
Saat ditengah pelajaran Akio sengaja mengangkat tangannya dan memintakan ijin untuk Alma.
" Maaf Buguru, Alma tadi mengatakan jika perutnya sakit, bolehkah saya mengantarkannya ke UKS?".
Alma yang masih bingung dan tidak tahu menahu rencana Akio, kini di tatap oleh semua penghuni kelas.
" Boleh, tentu saja boleh. Langsung minum obat, minta pada suster jaga di UKS, biar sakit perutnya cepat sembuh", Bu Guru tentu saja memberi ijin dengan mudah, untuk murid berprestasi, tidak mengikuti pelajaran tidak masalah, yang terpenting hasil ulangan harus sempurna.
Akio pun berdiri dan memapah Alma, layaknya sedang menuntun seseorang yang sedang sakit. Wajah Alma yang lesu dan lingkar hitam di bawah mata nya karena kurang tidur semalam, semakin mendukung dan membuat buku guru percaya jika Alma sedang sakit.
" Kami permisi Bu", pamit Alma sambil menganggukkan kepala saat melewati meja guru. Terdengar bisik-bisik di kelas itu.
~ Sepertinya mereka berdua benar-benar ada hubungan spesial ~
~ Lihat bagaimana Akio begitu perhatian pada Alma, wah Alma beruntung banget ~
~ Cewek jenius memang jodohnya sama cowok jenius, nggak mungkin mau sama kamu yang bisanya cuma nyontek ~
~ Mungkin Alma kurang istirahat karena terus belajar, makanya sekarang sakit ~
Dan masih banyak bisik-bisik lain yang terdengar di kelas itu, membuat suasana kelas menjadi gaduh.
" Bisa kalian semua diam !".
" Kenapa kelas ini mendadak jadi ramai seperti di pasar?", Bu guru yang sedang mencatat di papan tulis memukulkan gagang spidol ke papan tulis agar semua berhenti bergosip, dan kembali fokus. Kelas pun kembali hening seketika.
\=\=
" Kamu ini ada-ada saja, tiba-tiba minta ijin sama Bu guru, tanpa ngasih tahu aku terlebih dahulu. Untung aku berpikir cepat" Alma memukul lengan Akio yang sedang merangkul tubuhnya.
Bukannya marah, Akio justru terkekeh.
" Kamu bilang semalam kamu hanya tidur 4 jam gara-gara aku, makanya aku cari alasan biar kamu bisa ke UKS dan tidur siang sebentar, setidaknya akan membuatmu lebih segar dan tidak lesu terus, aku perhatikan sejak pagi wajahmu pucat".
" Apalagi nanti siang sepulang sekolah kita langsung ke rumah dinas Bupati, pasti kamu tidak akan bisa tidur siang karena mungkin acara akan sampai sore. Makanya sekarang kamu tidur di UKS, minum vitamin biar pas bangun tubuh kamu jadi fresh".
Alma tersentuh dengan perhatian yang Akio berikan. Rasanya Alma menjadi gadis paling beruntung di seluruh dunia.
Akio masih memapah Alma hingga masuk ke ruang UKS, ada seorang suster jaga disana.
Akio minta obat sakit perut dan vitamin C pada suster jaga, kemudian menuntun Alma masuk ke salah satu bed yang sengaja di sediakan untuk siswa-siswi yang sakit.
Dengan sigap Akio menyuapkan vitamin itu pada Alma, sedangkan obat sakit perut di kantonginya untuk dibuang di tempat sampah saat keluar nanti.
" Kamu tidurlah yang nyenyak selama satu atau dua jam, semoga pas bangun tubuhmu akan menjadi lebih fresh".
" Aku akan kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran, nanti aku buatkan kamu buku catatan, biar kamu bisa belajar sendiri materi yang di ajarkan Bu guru nanti".
Akio mengusap rambut Alma dan mengecup keningnya.
