Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 43



"Aurora!" Teriakkan suara cempreng terdengar di halaman sekolah mewah itu. Seorang gadis bertubuh mungil turun dari mobilnya, saat melihat Aurora ia pun memanggil.


"Natasya!" Seru seorang wanita di balik kemudi.


"Ya, mom," sahutnya.


"Jangan terlalu sering berdekatan dengan mereka," ujar sang mommy.


"Yes, mom," sahut gadis kecil itu dengan wajah jengah.


"Natasya!" Wanita itu terdengar menggeram kesal.


"Baik, mom," jawab gadis itu lagi.


Gadis itu membalikkan tubuhnya dan bersiap melangkah, namun terhenti saat mendengar ocehan sang mommy.


"Mommy hanya melindungimu dari mereka yang terlihat tidak terawat dan kumuh. Mommy hanya takut, kau terkena virus," celoteh wanita anggun itu.


Natasya hanya bersungut-sungut mengikuti ucapan sang mommy, gadis kecil itu mengejek ucapan — mommynya.


"Bye, mommy," ucap Natasya.


"Sayang …." Sang mommy yang di dalam mobil menyelesaikan perkataannya, tapi putrinya sudah berlari memasuki sekolah.


……


"Hai, Aurora, Jastin," sapa gadis cantik dengan tampilan begitu anggun.


"Hai, Natasya," sahut Aurora dan Jastin.


Natasya segera mengambil tangan Aurora yang lain dan menuntunnya masuk ke dalam kelas khusus musik bersama-sama.


Ketiganya adalah sahabat baik. Natasya yang merupakan anak konglomerat mau berteman dengan Aurora dan Jastin yang hanya dari kalangan rendahan.


Natasya terkenal gadis cantik dan ceria. Dia juga yang selalu membantu Aurora apabila dalam kesulitan.


"Kamu membawa biola?" Tanya Natasya.


"Hum!" Aurora mengangguk.


"Kalian tidak perlu membantuku berjalan," sahut Aurora. Gadis kecil itu merasa tidak nyaman dan merepotkan kedua sahabatnya.


"Kami tidak mungkin melihatmu terluka lagi," timpal Jastin.


"Hum, dan di permainan oleh Jessica," sambung Natasya.


"Aku tidak ingin merepotkan kalian," Aurora kembali menyahut.


"Tidak! Kami sangat suka membantumu. Bukankah kita berteman?" Jawab Natasya dengan wajah ceria.


Aurora hanya bisa menganggukkan kepala, kedua matanya hanya bisa bergerak ke sana kemari.


"Bukankah, biola kamu tidak bisa dipakai lagi?" Tanya Natasya.


Gadis itu melihat tas hitam, yang ada di pundak Aurora. Dan menatap wajah sahabatnya dengan intens.


"Ini masih bisa digunakan," ujar Aurora.


"Tapi ini akan membuatmu terluka," timpal Jastin.


"Tidak masalah, asalkan bisa menghasilkan suara musik yang indah. Tidak mungkin aku meminta kepada mommy. Aku tidak tega melihatnya bekerja terlalu lelah," jelas Aurora.


"Kau bisa meminjam milikku," potong Natasya.


"Tidak, terimakasih," tolak Aurora lembut. Tidak mungkin ia meminjam milik sahabatnya, Aurora adalah gadis kecil yang tidak ingin dipandang menyedihkan dan tidak berguna. Ia akan bekerja keras untuk memiliki biola baru sendiri.


Ketiga anak berusia 6 tahun itu berjalan menuju kelas musik, dengan Aurora di tengah. Langkah mereka terhenti, ketika dihadang oleh lima anak kecil lainnya.


Kelima anak itu terlihat, berkelas dan dari keturunan kaya. Bisa dinilai dari penampilan mereka yang memakai pakaian brand ternama.


Salah satu gadis berambut pirang berdiri di tengah keempat anak perempuan lainnya. Gadis kecil cantik itu melipat tangan di depan dada dan memandang ke arah Aurora sinis.


"Oh, mereka lagi." Jastin bergumam sambil mendesah lirih.


"Charlotte?" Tanya Aurora menebak kelompok yang menghadang jalan mereka.


"Hum!" Gumam Natasya.


Aurora tersenyum ramah dan mencoba menyapa kelima gadis cantik di depannya.


Meskipun indera penglihatannya tidak berfungsi, namun indra lainnya bekerja dengan sangat baik. Telinga dan penciuman Aurora bisa mengetahui keberadaan seseorang yang asing atau yang biasa ia temui.


"Ck! Gadis itu hanya berdecak dan memperlihatkan wajah sombongnya.


"Jangan terlalu akrab dengan kami, kamu tidak selevel dengan geng kami yang sempurna ini." Gadis sombong itu berkata dengan angkuhnya.


"Kamu hanya seorang yang buta dan miskin," celetuk gadis lainnya.


"Hentikan perkataan kalian!" Natasya tidak terima dan menghardik kelompok anak kaya itu.


