My Boyfriend Is An Alien

My Boyfriend Is An Alien
Episode 25 : Perubahan



Pagi hari Alma dan Akio masih meringkuk di dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.


Udara pagi yang dingin, di tambah kabut tebal menutupi hampir keseluruhan pulau kecil dimana mereka tinggal.


Apalagi semalam, usai mereka makan, mereka melakukan olahraga malam di ranjang, mungkin jam 3 pagi mereka baru menyelesaikan pergumulan mereka di atas kasur.


Dan sama-sama terlelap setelah merasakan panasnya gelora cinta yang mereka berdua curahkan satu sama lain.


Alma membuka matanya, dipandangnya wajah Akio, yang sangat tampan, dan masih memejamkan mata, mereka berdua masih berada di dalam selimut yang sama.


Satu kecupan lembut mendarat di kening Akio, membuatnya terbangun dan membuka matanya, kemudian seulas senyuman merekah di bibirnya.


" Beruntung sekali hari ini, bangun tidur langsung menatap wanita cantik yang memberikan morning kiss di keningku". Akio membalas mengecup, namun bukan di kening, melainkan di bibir Alma.


" Andai waktu berhenti saat ini, aku tidak masalah, aku bahagia berada bersamamu".


" Bagaimana jika saat nanti kita pulang ke rumah, kamu tinggal di rumahku saja?, kita tinggal bersama".


" Bagaimanapun kita sudah suami istri yang sah, dan tinggal bersama tidak masalah kan? ". Akio menggeser posisi tidurnya, mendekat dan memeluk tubuh Alma yang masih polos.


" Aku harus tanya ibu dulu, kalau ibu mengizinkan, tentu aku mau". Alma tidak menolak, tapi juga tidak langsung menyetujuinya. Alma masih menghormati ibunya dan akan terus mempertimbangkan saran ibunya sebelum membuat keputusan.


" Tapi untuk yang satu ini, kamu tidak perlu bertanya terlebih dahulu pada ibumu kan?".


" Soalnya kelamaan, kalau mau tanya ibu lebih dulu", Akio terkekeh saat menyingkapkan selimut dan mengubah posisi tubuhnya, kini Akio menindih Alma dengan tubuh mereka yang masih sama-sama polos.


Akio langsung mengecup bibir Alma dan kembali memulai pergumulan hangat yang mengawali percintaan mereka, mengulang kejadian yang semalam.


" Masih kuat berapa ronde?", Alma sengaja menggoda saat Akio mulai menelusuri bagian bawah tubuhnya.


" Wah...apa ini sebuah tantangan?, maka dengan senang hati aku akan melakukannya berulang kali, sampai kau yang akan menyerah terlebih dahulu". Akio kembali melanjutkan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Alma terbuai dalam kenikmatan yang luar biasa.


Mereka berdua kembali melakukan olahraga di atas ranjang. Olah raga pagi yang membuat nafas mereka terengah-engah.


" Sepertinya sudah lama kita tidak melakukan olahraga".


" Makanya nafas kita hampir habis, padahal hanya melakukan permainan selama 30 menit saja ".


Akio merasa tubuhnya sedang tidak bugar. Mungkin benar, mereka berdua terakhir mengikuti kegiatan olahraga di sekolah dua minggu yang lalu, dan tidak melakukan olahraga sendiri di rumah.


" Saat kembali ke rumah sebaiknya kita harus sering joging, atau berenang bersama, biar tenaga kita lebih kuat dan nafas lebih panjang", ucap Akio.


" Kenapa harus menunggu saat di rumah, bukankah kita bisa berenang disini?, aku lihat ada kolam di samping rumah", ide Alma muncul begitu saja.


" Wah ide bagus, sepertinya suhu badan sudah tidak dingin", setelah pertarungan di atas ranjang tadi kini tubuh mereka berdua merasa gerah.


" Bagaimana kalau kita berenang bersama sebelum sarapan?" , Akio melirik kearah Alma.


