Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 80



"Tuan, mereka sudah datang!" Seorang pria bersetelan serba hitam, mendekati, tuan Winston dan nyonya Louis yang sedang bercumbu di sofa ruangan khusus.


Tuan Winston menyingkirkan nyonya Louis dari pangkuannya dan berjalan menuju, anak buah sewaannya yang berhasil membawa — Aurora.


"Lepas, mommy, mommy!" Dari lantai dua, tuan Winston dan nyonya Louis bisa mendengar suara Aurora.


"DIAM!" Bentak salah satu pria jahat itu dan mendorong kasar Aurora.


"Hentikan!" Seru tuan Winston, menatap pria itu dengan tatapan tajam.


Pria itu melambaikan tangan, mengusir ketiga pria penjahat itu sambil menatap lekat Aurora yang beringsut tubuh gemetarnya di sudut sofa.


Nyonya Louis hanya melihat Aurora dengan wajah mencibir, tidak ada wajah antusias untuk menyambut hangat cucunya itu.


Kini keduanya sudah berdiri di hadapan Aurora dengan ekspresi berbeda. Nyonya Louis dengan wajah jijik, sementara tuan Winston masih menatap Aurora begitu lekat dan tajam.


Aurora mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk kepada kedua orang di depannya.


Aurora mencoba menggapai sesuatu di sekitarnya untuk bangkit, saat mencoba berpegang di sudut sofa dan berusaha berdiri, Aurora kembali terjatuh dan dahinya terbentur, ujung meja mewah.


Kedua orang di hadapannya tidak begitu merasakan ibah, melihat cucu mereka kesusahan. Nyonya Louis bahkan tersenyum jijik.


"Gadis kecil ini tidak akan berguna, dia akan menyusahkan dan dia pantas untuk menjadi tumbal," gumam nyonya Louis, masih bisa di dengar jelas oleh Aurora.


"Nyonya!" Seru Aurora yang kini merangkak ke arah suara yang ia dengar.


Tuan Winston dan nyonya Louis, mencoba menghindar saat Aurora ingan menyentuh mereka.


"Saya tahu, kalian berada di sini. Saya mohon, lepaskan saya tuan, nyonya!" Pinta Aurora, membuat nyonya Louis dan tuan Winston mengerutkan kening.


"Saya mohon, lepaskan saya. Biarkan saya menemui mommy." Aurora mencoba memohon dengan posisi berlutut, gadis itu tidak hentinya mengalir air mata di hadapan kedua orang di depannya itu.


"Mommy, mommy!" Teriak Aurora.


Nyonya Louis begitu geram mendengar tangisan juga teriakan Aurora. Wanita itu berdiri tepat, di hadapan Aurora, menundukkan kepala dan menatap cucu biologisnya itu dengan benci.


"DIAM!" Sentak nyonya Loius. Wanita itu juga mendorong tubuh mungil Aurora yang sedang berlutut, menggunakan salah satu kakinya.


Aurora hanya bisa menangis dan terisak sambil memanggil sang mommy.


"Diamlah, gadis sialan!" Bentak nyonya Louis sekali lagi dan sengaja menginjak salah satu tangan Aurora.


"Akh! Mommy!" Teriak Aurora sambil menahan rasa sakit di telapak tangannya.


Wajah nyonya Loius begitu puas dan semakin menekan kakinya di atas salah satu telapak tangan mungil Aurora.


"Melinda!" Sentak tuan Winston.


Menyingkirkan segera nyonya Louis di hadapan Aurora, membantu cucunya itu berdiri dan mengusap air matanya.


"Kau terlalu keterlaluan," ujar tuan Winston dingin dan menatap nyonya Louis tajam.


Nyonya Louis hanya berdecak lidah kasar dan meludah di hadapan Aurora.


"Melinda!" Bentak tuan Winston.


Tatapan pria setengah baya itu begitu mengerikan, memindai wajah arogan besannya.


Aurora sendiri kini masih menangis sambil memegangi tangannya yang kini tampak merah dan terluka, akibat sepatu hak tinggi nyonya Louis.


"Apa ini sakit?" Tanya tuan Winston lembut.


Aurora yang terisak pilu menganggukkan kepalanya. Ia juga mencoba memahami keadaan di sekitarnya dengan menajamkan kedua telinga.


"Tuan, tolong saya. bawa saya ke tempat mommy," pinta Aurora dengan suara sengau akibat tangisannya juga sesegukan yang terlihat begitu menyakitkan siapa saja yang mendengar.


Tuan Winston menatap sang cucu dengan begitu lekat dan tajam, gadis yang begitu mirip dengan menantunya, juga kedua manik mata coklat yang sama persis dengannya itu.


"Kau ingin bertemu dengan mommy mu, hm?" Tanya tuan Winston sambil merapikan rambut Aurora yang berantakan.


"Iya," sahut Aurora yang mencoba meredakan tangisannya.


"Aku akan mengantarmu ke tempat mommy mu, asal kau tidak menangis lagi," ujar tuan Winston sambil bertatapan dengan nyonya Louis yang tersenyum licik.


"Baiklah, ayo ikut dengan kami!" Pinta tuan Winston sambil menuntun Aurora berjalan ke arah pintu belakang.


"Apa ada benar ingin mengantarkan ku?" Tanya Aurora.


"Yah, asal kamu tetap diam," sahut tuan Winston. Memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyiapkan pesawat untuk segera meninggalkan tempat mereka sekarang.


