
Alma POV
Hampir setiap saat di sekolah Akio terus memperhatikan keadaanku, tidak pernah sekalipun membiarkan aku berada terlalu jauh dari jangkauannya.
Dan kabar tentang hubungan kami yang resmi berpacaran sudah tersebar ke seluruh penghuni sekolah, bukan sedang sombong, tapi mungkin saat ini aku dan Akio sedang menjadi trending topik dan sebagai bahan pembicaraan paling hot di sekolah.
Mereka mengira-ngira kapan kami jadian. Dan saat aku mendengar cerita dari Feni, justru beberapa dari pemikiran mereka itu sangat lucu.
Feni mengatakan dengan menggebu-gebu saat menceritakan ekspresi dan cara bicara mereka yang sedang membicarakan tentang hubunganku dan Akio.
~ Akio kan pendiam, dugaan ku pasti Alma yang menyatakan cinta lebih duluan sama si Akio ~
~ Nggak juga, menurutku Akio deh yang bilang suka terlebih dahulu sama Alma, secara... dia kan tiap hari ngekorin si Alma terus ~
~ Kalau menurutku sih iya, Akio yang lebih dulu suka, kan dia mau ngobrol sama cewek itu cuma sama Alma saja, nggak pernah ngobrol santai sama cewek lain ~
~ Mereka berdua serasi kok, sama-sama jenius, dan wajar mereka jadian, kan sering kemana-mana bareng tuh... Bisa jadi mereka jadian pas jadi peserta olimpiade sains di Jakarta kemarin~
~ Seandainya mereka belum jadian, aku pengen banget bisa deketin Alma dan jadiin dia cewek ku, nggak bakalan aku putusin sampai kita kawin, memperbaiki keturunan cuy... kawin sama cewek jenius ~
~ Di rumah lu nggak ada kaca cuy... ngimpi kali kawin sama si Alma, pasti Alma bakalan kabur pas elu ngatain cinta sama dia! ~
~ Ngomongin kawin.... , bayangin kalau hubungan pacaran Alma sama Akio bisa sampai kawin, wah pasti anak mereka bakal jenius banget, secara bibit dari dua gen jenius berkolaborasi, wkwkwkw ~
Aku sampai meminta Feni untuk menghentikannya ceritanya. Sudah terlalu lama aku tertawa sendiri, membuat perutku terasa kaku.
Benar, Feni kini duduk di kursi sebelahku, dan saat dia menceritakan komentar-komentar lucu tadi, Akio juga ikut mendengarkannya, meski dia pura-pura sambil baca buku, tapi aku tahu telinganya mendengarkan apa yang Feni ucapkan.
***
Author POV
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, sudah satu bulan Alma dan Akio tinggal satu atap, dan setiap malam tidur satu ranjang.
Tubuh Alma terlihat semakin berisi, tapi perut buncitnya belum terlihat, masih rata, dan masih sama dengan saat dirinya belum hamil.
Mungkin tubuhnya semakin berisi karena setiap hari makan makanan sehat yang mencukupi asupan gizinya. Tidak seperti saat tinggal bersama ibunya, makan seadanya, bahkan kadang hanya bisa makan pagi dan siang saja, malam tidak makan karena makanan sudah habis oleh Bara.
Namun semenjak tinggal dirumah Akio, Alma bisa makan makanan apapun yang diinginkannya. Tidak perlu repot masak, tinggal sebut, dan makanan itu akan tersedia di meja makan keesokan harinya.
Dan keadaan seperti itu membuat Alma jarang beraktivitas, aktivitas yang membuatnya lelah hanya saat menemani Akio di atas kasur.
_
_
Pagi ini, hari Jum'at seperti biasa Akio dan Alma berangkat ke sekolah bersama-sama.
" Al..., nanti siang pelajaran olahraganya kelas kita jadwalnya berrenang, tapi aku sedang datang bulan, aku hanya akan nonton kalian dari pinggiran kolam", Feni sengaja mengajak ngobrol Alma karena merasa bosan, pelajaran sejarah hanya diberi tugas untuk mengerjakan LKS ( Lembar kerja siswa), karena guru sejarah sedang menjalankan dinas luar.
" Bukankah biasanya kita kalau datang bulan itu bareng ya Al?, apa kamu sudah lebih dulu selesai?, atau justru belum datang bulan?", tanya Feni, membuat Akio yang duduk di belakang Alma pun bisa mendengarkannya.
" Eh...iya, belum Fen, mungkin telat bulan ini", Alma menjawab sambil melirik ke arah Akio.
" Nggak biasanya kamu telat datang bulan, kamu nggak lagi sakit kan?", Feni menatap Alma lekat. Dirinya baru sadar jika akhir-akhir ini Alma terlihat semakin berisi.
" Aku sehat, sehat banget, lihat saja, tubuhku semakin berkembang dengan pesat".
Feni hanya mengangguk-anggukan kepalanya tidak menaruh curiga.
Pelajaran terakhir olahraga, semua siswa kelas Alma pergi ke kolam renang yang ada di gedung olahraga. Pak Bayu menyuruh murid-muridnya melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum masuk kolam.
Akio mendekati Alma dan berbisik, " kamu jangan terlalu aktif dan bersemangat saat pemanasan dan berenang nanti, aku takut membahayakan janin yang ada di perutmu".
Namun Alma justru terkekeh mendengar bisikan Akio.
