Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 14



Sandra kini berjalan ke arah para penumpang yang sudah terkapar tak berdaya semua, setelah diberikan obat bius.


Wanita itu melangkah perlahan, agar tidak menimbulkan suara, ia bersembunyi di balik pintu masuk area kru kapal. Mengintai para pembajak itu.


Sandra dapat melihat, para penjahat itu masih mengumpulkan harta benda para penumpang.


Sandra juga bisa melihat, wajah kesakitan pria buruk rupa itu dalam keadaan kesakitan.


Sandra menatap sekeliling, mencari sesuatu yang akan menjadi temannya untuk melawan para penjahat itu.


Pandangan tajam Sandra kini tertuju kepada benda tajam yang ada di salah satu ruang istirahat para kru kapal.


Sandra meraih sebuah pisau kecil, gunting, obeng dan terakhir sebuah besi berukuran lumayan besar itu, Sandra membawanya begitu enteng, seakan tidak terbebani sedikitpun.


……


"Wanita itu! Berani-beraninya, melakukan ini kepadaku," sentak pria yang tadi mendapat tendangan kuat dari — Sandra.


"Apa sesakit itu, bos?" Tanya rekannya yang membantu mengipasi area pribadi pria itu yang begitu sakit dan ngilu.


"Apa, kau ingin merasakannya?" Tawar pemimpin para pembajak kapal itu, dengan wajah tidak suka dengan pertanyaan anak buahnya.


"Melihatnya saja saya sudah merasakan ngilu, bos," sahut pria berbadan besar itu namun terlihat bergerak lembut gemulai.


"Cih!" Sang pemimpi para pembajak itu hanya berdecak kesal.


"Aku, akan membuat wanita sialan itu menyesal. Sudah, membuat ku seperti ini," ujarnya dengan raut marah.


Namun lagi-lagi ia harus berteriak kesakitan, saat sesuatu benda keras, melayang dan mengenai kepala bagian belakangnya.


"Akh! Siapa yang sudah berani melakukan ini, kepada penguasa lautan!" Pekik pria berwajah jelek, sambil mengusap kepalanya yang tiba-tiba membuatnya berkunang-kunang.


"Ada apa?! Tanya pria itu saat melihat berubah raut tegang rekannya.


Ia pun memalingkan kepala ke belakang, dan seketika kelopak mata pria berwajah buruk itu — membola sempurna.


"K-kau?! Serunya dengan terbata, wajahnya pun terlihat syok.


Saat melihat tongkat besi yang berada di tangan Sandra. Pria itu melirik temannya yang mematung di tempat.


"Hm! Ini aku, yang akan melempar kalian ke dasar laut, anggap saja aku sedang berbagi makan lezat kepada predator laut," Ucap Sandra dengan wajah datar juga seringai mengerikan terlihat di wajahnya.


Ucapan mengerikan Sandra yang tersirat sebuah gertakan, membuat rekan pemimpin pembajak itu, tambah ketakutan. Sedangkan pria berwajah buruk, semakin marah. Ia tidak terima, Sandra merendahkan dirinya sebagai seorang pemimpin dalam kelompok penjahat kelas kakap.


"Wanita sialan!" Bentak pria itu dengan wajah merah.


"Kenapa, kau diam saja, hah!" Gertaknya kepada pria bertubuh kekar itu.


"A-aku, mana berani bos," ucap pria itu dengan nada lembut gemulai.


Membuat pimpinannya mengerang kesal. "Dasar, pria pecundang," geram pria itu marah.


"Hey! Kalian, habisi wanita sombong ini," teriak pria berwajah buruk kepada rekan-rekannya.


Sandra hanya bisa menampilkan senyum miring, saat para pria pembajak itu mendekat kepadanya. Sekitar 12 orang pria dengan tubuh besar juga perawakan mengerikan.


Namun bagi — Sandra mereka hanya lah' sebagai sampah masyarakat yang perlu di bumi hanguskan dengan cara melemparkan mereka ke dasar laut lepas.


Para pembajak itu kini melangkah mendekati — Sandra dengan tawa juga tatapan kurang ajar mereka. Sedangkan pemimpin mereka menampilkan wajah puas dan menatap Sandra remeh.


"Tenanglah, bos, kami pasti, bisa melumpuhkannya," celetuk salah satu di antara mereka.


Tatapannya pun semakin kurang ajar menelisik penampilan — Sandra.


"Iya, bos. Anda tenang saja. Biar kami bersenang-senang terlebih dahulu dengan wanita ini. Mungkin ia sudah lama kesepian dengan belaian seorang pria," celetuk yang lainnya dengan ucapan — kurang ajar.


Sandra pun hanya bisa diam dengan mimik wajah datar, tapi … tatapannya begitu lekat kepada para penjahat di depannya. Sandra mencoba mencari kelemahan para pria yang kini sudah mengelilingi dirinya.


"Wow, ternyata wanita ini lumayan juga, bos. Kalau bos tidak keberatan, dia milik kami," timpal salah satu diantara mereka lagi, dengan perkataan yang semakin kurang ajar.


"Dia, milik kalian, bersenang-senang lah," sahut pemimpin kelompok pembajak itu, lalu meninggalkan area bagi penumpang kapal.


Membiarkan para anak buahnya yang akan melumpuhkan Sandra, ia akan mengobati luka sobek di bagian belakang kepalanya. Yang mendapatkan lemparan benda keras.


…….


Membuat ibu satu anak itu, mulai jengah dan emosinya semakin terpancing.


Tanpa menunggu lama lagi berada di antara pria kurang ajar ini, Sandra mengayunkan, tongkat besi itu kepada para pembajak, Sandra menyerang bagian wajah juga bagian belakang kepala, beberapa penjahat yang lebih dekat dengannya.


