
Maemunah pamit pulang ke rumah setelah makan siang, menghabiskan sisa makanan Alma yang disediakan rumah sakit, juga mencicipi masakan yang dibawakan Akio. Agar Akio tidak merasa kecewa karena makanan yang dibawanya tidak dimakan.
" Sean bisakah kamu mengantar bibi pulang ke rumah?, bibi mau mandi dan ganti baju terlebih dahulu, dan kamu juga belum mandi dan harus ganti baju juga, lihatlah kau hanya memakai kaos dan celana training".
Sean memang memakai pakaian joging karena awalnya berniat mengajak Alma joging bersama, namun rencana hanya tinggal rencana, karena ternyata Alma sakit dan sedang opname.
" Baiklah bibi, aku akan mengantarmu pulang, tapi apa bibi yakin akan menitipkan putri ibu yang cantik itu kepada dua pemuda tampan di sana?", Sean menatap ke arah Akio dan juga Steven dengan tajam.
" Tentu saja bibi yakin, masih ada suster yang menjaga di luar. Kenapa harus khawatir".
" Cepatlah antar kan bibi pulang. Bibi sudah tidak nyaman dan tubuh bibi rasanya sangat lengket. Bibi ingin segera mandi".
Sean pun dengan berat hati berdiri dari posisi duduknya dan mendekat ke Alma untuk berpamitan.
" Kamu cepet sehat ya Al, jangan terlalu banyak pikiran biar nggak kena gejala tipes, makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Aku pulang dulu anterin bibi". Sean pun melakukan cipika-cipiki dengan Alma.
" Makasih ya See... kamu memang yang terbaik", ucap Alma saat mereka melakukan pelukan perpisahan.
Maemunah juga berpamitan pada Alma dan Akio. " Kalian bicarakan apa yang ibu katakan tadi, mungkin kamu sebenarnya sudah lama berada di depan pintu, dan mendengar percakapan kami". Maemunah menatap Akio dan juga Steven bergantian.
Keduanya sama-sama salah tingkah karena ketahuan menguping, meski itu tidak sengaja dan tidak direncanakan.
_
_
Sepeninggal Sean dan Maemunah Akio berbicara entah apa pada Steven, tak lama kemudian Steven pun berpamitan dan keluar dari kamar itu.
Saat mereka tinggal berdua di dalam kamar, Akio langsung mendekat ke ranjang Alma, ikut naik ke atas ranjang dan meminta Alma bergeser sedikit, karena ukuran ranjang singgle yang tidak terlalu luas.
Akio merebahkan diri di ranjang, kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Alma, dan meletakkan kepala Alma di lengan tangannya, membuat lengannya menjadi bantal hidup untuk Alma, kemudian memeluk Alma begitu erat.
Alma pun memiringkan tubuhnya menghadap ke Akio, sehingga posisi mereka saling berhadapan, membiarkan Akio memeluknya.
" Maafkan aku, maaf akan keteledoran ku sehingga anak kita...." Alma langsung sesenggukan tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.
Akio langsung menciumi kening Alma berkali-kali, " tidak papa sayang, tidak usah bersedih, itu bukan masalah. Yang penting sekarang kamu sehat, itu yang paling penting. Tadi pagi aku begitu khawatir, aku takut kamu kenapa-kenapa"
" Dan sekarang aku lega karena keadaanmu sudah membaik".
Alma menghapus air mata, dan melanjutkan kalimatnya
" Tentang yang dibicarakan ibu tadi..., tidak usah kamu pikirkan".
" Kalau kamu memang ingin punya anak, setelah selesai masa nifas, kita bisa usaha untuk membuatnya lagi".
Alma langsung membicarakan apa yang tadi di bicarakan dengan ibunya.
Akio tersenyum mendengar ucapan Alma.
" Aku setuju dengan pemikiran ibumu. Kita tunda untuk memiliki anak, setidaknya hingga usiamu cukup untuk mengandung". Akio terus memainkan ujung rambut Alma dengan tangan satunya.
" Apa kamu serius A...?", Alma menengadahkan kepalanya menatap wajah Akio, berusaha mencari kebenaran dari ekspresi wajahnya.
" Serius, saat melihatmu kesakitan tadi pagi, pikiran ku langsung kalut, aku sampai bingung harus bagaimana, aku bahkan sampai berpikir yang tidak-tidak, rasanya aku tidak sanggup untuk kehilangan kamu".
" Mungkin benar kamu masih sangat muda, kita bisa punya banyak anak, hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Agar tidak membahayakan kamu lagi". Akio kini ganti mengecup kening Alma.
" Terimakasih.... terimakasih banyak karena kamu begitu baik, aku sangat beruntung menjadi istrimu". Alma menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Akio.
" Jadi kalau boleh tahu, berapa lama aku tidak boleh menyentuhmu?".
" Maksudku menyentuh 'yang itu', yang membuat aku seperti kecanduan ", kali ini Akio terkekeh, dan berusaha membuat kekonyolan agar Alma tidak terus-menerus merasa sedih.
Alma mencubit lengan Akio. " Kamu itu... seharusnya kamu bertemu dokter dan tanyakan langsung padanya, aku juga belum tahu".
