Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 78



Sandra dan Gracia kini berdiri di hadapan, puluhan pria bertubuh tinggi besar dengan wajah sangar.


Tidak ada rasa takut di raut wajah keduanya. Mereka kini menantang sang penjahat, yang menghalangi jalan mereka.


Sedangkan Cindy tetap di dalam mobil, melindungimu kedua anak kecil itu. Wajah wanita itu terlihat begitu ketakutan, memeluk Aurora dan putranya yang juga bergetar takut.


"Apa yang terjadi bibi?" Tanya Aurora dengan wajahnya yang begitu panik.


Meskipun tidak dapat melihat keadaan di luar sana. Namun Aurora bisa merasakan hal berbahaya kini sedang terjadi.


"Tidak! Semuanya baik-baik saja," jawab Cindy, suaranya terdengar gugup.


Aurora terdiam, ia lantas mengingat sang mommy dan kembali bertanya.


"Mommy kemana bibi?" Tanya gadis kecil itu.


Mendapatkan pertanyaan yang sebutkan auto, Cindy harus mencari alasan kuat, untuk menjawab pertanyaan — Aurora.


"Hm, mommy sedang melakukan hal penting," sahut Cindy, berusaha tenang sambil menggigit bibir bawahnya.


Aurora kembali tenang, saat Lewis memeluk saudaranya itu dengan lembut, dan memberikan isyarat kepada Aurora, kalau semuanya baik-baik saja.


Cindy pun bisa bernafas lega dan kini menatap ke depan, dimana Sandra dan Gracia siap menghadapi puluhan pria penjahat.


"Oh Tuhan, selamat kami semua," doa Cindy dalam hati.


…..


Tawa para pria menyeramkan itu terdengar membahana. Tawa yang seakan, meremehkan kedua wanita di depan mereka.


Para pria jahat itu, melemparkan tatapan kurang ajar kepada Sandra dan Gracia.


Mereka sangat terhibur melihat wajah kedua wanita itu, yang begitu menantang mereka.


"Ayolah, kawan. Lihatlah, keduanya begitu mungil dan menggemaskan!" Seru ketua dari puluhan penjahat, berkata dengan nada mengejek.


Membuat para pria menyeramkan tersebut tertawa puas, mereka begitu terharu melihat keberanian kedua wanita di hadapan mereka.


"Begitu rugi kalau kita menghabisi mereka, sebelum merasakan indahnya tubuh kedua wanita ini," seloroh pria itu dan kembali tertawa.


Melihat tatapan pria-pria di depannya dan mendengar perkataan kurang ajar mereka, membuat darah Sandra mendidih.


Tatapan wanita itu begitu mengerikan, seakan siap melumpuhkan para lawan di ganas.


Sandra diam-diam mengeluarkan sebuah benda tajam dari punggungnya, melihat itu, Gracia tersenyum tipis, sambil saling bertatapan.


Sandra menajamkan matanya ke arah target, yang masih tertawa yang mengejek mereka.


Tanpa menunggu lama, Sandra membidikkan senjata tajam itu ke arah target. Dan bidikannya tepat sasaran, mengenai pria kepala pria yang paling pongah.


Para pria itu terkejut, melihat ketua mereka terkapar di atas aspal jalan tol yang sunyi. Mata mereka begitu kaget dan tidak percaya.


Lantas secara bersamaan melihat kearah Sandra dan Gracia, namun kedua wanita itu menghilang dari hadapan mereka.


"Kemana perginya wanita sialan itu!" Pekik pria paling menonjol di antara puluhan pria penjahit.


Mereka pun sibuk merotasi penglihatan mereka, tiba-tiba, suara tembakan bertubi-tubi terdengar dan menyerang mereka semua.


"Sial!" Umpat salah satu penjahat dan mencoba menghindar.


Sandra kini memegang sebuah senapan yang selalu dia simpan di dalam mobil, Sandra tidak mengenal ampun, terus menghujami para pria jahat itu dengan tembakan.


Membuat puluhan pria itu menghindari serangan tiba-tibanya. Wajah Sandra terlihat begitu mencekam, bagaikan salah satu predator buas yang baru mendapatkan ancaman dan kini siap menyerang para bahaya dengan membabi buta.


Gracia sendiri kini menyerang para penjahat itu dengan benda tajam, gadis itu menyerang, bahkan menikam lawannya.


Gadis yang terlihat polos dan lugu itu, begitu mengerikan saat bertarung. Gadis yang memiliki keahlian, bela diri dan memainkan senjata tajam.


Kini gadis itu di kepung oleh beberapa penjahat, namun gadis berwajah manis itu hanya menampilkan seringai mengerikan.


Pertarungan pun terjadi, Sandra dan Gracia begitu sengitnya melawan para penjahat itu. Wajah kedua wanita itu sudah dinodai oleh cair merah, berbau amis.


Tidak ada kata lelah di wajah kedua wanita itu, kini keduanya begitu tangguh dan menggila untuk menghabisi para penjahat.


Sandra bahkan tidak segan-segan, mengiris leher lawannya dengan benda tajam berukuran kecil. Atau menyerang, titik paling mematikan lawannya.


