Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 24



"Brak!


"Hey!" Hardik pria dan wanita bersamaan saat, seorang wanita dengan tampilan lusuh menabrak mereka yang sedang berjalan trotoar jalan raya.


"Perhatikan langkahmu, nyonya," lanjut mereka dengan wajah protes.


Wanita lusuh yang terjerembab di atas jalan beraspal bangkit. Lalu memohon maaf dengan wajah penyesalan.


"Maaf!" Ucapnya lantas melanjutkan langkahnya dengan berlari ke arah rumah sakit.


"Kenapa begitu banyak, orang tidak berguna di kota ini," gerutu pria itu dengan wajah mencibir.


"Bersabarlah, dia hanya wanita menyedihkan," timpal pasangan si pria dengan nada menghibur.


…….


Sandra terus berlari begitu kencangnya, berulang kali ia menabrak para pejalan kaki dan meninggalkan mereka dengan permintaan maaf.


Sandra hanya ingin segera mendatangi putrinya, ia tidak memikirkan sebanyak apa luka yang ia dapatkan sekarang akibat berkali-kali terjatuh.


Ia menahan rasa sakit di setiap luka yang mengalir cairan merah. Penampilan yang begitu menyedihkan dengan kondisi pakaian terdapat sobekan di mana-mana.


"Tunggu, mommy nak. Maafkan, mommy!" Gumamnya di sela ia berlari dengan wajah basah terlihat khawatir juga kerinduan.


"Maafkan, mommy," monolognya sambil terus berlari ke arah rumah sakit yang sudah berada di depan mata.


Senyum mengembang dari wajahnya, saat rumah sakit sudah berada di depannya. Tanpa memperhatikan keadaan, Sandra segera berlari menyebrangi jalan raya. Ia begitu dihantui tangisan pilu — bayinya.


"Mommy datang, sayang." Gumamnya dengan wajah haru.


Tanpa Sandra Sadari, sebuah mobil mewah melaju kencang dari arah berlawanan. Sandra tidak mengindahkan keadaan juga memikirkan keselamatannya, hingga mobil yang melaju menabrak tubuh ringkih dan lusuh itu.


"Brak!" Suara keras terdengar, membuat para pejalan kaki memekik dan mendekati asal suara.


Tubuh lemah itu terpental jauh dari dekat mobil, pandangan mulai mengabur, ia merasa disekitarnya berhenti berputar dan bergerak. Hanya ada suara menyedihkan yang ia dengar. Suara bayinya yang menangis sedih seakan memanggilnya.


Tubuh Sandra terbaring telentang di sana, dengan mata berkaca-kaca membola menghadap keatas, darah segar seketika mengalir di kepala juga hidungnya.


Pandangan gelap mulai melemahkan naluri keibuannya, Sandra sekuat tenaga melawan agar tidak terjatuh tak berdaya. Suara tangsia bayinya terus dapat ia dengar membuatnya segera bergerak lemah dan berusaha bangkit kembali.


Ia tidak boleh menyerah, yang akan membuat dirinya kehilangan sang — putri.


"Tunggu, mommy sayang. Mommy akan kembali," ucap lirih sambil berusaha terbangun dengan sekuat tenaga.


"Aku harus kuat, aku harus kuat," racaunya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Aku, tidak boleh lemah. Tidak boleh! Racaunya kembali saat merasakan seluruh tubuhnya begitu kaku.


"AYOLAH! KAU HARUS BANGKIT!" teriaknya dengan tangisan pilu.


"Aku mohon, berikan aku kekuatan, anakku membutuhkanku," doa nya dengan sangat tulus.


Sandra masih berusaha bangkit dengan seluruh sisa tenaga juga kesadarannya.


Tidak satupun orang yang menolongnya, mereka hanya diam menyaksikan keadaan Sandra yang begitu menyedihkan. Mereka hanya menganggap Sandra sebagai manusia — terlantar juga menyedihkan.


"Kenapa, manusia seperti dia selalu membuat orang-orang kesusahan," komentar salah satu pejalan kaki dengan nada sinis.


"Kasihan sekali, padahal dia masih muda dan harus, hidup di jalanan," komentar yang lain.


"Dia hanya wanita gelandangan."


"Kasihan."


"Tolong, aku mohon siapapun, tolong aku," pinta Sandra lirih, yang kini sudah berlutut di sana dengan menahan rasa sakitnya.


"Please! bantu aku, tuan, nyonya," mohon Sandra dengan wajah bersimpati.


Terlihat seorang pria keluar dari mobilnya dan mendekati Sandra. Ia terlihat kaget melihat kondisi wanita yang sudah menjadi korban kelalaiannya.