Aurora mengakukkan dan diam, mengikuti langkah, tuan Winston dan nyonya Louis.


Namun baru saja beberapa melangkah, tiba-tiba suara tembakan mengenai salah satu kepala anak buah tuan Winston yang tepat berjalan di belakangnya.


Nyonya Louis dan tuan Winston terkejut, Aurora bahkan menyembunyikan tubuhnya di depan tubuh, tuan Winston.


Sandra kini berdiri dengan penampilan begitu, menakutkan. Dengan pakaian yang hanya mengenakan pakaian dalam sport dengan celana jins hitam, rambut yang tampak di ikat ke atas dengan wajah yang terdapat beberapa luka dan di tubuh lainnya.


Kedua tangan wanita itu terdapat senjata api. pandangan kini sudah di selimuti dengan amarah. Melihat kondisi putrinya yang begitu menyedihkan.


Sandra sekali lagi menembakkan peluru ke arah, tuan Winston dan nyonya Louis, sasaran Sandra kali ini adalah, sosok pria di belakang nyonya Louis.


Wanita setengah baya itu tentu begitu gemetar takut, apalagi melihat penampilan Sandra yang seperti malaikat maut.


"Mommy!" Teriak Aurora dan segera di bungkam oleh tuan Winston.


"Lepaskan putriku!" Titah Sandra dingin dengan senjata yang terus ia arahkan kepada — ayah biologisnya.


Tuan Winston hanya menampilkan senyum santai juga wajahnya tidak terlihat panik. Ia kini membungkam Aurora dengan menghadapkan ke arah Sandra.


Melihat putrinya terlihat kesakitan, membuat Sandra semakin menahan amarah.


"Lepaskan dia!" Pinta Sandra dingin. Mata wanita itu begitu mengerikan.


"Apa kau berani mengeluarkan peluru?" Tantang tuan Winston.


"Lakukan lah," sekali lagi tuan Winston mencoba menantang Sandra, dengan Aurora menjadi tamengnya.


….


Sementara di luar, Gracia kini mencoba melawan para penjahat dengan kekuatan yang mulai kewalahan. Beruntung, bantuan datang tepat waktu. Beberapa pria berjas memasuki Mansion mewah itu dengan senjata api.


Suara tembakan kini mendominasi tempat itu, Gracia bersembunyi di tempat lain. Ia mengintip dan bisa melihat, sosok remaja kini datang dengan beberapa kawalan pria-pria berotot.


"Erland!" Seru Gracia lirih dan dapat tersenyum lega.


"Tuan, kita secepatnya harus meninggalkan tempat ini," bisik seorang pria di belakang tuan Winston.


"Sebagai anak buah kita sudah dilumpuhkan, kami juga tidak bisa melawan sosok yang sedang menuju kesini," bisik pria itu dengan wajah gelisah.


Nyonya Louis dan tuan Winston saling menatap dan memberikan kode, ia juga berbisik kepada pria di belakangnya.


"Habisi wanita ini!" Titah tuan Winston dengan suara pelan, namun tatapannya ia tujukan kepada Sandra.


Pria itu memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang Sandra.


Sandra yang mendapatkan segera membidik sasarannya yang mulai bergerak, wanita itu berhasil melumpuhkan tuan Winston dengan menembak salah satu kaki pria tersebut.


"Sial!" Maki tuan Winston, mencoba menahan rasa sakit dan terus melangkah.


Aurora sendiri kini mulai memberontak di genggaman tangan nyonya Louis yang menyeret paksa menuju landasan pesawat di halaman belakang.


"Mommy!" Panggil Aurora.


Sandra kini menghadapi para pria penjahat itu dengan senjata api, Sandra tidak memandang bulu lawannya, tatapan terus ia tujukan kepada putrinya.


Sandra mencoba mengikuti tuan Winston yang membawa putrinya, namun beberapa penjahat mencoba menghalanginya.


Sandra dengan begisnya, menghantam habis pria-pria kekar di depannya itu.


Setelahnya, ia kembali berjalan menuju arah tuan Winston membawa putrinya.


Lagi-lagi, penghalang datang. Tapi, seseorang menembakkan peluru dengan ganas dari arah belakang Sandra.


Wanita itu yang sedang menunduk menoleh kebelakang dan bisa melihat kehadiran, Erland dan Austin di sana.


"Baby!" Seru Austin segera berlari mendekati Sandra dan segera mendorong tubuh wanitanya itu, saat seorang penjahat mengarahkan tembakan kepadanya.


"Dor!" Austin menembakkan peluru tepat di kepala pria itu.


Sementara Erland kini menyusul Aurora dengan wajah tak kalah menakutkannya.


Kau tidak apa-apa baby?" Tanya Austin dengan wajah khawatir.


Sandra masih terdiam dengan wajah yang terlihat syok. Ia menggeleng kepalanya sambil menatap Austin.


"Maaf, aku datang terlambat," bisik pria itu dengan tatapan bersalah.


"Aurora, aku harus menolong Aurora, aku harus menghentikan mereka," Sandra tersadar dan mulai meracau.


Austin memeluk tubuh wanitanya itu dan menghadiahi kecupan di kening, bertubi-tubi.


"Kita akan menghentikan mereka dan menghukum mereka semua," bisik Austin dengan wajah marahnya..


Pria itu membantu Sandra bangkit dan segera berjalan menuju halaman belakang di mana terdengar suara helikopter


Gracia juga mengikuti mereka, setelah yakin semua musuh sudah dikalahkan tanpa sisa.