
Ternyata Alma benar-benar tidur, dan baru terbangun jam 5 sore. Saat bangun ibunya sedang berkemas untuk pulang, karena sebentar lagi Bara akan pulang dari tempat les. Dan hari sudah mulai gelap, jadi kasihan jika Bara di rumah sendirian.
Sedangkan Sean sudah pamit satu jam yang lalu. Katanya harus mengikuti les bahasa Inggris di rumah, awalnya Sean ingin bolos les, namun ternyata Alma tak bangun-bangun, jadi Sean pulang dan ikut les.
" Biar saya antar ibu sampai ke mobil", Akio memasukkan beberapa macam buah ke kantong plastik untuk di bawa pulang ibunya. Bara pasti akan sangat senang jika ibunya pulang membawa buah tangan.
" Ibu sudah mau pulang?, salam buat Bara ya Bu, terus kalau besok ibu sibuk dengan kios loundry, ibu nggak kesini nggak papa, Alma sudah baikan, bisa ke kamar mandi sendiri dan sudah tidak lemas lagi".
Memang Alma saat ini terlihat lebih fresh dan segar, tidak se pucat kemarin. Tapi tetap saja Maemunah tetap mencemaskan keadaan nya.
" Besok ibu akan tetap kemari. Nak Akio kan harus berangkat sekolah, kios loundry kan sudah ada tiga orang yang menjaga, belum di tambah pegawai baru yang baru mulai berangkat besok".
Alma dan Akio saling memandang.
" Kapan ibu merekrut karyawan barunya?, sejak kemarin kan ibu disini nemenin Alma?", tanya Akio penasaran.
" Iya, ibu nggak membuka lowongan kerja besar-besaran, jadi nggak perlu seleksi, karena dua pegawai baru yang mau bekerja satu adalah suami karyawan ibu, dan satunya lagi adik ipar dari karyawan ibu. Katanya di sawah sedang tidak ada pekerjaan , jadi ikut kerja satu jadi driver untuk antar jemput cucian, dan satunya bantu nyetrika, katanya sudah biasa nyetrika di rumah".
" Kita lihat saja hasilnya besok bagaimana ".
" Justru itu Bu..., ibu besok harus masuk kios, mereka pegawai baru, ibu harus kasih tahu apa yang harus mereka kerjakan".
" Dan juga ibu harus mengawasi bagaimana kinerja mereka, bagus atau tidak. Alma akan baik-baik saja, disini banyak sekali perawat. Dan juga Akio besok bisa ijin untuk pulang lebih awal".
Padahal Maemunah bermaksud menemani Alma besok, agar Akio tetap bisa sekolah, dan tidak mengganggu aktivitas nya. Namun ucapan Alma seolah tidak mengharapkan kedatangannya.
" Baiklah kalau itu yang kamu mau, pasti kamu lebih merasa nyaman di samping Akio, dari pada bersama ibu".
Mendengar perkataan ibunya Alma baru sadar jika ucapannya sudah menyakiti hati ibunya.
" Maaf.... bukan begitu maksud Alma. Ibu baru membuka usaha baru, belum lama dan masih dalam kondisi belajar berbisnis, Alma tidak mau akan ada masalah hanya karena ibu menemani Alma disini, sedangkan pegawai ibu ada yang baru bekerja, dan butuh bimbingan".
" Ibu jangan merasa kalau Alma lebih nyaman bersamaku, dibandingkan bersama dengan ibu, karena sejatinya sebuah hubungan tidak ada yang lebih kental dari sebuah ikatan darah", ucap Akio spontan.
Maemunah yang sudah terlanjur merasa kecewa hampir tidak bisa mencerna maksud baik Alma.
" Baiklah kalau memang itu yang terbaik, besok ibu mungkin akan tetap kesini namun siang, saat jam istirahat kios loundry. Ibu pamit pulang dulu. Cepatlah sembuh, ibu akan selalu mendoakan kesehatan mu".
Maemunah keluar dari kamar, diikuti Akio yang membawakan kantong plastik berisi buah untuk Bara.
_
_
" A... apa tadi ada ucapanku yang salah ya?, kok ibu malah bicara begitu", tanya Alma sambil menatap langit-langit kamar.
Akio menggelengkan kepalanya. " Dari yang ku baca dari hati beliau, ibumu itu cemburu padaku, dia merasa kamu lebih memilih bersamaku di banding bersamanya. Karena itulah ibu sedih dan kecewa", Akio tiduran di ranjang Alma, dengan posisi miring menghadap Alma.
