
Amy cuma sembunyi pak," terang Amy akhirnya.
"Sembunyi?! Kedua polisi tersebut membeo bersamaan.
Para saksi pun diam dengan mata hanya tertuju ke Amy dan menunggu ungkapan gadis imut itu.
"Hu'um, Amy kan, tadi siang di kejar satpol pp pak, terus Amy lihat mobil bapak Mr, Amy dekati tuh mobil, coba buka pintunya, eh … ternyata kagak terkunci, yah udah, Amy masuk ke dalam dan sembunyi." Amy menjelaskan semua kronologis kejadian penggerebekan tersebut.
Para saksi lagi-lagi hanya bisa menganga, begitu juga dengan kedua polisi tersebut. Sementara kedua pria tampan itu menarik nafas lega, namun baru juga Alexander menarik nafas lega, tiba-tiba dibuat tercengang oleh penuturan seorang saksi.
"Ini pasti rencana pria ini pak, seperti yang dikatakan rekan saya, kalau bule ini pasti sudah memiliki niat jahat," ujar pria itu yang tidak mau Alexander memenangkan kasus ini dan membuat mereka kalah juga malu.
Alexander hanya terdiam dengan raut wajah yang kembali mengeras dan menahan emosi.
"Terus neng, apa bule ini ada di dalam sana ngasih eneng sesuatu?" Tanya pak Iqbal lagi.
"Bapak Mr, ngk ada di dalam mobil pak, cuma Amy yang ada di dalam mobil, tapi saat Amy bangun habis minum sesuatu di dalam mobil bapak Mr, Amy sudah jauh dari kompleks rumah Amy," lanjut gadis itu yang berucap begitu imut.
"Minum sesuatu?" Ucap pak Bambang lirih.
"Ho'oh," sahut Amy sambil menganggukkan kepalanya.
"Nah kan, pasti nih bule orang kagak benar. Dia sengaja pasti buat ngejebak nih anak dan diculik terus di jual," sela salah satu pria di dalam sana yang menjadikan saksi. Kelima pria itu pun setuju dengan perkataan rekan mereka.
"Itu tidak benar pak, ati-ati nanti jatuhnya pencemaran nama baik dan kami bisa menuntut anda semua," timpal bawahan Alex.
Namun para saksi tidak begitu terancam, karena pikiran dan ucapan mereka benar.
"Cih, paling jawabnya gitu doang, kalau sudah ketahuan belangnya," cibir pria yang paling muda.
"Memang, minuman apa yang neng Amy minum?" Kali ini pak Iqbal bertanya serius. Pria berwajah hitam manis itu, membenarkan pendapat pria tadi dengan menuduh Alexander adalah seorang penjahat. Apalagi pria itu seorang pendatang.
Amy terlihat berpikir sambil mengingat-ingat minuman yang ia minum sewaktu di dalam mobil Alexander.
"Kagak tahu pak, yang jelas minuman tuh rasanya lain, kayak minum soda yang tutupnya hijau isinya putih terus ada rasa lemon nya yang …."
"Yaelah,neng, kagak usah nge iklan dulu napa," celetuk pria lainnya yang begitu gemas dengan ucapan Amy.
Gadis itu pun hanya menampilkan cengirannya, membuat lesung pipi gadis itu terlihat begitu manis.
"Yang jelas minumannya aneh pak, setelah Amy minum tuh … minuman, cus … kepala Amy langsung pusing dan pandangan langsung berputar-putar dan setelah itu Amy lupa dan pas bangun, udah ada bapak Mr di dalam mobil, bawa Amy entah kemana, dan … bersambung." Amy pun kembali menjelaskan dengan nada bicara lancar tanpa ada hambatan lagi.
Semuanya kini menatap Alexander dengan lekat dan marah, pikiran tentang menculikan dan pedofil pun kini semakin menyakinkan tuduhan mereka.
Alexander pun tidak tahan dan segera berdiri, membela dirinya sendiri di tengah tatapan mata penuh tuduhan kini tertuju padanya.
"Alasan," sela para saksi yang sudah mulai geram.
"Apa dia melakukan hal kurang sopan neng?" Tanya pak polisi lagi.
"Dia mesumin Amy, pak," jawab Amy dengan wajah sendu kali ini.
"Itu tidak benar!" Bentak Alexander lagi.
"Hey, bocah. Jangan bicara yang tidak benar, aku akan balik menuntut kamu!" Alexander yang sudah begitu emosi berteriak lantang di dalam ruangan itu.
"Eii … bapak Mr, anda memang mesumin Amy," balas gadis itu tidak kalah sengitnya dan kini mendekati pria bule tersebut.
"Memang dia mesumin eneng Amy kayak gimana?" Pak Bambang kembali melayangkan pertanyaan kepada Amy.
"Amy harus kasih contoh om?" Amy berbalik bertanyalah dengan wajahnya ragu-ragu untuk melakukan reka ulang saat kejadian di dalam mobil.
Semuanya pun mengangguk dengan wajah begitu penasaran. Namun tidak dengan Alexander juga bawahannya yang terlihat frustasi.
Amy menarik nafas panjang dan membuangnya begitu hati-hati Amani merilik Alexander yang kembali duduk di kursi.
Amy pun lantas mendekati pria tinggi itu dan meloncat ke pangkuan Alexander, menarik rambut si bule,lalu menggigit telinga pria itu dan terakhir Amy meraih kedua telapak tangan besar Alexander dan mengarahkan ke depan buah jambu-nya yang masih dalam masa pertumbuhan.
"Nah, gini pak. Bapak Mr pegang ini-nya Amy," ujar gadis tersebut.
Yang berhasil membuat suasana kembali hening, melihat adegan reka ulang yang lebih didominasi oleh gadis tersebut, membuat para pria tercengang dengan wajah melongo. Sedangkan Alexander begitu syok melihat tingkah absurd gadis bertubuh mungil yang masih duduk di atas pangkuannya.
"Waduh, pak!" Seru bawahan Alexander dengan wajah tercengang.
"Astaghfirullah, Amyyyy!"
"Emak … bruk."
sambil nunggu novel, Aurora dan Erland terbit, mampir ke sini dulu yuk!
kenalan sama bapak Mr, tukang marah-marah vs gadis bar-bar sedikit Oneng.