Dua musuh tumbang dengan satu kali serangan, membuat kesepuluh pria yang tersisa, tercengang dengan mata membola.


Sandra kini berjalan perlahan dengan wajah mengerikan, kesepuluh pria itu pun tidak terpengaruh dengan tatapan predator — Sandra. Mereka semua secara bersamaan menyerang — Sandra.


Kini Sandra pun membalas serangan mereka dengan gerakan gesit, ia mampu menghindari, tendangan juga pukulan yang diarahkan kepadanya.


Dengan kemampuan beladiri terbaik, Sandra bisa menghindari serangan mereka juga … melakukan serangan balik.


Sandra bergerak ke area lebih luas, dimana sebelumnya ia bertarung di area penumpang dengan kursi di sana menyulitkannya untuk bergerak leluasa.


Sandra kini mengangkat kaki kirinya dan mengarahkan ke arah lawan tepat di leher pria itu. Gerakan taekwondo terbaik Sandra berikan kepada salah satu penjahat itu, hingga terdengar bunyi kretek di leher sang musuh, yang seketika membuat pria bertubuh kekar itu, terkapar.


Melihat salah satu rekan mereka, terkapar tak berdaya, membuat para penjahat yang tersisa, geram.


"Wanita sialan!" Teriak pria yang terlihat paling kuat diantara pria pembajak itu.


Sandra yang kini wajahnya dipenuhi keringat juga pakai yang terlihat berantakan, hanya tersenyum sinis dengan mata tajam yang begitu mengerikan.


Kembali mereka menyerang Sandra dengan bersama dan membabi buta, salah satu dari mereka bahkan mengeluarkan senjata tajam berupa — belati kecil.


Sandra yang sadar dengan itu, pantauannya terus tertuju kepada pria tersebut. Ia kini melawan beberapa pria dengan tangan kosong, juga salah satu kakinya melayangkan tendangan kuat kepada pria yang menyerangnya dari arah depan. Berhasil, Sandra berhasil melumpuhkan pria itu dengan sebuah tendangan kuat hingga sang pria terdorong ke belakang dan menghantam besi pembatas kapal.


Kedua tangan Sandra kini, menahan pukulan lawan yang berada di kedua sisinya. Wajah wanita itu tampak merah menahan sekuat tenaga pukul kedua sang penjahat, hingga lagi-lagi ia berhasil mengalahkan kedua pria itu dengan cara menyerang, alat vital kedua lawannya.


Namun lagi-lagi lawan yang tersisa terus menyerang, bahkan Sandra mendapatkan luka sobekan dari benda tajam yang dipegang salah satu lawannya.


Sandra beringsut ke sudut ruangan sambil memegang lengannya yang terluka juga mengeluarkan cairan merah.


Nafas Sandra terdengar tersengal-sengal dengan wajah menahan rasa sakit, rambut tampak lembab itu kini, menutupi sebagian — wajahnya.


Sandra bersandar sejenak di dinding, mengatur nafasnya juga menetralisir rasa sakit pada lengannya itu.


Terdengar tawa puas juga mengejek dari lawannya, tatapan mereka begitu remeh ke arah Sandra, yang melirik mereka tajam.


Namun indera pendengaran Sandra mendengar, suara tangisan bayinya, segera Sandra memalingkan wajah. Ia juga bisa mendengar suara dobrakan pintu yang dipaksakan terbuka.


"Bos, begitu terobsesi dengan anak kecil itu," celetuk diantara pria di depannya.


Membuat Sandra menggenggam kuat telapak tangannya, wajah ibu satu anak itu, semakin mengerikan.


"Kau, benar. Bos begitu ingin memiliki anak itu," sahutnya lagi pria di depannya.


Tawa mereka semakin membahana, tanpa sadar kalau wanita di hadapan mereka kini menatap mereka dengan tatapan predator buas.


Sandra mengeluarkan sesuatu dari balik baju bagian belakangnya, sebuah pisau juga obeng, kini berada di genggaman — Sandra.


Wanita itu tidak ingin membuang-buang waktu, putrinya sekarang ini sedang dalam bahaya.


"Brak, brak, brak. Buka!" Teriak di salah satu ruangan.


Yang membuat amarah Sandra semakin membuncah, tanpa banyak membuang waktu lama, Sandra mencoba berjalan ke arah area khusus nahkoda kapal, namun, beberapa pria penjahat menghalangi langkahnya dengan wajah — remeh.


"Menyingkirlah!" Pinta Sandra, nada suaranya terdengar rendah juga dingin.


Tawa para penjahat itu lagi-lagi terdengar nyaring, beriringan dengan suara pintu besi di depan sana berusaha di buka paksa juga suara tangisan — putrinya.


Tidak ingin terjadi sesuatu kepada — putrinya, Sandra segera memberikan sebuah tendangan mematikan kepada salah satu pria yang menghalanginya.


Sandra juga menggunakan benda tajam di tangannya, kepada lawannya yang sekarang menyerangnya.


Sandra dengan mudah melumpuhkan lawan-lawannya dengan membabi buta, ia menyerang di titik terlemah para musuh, hingga kini para penjahat itu terkapar di sekelilingnya.


Sandra tidak menghiraukan luka sobek di bagian lengannya, juga tanda memar di wajahnya.


Wanita itu kini berjalan dengan cepat, saat sang pemimpi pembajak kapal itu berhasil masuk di ruangan khusus nahkoda kapal.


Suara tangisan bayinya semakin terdengar kencang, membuat wajah Sandra panik juga khawatir. Disusul teriakan nyaring anak kecil, juga suara pukulan kepada seseorang.


"Akhh!"