tiba-tiba saja Lidia memeluk tubuhku dan mengecup bibirku sejenak. Aku yang mendapat serangan mendadak tidak bisa menghindar maupun menolak.


Maafkan aku Alma, kejadian ini sungguh tidak disengaja. Lidia hanya bermaksud melakukan salam perpisahan.


Kulihat Lidia tersenyum lebar dan merasa bahagia setelah mencuri ciumanku. Dia pergi menjauh sambil melambaikan tangannya. Aku sendiri masih tetap berdiri diam dan terpaku, tidak berniat untuk membalas senyumannya ataupun membalas lambaian tangannya.


Saat Lidia sudah cukup jauh, kubalikkan badan dan masuk kembali kedalam kamar.


Betapa kagetnya aku ketika membuka pintu dan mendapati Alma yang sedang berdiri sudah berpakaian lengkap sambil berkacak pinggang, menatapku dengan tatapan penuh amarah.


" Sayang... sudah bangun rupanya, sejak kapan kamu berdiri disini?", aku khawatir Alma akan marah dan kecewa padaku jika dia melihat aku di kecup Lidia tadi.


" Sejak dia mengatakan bahwa kamu adalah cinta pertamanya", ucapnya sambil melotot.


" Dasar laki-laki dimana-mana sama saja, sudah punya pasangan, tapi masih mau saja dengan perempuan lain, kamu sama saja kaya Banu, saat pasangannya nggak lagi bersama, sah-sah saja bersama dengan perempuan lain. Dasar kalian semua menyebalkan !".


" Baru saja aku kasih servis plus-plus, tapi masih nerima bonus dari perempuan lain juga, aaahh... menyebalkan !".


Alma marah sambil masuk kembali kedalam kamarku, aku sungguh bingung harus menjawab apa, jika aku mengatakan sesuatu pasti akan jadi salah, lebih baik aku diam terlebih dahulu, hingga emosi Alma sedikit mereda, baru aku jelaskan kejadian yang sebenarnya.