
Yuna sudah berada dirumah nya. Kini dia sedang mencoba untuk membuat kue bolu coklat. Dengan susah payah, dia membuat sambil melihat resep milik Ibu nya yang di tulis tangan di sebuah map. Ingin mengingat bolu buatan bunda nya yang tiada dua nya.
Adonan sudah jadi dan tinggal di masukkan kedalam oven. Sambil menunggu kematangan bolu buatan nya, Yuna membersihkan dapur nya dan mencuci semua alat yang di pakai untuk membuat bolu nya. Sambil berdoa dalam hati, agar bolu buatan nya enak dan dia bisa berbagi kepada teman-teman nya. Dan mungkin dapat di jual?
Tak lama kue bolu buat nya jadi. Harum bolu nya sangat mirip dengan buatan ibu nya. Yuna jadi teringat akan kenangan indah nya dengan ibu nya saat membuat kue bolu bersama. Yuna menaruh nya di piring dan menunggu sampai menjadi dingin.
Yuna berjalan menuju kamar nya untuk beristirahat sejenak sambil membuka aplikasi chating nya. Ada notif dari grup kelas nya, membicarakan tentang lomba ulang tahun sekolah yang akan di adakan minggu depan.
"Jangan sampai aku di pilih lagi." Doa Yuna.
Yuna membaca sampai habis dan ya nama nya tertera dalam cerdas cemat. Padahal dia tak tertarik untuk mengikuti lomba ini. Mau tak mau Yuna haru mengikuti nya minggu depan. Sudah terlalu lama bermain handphone, Yuna beranjak dan ke meja makan untuk mencicipi kue buatan nya.
Yuna memotong nya sedikit dan memakan nya, sambil membandingkan rasa buatan nya dengan ibu nya. Yuna terkejut karena rasanya begitu mirip.
"Wah, gak nyangka ternyata rasanya sama kayak buatan Bunda. Besok aku akan mencoba resep lain." Yuna memasuki nya ke dalam kulkas dan akan membawa nya ke sekolah.
**********
Yuna sudah berada di dalam kelas nya. Mengamati mata pelajaran yang di terangkan sambil mencatat nya di buku.
"Oke mata pelajaran matematika sudah habis. Untuk tugas kalian membuat kelompok minimal 4 orang per kelompok. Kerjakan hal. 89 dari nomor 1-20." Semua tidak terima akan tugas ini. Karena tugas matematika adalah tugas yang tidak menyenangkan.
"Kumpulkan minggu depan, saat hari Senin." Pak Hendra dan guru magang itu keluar dari kelas dan memasuki kelas lain.
Soal guru magang itu, Yuna terkejut karena yang pindah di rumah itu adalah pak Aldo. Dia baru mengetahui nya saat ingin berangkat ke sekolah tadi pagi. Yora berpapasan dengan Aldo, namun Yuna hanya melirik saja, Aldo pun juga begitu.
Niat nya sehabis pulang, ingin berkunjung kerumah pak Aldo. Hanya sekedar menghormati nya sebagai guru walau hanya guru magang.
Semua sibuk mencari kelompok yang tersisa. Yuna sudah memiliki kelompok. teman kelompok nya Darren merupakan ketua kelas, Amelia teman sebangku nya, Terresa teman 1 kelas nya, namun tidak terlalu akrab dengan Yuna.
"Kerjain mau dirumah siapa?" Tanya Darren kepada kelompok nya.
"Di rumah Yuna aja." Semua setuju dan sekarang menunggu persetujuan dari Yuna.
"Rumah Yuna jauh gapapa?" Semua mengangguk, Yuna pasrah dan menyetujui nya.
"Besok ya kerjain nya. Nanti Yuna minta jemput aja, jadi gak usah pake angkutan umum. Kalau pulang biar dianter juga."
"Keluarga kamu yang mau jemput? tante kamu?" Tanya Teressa, pasal nya satu sekolah tau kalau Yuna sudah tidak memiliki orang tua dan bukan dari keluarga konglomerat.
"Bukan, aku ada supir." Semua mengangguk setuju dan keluar untuk istirahat. Walau bingung, sejak kapan Yuna memiliki supir.
Yuna ke kantin bersama dengan Amelia. Berjalan sambil mengobrol menceritakan hal yang lucu. Tak sadar, Yuna menabrak seorang pria.
Kayak kenal tapi siapa ya? Pikir Yuna.
Saat Yuna mengangkat kepala nya, Yuna terdiam. Sangat malu pikir nya menabrak pak Aldo.
