Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 21



Sandra menyeret langkah kakinya dengan tergesa untuk keluar dari kediaman mewah. Hatinya begitu sesak berada di dalam kediaman megah itu. Dadanya masih berdegup kencang, antara menahan gejolak amarah juga — perasaan terluka.


Raut wajah masih terlihat, kemarahan, kekecewaan, terluka dan dendam yang begitu membakar seluruh aliran darahnya.


Air mata masih setia menetes, membasahi wajah yang tampak kelam. Rangkulan kedua tangan masih menempel di tubuh — si mungil menggemaskan.


Sandra menghentikan langkah penuh luka itu, tepat di depan pintu kokoh. Ia mengatur nafasnya dengan tatapan merah kelam, salah satu tangannya menyentuh handle pintu kokoh.


Hanya untuk menetralisir sesuatu yang menyakitkan di rongga dadanya, Sandra begitu kesusahan untuk membasahi tenggorokan yang terasa dicekik kuat.


Wajah mendongak ke atas, bersamaan hembusan nafas penuh sesak ia keluarkan. Ditatapnya wajah mungil di dekapannya. Wajah suci tak berdosa itu, masih terlelap dengan damainya.


"Terimakasih, kau mengerti keadaan, mommy!"


"Kau, hanya milik mommy,"


"Mommy berjanji, akan membesarkanmu dengan sempurna."


"Mommy, yakin bisa melakukannya dan membuktikan kepada mereka, kalau kau, putri yang berharga."


Sambil mengecup seluruh wajah mungil bayinya, Sandra terus menggumamkan kata-kata penyemangat untuknya.


Sandra mengenakan kembali mantel tebalnya, membalut sang bayi dengan selimut tebal khusus bayi, dan membungkus bayinya di dalam mantel tebal yang ia kenakan.


Seketika, hawa dingin menyapa permukaan wajah Sandra saat — berada di luar kediaman Louis.


Sandra menatap keadaan diluar yang begitu dingin. Salju pun kini terlihat menutupi sebagian pepohonan yang ada di sana.


Dengan perasaan ragu, Sandra melanjutkan langkah dengan rangkulan erat ia berikan kepada sang bayi. Agar hawa dingin tidak terdampak kepada bayinya.


Baru saja kaki itu melangkah, terdengar suara berat menegurnya. Perkataan yang membuat emosi Sandra kembali terbakar.


Suara yang begitu amat ia benci, suara yang begitu membuat perasaan Sandra, bagaikan tertusuk ribuan benda tajam.


Sandra hanya terdiam di tempatnya dengan wajah mengeras dengan mata melotot berkaca-kaca.


"Seharusnya, kamu tidak membawanya ke tempat ini. Dan, membuat sebuah drama dramatis!" Seru sosok pria yang merupakan ayah — biologis Aurora.


Kendrick menyusul langkah Sandra, ia ingin menyelesaikan urusan mereka yang belum terselesaikan secara baik beberapa bulan yang lalu.


Pria itu merasa perlu meluruskan kesalahpahaman di antara dirinya dan Sandra.


Ia pun masih meragukan keberadaan sosok mungil di dekapan, wanita masa lalunya itu.


"Seharusnya, kau berpikir jernih sebelum membawanya ke sini, karena bagaimanapun, aku tidak bisa mengakuinya," ujar Kendrick dengan gaya arogan juga ucapan — memojokkan.


Wajah Sandra kian suram, ia menggenggam kuat telapak tangannya sendiri, hingga terdapat luka di telapak tangannya itu.


"Why?! Tanya Sandra, suara berat bercampur tercekat di area tenggorokannya.


"Aku tidak pernah membuang benih berhargaku di rahimmu, pasti kau juga tahu tentang itu, setiap kita melakukannya aku selalu menggunakan pencegahan," jelas Kendrick. Wajah terus menatap punggung kaku Sandra dengan hina.


