Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 27



Hembusan nafas berat mengudara di ruangan terbuka, tubuh ringkih dengan tampilan lusuh itu kini, meringkuk di sebuah kursi panjang besi yang terdapat di rooftop rumah sakit.


Kedua lutut kakinya ia peluk erat agar menjadi kehangatan dari dinginnya udara musim salju. Wajahnya pucat dengan beberapa luka terlihat basah.


Masih terdengar sisa tangisan sang wanita menyedihkan itu di sana. Tangisan perih seorang wanita yang begitu rapuh dan tak berdaya.


Di tambah hidupnya dipenuhi kesedihan dan kekecewaan. Sandra bersyukur kondisi sang putri baik-baik saja. Ia pun mencari tempat untuk menyendiri sesaat, memikirkan segala biaya rumah sakit yang akan digunakan nanti.


Bukan ia tidak ingin mendapatkan pengobatan atas dirinya, Sandra lebih memilih menahan rasa sakit pada tubuhnya, agar biaya rumah sakit tidak terlalu memberatkannya.


Sandra sebisa mungkin menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, agar tidak terlihat rapuh dan lemah di mata semua orang dan memberikan tatapan kasihan.


Walaupun tubuh lemah itu berulang kali akan tumbang, Sandra sekuat tenaga untuk mempertahankan kesadarannya. Ia takut, saat terbangun maka sang putri akan hilang dari sisinya.


"Aku pasti bisa melewati semua ini. Asalkan, putriku bersamaku," monolognya sedih.


"Aku, sudah terbiasa hidup seperti ini, jadi … aku pasti bisa,"


"Sekarang, aku harus memikirkan nasib Aurora kedepannya."


"Aku, pasti bisa membesarkan putriku,"


Sandra terus bermonolog dalam hati dengan tekad yang tangguh, akan mampu membesarkan putrinya, tanpa tatapan kasihan kepada orang lain.


Sandra menarik nafas dan membuangnya dengan kasar dengan kepala mendongak ke atas. buliran air matanya pun tidak hentinya mengalir.


Selain menahan rasa sakit, Sandra juga, menahan rasa lapar. Ia belum merasakan makan sejak kemarin hingga sekarang. Namun begitu, Sandra mampu menahan. Ia merasa sudah terbiasa menahannya sejak kecil, menahan rasa lapar — berhari-hari.


Ia hanya kasihan kepada putrinya, yang tidak mampu memberikan asupan makanan yang baik kepada — Aurora.


"Maafkan, mommy!" Ucapnya lirih dan diiringi buliran bening di ekor matanya.


"Tidak baik, terlalu lama di luar saat cuaca ekstrim seperti ini!" Seru suara seorang pria dari arah punggung — Sandra.


Wanita itu menoleh ke belakang, ia pun lantas segera berdiri saat melihat pria bersahaja di belakangnya.


"Dokter," sahut Sandra dengan nada lemah.


"Kau, tidak merasa kedinginan?" Tanya pria rupawan itu dengan tatapan begitu penuh arti ia berikan kepada — Sandra.


Sejak tadi ia menyaksikan sendiri, bagaimana wanita di depannya ini menangis begitu pilu. Menumpahkan segala emosinya dengan teriakkan juga isakan yang mampu, membuatnya ikut menitikkan air mata.


"Aku sudah terbiasa," jawab Sandra dengan wajah ramah dengan tatapan kosong.


"Tapi, kau seorang ibu dari bayi yang masih memerlukanmu," terang pria itu penuh kelembutan.


"Tidak baik, bagi kesehatan bayi," lanjutnya, membuat Sandra panik.


"Aku hanya ingin menghilangkan sesuatu," ucap Sandra lirih.


"Hum! Tapi… pikirkan juga kesehatanmu," timpal pria itu yang tatapannya tidak berpaling dari wajah pucat di hadapannya.


"Kau, harus mendapatkan pengobatan dan perawatan," sela sang pria.


Sandra menggeleng dan menerbitkan sebuah senyuman begitu indah, namun tersirat begitu banyak luka disana.


Pria itu bahkan mengetatkan rahangnya, ikut merasakan perih melihat tatapan — Sandra.


"Tidak! Aku bisa menahannya. Ini hal biasa bagiku dan besok juga akan membaik." Sandra menjawab dengan senyum terpaksa, namun tatapan matanya berkaca-kaca.