" Baiklah, lagian aku juga belum merasa lapar", Alma setuju untuk berenang terlebih dahulu sebelum sarapan.


Akio menggunakan celana pendek untuk berenang, sedangkan Alma memakai kaos tipis dan celana pendek miliknya.


" Tidak bawa baju renang, jadi pakai seadanya saja", Alma mengikuti langkah Akio menuju kolam renang, saat keluar dari kamar terlihat kedua bibi sedang masak di dapur, dan ada tukang kebun yang sedang merapikan taman bunga di halaman depan.


Byur......


Akio langsung meloncat ke dalam kolam, sedangkan Alma masih duduk di tepian kolam, mencoba memasukkan kakinya terlebih dahulu ke dalam air, agar tubuhnya tidak terlalu kaget dengan perubahan suhu yang terjadi.


" Aaaahhh......!!!".


Alma menjerit, saat kakinya di tarik dari dalam kolam, dan tubuhnya masuk ke dalam air seluruhnya. Alma masih bisa membuka matanya meski kini seluruh tubuhnya masuk kedalam kolam, nampak wajah Akio dihadapannya tersenyum jahil.


Dengan keras Alma memukul-mukul dada Akio yang berada di hadapannya, namun bagi Akio tidak terasa sakit sama sekali, karena efek air yang mengurangi tekanan pada pukulan Alma.


Alma akhirnya meninggalkan Akio dan berenang bolak-balik beberapa kali, saat dirinya merasa sedikit lelah, Alma merapatkan tubuhnya di dinding kolam untuk mengatur nafas, tangannya berpegangan di lantai pinggiran kolam.


" Apa yang mau kau lakukan ?", ujar Alma menatap Akio yang kemudian mengeluarkan kepalanya dari dalam air.


Satu tangan Akio memeluk Alma dari belakang, meremas b*k*ng Alma yang masih berada di dalam kolam.


" Mau mencoba bercinta di dalam kolam?", ajak Akio sambil tersenyum jahil.


" Apa kau sudah gila ...?, aku tidak mau, bagaimana kalau tiba-tiba ada bibi atau tukang kebun lewat, kan malu!", Alma menolak, itu hal yang paling konyol yang pernah Akio minta darinya.


" Tapi aku mau".


" Kau benar-benar sudah gila Akio....!!" Alma melotot saat tahu bagian bawah tubuhnya tidak mengenakan apa-apa lagi saat ini. Hanya kepala mereka berdua yang nampak di permukaan air kolam.


Akio pun mulai melakukan sentuhan-sentuhan lembut pada titik sensitif tubuh Alma, saat Alma mulai menggeliat dan meliak-liuk kekanan dan kekiri menahan gejolak yang muncul dari tubuhnya, Akio pun melakukan penyatuannya di dalam kolam, meski awalnya Alma menolak, karena akan sangat malu jika ada yang tahu. Namun ternyata Akio sudah memperingatkan pada semua pembantunya untuk tidak melewati sekitaran kolam selama mereka berdua berenang.


Kini kedua insan itu saling berhadapan dengan posisi begitu rapat, bahkan seolah tanpa jarak, karena tengah melakukan penyatuan di dalam air, Akio sengaja menyandarkan Alma di dinding kolam, dan mulai menghentakkan pinggulnya maju mundur, satu tangannya mencengkeram tengkuk Alma agar Alma tidak melepaskan ciuman di bibirnya, dan satu tangan lagi *******-***** gundukan di dada Alma.


Kali ini nafas mereka sudah lebih teratur, meski Alma masih merasa kewalahan mengimbangi kecepatan permainan Akio.


Dinginnya air kolam tidak terasa lagi, berubah menjadi hawa panas yang keluar dari tubuh kedua insan yang tengah menikmati rasa membuncah yang tidak bisa di definisikan dengan kata-kata.