Di tengah keseriusan mereka menghadapi para penjahat, beberapa kelompok penjahat itu mencoba mendekati mobil Sandra.


Ketiga pria itu mencoba membuka pintu mobil, bahkan mencoba menghancurkan kaca mobil Sandra, namun niat mereka gagal, karena mobil yang dikendarai Sandra sudah di berikan beberapa pelindung.


Mereka mencoba mengintip, namun mereka tidak melihat apapun selain kegelapan.


Padahal, Cindy, berusaha menghalangi penglihatan mereka untuk mengintip dengan menggunakan telapak tangan.


Cindy juga memerintahkan anaknya untuk melakukan hal yang sama ia lakukan.


Beruntung Lewis paham dan segera menjalankan perintah sang mommy. Sedangkan Aurora terlihat tegang dengan wajah khawatir. Ia kini sedang mengerutkan tubuhnya yang gemetaran.


"Mommy," lirih gadis kecil itu.


Aurora dapat mendengar jelas suara tembakan dan teriakan di luar sana, juga keributan suara sang mommy.


"Aku harus menyelamatkan mommy," batin gadis kecil tersebut.


Aurora diam-diam mencari tungkai pintu mobil dan berusaha keluar dari mobil dan membantu sang mommy.


Aurora berhasil membuka pintu mobil, membuat pria yang berdiri di dekat sisinya tersenyum. Cindy yang mendengar suara kunci mobil terbuka, segera menutup kembali yang sudah berhasil Aurora buka.


"Lewis, kunci mobilnya nak!" Teriak Cindy. Kini wanita itu sekuat tenaga menahan pintu mobil agar tidak terbuka, yang mana para pria jahat itu kini berusaha menahannya.


Namun tenaga wanita itu tidak berdaya, pintu mobil itu pun terbuka, Cindy terhempas ke belakang, saat salah satu penjahat menendang perutnya dan pria lain kini mencoba menarik Aurora keluar.


Lewis berusaha membantu saudaranya dengan memukuli tangan kekar kedua pria yang menyeret Aurora.


"Menyingkirlah, anak bodoh!" Bentak pria lainnya, menghempuskan tubuh lemah Lewis.


Cindy kini terkapar dengan kondisi mengenaskan, setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi saat berusaha menolong Aurora.


Wanita itu berusaha mendekati putranya dengan menarik tubuhnya yang posisinya tengkurap.


"Lewis!" Panggil Cindy.


"Sandra!" Teriak Cindy, ketika Aurora kini berusaha di bawa paksa.


Sandra yang sedang bertarung dengan beberapa pria, menoleh ke belakang. Kelopak mata Sandra terbuka lebar, saat melihat putrinya di seret oleh dua pria jahat.


Melihat kelengahan Sandra, para penjahat itu mengambil kesempatan. Mereka menghantam, belakang kepala Sandra, saat wanita itu ingin menyelamatkan putrinya.


"Kakak!" Teriak Gracia, melihat Sandra kini tersungkur di atas aspal dan ketiga pria yang kini memukuli dengan menggunakan kaki mereka.


Gracia pun segera mendekati Sandra, tanpa aba-aba, menikam ketiga pria itu.


"Kakak!" Gracia segera membantu Sandra yang berusaha bangkit.


"Aurora!" Seru Sandra lirih, melihat ke arah depan. Dimana putrinya sudah berada di dalam mobil.


"Aurora!" Teriak Sandra yang berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan putrinya.


"Mommy, mommy!" Teriak gadis kecil itu di dalam mobil.


Sandra bisa melihat wajah ketakutan putrinya, ia pun semakin mendekati mobil penjahat itu.


Gracia tidak tinggal diam ia ingin membidik ban mobil yang akan membawa Aurora, tapi… sebuah hantaman pada tangannya membuat niat wanita itu gagal.


"Diam!" Bentak penjahat itu kasar dan menampar pipi Aurora yang berisik.


Melihat putrinya di perlakukan kasar, Sandra pun meradang, kini ia sudah berada di samping mobil dan mencoba membuka paksa pintu mobil tersebut.


Sandra melihat balok kayu, wanita itu berusaha mengambilnya dengan langkah pincang.


"Tabrak saja!" Perintah salah satu penjahat itu, ketika melihat Sandra kembali ke arah mereka dengan sebuah balok kayu besar.


"Ayo tabrak!" Teriak kedua pria jahat yang kini membekap mulut Aurora.


Pria di balik kemudi pun tidak mempunyai pilihan lain, selain mencoba menabrak Sandra yang menyeret sebuah balok di tangannya.


Beruntung Gracia segera mendorong Sandra kesamping. Sedangkan mobil penjahat yang tersisa kini membawa Aurora.


"Aurora!" Teriak Sandra dan berusaha mengejar mobil tersebut.


"Tenanglah, kak. Kita akan mengejarnya," ujar Gracia.


"Aurora!" Seru Sandra yang tampak panik dan ketakutan.


Tidak lama, Gracia datang dengan mengendarai mobil mereka. "Cepatlah, kak, kita akan mengejar mereka!" Pinta Gracia.