Tiba-tiba wanita itu terbatuk-batuk, ia segera membalikkan badannya memunggungi pria rupawan itu. Seketika tatapannya melotot kaget, saat mendapatkan cairan darah di telapak tangannya.


"Kau, baik-baik saja?" Tanya pria itu.


"Iya," sahut Sandra segera dan menyembunyikan telapak tangannya yang terdapat cairan merah. Ia mengusapkan tangannya di sela pakaiannya.


Pria di depannya hanya mampu menahan segala perasaan sakit hati, melihat wanita kuat juga tangguh di depannya ini.


Ia mengusap cairan di sudut matanya dan menyerahkan paper bag kepada Sandra.


"Ambillah!" Pintanya dengan senyum tampan.


Sandra menatap paper bag yang berada di tangan pria itu dengan lekat bergantian pria di depannya.


"Kau perlu mengisi perutmu, agar bisa merawat bayi mu saat, terbangun," tutur pria itu dan menyerahkan Tote bag kepada Sandra dengan paksa.


Sandra melihat isi Tote bag tersebut, ia bisa melihat beberapa kotak makanan di dalam sana.


"Anda, seharusnya tidak perlu repot-repot," ujar Sandra lemah.


Wajahnya pun semakin pucat dengan bibir yang mulai membiru, lagi-lagi pria itu membuang pandangan ke samping. Ia begitu lemah, saat melihat wajah Sandra.


"Makanlah!" Titah sang pria dengan sedikit paksaan.


"Tapi …."


"Kau perlu menyiapkan kebutuhan asi untuk, putrimu," sela pria itu dengan tatapan dingin.


Sandra pun akhirnya menerima dan kembali duduk di kursi panjang, ia menatap nanar beberapa makanan mewah di depannya.


Sandra pun menyiapkan makanan mewah itu kedalam mulutnya dengan linangan air mata.


Apa sebegitu menyedihkannya kah' hidupnya hingga seorang pria baik menawarkannya makanan mewah?


"Terimakasih!" Ucap Sandra tulus dengan kepala menunduk.


Pria itu membalikkan badannya saat — mendengar isakan pilu wanita di depannya.


Tidak lama terdengar seseorang jatuh di balik punggungnya. Pria itu menatap kedepan dan memberikan perintah kepada beberapa perawat pria yang sejak tadi bersembunyi.


Pria itu membalikkan badannya, ia segera meriah tubuh lemas tak berdaya Sandra.


"Maaf, aku harus melakukannya. Ini demi kesehatanmu." Pria itu menatap wajah Sandra dengan begitu penuh perhatian.


"Bawa dia keruangan operasi. Kita, akan melakukan operasi kecil di beberapa bagian tubuhnya!" Titah pria itu dan segera menggendong tubuh lemah Sandra dan memindahkannya di atas ranjang khusus pasien darurat.


Mereka pun membawa tubuh wanita tangguh itu ke sebuah ruangan khusus. pria itu terpaksa memberikan obat bius di makanan Sandra. Agar mereka bisa memberikan pengobatan juga perawatan kepada Sandra.


Para petugas medis itu, begitu meringis sedih melihat kondisi Sandra yang perjuangan untuk tetap, kuat.


Kini wanita tangguh itu dalam keadaan tak berdaya. Ia kini dalam perawatan beberapa tenaga medis, termasuk pria yang memberikan bantuan kepadanya.


Beberapa perawat bahkan menitikkan air mata mereka, saat melihat begitu banyak luka menganga di tubuh — Sandra. Namun wanita itu masih mampu menahan semua rasa sakitnya.


"Aku tidak mampu, melihatnya," ujar salah satu perawat dengan isakan keluar dari ruangan operasi.


Wanita itu begitu miris dan terasa teriris perih, melihat kondisi fisik Sandra. Mereka begitu mengagumi sosok wanita tangguh itu.


Tidak ada satu wanita yang akan bisa bertahan, selain dirinya. Sosok wanita kuat dan tangguh demi — putrinya.


"Dia begitu spesial."


"Wanita yang patut diperjuangkan dan mendapatkan hatinya." Pria rupawan itu terus berkata dalam hatinya sambil bersiap untuk melakukan operasi kecil di beberapa bagian tubuh — Sandra.


"Sungguh, pria itu begitu bodoh, menyia-nyiakan wanita hebat seperti, dirimu," ungkapnya lagi.


…..


"Tidak!!


"Tidak!"


"Dia, bukan milikku. Bayi monster itu bukan lah' bayiku."