"Jadi, jelas dia bukanlah, putriku," lanjut pria itu.


Kendrick terlihat mengambil sesuatu di dalam saku celana kain mewahnya, ia mengeluarkan beberapa ikatan dollar.


Dengan wajah penuh cemoohan ia melemparkan dollar itu ke arah — Sandra, juga meninggalkan kata-kata sarkasnya.


"Ambillah, kalau kau hanya menginginkan sebuah uang dan menggunakan seorang bayi tidak bersalah," ucap Kendrick.


Setelah mengatakan itu, Kendrick pun membalikkan badannya. Bermaksud untuk meninggalkan Sandra di sana dengan sebuah luka baru yang melukai perasaannya.


"Tunggu!" Seru Sandra yang nada suara dingin.


Ia masih berada di posisinya semula, dengan tubuh semakin membeku menahan gejolak emosi.


Kendrick terdiam, tanpa membalikkan badannya. Ia pun begitu kacau saat ini, entah ada apa dengan perasaannya ini.


Sandra membalikkan badannya ia tersenyum getir melihat tumpukan uang di bawah kakinya itu. Ia pun lantas mengambilnya, lalu mendekati pria bertubuh atletis itu.


"Ambillah, aku tidak membutuhkan ini. Aku hanya menginginkan sebuah kata pengakuan darimu. Tapi … sekarang aku sudah mendengarnya, jadi… tidak ada lagi yang harus aku butuhkan," ungkap Sandra yang mencoba menahan gejolak amarahnya.


Kendrick membalikkan badannya, ia dapat melihat tatapan kebencian di kedua mata — Sandra.


Ia tersenyum miring, melihat ikatan dollar yang ada di tangan Sandra yang diulurkan kepadanya.


"Aku tidak akan menerima yang sudah terbuang dan tersentuh dengan tangan seseorang yang, hina," ucapnya sarkas.


Tatapan mata merah Sandra semakin menajam, dengan garis wajah mengeras, air mata pun kian membanjir wajahnya.


Senyum perih juga kegetiran terlihat terukir, ia tidak akan begitu berlarut-larut dari hinaan pria di depannya.


"Aku juga tidak akan menerima sebuah pemberian, dari seorang, pecundang," ucap Sandra lirih.


"Uang, akan membuatku buta akan kenyataan sebenarnya. Ketertarikan fisik membuatku buta dengan kesetiaan dan menjaga harga diri. Ungkapan memuji, membuatku buta tentang kebenaran, hingga aku termakan oleh bualan seorang pecundang." Ungkapan penuh nada penegasan , mampu membuat tubuh seorang Kendrick membeku.


"Suatu saat, aku akan melihatmu berlutut di kakiku juga putriku. Kau akan menangis di hadapannya dengan kedua tangan memohon," lanjut Sandra dengan tatapan kebencian juga wajah datar.


"Putri yang kau hina, suatu saat akan menjadi kunci kehidupan panjang untuk seorang berarti dalam hidupmu," lanjut Sandra.


Kendrick masih diam membisu, tatapan matanya pun terus menerobos ke dalam kelopak mata Sandra penuh — perasaan marah.


"Putri yang cacat tidak akan berguna bagi seorang yang …."


"Plak, plak."


"Putri yang cacat, suatu saat akan membuatmu menangis darah," tandas Sandra tajam.


Sandra membalikkan badannya, ia segera meninggalkan area kediaman mewah itu. Setelah memberikan tamparan kuat di wajah sang mantan kekasih yang pecundang.


Kendrick masih menatap punggung Sandra dengan pandangan semakin jauh. Tatapan tajam yang ia tunjukkan sejak tadi kini berubah kesedihan.


Tubuh yang sejak tadi tegap dengan segala ke arogannya, kini mendadak lemah dan rapuh.


Hampir saja ia meluruh di atas lantai, seandainya salah satu tangannya tidak berpegang di tembok.


