Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 22



Sandra terjaga dalam tidurnya, saat mendengar rengekan sang — bayi. Sandra bersandar di tembok terowongan yang sudah ditumbuhi lumut. Dengan lantai yang begitu terlihat buruk dan lembab. Sandra hanya mengandalkan sebuah potongan kardus untuk alas ia duduk di sana dan dengan bantuan cahaya ponsel miliknya untuk menerangi gelapnya dalam terowongan tersebut.


Meskipun keadaan buruk dan tidak kayak untuk kesehatan bayinya, Sandra bersyukur, mendapatkan tempat berlindung dari terpaan badai salju.


Terowongan buruk itu, masih memberikannya juga sang bayi, sedikit kehangatan.


Terlalu miris untuk menyaksikan keadaan Sandra juga bayinya sekarang, hidup terlunta-lunta di luar dengan cuaca buruk.


Belum lagi hinaan juga cacian yang ia terima dari keluarga biologis sang — putri. Sandra hanya mampu menangis dalam diam. Setidaknya, ia menjadikan semua keadaannya ini sebagai — pelajaran berharga juga, agenda yang akan ia tuliskan dengan tinta, pengorbanan juga perjuangan untuk disimpan di dalam histori kenangan dalam hidup — kelamnya.


…….


Wanita itu menegakkan punggungnya, ia memeriksa suhu tubuh sang putri. Ia tersentak seketika, saat merasakan suhu tubuh bayi, kecilnya begitu panas.


"Sayang, tubuhmu begitu panas!" Seru Sandra dengan wajah panik.


"Oh Tuhan, aku harus bagaimana," ucapnya bingung.


"Sabarlah, nak. Maafkan, mommy yang membawamu ke tempat ini," bisiknya lirih sambil mencoba menenangkan tangisan — Aurora.


Sandra mencoba memberikan asi kepada sang bayi, namun tidak ada pun tetesan air asi yang keluar. Sandra lupa, disaat masa menyusui ia harus menjaga pola makan yang teratur dan sehat.


Terlalu larut dari keadaannya, ia melupakan pola makannya. Sandra dari kemarin tidak mengisi perutnya dengan makanan. Ia hanya mengandalkan air mineral kemasan waktu berada di halte bus.


"Maaf, maaf, mommy terlalu terpuruk, hingga melupakan kebutuhan mu," ucapnya sambil memeluk sang buah hati, mencoba memasukkan sumber asupan makanan buat sang putri. Namun, hanya rasa perih yang ia rasakan.


"Kenapa, aku begitu egois, aku begitu tidak berguna. Seharusnya, aku memperhatikan kebutuhannya," racaunya dengan tangisan bercampur panik.


"Bertahanlah, nak. Mommy akan mencoba mencari sesuatu, agar kau tidak kehausan," ucapnya panik.


Sandra pun memeriksa kembali suhu tubuh sang putri yang tangisannya terdengar semakin halus.


"Bertahanlah, nak. Mommy, mohon," pintanya sambil menciumi wajah sang putri yang terlihat membisu dan tidak merespon sentuhannya.


"Sayang, sayang, bangunlah. Mommy mohon, bangunlah!" Sentak Sandra dengan nada bergetar juga tubuh menegang.


Ia bisa merasakan tubuh putrinya mengeras dengan bola mata keatas. Aurora mengalami kejang-kejang, membuat Sandra menjadi panik dan ketakutan.


"Nak, bangunlah. Mommy mohon, bangunlah," pintanya sekali lagi sambil menepuk-nepuk pipi putrinya.


"OH Tuhan, tolonglah aku," mohon nya dengan suara tercekat.


"A-aku harus membawanya kerumah, sakit. Yah … a-aku harus membawanya," ucapnya tergugup dengan wajah pias.


Sandra bangkit, dengan sang bayi di gendongannya yang kembali di bungkus dengan mantel tebalnya.


Ia tidak memikirkan kondisinya yang akan terkena hawa dingin, ia hanya memikirkan kondisi putrinya yang sedang dalam keadaan darurat.


Beruntung badai salju sudah berhenti, namun meninggalkan jejak tumpukan salju di jalan-jalan, membuat ia kesusahan untuk menemukan jalan.


Sandra terus berlari dengan teriakan minta tolong, berharap seseorang mendengarkannya.


"Siapapun! Tolong aku, tolong… putriku," teriaknya dengan nada bergetar.


"Bertahanlah, nak," bisiknya parau.


"Tolong, tolonglah, aku." Sandra yang mulai lelah dan menyerah dengan keadaan sekarang yang ia alami, meluruh di atas jalan yang ditutupi salju tebal.


"Tolong putriku, tolong… selamatkan putriku!" pintanya dengan nada putus asa, saat melihat tubuh Aurora perlahan memucat.