" Makasih ya A...., kamu memang paling pengertian", Alma tersenyum menatap kepergian Akio dari UKS. Kemudian merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Baru saja memejamkan matanya, Alma merasa ranjang tempat tidurnya bergoyang-goyang, kemudian seseorang menyentuh tangannya. Membuat Alma refleks menarik tangannya yang tadi diletakkan di samping bantal.
Dengan berat hati, Alma membuka matanya, tidak ada siapapun berada di samping ranjang, Alma pun pelan-pelan menarik tirai yang menjadi penyekat dengan ranjang sebelahnya. Memang di ruang UKS ada tiga ranjang untuk istirahat pasien, dan tiap ranjang disekat menggunakan tirai plastik berwarna hijau.
Nampak seorang anak laki-laki seusianya, duduk di ranjang UKS menatap ke arahnya sambil tersenyum lebar dan menyapanya.
" Hai Al ".
Alma mengerutkan keningnya.
" Bagas !, kamu di sini, apa kamu sakit?", Bagas kembali tersenyum kecut sambil mengangguk.
Bagas pingsan saat upacara tadi, dan di gotong dibawa ke UKS, namun dia tidak ingin Alma tahu jika dirinya pingsan, akan membuat kesan jika dirinya laki-laki yang lemah.
" Kamu sakit juga Al?", Bagas sengaja menanyakan keadaan Alma agar tidak terus membahas dirinya.
Alma menggeleng, kemudian mengangguk.
Namun Alma masih bisa mendengar suara Bagas dari balik tirai
" Selamat ya atas keberhasilan mu meraih medali emas".
" Mungkin aku terlalu memandang remeh kamu dan Akio pada awalnya, tidak ku sangka justru kalian menjadi juara di olimpiade sains Nasional".
" Apa kalian juga sudah resmi pacaran?, aku mendengar suara Akio tadi, dia sangat perhatian padamu, yah... hanya padamu, aku tahu itu sejak awal melihat kalian. Matanya tidak pernah beralih, hanya menatapmu seorang".
Alma mendengar semua perkataan Bagas, hanya saja dia tidak mau memberi tanggapan apapun, tujuannya datang ke UKS bukan untuk mengklarifikasi statusnya. Melainkan untuk tidur siang sebentar.
Karena itulah Alma tetap diam, dan memejamkan matanya, agar Bagas mengira dirinya sudah tidur. Alma mendengar bunyi tirai yang ditarik pelan. Alma yakin Bagas penasaran dan ingin mendengar jawabannya, namun Alma tetap memejamkan matanya.
" Wah kamu sudah tidur, padahal aku ingin ngobrol banyak sama kamu".
Bagas masih menatap Alma lekat. Pikirannya kembali ke hari dimana pertama kali berkenalan dengan Alma dulu, di kelasnya.
Hari itu saat pulang sekolah, mobil BMW seri X menghadang motor ninja nya. Dan ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Akio, Akio sengaja menemuinya hanya untuk mengatakan sebuah kalimat yang tidak akan pernah Bagas lupakan.
" Aku cuma mau bilang, Alma adalah milikku, dan aku tidak suka jika ada orang lain yang menginginkan milikku".
Akio kembali masuk mobil dan meninggalkan Bagas yang hanya meringis getir.
Padahal saat itu Bagas hanya berkenalan saja dengan Alma, tertarik iya, tapi belum sampai suka atau naksir. Namun semenjak hari itu, justru Bagas jadi kepikiran terus kata-kata Akio. Dan semakin penasaran tentang Alma.
Saat mereka mengikuti olimpiade sains di kampus Biru, Bagas terus memperhatikan Alma, dan semakin tertarik padanya saat siang hari diumumkan jika dua kandidat SMA Pelita Jaya yang lolos adalah Alma dan Akio.
Bagas yang awalnya hanya tertarik pada Alma sewajarnya seorang pemuda yang tertarik pada gadis cantik. Kini semakin dibuat penasaran karena ternyata gadis itu juga jenius.