" Nanti saja, kita tanyakan saat ada visit dokter, biar kita dengarkan bersama-sama penjelasan darinya". Akio memang sudah berpikir beberapa saat lalu, tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Akio tidak mau Alma terlarut dalam kesedihan, juga tidak mau Alma terus merasa bersalah karena merasa tidak becus menjaga calon buah hati mereka. Karena pada dasarnya semua terjadi karena kesalahan bersama, bahkan mungkin lebih besar kesalahannya dari pada Alma.
Dirinya yang meminta jatah setiap hari, bahkan tidak hanya malam, kadang pagi ataupun siang, Karena itulah Akio tidak pernah menyalahkan Alma, dirinyalah yang jelas-jelas bersalah.
Sebenarnya Akio baru datang karena dirumah dia terus menangis mengingat kejadian pagi hari saat Alma begitu kesakitan. Akio ingin sekali ikut menangis, namun di tahannya karena tidak mau Alma melihat seperti apa tangisannya.
Namun karena menangis matanya menjadi sembab, dan harus menunggu beberapa jam, hingga matanya agak baikan, meski belum kembali seperti semula.
***
" Bagaimana keadaan putrimu?, apa dia baik-baik saja?" .
" Maaf ya... tidak bisa menjenguk ke rumah sakit, karena orderan cucian lagi banyak banget. Tapi kami selalu mendoakan semoga Alma segera sehat dan pulih kembali".
" Seharusnya kamu tidak perlu pulang, kami pasti bisa menyelesaikan semua pekerjaan hari ini, kami sedang bersemangat".
Maemunah yang baru saja sampai di rumah dan turun dari motor Sean, langsung dikerubuti ketiga karyawannya.
Sedangkan Sean langsung pamit pulang ke rumahnya, bahkan tidak turun dari motornya dan langsung pulang.
" Iya, terimakasih kalian sudah mendoakan putriku, dan do'a kalian sepertinya cepat sampainya, sehingga Yang Maha Kuasa memberi kemudahan putriku melewati semua prosesnya".
" Saya pulang hanya untuk mandi dan ganti pakaian, setelah itu saya akan kembali ke rumah sakit bersama Bara akan ku ajak juga, kasihan dia sendirian di rumah".
" Nanti malam aku tidur di rumah sakit, jadi kalau kalian sudah selesai bekerja, tolong semuanya di bereskan, dan kunci pintunya...".
Maemunah pun masuk ke dalam rumah setelah menyampaikan beberapa pesan pada karyawannya.
Selama 30 menit Maemunah mandi, ganti baju dan menyiapkan baju ganti untuk dibawa ke rumah sakit. Bara juga ikut ke rumah sakit, mereka naik ojek online.
Namun sayang seribu sayang, saat Maemunah dan Bara hendak masuk ke dalam rumah sakit, mereka dihadang dua orang satpam dan di tahan di pos, karena usia Bara yang masih dibawah 8 tahun, membuatnya dilarang memasuki kawasan rumah sakit.
Maemunah terus meminta agar Bara diijinkan masuk ke dalam , karena kalau Bara tidak ikut masuk, itu berarti dia tidak bisa menemani Alma yang sedang sakit di dalam.
Akhirnya Maemunah menitipkan Bara sebentar di pos satpam, dia masuk dan ingin menjelaskan pada Alma dan Akio bahwa dirinya tidak bisa menemani Alma, karena Bara tidak bisa masuk.
Namun sama seperti kejadian menguping Akio tadi siang, Maemunah secara tidak sengaja juga mendengar percakapan Alma dan Akio di dalam.
" Jadi Akio setuju Alma pasang KB terlebih dahulu, dia tidak marah pada Alma, dan sangat perduli dengan keselamatan Alma", batin Maemunah.
Kini Maemunah merasa begitu tenang dan juga senang karena Akio sungguh-sungguh mencintai Alma . Cinta mereka berdua begitu tulus dan saling menguatkan. Begitu perduli dan khawatir padanya.
" Semoga Alma bahagia menjadi istrinya", batin Maemunah sambil mengetok pintu kamar. Berusaha untuk masuk, karena harus menjelaskan masalah yang terjadi di pos satpam barusan.
Akio membuka pintu kamar dan melihat Maemunah yang membawa beberapa barang.
Maemunah masuk dan menjelaskan dengan cepat kejadian di pos satpam.
" Ya sudah ibu pulang saja, kasihan Bara sendirian kalau ibu menginap disini".
" Sudah ada Akio disini yang jagain Alma, jadi ibu tidak perlu cemas, Alma juga sudah tidak sakit lagi perutnya, semoga segera sehat dan pulih biar cepet pulang ke rumah".
Akio berkata untuk meyakinkan Maemunah.
" Kalau begitu, ibu titip Alma, jangan di tinggal terlalu lama, dia sedang sakit".
Akio mengangguk sambil mengantar ibu mertuanya keluar dari kamar.
" Sudah tidak perlu di antar ke depan, kamu jagain Alma saja, ibu bisa sendiri", ucap Maemunah menyuruh Akio kembali masuk kamar.
Akio pun kembali masuk kamar dan membiarkan ibu mertuanya berjalan keluar melewati lorong rumah sakit, menuju pos satpam dimana Bara berada.