" Tapi bukan begitu maksud ku, A....", Alma merubah posisinya miring menghadap Akio.
" Iya, Aku tahu maksudmu, karena aku bisa baca hatimu, tapi tidak dengan ibumu, dia tidak mengetahui maksud perkataan mu, karena beliau tidak bisa membaca pikiranmu".
" Kamu tenang saja, meski ibu menjagamu disini, akan ada orang kepercayaan ku yang akan mengawasi pekerjaan di kios loundry".
" Oh iya sayang... tadi aku sudah bertanya pada dokter saat beliau visit, pas kamu tidur tadi, aku tanya berapa lama aku tidak boleh menyentuhmu".
" Kata dokter selama 40 hari, berarti sampai kita akan berangkat ke Almaty, Kazakhstan. Aku baru boleh menyentuhmu".
Alma bisa melihat ekspresi sedih di wajah Akio, namun dia justru tertawa.
" Kamu kok kaya nggak semangat begitu, aku sudah sehat, dan tadi pagi saat kamu berangkat ke sekolah, dokter sudah memasang implan di lengan tangan kiriku, lihatlah". Alma menunjukkan perban di lengan kirinya, dengan menggulung lengan bajunya.
Akio sejak tadi baru melihatnya, karena lengan baju yang dipakai Alma panjang, sehingga Akio tidak sadar ada bekas tindakan medis di lengan Alma.
" Jadi sudah di pasang implan?, aku kira belum. Tadi aku baru saja mau menanyakan, ternyata sudah dipasang ".
Alma tersenyum, " ini masa berlakunya selama 5 tahun, jadi saat sudah 5 tahun, kita ke sini lagi untuk melepas implan, biar bisa punya keturunan".
"Akio mengangguk mengerti, karena kemarin malam sempat browsing tentang macam-macam alat kontrasepsi, dan memang implan terlihat yang paling efektif.
" Untung saja lengan bajumu panjang, jadi tadi teman-teman tidak melihat perban di lengan tanganmu". Akio baru ingat tadi teman-temannya datang menjenguk.
" Aku sengaja memakai baju panjang, memang sudah memperkirakan pasti akan ada yang datang, dan ternyata perkiraan ku tepat". Alma sedikit menyombongkan diri. Sungguh momen yang langka melihat Alma seperti itu.
***
" Ini dari kak Alma, dia titip salam buat kamu".
Maemunah langsung menyerahkan kantong plastik berisi buah pada Bara.
Dirumahnya memang belum ada kulkas, jadi kalau punya buah-buahan harus segera dihabiskan, kalau tidak akan busuk.
" Apa kak Alma sudah sehat Bu, kapan kak Alma akan pulang?", Bara membuka kantong plastik dan langsung berbinar melihat isinya. Ada apel, jeruk, pir, anggur, sawo dan juga kiwi.
" Dia sudah lebih baik saat ini, tapi kalaupun sudah boleh pulang, mungkin dia akan pulang ke rumah suaminya yang kaya raya itu".
Maemunah berjalan masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Entah mengapa akhir-akhir ini hatinya merasa sedih karena hal-hal yang bersangkutan dengan Alma. Padahal Alma bahagia saat bersama Akio, dan mereka sudah menikah, seharusnya Maemunah juga ikut berbahagia.
Namun justru saat ini dirinya merasa tidak bahagia. " Atau mungkinkah aku kesepian?".
" Haruskah aku memikirkan untuk menikah lagi, agar rumah ini tidak terlalu sepi".
" Mungkin kali ini Alma tidak lagi akan menolak laki-laki yang ku pilih, karena dia sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri", batin Maemunah.
Maemunah keluar dari kamar dan menghampiri Bara yang tengah menonton televisi sambil menikmati buah yang tadi dibawanya.
" Bara...!, apa kamu setuju jika ibu menikah lagi?, kamu mau kan punya ayah baru", Maemunah tiba-tiba dengan spontan menanyakan hal yang terlintas di pikirannya pada Bara begitu saja.
Bara yang sedang menyuapkan anggur ke dalam mulutnya pun melongo hingga anggur itu menggelinding keluar, dan jatuh di atas lantai.
" Kenapa ibu tiba-tiba bertanya begitu?, apa ada yang melamar ibu tadi siang?", jika dalam situasi seperti ini, Bara merasa sangat membutuhkan kehadiran Alma.