Namun saat memperhatikan Alma, hampir setiap waktu dia seperti di awasi oleh Akio. Mungkin Alma tidak tahu, tapi Bagas mengetahui jika Akio selalu mengawasinya.
Dan saat ini, saat ada waktu untuk bertanya langsung pada Alma kejelasan tentang hubungannya dengan Akio. Justru Alma seperti enggan membahas masalah pribadinya.
Tentu saja Alma enggan, siapa Bagas dan apa hubungan mereka, Alma hanya merasa mereka saling kenal dan pernah menjadi perwakilan sekolah bersama sebagai peserta kompetisi. Itu saja.
Namun sayangnya Bagas kini memiliki perasaan lain yang tumbuh semakin hari semakin dalam, hanya karena merasa tertarik awalnya dan semakin penasaran seterusnya, kini justru Bagas merasa tersakiti setiap melihat Akio dan Alma bersama.
Dalam diam Bagas terus menatap wajah Alma yang sudah terlelap dalam tidurnya. Dia sengaja membuka tirai penyekat yang menjadi pemisah ranjang mereka .
Hampir satu jam lamanya Alma tidur, selama itu juga Bagas terus menatapnya dengan lekat.
Bagas sudah mengetahui latar belakang Alma yang seorang anak yatim, di juga mencari informasi tentang keluarganya, bahkan sempat berkenalan dengan kakak kelasnya yang bernama Zayn, dia yang ayahnya pernah dekat dengan Maemunah, ibunya Alma.
Namun nyalinya semakin ciut saat dia mencari tahu tentang Akio. Latar belakang keluarganya dirahasiakan, seperti seorang putra dari keturunan darah biru, orang berpengaruh, atau pejabat penting yang informasi tentang keluarganya sulit di dapat.
Bagas hanya memperoleh informasi alamat rumah Akio, dan beberapa jenis mobil mewah yang sering digunakan untuk mengantar jemputnya ke sekolah. Itu adalah mobil dengan harga sangat mahal, dan rumah Akio, rumah megah itu terletak di kawasan mansion mewah yang tidak sembarang orang bisa masuk kecuali mereka yang tinggal di mansion itu.
Mungkin memang Akio adalah putra orang berpengaruh dan dari keluar kaya raya. Rasanya ingin mendekati Alma tapi minder duluan mengetahui latar belakang saingannya.
Akio langsung salah tingkah saat Alma tiba-tiba membuka matanya.
" Apa kamu nggak istirahat dari tadi?, atau sudah sembuh?, kalau iya kenapa kamu nggak kembali ke kelas?, huaaahmm...", Alma menutup mulutnya yang menguap, dan mendudukkan diri sambil meregangkan tubuhnya.
Saat ini rasa ngantuk, lelah, dan lesu, yang Alma rasakan sejak pagi sudah menghilang, tubuhnya terasa lebih fresh dan bersemangat.
Alma mengambil ponsel dari saku bajunya, dan menatap layar ponsel, jam 11 siang, itu berarti sudah satu jam Alma tidur di UKS.
" Aku sudah merasa lebih baik sekarang, jadi aku balik ke kelas duluan ya". Alma enggan berlama-lama di UKS bersama laki-laki yang sejak awal dia tidur hingga saat ini terus menatapnya. Membuat Alma risih dan jengah.
" Tapi Al, aku mau tanya sesuatu sama kamu, apa boleh?", Alma menengok karena dirinya sudah berjalan menuju keluar UKS.
" Apa?", tanya Alma singkat sambil mengucek matanya.
" Kau dan Akio?, kalian berkencan?", Bagas langsung pada intinya, karena takut tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertanya.
Alma langsung mengangguk, " iya, benar kami berkencan", Alma kembali meneruskan perjalanannya keluar UKS, menuju kelasnya.