"Kami hanya berkata dengan jujur, kalau dia hanya seorang yang buta dan menyedihkan," sela Charlotte dan kelima-nya tertawa.


"Dasar kalian semua sombong!" Pekik Natasya marah. Gadis berambut hitam dan terlihat dari etnis China itu berdiri di depan, kelima gadis kecil kaya sambil berkacak pinggang.


"Apa kalian tidak puas, mengganggu Aurora," timpal Jastin membantu membela Aurora, dengan berdiri di depan Aurora seakan menjadi tameng.


Kelima gadis kaya hanya mencebikkan bibir mereka dan tersenyum sinis. Mereka berlima selalu saja mengganggu, Aurora. Bahkan mereka pernah mengunci Aurora seharian di dalam toilet. Atau mengurung Aurora di gudang gelap dan pengap.


Meskipun mereka terbukti bersalah, para pihak sekolah hanya bisa diam. Itu karena kelima anak gadis kaya, merupakan anak-anak dari donatur sekolah tersebut. Bahkan Charlotte adalah cucu, pemilik sekolah itu. Jadi dia bebas menindas kalangan pelajar miskin sesuka hatinya.


"Jastin, Natasya!" Seru Aurora menyela. Kedua tangannya terulur ke depan untuk mencari letak keberadaan kedua sahabatnya.


"Jangan, mencari masalah hanya karena membela aku," ujar Aurora.


"Tapi kami tidak akan terima, mereka terus menghinamu," sahut Natasya.


Aurora maju selangkah ke depan, dan merapat tubuh Natasya. Ia meraih telapak tangan Natasya dan bermaksud membawanya pergi dari hadapan kelima gadis kaya itu.


"Ayo, kita pergi dari sini!" Ajak Aurora dengan nada lembut.


Kelima gadis itu menghadang lagi langkah, Aurora dan kedua temannya. Mereka begitu memperlihatkan kesombongan mereka.


"Kalian mau kemana? Kami belum menyapamu dengan spesial, anak buta." Charlotte berbisik.


"Sebaiknya, kita memasuki kelas!" Ajak Aurora.


"Cih! Kamu siapa? Berani memberikan kami perintah, ah!" Hardik Charlotte. Para siswa lain, seperti biasa hanya bisa menyaksikan penindasan kelima gadis kaya itu.


"Sebentar lagi, Ms. Korry akan memasuki kelas," ujar Aurora.


"Cih! Menyebalkan," sahut Charlotte sinis.


"Sebelum memasuki kelas, lebih baik kamu melihat hadiah dari kami, oh … iya, kamu kan buta, jadi lebih baik kamu rasakan saja kejutan menyenangkan ini," tandas Charlotte.


"Pegang tangan mereka!" Perintah Charlotte kepada keempat kawannya.


Keempat teman Charlotte pun, segera menahan tangan, Aurora, Jastin dan Natasya.


"Lepaskan kami, Charlotte!" Pekik Natasya. Gadis kecil bertubuh mungil, berusaha melawan para teman Charlotte yang memiliki tubuh gempal.


"Charlotte, apa yang akan kamu lakukan!" Teriak Natasya, saat melihat Charlotte membawa wadah tertutup.


"Ini adalah kejutan dari kami," ujar Charlotte dengan bangga.


"Jangan melakukan itu kepada, Jastin dan Natasya," pinta Aurora dengan wajah panik. Ia lebih mengkhawatirkan temannya.


"Kami memang hanya memberikan kepadamu, manusia buta," Charlotte mencibir.


"Jangan, Charlotte!" Pekik Natasya.


"Hey, kalian, bantu kami melaporkan kepada, Ms. Korry," teriak Natasya.


Namun tidak ada yang berani melawan, gadis kecil bernama Charlotte. Yang merupakan, cucu pemilik sekolah ini. Mereka hanya diam sambil menyaksikan, Aurora di dorong ke bawah hingga, Aurora terduduk di atas lantai.


Charlotte, membuka penutup wadah tersebut, seketika aroma busuk menguar keseluruh penjuru koridor sekolah mewah itu.


"Selamat menikmati, kejutan dari kami." Charlotte bersiap untuk menyiram cairan beraroma busuk kepada, Aurora.


Natasya dan Jastin terlihat panik, kedua bocah mungil itu hanya bisa menyaksikan Charlotte mempermalukan — Aurora.


Saat Charlotte akan bersiap menuangkan cairan busuk itu ke atas kepala, Aurora. Aurora yang tidak mengetahui apapun, mencoba bangkit dan secara tidak sengaja, menyenggol bagian bawah wadah, berisi cairan busuk itu, yang membuat cairan itu tumpah di wajah Charlotte.


"Akh! Dasar buta!" Pekik Charlotte. Ia pun mulai merasakan mual dan muntah, mencium dan bahkan mengotori seluruh tubuhnya dengan cairan busuk itu.


"MOMMY!! Gadis kaya itu berteriak histeris.