
Mobil yang dikendarai Sandra dan yang lainnya kini berusaha mengejar, mobil penjahat di depan sana.
Gracia yang berada di balik kemudi, berusaha untuk tetap bisa mengejar mobil penjahat itu, agar tidak kehilangan jejak mereka.
Sandra bahkan terlihat begitu panik dan khawatir, ia tetap fokus untuk memindai mobil di depannya.
"Jangan ceroboh kak!" Sentak Gracia, melihat Sandra mengeluar senjata api untuk membidik ban mobil penjahat itu.
"Kakak bisa membahayakan nyawa Aurora," lanjutnya sambil terus fokus menyetir.
Sandra pun terlihat menghempaskan punggungnya dan mengerang frustasi. wajahnya begitu mengerikan saat ini.
"Maafkan, mommy nak," gumamnya dengan titikkan air mata.
"Bersabar lah, Aurora akan baik-baik saja." Cindy kini mengusap punggung Sandra dan menguatkan wanita itu.
Sandra hanya bisa terdiam dengan wajah begitu ketakutan akan putrinya. Ia tidak akan memaafkan, orang-orang yang sudah mencoba melukai putrinya.
Sandra bersumpah, akan melenyapkan mereka semua, agar kehidupan putrinya aman dan tidak terancam lagi.
….
"Mommy, mommy." Di tempat lain, gadis kecil itu terus terisak sambil memanggil mommynya.
Aurora kini sudah terikat di kursi penumpang, gadis kecil itu begitu ketakutan, wajahnya bahkan terlihat pucat dan terdapat bekas tamparan salah satu penjahat itu.
"Mommy, aku takut," gumam gadis cantik itu sambil menangis lirih.
Membuat pria berwajah sangar di sampingnya menjadi geram.
"Diam!" Bentak pria itu sambil mendorong tubuh mungil Aurora ke arah pintu mobil, mengakibatkan keningnya terbentur benda keras hingga terluka.
"Mommy!" Bukannya berhenti, Aurora bertambah menangis kencang. Merasakan kepalanya sakit.
Gadis itu pun terus menangis sambil memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah.
"Diam!" Bentak pria lain yang duduk dibalik kemudi yang harus berkonsentrasi untuk menyetir.
"Hey, diam!" Gertak kembali pria di sampingnya.
Aurora pun terlihat menyusutkan tubuh mungil ke sudut dengan isakan lirih dengan wajah semakin pucat ketakutan.
"Mommy, aku takut, kapan mommy datang," batin Aurora dengan memeluk dirinya sendiri.
Perlakuan kasar para penjahat itu, membuat remaja tampan itu kini terlihat mencekam.
Erland bisa mendengar tangisan gadis kecil melalui alat yang ia aktifkan di liontin milik Aurora.
Wajah pangeran muda itu begitu menakutkan, tidak ada wajah ramah yang terlihat, yang ada wajah yang begitu kelaparan ingin menghabisi seseorang yang membuat hatinya ikut teriris perih, mendengar isakan gadis kecilnya.
"Bisakah, kalian menambah kecepatan pesawat tidak berguna ini!" Titah Erland dingin.
Para pengawal pilihan Erland hanya bisa terdiam dengan kepala menunduk. Mereka tidak bisa berkata apa-apa di saat suasana pangeran muda itu tidak baik-baik saja.
"Bakar pesawat payah ini dan berikan aku pesawat yang lebih canggih juga lebih berguna!" Pinta Erland saat sudah tiba di landasan pesawat darurat.
Pesawat pribadi sang pangeran harus mendarat dengan darurat di saat belum ada konfirmasi terlebih dahulu dari kru di landasan tersebut.
Membuat para anak buah Erland begitu ketakutan dan panik dengan keselamatan pewaris tahta itu.
Erland turun dari pesawat dengan wajah biasa, datar penuh karismatik. Remaja itu sejak kecil sudah dididik untuk menjaga jati dirinya di depan umum.
Semua kru di landasan pribadinya menyambut sang pangeran dengan penghormatan.
Remaja itu kini berjalan ke arah mobil super mewah dan memiliki kecepatan tinggi terparkir di depannya.
"Biarkan saya yang melakukannya!" Ucap Erland, yang memerintahkan pengawal pribadinya keluar dari mobil dan hanya remaja itu yang membawa.
"Yang mulia!" Seru pengawal setia Erland keberatan.
