Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 63



Suara lirih tertahan terdengar di dalam kamar pasien, wanita yang membuka sempurna matanya, kini memindai kamar dengan kening mengkerutkan. Indera penciumannya menangkap bau obat-obatan di sekitarnya dan merasa sedikit terbebani di salah satu tangan yang ternyata terpasang selang infus.


Sandra terbangun dengan wajah meringis menahan rasa sakit berdenyut di bagian-bagian kepala. Wanita itu menundukkan kepalanya sambil berusaha bersandar.


"Sayang," ucapnya lirih, saat mengingat putrinya.


Wajah pucat Sandra tampak terkesima, ia kembali memegangi kepalanya yang terpasang perban di sekitar kepalanya itu.


Sandra menahan rasa sakit yang begitu menggigit di kepalanya, penglihatan nya pun masih tampak berkunang-kunang.


"Aurora putriku," gumamnya pelan. Wanita itu begitu mengkhawatirkan putrinya sambil menahan rasa sakit.


Tiba-tiba pintu terbuka, Sandra mangkat pandangannya dan melihat, Austin dan seorang dokter pria.


"Honey!" Seru Austin yang segera mendekati wanitanya. Pria itu begitu lega melihat Sandra lebih cepat mendapatkan kesadaran.


"Syukurlah, kamu sudah sadar," Austin membawa Sandra kedalam pelukannya dan mengucapkan kata-kata lega.


"Aurora," sahut Sandra halus. Sandra hanya memikirkan putrinya yang seingatnya, masih berada di aula sekolah.


"Putriku," ucapannya lagi sambil berusaha bangkit dan melangkah untuk mendatangi putrinya.


Austin menatap wajah pucat Sandra yang begitu jelas, terlihat khawatir. Pria itu tersenyum setelah itu mengecup kening, Sandra.


"Tenanglah, sekarang dia bersama adikmu," jawab Austin.


Sandra masih terlihat tidak puas dengan jawaban pria di hadapannya. Sehingga ia ingin segera kembali.


"Aku harus kembali. Dia pasti sedang menunggu ku." Sandra berusaha mencabut selang infus di sebelah tangan kanannya dan berniat kembali.


Dokter yang ada di sana, segera menenangkan Sandra. Agar tidak membuat cairan infus terlepas dari tangannya.


Austin juga berusaha untuk menenangkan wanitanya itu dan terus menyakinkan Sandra, kalau putrinya baik-baik saja.


"Aku tetap ingin kembali, dia pasti sekarang sedang menangis juga kesepian." Sandra bersikeras untuk pulang sekarang juga.


"Bicaralah!" Pinta Austin. Menyerahkan ponselnya yang tersambung dengan seseorang di seberang sana.


Sandra memandangi sejenak Austin juga ponsel yang ada di salah satu tangan pria di depannya.


Austin menganggukkan kepala dan tersenyum saat Sandra meraih ponsel tersebut dan menempelkan di salah satu telinga.


Seketika raut wajah khawatir wanita itu berubah berbinar. Apalagi mendengar suara kekehan bahagia putrinya juga celotehan — Aurora.


"Dia baik-baik saja kan?" Tanya Austin, mengambil ponselnya kembali sambil merapikan rambut Sandra dengan lembut.


Sandra mendongakkan kepalanya dan memandangi wajah tampan Austin yang juga memandangnya.


"Aku tetap ingin pulang," ucap wanita itu dengan tatapan memohon.


Austin pun hanya bisa menggakuk dan menyetujui keinginan wanita pujaannya itu.


"Baiklah, tapi kamu harus diperiksa dulu," sahut Austin sambil mencium kening Sandra berulang kali.


Sandra hanya bisa diam saat di periksa, Austin yang tidak melepaskan genggaman tangannya kepada — Sandra. Wajah pria rupawan itu bahkan begitu khawatir.


Ia terlihat meletakkan telapak tangan Sandra dan menempelkan di bibirnya yang lembut dan hangat.


"Apa itu sakit?" Tanya Austin yang wajahnya tidak tega melihat wanitanya meringis.


Austin lupa kalau dirinya juga seorang dokter bahkan, memiliki rumah sakit terkenal.


"Tidak," sahut Sandra dengan kedua mata terpejam.


"Bagaimana?" Austin kini bertanya kepada temannya.


Pria berwajah gagah itu dengan kacamata bertengger di batang hidungnya tersenyum, melihat kekhawatiran temannya yang terkenal anti wanita itu.