"Maaf!" Batinnya yang begitu terluka.


"Apa yang kau tangiskan?" Tanya seseorang di balik pintu.


Kendrick mendongak dan ia melihat sang daddy berada di sana dengan wajah datar.


"Bukankah, ini yang kau inginkan?" Ucap tuan Louis.


"Ini demi keegoisan, kalian," sahut Kendrick.


Tuan Louis terlihat tersenyum miring ke arah putranya. Dengan kedua tangan berada di depan dada.


"Tepati lah' janji kalian, untuk tidak mengganggunya atau berbuat buruk kepada mereka," sentak Kendrick penuh peringatan.


"Aku tidak bisa menjanjikan, itu," sahut tuan Louis.


Mendengar sahut sang daddy, Kendrick hanya bisa menahan erangannya.


Ia hanya bisa melakukan ini semua demi keselamatan — Sandra juga sang putri.


……


Sandra kini berada di dalam mobil taksi yang akan membawanya ke pelabuhan terdekat. Ia akan kembali ke pulau terpencil dan mengambil semua barang-barang miliknya, setelah itu ia berencana akan meninggalkan kota ini dan berpindah jauh dari masa lalunya.


Sandra menatap butiran salju berjatuhan melalui kaca pintu mobil, tatapannya kosong. Ia masih menyembunyikan sang bayi di dalam mantel tebal miliknya.


Ia mengalihkan pandangannya dan mengambil sesuatu di saku mantelnya, ia bisa melihat, sisa uang yang ia miliki.


"Ini tidak akan cukup untuk kembali," monolognya lirih.


Ia melirik sejenak pria yang berada di kemudi, seharusnya ia berjalan hingga halte bus kota untuk mengantarkan ke pelabuhan. Namun cuaca tidak memungkinkan niatnya. Ada si kecil Aurora yang harus ia pikirkan.


Sandra hanya mampu menghela nafas panjang, bagaimanapun ia harus kembali, tidak baik terlalu lama di kota besar ini dengan sang bayi.


Pasti keluarga kaya itu, tidak akan membuatnya tenang dan akan selalu membuat dirinya dalam masalah.


Terlalu fokus memikirkan sesuatu, Sandra tanpa menyadari mobil taksi itu berhenti.


"Maaf, nona!" Seru sang sopir taksi dan menatap Sandra melalui kaca spion di atas kepala.


"Iya," sahut Sandra dengan kening mengkerut.


"Kenapa, kita berhenti?" Tanya Sandra kebingungan.


Sang sopir pun mengatakan sesuatu kepada Sandra, alasan ia menghentikan laju mobilnya.


"Maaf, saya tidak dapat mengantarkan anda, nyonya," sahut sang sopir penuh penyesalan.


"Kenapa?" Tanya Sandra sambil menatap arah keluar.


"Cuaca buruk sebentar lagi datang, nyonya,"


"Badai salju?! Sentak Sandra terkejut.


"Iya," balas sang sopir.


Sandra jelas terkejut, ia terlihat bingung juga tegang. "Terus aku harus bagaimana?" Batinnya.


"Anda bisa turun sekarang, nyonya. Karena saya akan kembali ke rumah," sela sang sopir.


"T- tapi….."


"Maaf, dengan menyesal saya tidak bisa mengantar, anda," ujar sang sopir.


"Please, antarkan saya sampai ke tempat aman," mohon Sandra.


Tidak mungkin ia turun di area sepi juga tidak ada tempat perlindungan.


"Sekali lagi, maaf!" Ucap sang sopir taksi.


"Aku mohon, lihat, putriku pasti akan mengalami hal buruk," pinta Sandra.


Ia tidak mungkin membawa bayinya di luar dengan cuaca buruk, bisa-bisa ia akan membeku bersama — putrinya.


"Maaf, nyonya. Aku juga harus memikirkan nasib keluarga kecilku," sahut sang sopir.