"Saya siap dipenggal demi selamatan yang mulia," ujar pria berwajah datar dan tubuh tegap itu, bersikeras untuk tetap menemani pangeran Erland.
"Deiff!" Bentak Erland.
"Yang mulia," sahut pengawal setia sambil berlutut di depan Erland.
"Menjauhlah, kau membuang waktu dan membuat gadisku ketakutan," sentak pangeran muda itu dan akhirnya duduk di kursi belakang.
Mengabaikan pengawalnya yang masih berlutut. "Cepatlah!" Sentak Erland dingin.
Pengawal setia itu pun memasuki mobil super mewah, berwarna merah itu. Melaju keluar dari area landasan pesawat milik pribadi sang pangeran.
"Tunggu aku dear," batin remaja pemilik garis wajah tegas itu. Dengan kelopak mata tajam beriris hitam pekat.
…..
"Bersiaplah, mereka menuju kesini dengan gadis buta itu!" Seru tuan Winston. Yang kini mengenakan pakaiannya kembali.
Keduanya seakan tidak puas melakukan keintiman, hingga saat akan melakukan perjalanan pulang menggunakan pesawat jet pribadi, mereka kembali melakukannya di ruang terbuka.
Tanpa khawatir seseorang akan melihat aksi keduanya yang begitu menggebu-gebu oleh hasrat.
Nyonya Louis segera berdiri dari sofa dan mendekati tuan Winston yang sudah memakai pakaian lengkap.
"Melinda!" Sentak tuan Winston, merasakan permainan tangan besannya itu di area sensitifnya.
"Aku hanya menyapanya," bisik nyonya Melinda dengan nada sensual.
Tuan Winston mendengus kesal dan berjalan meninggalkan wanita gila kehangatan itu.
Sejak dulu Melinda begitu berlebihan soalnya permainan keintiman, seakan tidak puas hanya melakukan satu kali, wanita berusia 49 tahun itu begitu masih menggebu-gebu.
"Akhirnya aku bisa merebutnya darimu wanita sialan," gumam nyonya Louis dengan senyuman sinis.
"Kali ini aku berjanji akan menghancurkan hidupmu, melalui anak buta itu," gumamnya lagi dan diiringi tawa membahana yang terdengar puas.
"Ada apa?" Nyonya Louis kini sudah rapi dan mendatangi besannya yang terlihat waspada.
"Wanita itu berhasil menyusul mereka," sahut tuan Winston.
Nyonya Louis terlihat biasa saja dengan wajah angkuhnya ia memberikan perintah kepada pria-pria sewaannya itu.
Kediaman mereka kini berkumpul ratusan pria dari beberapa gengster sewaan keluarga kaya itu.
Demi menyelamatkan cucu kesayangan mereka, tuan Winston dan nyonya Louis menyewa beberapa kelompok gangster, dengan keahlian mereka masing-masing.
Tak tanggung-tanggung, keduanya rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan tuan Winston menggadaikan sahamnya dan nyonya Louis menjual seluruh hartanya.
Hanya ingin memperlihatkan kekuatan dan kekuasaan keduanya kepada Sandra, mereka tidak menyadari kehancuran kini sedang menyambut Keduanya.
Nyonya Louis bahkan tanpa sepengetahuan suaminya, melakukan manipulasi di keuangan perusahaan suaminya itu, hingga hampir seluruh keuangan perusahaan kini wanita itu gunakan.
Ia bahkan tidak memikirkan dampak, semua itu yang akan membuat perusahaan suaminya yang sudah, ia bangun selama bertahun-tahun akan hancur dalam sekejap mata saja, hanya karena kegilaan istrinya itu.
"Habisi saja wanita sialan itu!" Titah nyonya Louis dengan wajah arogannya.
"Dia wanita licik," timpal tuan Winston.
"Maka kita harus lebih licik. Bila dia mati, kita akan mendapatkan gadis buta itu tanpa memikirkan masalah," tukas nyonya Louis yang kini duduk dengan gaya elegannya.
Taun Winston berpikir dan menatap besannya itu yang tersenyum penuh arti kepadanya.
"Kalian hanya perlu melemparkan bom ke mobil mereka dan akan terdengar … bom!" Seru nyonya Louis ekspresi puas dan kini wanita itu tertawa di sana.
Memikirkan kehancuran Sandra saja, sudah membuat wanita itu begitu puas, apalagi saat menyaksikan sendiri kehancuran Sandra. Mungkin wanita itu akan bersorak gembira.