"Bangunlah, sayang. Bangun,"


"Please! Bangunlah!"


"Maaf, maaf! Mommy mohon maafkan aku!" Ucapan bergetar lirih dengan suara isakan begitu terdengar pilu.


Wajah penuh perjuangan terlihat di garis wajah Sandra dengan hiasan keputusan asa, saat tidak satupun tanda-tanda akan datang sebuah pertolongan.


"TUHAN, SELAMAT PUTRIKU. AKU MOHON, TOLONG AKU! Sandra pun dengan perasaan putus asa-nya, memohon dengan suara lantang.


"Tolong aku, tolong selamatkan putriku."


TOLONG… TOLONG, SIAPAPUN ORANG YANG BERBAIK HATI, TOLONG AKU! Teriaknya di tengah-tengah jejak badai salju dan tidak satupun seseorang.


"Tolong, aku mohon, selamatkan bayiku." Suaranya pun kian melemah dengan keputusasaan yang melandasinya.


Sandra pun terus terisak dengan sang bayi di pelukannya dengan tubuh membeku juga melalui membiru.


Tangisan pilu seorang ibu terdengar begitu menyedihkan dan membuat teriris sakit.


"Tuhan, aku mohon selamatkan bayiku. Ambillah nyawaku di kemudian hari sebagai, gantinya," doa tulus seorang ibu terdengar begitu menyakitkan.


Mata sembab itu pun terpejam dengan kepala mendongak, air mata kesedihan terlihat begitu derasnya.


"Berikan aku sebuah keajaiban," batinnya berharap.


……


Tidak lama kemudian, terdengar suara sirine dari kejauhan juga cahaya lampu kendaraan.


Sandra membuka kedua kelopak matanya dengan seutas senyum penuh harapan. Ia segera bangkit dan berlari mendekat ke arah cahaya tersebut.


Sebuah mobil polisi patroli terlihat mendekat. Dengan segera Sandra, menghadang di depan.


Membuat mobil polisi patroli itu berhenti. Sandra mendekati pintu mobil dengan menggendong bayinya.


"Tolong tuan, tolong aku. Selamatkan bayiku!" Pinta Sandra sambil memohon.


Kedua pria dengan seragam polisi keluar dan segera memeriksakan keadaan — Aurora.


Kedua polisi itu begitu terkejut, melihat kondisi Aurora, salah satu dari mereka segera memberikan pertolongan pertama kepada sang bayi.


Polisi satunya berusaha meminta bantuan kepada rumah sakit terdekat dan mencoba menenangkan — Sandra.


"Selamatkan, dia!" Mohinnya dengan tulus.


"Tenanglah, kami akan berusaha menyelamatkan bayinya," sahut petugas yang memberikan pertolongan kepada — Aurora.


Lama sang polisi melakukan bantuan pertama kepada sang bayi, dengan memancing respon sang bayi agar mengeluarkan suara tangisan.


Berhasil, sang bayi terdengar tersendat dan terdengar merengek juga disusul suara tangisan suara parau.


Sandra lemas dan kembali meluruh di atas tanah, ia menutup wajahnya dan menangis histeris.


Aurora pun semakin menangis kencang membuat kedua polis, bernafas lega.


"Terimakasih, terimakasih!" Ucapnya tulus sambil membungkukkan badannya.


Bayi Sandra masih berada di tangan polisi itu dan terus memancing respon sang — bayi.


Tidak lama terdengar kembali suara sirine, sebuah mobil khas rumah sakit berhenti. Seorang perawat turun dan membantu sang bayi didalam mobil ambulance.


Disusul Sandra dengan wajah ketakutan dan khawatir. Ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk memeluk putrinya kembali.


Entah apa yang akan terjadi pada dirinya, apabila sang bayi mengalami hal serius.


"Terimakasih!" Seru Sandra kepada kedua polisi di depannya.


Mobil ambulance pun melaju kencang, meninggalkan jejak perjuangan Sandra di sana.


……


"Bruk! Araagg!" Terdengar suara benda keras terjatuh dan disusul teriakan kesakitan dari arah kamar mandi.


Kendrick yang sedang termenung di depan jendela kamarnya, terkejut dan segera mendekati pintu kamar mandi.


"Sial, di kunci," erang Kendrick.


"Sayang, sayang, sayang!" Panggil Kendrick berulang kali. Tidak ada sahutan. Membuat Kendrick semakin panik.


Ia takut, sesuatu buruk terjadi kepada istri juga calon bayinya. Kendrick terus berusaha mendobrak pintu kokoh itu sepenuh tenaga.


"Ah sial!" Geram Kendrick frustasi.


"Sayang, apa kau mendengarkanku?" Tanya dengan suara khawatir.


"Cindy!" Panggil Kendrick lantang.


"Akhh!" Karena kesal, Kendrick menendang pintu di depannya.