Sandra terlihat kebingungan, mana mungkin ia harus melewati badai salju yang akan datang, dengan bayinya di dalam gendongannya.


Sandra pun dengan berat hati turun dari mobil taksi itu dengan menahan rasa dingin yang menusuk permukaan kulitnya.


"Nyonya!" Seru pria yang kini ikut turun dari mobil.


"Iya," sahut Sandra.


"Anda, belum membayar tagihannya," ungkap pria berusia 30 tahun keatas.


Sandra menatap tidak terima, mana mungkin ia membayar tagihan taksi, saat dirinya baru beberapa meter berada jauh dari — jarak rumah mewah.


"Tapi, anda mengantar saya tidak ketujuan, tuan. Anda juga menurunkan saya di tempat asing," protes Sandra.


"Tetap saja anda harus membayar, nominal angka yang ada di dalam mobil," sahut sang sopir.


Sandra menengok kedalam mobil dan ia membelalakkan kedua kelopak matanya saat, melihat nominal tagihan yang harus ia bayar.


"Anda, ingin menipu saya!" Gertak Sandra.


Bagaimana bisa ia harus membayar sebanyak itu, sungguh manusia-manusia licik.


"Tapi anda harus membayarnya, kalau tidak, anda harus berurusan dengan, polisi," ancaman pria itu tidak kalah bengisnya.


Sandra pun terpaksa membayar, ia menatap sedih isi dompet lusuhnya itu, ia pun memberikan semua uang yang tersisa dengan kasar di telapak tangan — pria di hadapannya.


"Aku, harus bagaimana? Semuanya sudah habis tidak tersisa," keluh Sandra lirih sambil berjalan di bawah hujaman buliran salju.


"Sabarlah, anak! Kita, pasti bisa melaluinya," bisiknya di telinga sang bayi.


Saat sudah berjalan dengan tubuh semakin melemah dengan hembusan hawa dingin, Sandra harus menghentikan langkahnya, saat badai salju sudah mulai menerpa kota itu.


Ia segera mencari tempat hangat untuk berteduh dari, bahayanya badai salju tersebut. Manik coklat indahnya, menangkap sebuah terowongan yang tidak jauh darinya.


Sandra bernafas lega dengan wajah tersenyum syukur. Ia pun berjalan mendekati terowongan itu dengan langkah tertatih.


Pandangannya terhalangi oleh badai salju yang semakin mengerikan, wajahnya pun semakin pucat dengan bibir bergetar menggigil, ia hanya terus melindungi sang bayi dari cuaca berbahaya, tanpa, memikirkan keselamatannya ataupun dirinya sendiri.


Ia harus memberikan kehangatan kepada, buah hatinya. Yang sesekali terdengar merengek sambil menggeliat.


"Sabar nak, kita akan segera sampai," gumam Sandra dengan nada bergetar dengan tubuh menahan rasa dingin menusuk seluruh tulang-tulangnya.


Tidak ada satu kendaraan pun yang lewat, apalagi seseorang yang akan ia meminta bantuan. Hanya ada satu harapan yaitu, terowongan gelap di depan sana.


"Syukurlah, di sini cukup hangat. Meski keadaannya sangat buruk," monolognya lirih.


Terowongan gelap itu sangat lah' pengap dan kotor, namun mampu memberikan kehangatan kepada — Sandra dan bayinya.


"Tidak mengapa kita berteduh di sini dulu yah, sayang," ucapnya kepada si mungil Aurora yang terlihat kehausan.


Sandra hanya mampu tersenyum miris melihat nasibnya dengan sang putri yang melalui begitu banyak cobaan dan penderitaan.


Tapi akan selalu ada warna cerah setelah kabut kegelapan menutupi kehidupan seseorang. Sandra yakin, kedepannya sang putri akan hidup bahagia dan mampu menghadapi segala tantangan dalam masa depannya nanti.