Selesai membilas tubuh di bawah guyuran shower di dalam kamar mandi yang ada di samping kolam, Alma dan Akio keluar dan masuk ke dalam rumah hanya dengan menggunakan bathroob.


" Sarapan tolong di bawa ke dalam kamar saja bi", perintah Akio sambil berjalan masuk menuju kamar.


" Kenapa dibawa ke kamar?, kita makan di ruang makan saja, kasihan bibi harus pindahin piring sebanyak itu".


Akio membalikkan badan menatap Alma yang berjalan dibelakangnya. " Aku kira kamu yang nggak nyaman makan di sana, tapi kalau mau kamu begitu, ya oke, kita sarapan di sana saja".


Akio menarik tangan Alma menuju meja makan." Nggak jadi bi, kita sarapan disini saja", ujar Akio.


" Baik Tuan".


Si bibi kembali ke dapur meninggalkan Akio dan Alma agar merasa lebih nyaman.


" Sepertinya baru berenang saja sudah mengembalikan stamina mu".


" Kau sangat bertenaga dan tahan lama", ujar Alma di sela makannya.


Akio tersenyum lebar,


" Sudah berani membahas hal semacam itu, sepertinya sudah mulai terbiasa".


Akio menyuapkan garpu berisi potongan sosis. " Makan yang banyak, biar kamu juga kuat sepertiku", Akio terkekeh geli. Sepertinya pembahasan mereka sudah lebih terbuka, Alma tidak seperti dulu, saat awal mereka berhubungan, malu-malu dan tidak mau membahasnya.


" Aku suka perubahan mu", ujar Akio menatap Alma penuh cinta.


***


" Sejak kapan dia siuman?", Akio sudah kembali berada di gudang rahasia tempat UFO dan makhluk yang berada didalamnya di sembunyikan.


Usai makan tadi Akio mendapat kabar jika makhluk itu sudah sadar, namun masih terlihat sangat lemah. Akio langsung pergi dan meninggalkan Alma lagi di vila besar miliknya.


" Sekitar satu jam yang lalu Tuan, saya langsung mengabari Anda saat tahu dia siuman".


Akio mengangguk, menatap mata makhluk itu dalam diam. Mereka saling bercakap dalam hati.


" Namaku Steven, bagaimana bisa ada makhluk Mesier di planet Bumi?".


" Apa kau Max?, jika benar kau selama ini dicari-cari keluargamu, mereka mengira kau sudah mati".


" Ternyata kau hidup dengan baik disini".


Akio tersenyum sinis. Max adalah nama asli Akio di planet Mesier.


" Darimana kau bisa mengetahui aku hidup dengan baik disini".


" Aku juga ingin kembali, tapi tidak bisa. Sama dengan kendaraan yang kau naiki, milikku bahkan rusak lebih parah".


" Dimana kendaraan mu?, kau tahu aku mekanik paling handal. Kau bisa kembali bersamaku ke planet Mesier, dan kita bawa pasukan kita untuk menguasai planet Bumi".


Seperti dugaan Akio sebelumnya, Steven masih tetap sama, berkeinginan menguasai planet lain untuk mereka tinggali.


" Jangan gegabah, kau belum sehat, dan manusia juga tidak sebodoh yang kau bayangkan, bisa saja mereka justru yang menyingkirkanmu terlebih dahulu".


" Beristirahatlah disini sampai kau benar-benar pulih, setelah itu kau bisa mulai memperbaiki kendaraanmu yang rusak, baru setelah itu kau memperbaiki kendaraan ku juga".


" Sementara, kau aman di pulau ini, selama disini jangan berkeliaran sesuka hatimu, kau belum terlalu mengerti dengan kehidupan disini".


" Aku mungkin akan lama tidak kemari, karena harus kembali ke kehidupan manusia ditempat lain".


Akio berpesan sebelum pergi meninggalkan Steven. Karena masa liburan hanya tinggal 2 hari, dan itu berarti Akio dan Alma harus segera pulang esok harinya.