"Tuan muda, Cooper!" Seru orang yang berada disana saat, melihat sosok pria rupawan mendekati seorang wanita yang mereka nilai sebagai wanita gelandangan.


"Apa anda tidak apa-apa?" Tanya pria tersebut dengan wajah panik juga khawatir.


Pria pemilik wajah tampan itu, membantu Sandra bangkit tanpa memperlihatkan ekspresi menjijikkan seperti orang-orang perlihatkan.


"Tidak! Terimakasih," sahut Sandra dengan wajah menahan sakit.


Sandra menggenggam telapak tangan kekar pria itu di saat rasa sakit menyerangnya.


"Anda, kesakitan? Biar saya membawa anda ke rumah sakit," cerca pria tampan itu.


"Tidak, tidak perlu," tolak Sandra dan mulia melangkahkan kakinya dengan perlahan.


"Akhh!" Pekiknya tertahan dan bersamaan air matanya mengalir.


"Aku, pasti bisa," batin Sandra menguatkan.


Wanita itu pun mencoba melangkah tertatih dengan wajah menahan rasa sakit. Ia bahkan menyeret salah satu kakinya yang terlauj parah.


Pria tampan itu hanya bisa termangu melihat sosok wanita tangguh di hadapannya. Wanita yang berusaha menahan rasa kesakitannya juga tidak menghiraukannya.


"Tuan muda!" Seru seorang pria di balik punggung pria tampan.


"Tunggu disini!" Pinta pria itu sambil mengikuti langkah — Sandra.


…..


Kini Sandra menyeret langkahnya dengan penampilan begitu menyedihkan dan kacau. Ia tersenyum lega saat sudah berada di depan pintu masuk rumah sakit.


"Mommy datang, nak," gumamnya pelan.


"Hey!" Seru seorang pria dengan nada tinggi.


Sandra menghentikan langkahnya dan berbalik, ia dapat melihat wajah garang seorang pria berusia, 30 tahunan keatas berjalan ke arahnya.


"Kau mau kemana!" Bentak pria itu yang mengenakan setelan penjaga keamanan.


"Wanita gelandangan sepertimu dilarang memasuki rumah sakit mewah, ini," ucapnya sarkas. Memindai penampilan menyedihkan Sandra.


"Kau, bisa melakukan pemeriksaan di rumah sakit khusus, kalangan bawah," lanjut pria itu dengan wajah mencemooh.


"Saya, ingin menjenguk bayi saya, tuan," pungkas Sandra.


"Cih! Wanita pecundang sepertimu, mana mungkin bisa membayar biaya di rumah sakit ini," komentar pria itu dengan nada kasar dan menghina.


Sandra tidak menghiraukan ucapan pria itu, ia pun ingin melanjutkan


langkahnya, namun mendapatkan serangan kasar di punggungnya.


"Dasar, wanita tidak beretika!" Hardik pria itu sengit.


"Pergi!" Usirnya kasar kepada Sandra yang terpojok di salah satu body mobil mewah.


Wajah Sandra berubah merah, ia pun mengusap cair merah yang keluar di hidung mancung nya dan membalikkan badan, ia bisa melihat wajah arogan penjaga keamanan itu.


Tanpa banyak pertanyaan, Sandra memukul wajah pongah pria itu kuat, membuat sang penjaga keamanan terjatuh dalam posisi tersungkur.


Sandra pun melanjutkan langkah tertatih-tatih sambil sesekali meringis kesakitan.


"Dasar brengsek! Hey, berhentilah!" Pekik pria itu marah.


"Biarkan dia masuk!" Seru pria tampan di belakangnya.


Penjaga itu terkejut, dan segera menyambut pria berkostum rapi itu dengan hormat.


"Tuan direktur?! Ucapnya dengan gugup.


" Temui lah' bagian personalia dan ambil surat pemecatan mu, " Pungkas pria berwajah tegas itu.


"T-tapi… kesalahan saya apa tuan," Protesnya dengan wajah syok.


"Saya tidak akan menerima seorang karyawan dengan sikap arogan sepertimu. Aku mendirikan rumah sakit ini untuk semua kalangan, tanpa memprioritaskan kalangan tertentu," Terang tuan muda itu dengan nada tegas.


Setelah mengatakan titahnya, sang pria tampan itu kembali menyusul langkah Sandra. Ia begitu terkagum-kagum dengan kepribadian wanita itu. Sang pria gagah, begitu penasaran akan sosok— Sandra.


… .. ..


Sandra terus melangkah cepat menuju ruangan khusus bayi yang mendapatkan perawatan. Ia tidak menghiraukan tatap heran para pengunjung rumah sakit. Ia hanya ingin segera sampai di tempat sang bayi dirawat.


"Mommy datang, sayang. "