"Kenapa kau tersenyum? Aku menanyakan keadaan, wanitaku, bukan melihat wajah sok tampanmu," Austin terlihat begitu tidak suka temannya memamerkan senyum menawan kepada — Sandra.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia bisa pulang," ujar sang dokter tampan itu.


"Cih, bisakah wajahmu biasa saja. Wanitaku tidak akan tertarik kepadamu." Austin berkata dengan wajah cemburu.


"Ya, ya, ya. Aku tidak akan mengambilnya darimu dude," terang dokter tampan itu dan segera keluar.


"Kita pulang sekarang?" Austin kini kembali menatap Sandra.


Wanita itu pun menggakuk lirih. Nyatanya kondisi Sandra masih terlihat begitu lemah.


"Apa yang kamu lakukan?! Sentak Sandra terkejut, ketika Austin menggendongnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu berjalan dengan kondisi lemah," sahut Austin.


"Turunkan, aku masih bisa berjalan. Aku tidak ingin membuatmu lelah," Sandra terlihat ingin turun dari gendongan Austin. Namun pria itu menggenggam tubuh Sandra begitu erat. Refleks, Sandra mengalungkan kedua tangan di leher jenjang pria tampan.


"Diamlah, aku bahkan mampu menggendongmu sampai ke apartemen," pungkas Austin dan tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipinya yang menambah ketampanan pria berusia 33 tahun itu.


Sandra hanya bisa mendelikkan matanya dengan kepala menunduk dan bibir mencebik.


Austin yang melihat itu, segera menghentikan langkahnya lalu menunduk kepalanya, pria itu mencium sudut bibir Sandra dan berpindah ke bibir Sandra yang terlihat pucat.


Austin hanya mengecup saja, ia tidak berani untuk melakukan yang lebih, takut Sandra risih dengannya.


Sandra hanya bisa tercengang, dengan wajah pucatnya yang terdiam membeku. Matanya terlihat kedap-kedip.


"Manis!" Bisik Austin di depan wajah tercengang Sandra.


Pria itu pun segera melanjutkan langkahnya dengan tubuh tegang Sandra yang berada di gendongannya.


Wanita itu terus terdiam sedangkan Austin yang memamerkan wajah bahagianya di sepanjang koridor rumah sakit.


……


"Kakak, harus melihat penampilan nanti!" Aurora kini sedang duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman bermain, ia duduk bersama dengan Erland, sambil menikmati es krim kesukaannya.


Aurora mengajak, Erland untuk menyaksikan dirinya nanti dalam lomba pencarian bakat. Gadis kecil itu begitu berharap teman barunya bisa melihat penampilannya.


Erland sejak tadi memperhatikan wajah Aurora di sampingnya, sesekali membersihkan wajah Aurora yang terdapat es krim.


Remaja tampan itu begitu menikmati kebersamaan nya dengan gadis miliknya, ia merasakan begitu menyenangkan dan hangat.


Jarang dirinya merasakan momen seperti sekarang ini, semenjak ibunya meninggal dan ayahnya hanya sibuk dengan urusannya sendiri dan para wanita gundiknya.


"Hum!" Gumam Erland dengan tersenyum tipis. Sangat tipis, hingga tidak ada yang merasa remaja itu tersenyum.


"Janji," sela Aurora antusias. Gadis itu bahkan terlihat bersorak bahagia.


"Hum," jawab Erland yang hanya menggumam lirih.


"Aku akan menunggu, kakak," lanjut Aurora kembali.


Erland kembali hanya menjawab dengan gumaman. Aurora terlihat cemberut, mendengar Erland begitu irit bicara sejak tadi.


Padahal Aurora terus berceloteh dan bercerita tentang banyak hal, namun teman barunya itu hanya terdiam dan sesekali menjawab dengan jawaban irit.


Aurora tidak mengetahui, kalau sikap remaja itu begitu positif kepadanya, hal kecil pun, tidak luput dari mata tajam dan jelinya yang berhubung dengan keselamatan, gadis miliknya.


"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Erland sambil mengusap pipi kemerahan nan lembut Aurora mengguna punggung jari telunjuknya.


"Kakak terlalu irit bicara, sejak tadi aku bercerita, kakak hanya diam," sungut Aurora.


Erland tersenyum tampan sekilas, hanya sekilas, setelah itu wajahnya berubah kembali datar.


"Apa yang harus aku bicarakan?" Tanya remaja itu lagi. Intonasi suaranya terdengar berat nan lembut.


"Menyebalkan," gumam Aurora dan membalikkan badannya. Memunggungi Erland.