"Maaf pak," Ucap nya sambil membungkuk sedikit.
"Lain kali hati-hati." Pak Aldo pergi dan Amelia menyadarkan Yuna karena masih terkejut.
"Nabrak cogan sampe tegang gitu." Amelia terkikik karena Yuna masih tegang.
"Apaan sih, aku kira siapa tadi. Kalau guru lain kan lebih malu lagi." Mereka melanjutkan jalan nya menuju kantin.
**********
Yuna sudah berganti pakaian dan sudah di depan rumah pak Aldo. Yuna mengetuk pintu namun tidak ada yang membuka nya. Tak menyerah, Yuna mengetuk nya lagi dan lagi. Sampai sang empu nya membuka kan pintu rumah nya dengan sedikit kasar.
"Kenapa?" Yuna menatap Aldo tanpa berkedip. Menikmati pandangan indah yang ada di depan nya.
"Hanya berkunjung saja pak. Kita belum kenalan loh pak sebagai tetangga!" Aldo mengangguk dan mempersilahkan Yuna masuk.
"Rumah nya besar juga ya pak. Bapak tinggal sendiri?"
"Iya."
"Nama kamu siapa?" Yuna menoleh dan berjalan untuk duduk di sofa depan pak Aldo.
"Nama saya Yuna pak. Kim Yuna Perita." Aldo mengangguk.
"Panggil nama saja jika di luar sekolah." Yuna merasa bingung.
"Dari wajah bapak, pasti masih muda. Saya panggil kakak aja gimana?" Aldo mengangguk setuju dengan panggilan tersebut.
"Kak, kenapa gelagat kakak aneh ya? gak kayak manusia biasa gitu." Aldo menegang namun berusaha untuk rileks kembali. Aldo berdehem sebelum bicara.
"Saya biasa aja, kamu yang aneh kali." Aldo berusaha semaksimal mungkin untuk santai.
"Oh gitu ya, oke deh. Yasudah, aku pulang dulu kak." Aldo mengangguk dan mengantar Yuna sampai depan pintu pagar.
Aneh banget sih kak Aldo. Pikir Yuna, dia berusaha untuk acuh saja dan tak ingin memikirkan nya.
**********
"Jadi gimana? Jadi kerja kelompok dirumah Yuna?" Tanya Amelia.
"Hmm iya jadi." Jawab Yuna, mereka berjalan bebarengan keluar sekolah dan menunggu di halte.
"Tunggu sebentar ya, sebentar lagi sampai kok." Semua hanya mengangguk dan menunggu sambil mengobrol membahas untuk membagi pekerjaan. Semua masuk ke dalam mobil saat jemputan nya sudah sampai.
"Nanti kalian mau makan apa? biar Yuna order sekarang."
"Terserah lo aja, kita bebas." Yuna mengangguk dan memesan makanan untuk cemilan saat mereka mengerjakan.
30 menit berlalu ~
"Yuna ada laptop kan?" Yuna mengangguk dan mengambil laptop nya yang berada di dalam kamar dan memberikan nya pada Darren. Mereka segera mengerjakan bagian-bagian mereka untuk mempersingkat waktu.
tok...tok...tok
"Sebentar ya, itu udah sampai makanan nya." Yuna beranjak dari tempat duduk nya dan membuka pintu. Terkejut, karena bukan kurir makanan yang datang, tapi kak Aldo. Yuna panik, karena teman-teman nya sedang berada di rumah nya.
"Kakak ngapain kesini? teman-teman aku lagi disini kak. Nanti aja ya kalau mereka sudah pulang." Mohon Yuna dengan muka memelas.
Aldo tak mendengarkan apa yang Yuna katakan dan langsung masuk begitu saja. Mereka semua tentu saja terkejut, ada pak Aldo yang datang secara tiba-tiba.
"Kenapa kalian melihat saya seperti melihat hantu? silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." Aldo duduk sambil memperhatikan mereka semua mengerjakan tugas. Melihat-lihat jawaban mereka, kalau ada yang salah dapat di perbaiki sebelum pengumpulan.
16.02 WIB
"Kita pulang dulu ya, makasih Yuna. Kami pulang dulu pak." Pamit Darren.
"Iya, hati-hati!" Yuna kembali masuk setelah mereka pergi dan menatap Aldo yang berada di belakang nya.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?"
"Sekarang kakak pulang kerumah, karena ini sudah sore." Yuna masuk kedalam rumah nya tanpa menghiraukan Aldo yang masih berada di depan pintu.