" Kamu ini sudah aku bilang jangan berlebihan, pemanasan olahraga itu nggak se-ekstrim gaya kamu kalau lagi di atas kasur, aku yakin anakmu sudah terbiasa mendapatkan guncangan di dalam perutku, kamu sendiri yang membuat guncangan itu setiap malam".
Priiitt....
Suara peluit membuat semua murid berbaris dan merentangkan kedua tangannya.
Satu siswa akan maju kedepan memimpin pemanasan, dan setiap minggunya selalu seperti itu, semuanya bergilir menjadi pemimpin pemanasan sesuai urutan absen.
Setelah pemanasan pak Bayu memberi contoh cara melakukan renang gaya punggung, semua murid memperhatikan, setelah itu mempraktekkan sesuai yang di ajarkan pak Bayu.
Semua mencoba melakukan renang gaya punggung bergantian sesuai urutan absen, hingga nama terakhir Zaenal Mustofa selesai praktek gaya punggung.
" Dengar baik-baik, bapak mencatat waktu renang tercepat itu adalah Akio Toyoda, hanya 2 menit memutari kolam ini. Yang di urutan kedua ada Ronal dengan catatan waktu 4 menit".
" Sebenarnya bapak sedang mencari dua calon kandidat yang akan bapak ikut sertakan dalam olimpiade cabang olahraga renang , apa kalian berdua berkenan?", Pak Bayu menatap Akio, kemudian menatap ke arah Ronal.
Sebagai ketua kelas Ronal langsung setuju untuk ikut serta menjadi peserta, namun Akio berbeda, dia langsung menolak tawaran itu.
" Maaf Pak, saya tidak bisa ikut menjadi peserta".
Pak Bayu mengernyitkan keningnya, padahal kecepatan Akio itu di atas rata-rata, dan Bayu yakin jika Akio ikut serta SMA pelita jaya bisa kembali membawa pulang medali emas dari cabang renang.
" Boleh saya tau alasanmu Akio?, kamu seharusnya bisa mewakili sekolah dan membawa nama baik sekolahan ini lagi".
" Kamu akan menjadi bintangnya sekolah SMA Pelita Jaya", ujar Bayu.
Akio mengatakan alasannya dan menjawab dengan tegas, " saya harus menjaga fisik saya agar tidak kelelahan untuk mempersiapkan diri mewakili Indonesia mengikuti olimpiade sains internasional di Almaty, Kazakhstan dua bulan kedepan".
" Sudah bukan lagi atas nama SMA Pelita Jaya, tapi saya membawa tanggung jawab lebih berat, membawa nama baik negara Pak".
Bayu mengerti yang Akio maksudkan, " ada benarnya juga cara berfikir anak muda ini", batin Bayu.
Akio tersenyum membaca isi hati guru sekaligus wali kelasnya itu.
" Bapak setuju dengan cara berpikirmu, maaf karena bapak tidak berfikir sampai sejauh itu, Kalau begitu bapak akan mengikut sertakan peserta dari kelas lain".
" Terimakasih atas pengertiannya Pak guru".
Akio tersenyum lega, sebenarnya tidak masalah baginya mengikuti kedua olimpiade itu, karena waktunya tidak bersamaan, namun Akio malas jika harus terlalu sering meninggalkan Alma di rumah sendiri, karena prioritas Akio saat ini adalah menghabiskan waktu sebanyak mungkin selalu berada di samping Alma, ada benih janin yang bersemayam di perutnya. Dan itu adalah benihnya.
_
_
Pulang sekolah, Alma masuk kedalam mobil BMW seri X milik Akio, semua warga sekolah sudah sering melihat, dan itu sudah biasa terjadi, dan menjadi hal yang wajar ketika seorang pasangan kekasih berangkat dan pulang sekolah bersama-sama.
Saat sudah duduk di dalam mobil dan pak supir melajukan mobilnya, Alma pun mulai membuka pembicaraan.
" Kenapa tidak diterima saja tawaran pak Bayu?, pasti kamu bakalan jadi most wanted nya cewek-cewek Pelita Jaya".
" Benar kata Pak Bayu, kamu bakalan jadi bintang yang paling terang di sekolah ini, bahkan mungkin kamu akan dikenal oleh semua siswa SMA satu kabupaten".
" Sudah menjadi juara olimpiade astronomi tingkat Nasional, juga mewakili sekolah mengikuti olimpiade cabang olahraga renang".
" Otak jenius dan fisik yang kuat, wah siapa yang nggak bakalan suka sama kamu", Alma sebenarnya merasakan dadanya sesak mengatakan hal itu. Ada rasa cemburu tiba-tiba muncul di hatinya.
Tentu saja Akio tahu, karena dia bisa mengetahui isi hati orang lain, karena itulah Akio hanya tersenyum dan tidak mau menanggapi perkataan Alma, justru Akio merangkul pundak Alma.
" Mana bisa aku menurut untuk ikut olimpiade renang, pasti akan sering diajak berlatih, dan itu hanya akan menghabiskan waktu berhargaku".
" Aku harus meninggalkan istriku yang cantik ini, setelah susah payah aku membujuk nya agar mau tinggal bersama serumah".
" Saat ini nggak ada hal yang lebih penting dari istriku yang sangat cantik ini, di kamu adalah prioritas utamaku saat ini".
Alma langsung tersenyum simpul dan wajahnya langsung merona. Akio pun merasa begitu gemas dengan senyuman Alma, dan mengecup bibirnya dengan cepat.
" Terimakasih my hubby..."