
Saat mereka sampai di pos penjagaan jalan masuk ke komplek rumahnya, Akio dikejutkan dengan kehadiran tamu tak diundang yang kini tengah berdiri di depan pos penjagaan.
" Steven...", Akio membuka jendela kaca mobilnya.
" Selamat siang Mas Akio... ini ada yang nyariin, tapi pas kami mintai KTP, orang ini bilang lupa bawa, jadi kami tahan disini, apa benar ini kenalan kamu?", salah satu satpam jaga komplek menyapa Akio dan bertanya.
" Benar Pak, biarkan saja masuk, dia tamu saya", Akio menutup kembali jendela kaca mobil dan menyuruh pak supir melajukan mobilnya.
Steven juga masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil Akio di belakangnya.
" Biarkan mobil belakang masuk, dia tamu saya", ujar Akio saat pintu gerbang rumahnya dibuka oleh seorang satpam.
" Baik Tuan", jawab satpam sambil memberi hormat.
Kedua mobil masuk menuju garasi mobil, Akio dan Alma lebih dulu turun di teras rumah.
" Kamu masuk saja dulu, aku mau bicara sama Steven", Akio menepuk bahu Alma.
" Siapa dia?, aku baru pernah melihatnya", Alma memperhatikan Steven yang sedang menatap dirinya.
" Dia kawanku yang sudah lama tidak bertemu, dan dari tempat jauh, kamu masuklah, nanti aku menyusul".
Alma mengangguk dan masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar untuk berganti pakaian.
Namun karena penasaran Alma membuka sedikit tirai jendela dan pandangannya fokus ke arah dimana Akio dan Steven sedang berdiri di luar rumah.
Kedua pria itu terlihat sedang berbicara serius, Alma bisa menyimpulkan dengan melihat raut wajah mereka berdua.
" Siapa Steven, baru kali ini ada yang mencari Akio, setahuku dia tidak punya satu pun teman ".
" Apa mungkin Steven juga makhluk planet Mesier yang beberapa waktu lalu pesawatnya jatuh ke Bumi?", Alma masih terus menerka.
Benar kata Akio, mereka hanya bicara sebentar, karena Steven terlihat meninggalkan Akio dan masuk kembali ke dalam mobilnya.
Alma langsung menutup tirai saat pandangan Akio melihat ke arahnya. Dengan cepat Alma berlari menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya. Tak lama kemudian Akio masuk ke dalam kamar, sedangkan Alma pura-pura sibuk dengan ponselnya.
" Kenapa ngintip?, penasaran dengan yang kami bicarakan?" Akio bertanya sambil melepas jaket dan juga seragam sekolahnya.
" Siapa Steven itu, apa mungkin dia itu....", Alma tadinya ingin memperjelas jika Steven adalah Alien atau manusia tapi Alma mengurungkan niatnya.
"..... bukankah selama ini kamu tidak punya teman dekat?, kenapa tadi kalian terlihat membicarakan sesuatu yang penting?".
" Dia sama sepertiku", Akio tahu yang ada di pikiran Alma, dan tidak ingin Alma terus penasaran, karena itu Akio memberitahukan siapa Steven itu.
" Lalu untuk apa kalian bertemu?, dia tidak mengajakmu kembali ke planet Mesier kan?", raut wajah Alma langsung menunjukkan kekhawatiran.
" Tidak, dia hanya ingin bertemu dan menyapa saja", Akio tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Alma.
Padahal tadi Steven datang untuk mengabari jika UFO milik Steven sudah berhasil diperbaiki dan sudah bisa digunakan.
Akio meminta Steven ke taman hijau untuk melihat UFO miliknya, sekaligus memintanya untuk memperbaiki UFO miliknya. Steven memang seorang mekanik handal di planet Mesier. Jika di setarakan dengan makhluk bumi, mungkin Steven bisa menjadi seorang profesor atau ahli mekanik.
Rencana kembali ke planet Mesier memang masih ada di hati Akio, umur mereka yang sangat panjang membuat mereka tidak bisa terus-terusan berada di bumi, pasti akan segera ketahuan jika mereka berbeda. Karena proses penuaan makhluk Mesier yang sangat lamban.
" Aku tidak akan meninggalkanmu sayangku, karena aku sudah berjanji, dan tidak pernah aku mengingkari janjiku", Akio sudah selesai berganti pakaian dan duduk di samping Alma sambil menggenggam tangannya.
" Aku akan kembali setelah kau menghadap Sang Kuasa, karena menurut pengamatan ku, usia makhluk bumi rata-rata hanya sampai 80 tahun, saat kau telah pergi ke dunia lain, saat itulah aku akan membawa anak kita ke planet Mesier bersamaku", batin Akio, sambil terus menggenggam tangan Alma.
***
" Bagaimana, apa bisa di perbaiki?".
Akio melakukan obrolan dengan Steven melalui ponselnya. Setelah makan siang dan melakukan aktivitas panas di atas kasur, Alma terlelap dan tidur siang, sehingga Akio bisa melakukan panggilan dengan Steven di lantai atas, tepatnya di ruang kerjanya tanpa sepengetahuan Alma.
" Apa kau bisa kesini?, sepertinya memang mesin pesawatmu mengalami kerusakan yang lebih parah".
" Mesin utamanya terbakar sampi hangus. Kita harus bisa membuat yang baru".
Akio mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Steven.
" Aku belum bisa ke sana saat ini, mungkin besok, memangnya apa saja yang harus disiapkan untuk merakit mesin yang baru?", Akio memang tidak paham tentang mesin.
Steven menyebutkan apa saja yang harus dipersiapkan. Dan beberapa jenis bahan yang disebutkan tidak tersedia di Indonesia. Hanya bisa mengimpor dari luar negeri.
