Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 62



"Bagaimana?" Austin kini bertanya kepada salah satu dokter di rumah sakit yang ia kunjungi untuk memberikan Sandra pertolongan pertama.


Dokter yang merupakan teman Austin pun tersenyum. Ia tidak menyangka, temannya sudah mendapatkan wanita idaman.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, keadaannya tidak begitu serius, luka pada kepala juga tidak perlu ditakutkan. Wanita mu hanya perlu beristirahat untuk beberapa hari kedepan." Sang dokter pria itu pun menjelaskan keadaan Sandra kepada — Austin.


Austin pun bisa bernafas lega, kini tatapan khawatir itu ditujukan kepada Sandra yang masih memejamkan mata.


"Tenanglah bro," ucap sang dokter sambil menepuk pundak kekar Austin.


Austin kini duduk di sisi Sandra dan menggenggam telapak tangan wanitanya. Dokter tadi sudah keluar, setelah memeriksa kembali kondisi Sandra.


"Maaf, aku tidak sempat melindungimu," bisiknya, tepat di telinga Sandra.


"Kamu benar sosok ibu yang sempurna. Rela terluka dan tertatih demi putrimu. Kali ini, izinkan aku menjadi pelindung bagimu dan Aurora." Austin terus bergumam di depan telinga Sandra.


Pria itu sungguh kagum dan bangga bisa mengenal sosok Sandra yang kuat dan sosok single mom yang tangguh.


Ia berjanji mulai sekarang, Austin tidak akan meninggalkan Sandra dan Aurora lagi. Ia akan selalu berada di sisi wanitanya itu.


……


"Selamat sayang, kamu jadi juara." Gracia kini berjongkok di depan Aurora yang terus tersenyum. Gadis itu akhirnya memenangkan lomba penyeleksian Bersama kedua sahabatnya.


Sekarang Aurora akan mengikuti sebuah ajang pencarian bakat di negaranya Minggu depan.


"Terimakasih kak," sahut Aurora.


"Mommy kemana?" Lanjut gadis itu saat menyadari ketidak hadiran sang mommy sewaktu pengumuman kemenangan.


Gracia membeku ia terlihat gugup harus mengatakan apa kepada Aurora. Gadis manis itu mengigiti bibir bawahnya yang sedang gugup.


"Kakak!" Seru Aurora heran.


"I-itu …, hum … mo-mommy sedang mengobati luka!" Jawab Gracia gugup dan kebingungan harus menjawab apa.


"Mommy terluka?! Seru Aurora dengan suara terkejut.


Gracia pun kian gugup. Tidak mungkin ia mengatakan keadaan Sandra sekarang. Bisa-bisa Aurora akan bersedih.


"Kakak! Katakan, apa sesuatu terjadi kepada mommy?" Tanya Aurora. Wajah gadis cantik itu terlihat khawatir dan panik.


"Tidak!" Mommy hanya terluka sedikit saja dan paman ganteng membawanya ke rumah sakit." Gracia mencoba menjelaskan kepada Aurora.


"Serius?" Tanya Aurora menyakinkan.


"Hu'um," sahut Gracia bernafas lega.


"Aku ingin menemui, mommy!" Pinta Aurora.


"Tidak, sebaiknya kita menunggu di rumah saja," tolak Gracia lembut.


"Tapi …."


"Jangan khawatir, mommy pasti segera pulang," sela Gracia.


"Baiklah," jawab Aurora dengan kedua pundaknya kebawah.


Keduanya pun segera keluar dari area sekolah. Wajah Aurora terlihat murung dan semangat juga kebahagian yang didapatkannya tadi tiba-tiba menghilang, saat sang mommy tidak bersamanya.


"Jangan murung," sela Gracia, melihat wajah Aurora yang tidak bersemangat.


"Bagaimana, kalau kita menghabiskan waktu sore di taman hiburan. Sebagai tanda kemenangan kamu, kita akan memainkan berbagai permainan juga makanan manis." Gracia mengajak Aurora untuk menghabiskan waktu sore di taman hiburan. Gadis itu hanya ingin menghibur Aurora.


Mendengar itu Aurora yang semula murung, kini tampak berubah ceria. Ia juga terlihat gembira dan bersorak.


Gracia pun bisa bernafas dengan lega, ia hanya bisa berdoa, semoga Sandra bisa pulang secepatnya.


……


Erland dari jauh terus mengikuti Aurora. Remaja itu tidak ingin terlalu memperlihatkan dirinya bersama Aurora. Takut musuh-musuhnya menjadikan Aurora sebagai umpan untuk menjatuhkannya.


"Tetaplah, menjaga jarak denganku!" Perintah Erland kepada pengawalnya.


"Tapi pangeran, terlalu bahaya untuk sendiri berjalan," sahut pengawal pribadi Erland.


Erland tidak menjawab ucapan pengawal pribadinya, ia hanya memberikan tatapan mata tajam, maka pengawalnya terdiam.


Remaja itu membuka jas mewah yang sejak tadi membungkus tubuh tingginya. Meninggalkan kemeja hitam yang di buat kusut dan rambut yang tertata rapi di buat berantakan.