" Kita akan butuh waktu yang cukup lama untuk bisa memperbaiki pesawatku, selama kau tinggal disini mungkin kau harus membuat identitas baru sepertiku".
" Dengan nama asli saja, aku tidak terbiasa jika dipanggil dengan nama baru", hanya itu yang Steven ucapkan di percakapan siang itu.
Akio kembali menelepon seseorang untuk membuatkan identitas atas nama Steven Toyoda, dia menjadikan Steven sebagai kakaknya dengan memiliki nama belakang yang sama.
***
Alma terbangun saat langit sudah mulai gelap, dan Akio sedang duduk di sofa kamar sambil sibuk menatap layar ponselnya.
" Wah aku tidur berapa jam?, sampai senja begini, kenapa kamu tidak membangunkan aku?", Alma meregangkan otot tubuhnya dengan mengangkat kedua tangan keatas dan melenggak-lenggok ke kanan dan kiri.
" Kamu terlihat sangat pulas, aku tidak tega membangunkanmu, kamu pasti kelelahan setelah berenang di sekolah". Akio meletakkan ponselnya di atas meja dan menghampiri Alma yang sedang menurunkan kakinya dari ranjang.
" Cih.... kamu salah, aku tidak merasa lelah setelah berrenang, justru jadi segar dan badan terasa lebih ringan".
" Justru aku lelah karena harus mengimbangi gerakan bercintamu yang semakin liar".
" Dimana kamu melihat hal semacam itu sih?, bisa-bisanya kamu membuat tubuhku terasa seperti hampir remuk".
Akio terkekeh mendengar pertanyaan Alma.
" Kenapa nanya lihat dimana?, apa kamu mau lihat bareng sama aku?, nanti bisa sekalian kita praktek ulang".
Alma membulatkan matanya, "cih... enak saja praktek ulang!, badan terasa pegal-pegal semua"
" Tentu bakalan enak sayang... kamu juga tadi semangat banget, karena itulah aku jadi semakin semangat". Akio justru menyalah artikan kata 'enak saja' yang Alma ucapkan.
" Ngomong sama kamu itu nggak pernah serius, selalu saja arahnya kesitu!"
Alma semakin geram.
" Ngomongnya nggak serius yang penting cintaku padamu sangat serius", Akio memeluk Alma yang sedang emosional. Mungkin bawaan bayi.
" Kalau yang satu itu aku percaya, kamu sangat serius dan sangat mencintaiku", Alma pun membalas pelukan Akio, namun tidak lama langsung melepaskannya, karena bagian bawah tubuh Akio sudah kembali terbangun dan menunjukkan wujud sesungguhnya.
" Nggak mau lagi, yang tadi saja masih capek banget". Alma langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri, namun Akio berhasil memeluk tubuh Alma dari belakang.
" Sebentaaaar saja, nggak lama, mau ya sayang..., aku janji cuma sebentar, nggak pakai gaya-gaya yang aneh", pinta Akio dengan suara memelas, sambil bibirnya terus mengecup tengkuk Alma, membuat Alma kembali merasakan glenyeran aneh yang membuatnya pasrah dan mengabulkan keinginan Akio untuk kembali beraktivitas panas di atas kasur.
_
_
Malam harinya Alma mendapatkan telepon dari Sean, Alma sudah lama tidak bertemu dan ngobrol dengan sahabatnya itu. Bahkan Sean tidak tahu jika Alma kini tinggal di rumah Akio, Sean juga belum tahu tentang pernikahannya, yang Sean tahu Akio pacar Alma.
" Al... kangen nih, besok aku main ke rumah kamu ya, aku dengar ibu kamu sekarang punya usaha laundry ya?, wah kereeen...., mumpung liburan, dan aku belum ada rencana kemana-mana, aku bisa bantuin di tempat loundry", Sean langsung bicara tanpa henti.
Alma yang sengaja me load speaker teleponnya memberi kode pada Akio, bertanya harus menjawab apa.
Akio berbicara tanpa mengeluarkan suara, dan Alma mengikutinya.
" Iya main saja besok, tapi siangan ya, nggak usah bantuin ibu di loundry, sudah ada tiga orang yang bantuin ibu", ucap Alma sambil mengikuti gerakan bibir Akio.
" Waaah... benarkah?, bahkan ibu kamu sudah punya karyawan, kereeen...!".
" Oke kalau begitu besok aku kerumah kamu jam 10, ada banyaaak banget yang mau aku obrolin sama kamu".
" Iya, besok aku akan jadi pendengar setia semua cerita kamu".
" Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, sudah ngantuk ni, tadi capek banget habis.... habis olahraga di sekolah", Alma hampir saja lupa mengatakan capek habis beraktivitas panas di atas ranjang.
" Oke kalau begitu, selamat istirahat, mimpi indah ya Al.....".
Panggilan berakhir.
" Besok aku antar kamu ke rumah ibu jam 8, kita juga belum pernah ke sana sejak kamu tinggal disini", ujar Akio.
Alma mengangguk setuju, " Sebelumnya kita mampir ke pasar ya A...., aku pengin beli banyak jajan buat Bara".
Akio mengangguk setuju dengan permintaan istri tercintanya. Dalam hatinya merasa kebetulan, karena besok Akio akan pergi ke gudang di taman hijau dekat rumah Alma, di sana ada Steven yang masih mengecek UFO miliknya yang rusak.
Jika Alma besok ke rumah ibunya dan Sean akan datang, itu berarti Akio bisa dengan tenang meninggalkan Alma, tanpa membuat Alma bosan karena harus sendirian dan menunggunya.