Erland juga melepaskan, aksesoris mahal yang berada di bagian tubuhnya juga menukar sepatu mahalnya dengan sepatu biasa yang diperoleh dari pengawal lain.


….


"Kakak!" Seru Aurora.


"Ya," sahut Gracia bingung.


"Bukan, tapi kakak yang berada di belakang," terang Aurora. Kepalanya terus tertuju kepada satu titik. Indera penciumannya tidak pernah salah. Ia mengenal sosok yang mengenakan parfum tersebut.


Gracia menoleh ke belakang dan hanya mendapati satu sosok pria remaja dengan wajah ditutupi masker.


"Kamu memanggil dia?" Tanya Gracia menyakinkan.


"Hum, aku mengenalnya," sahut Aurora. Gadis kecil itu bangkit dari kursi bus dan berjalan dengan berpegangan di jejeran kursi.


"Aurora," sela Gracia. Namun gadis itu sudah berada di samping remaja yang tetap diam di pojok sana.


"Kak, Erland!" Panggil Aurora dengan senyum ramah.


Erland tersenyum di balik maskernya dan membantu Aurora duduk di sebelah remaja itu.


"Apa kabar kak," sapa Aurora lembut.


"Baik," jawab Erland dengan suara beratnya.


"Kamu masih mengenaliku?" Tanya Erland dengan kening terlipat.


"Masih, aku mengenali parfum kakak," jawab Aurora.


"Kamu juga mengetahuiku berada di sini dengan aroma parfum?" Tanya Erland lagi.


Aurora terlihat menggelengkan kepalanya dan tatapannya tanpa sadar tepat di depan wajah Erland. Membuat remaja itu menjadi gugup.


"Aku mengenali suara kakak," jawab Aurora.


"Tapi aku tidak mengatakan apapun," timpal Erland.


"Aku bisa mengenali deheman berat kakak," sela Aurora.


Erland hanya bisa diam. Ia tidak bisa mengatakan apapun lagi dengan jiwa peka gadisnya yang begitu hebat.


Garcia hanya bisa tercengang melihat keakraban Aurora dengan remaja asing baginya. Baru kali ini ia melihat Aurora begitu akrab dengan seseorang.


"Jadi kamu ingin merayakan kemenanganmu?" Tanya Erland kembali. Entah kenapa remaja itu begitu banyak mengeluarkan suara saat bersama si gadis mungilnya.


"Hu'um, apa kakak ingin ikut bersamaku?" Ajak Aurora. Wajah gadis cantik itu semakin terlihat bahagia.


"Sebagai perayaan pertemanan kita," lanjutnya.


Erland pun menyanggupi ajakan Aurora dengan perasaan hangat. Remaja itu masih tetap menutup wajahnya. Dengan tatapan terus waspada. Tidak bisa ditebak, terkadang kejahatan datang menyerangnya.


"Apa aku bisa meminjam kalung milikmu?" Erland sejak tadi melihat kalung milik Aurora yang terdapat liontin pemberiannya.


"Ini," ujar Aurora sambil memegang kalung yang melingkar di lehernya.


"Iya," jawab Erland yakin.


Aurora terlihat ragu untuk melepaskannya, tangannya terlihat mengusap liontin berbentuk sebuah simbol rahasia.


"Apa itu begitu berharga?" Tanya Erland kembali. Ia melihat keraguan di tatapan Aurora.


"Ini sangat berarti untukku, kata mommy, ini pemberian seseorang dan suatu saat akan datang, menemuiku," terang Aurora. Erland pun hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Aurora.


"Aku adalah orang itu, dear," batin Erland.


"Percayalah, aku hanya ingin melihatnya sebentar," pinta Erland.


Aurora pun terpaksa melepaskan diri lehernya dan memberikan kepada Erland.


Setelah kalung Aurora berada di tangannya, Erland terlihat membuka liontin tersebut dengan hati-hati. Terlihat jelas isi di dalam liontin itu, sebuah kata kunci rahasia. Erland tersenyum melihat kode rahasia itu. Liontin yang ada di kalungnya juga memiliki sebuah kode rahasia.


Entah kode apa itu, yang mengetahuinya hanya Erland. Remaja itu mengambil sesuatu di dalam saku celanaku. Sebuah benda kecil berwarna hitam kini ia sematkan di dalam liontin — Aurora. Tidak lupa, ia menekan sebuah tombol untuk mengaktifkan benda tersebut.


Sebuah alat pelacak, sengaja Erland pasang di liontin tersebut. Erland hanya ingin terus bisa memantau Aurora kapanpun dengan mudah.


Sedangkan, Gracia sejak tadi berbincang dengan pengawal pribadi Erland yang juga sedang menyamar menjadi gelandangan. Pria itu ingin mengalihkan perhatian Gracia sejenak.


"Terimakasih," ucap Erland sambil mengembalikan kalung milik Aurora.


Tidak lupa, Erland juga membantu memasang nya kembali di leher gadisnya.