
"Dia, darah dagingmu, Kendrick Loius!" Sentak Sandra tegas, namun terdengar tertahan, seakan sesuatu tajam mengganjal tenggorokannya.
"Dia, putrimu. Apa kau tidak bisa melihat tatapan matanya? Tatap, dia. Tatap mata putrimu yang begitu suci, dia putrimu… dia juga darah dagingmu!" Sandra terus mencoba menyakinkan Kendrick dengan ucapan tercekat yang begitu menyesakkan.
"Dia putrimu, dia darah dagingmu," ucap Sandra lirih dengan tatapan begitu terluka ia berikan kepada — Kendrick.
"Dia berhak mendapat kasih sayang mu, aku mohon… terima dia. Aku bersumpah dengan nyawaku sendiri, bahwa bayi ini adalah, putrimu!" Sandra mengangkat salah satu tangannya keatas dan mengucapkan sumpah dengan nyawanya sendiri.
Air mata wanita tangguh itu pun, tidak dapat tertahankan lagi, mengikuti sakit, saat mendengar seorang ayah tidak mengakui darah dagingnya sendiri juga dengan tega menghina putrinya.
"Dia putrimu, dia sangat membutuhkan mu, nyawanya dalam bahaya. Aku mohon, terima dia dan selamatkan nyawanya. Aku akan menghilang dari kota ini. Sekalipun, kau, menginginkan nyawaku sebagai imbalannya, maka, aku akan memberikan dengan sepenuh hati."Sandra masih berusaha menyakinkan Kendrick juga keluarganya.
Ia bahkan melangkah lebih dekat kepada — pria itu yang masih memalingkan wajah. Sementara keluarga lainnya, masih menyaksikan kesedihan seorang — Sandra. Yang mendapatkan penolakan.
"Dia anakmu, dia hasil kesalahan kita dahulu, dia … darah dagingmu," racau Sandra sambil memohon kepada Kendrick dengan tatapan sedih juga wajah memohon.
Aurora masih tenang di dekapan erat mommynya, matanya terbuka berkedip-kedip tidak bersalah di balik pelukan sang — mommy.
"Lihatlah, dan tatapan matanya, Ken. Garis matanya seperti milikmu hanya bola mata yang membedakan kalian, coba lihat senyumnya, dia sama sepertimu, coba perhatikan dan tatapan bayimu," cerca Sandra, sambil mendekatkan, Aurora kehadapan wajah — Kendrick.
Kendrick melirik bayinya yang juga menatapnya, ada getaran hangat yang menjalar di dalam tubuhnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu hanya bisa memejamkan mata dan memalingkan kembali wajahnya, saat merasakan genggaman tangan sang mommy begitu menyakitkan.
"Menjauhlah dan singkirkan anak terkutuk mu itu!" Sentak nyonya besar Louis sambil mendorong kasar kedua pundak, Sandra.
Sehingga Sandra terdorong kebelakang dan membentur sebuah meja mewah, demi mempertahankan agar tidak terjatuh ke lantai, dan membuat putrinya terluka, Sandra rela mendapatkan luka goresan kaca di pinggang belakangnya.
"Aku tidak akan mengakui sesuatu yang bukan, milikku," sela Kendrick.
Pria itu bahkan tidak memiliki rasa empati sedikitpun kepada, Sandra, juga bayinya yang hampir terluka.
Si kecil Aurora hanya terdengar merengek, ia terkejut, saat benda di atas meja hias itu jatuh.
Bahkan seluruh keluarga besar Louis hanya menyaksikan dengan wajah sinis mereka. Tuan Louis bahkan masih terdiam. tidak melerai sang istri saat melakukan sikap kasar kepada — Sandra.
"Dasar wanita hina! Kau pantas mendapatkan penolakan, wanita brutal sepertimu tidak pantas berada di sekitar kami," celetuk salah satu wanita setengah baya, merupakan ibu dari wanita yang mendapatkan serangan tiba-tiba dari — Sandra.
"Benar! Dia wanita miskin tidak tahu malu, memohon seperti seorang pengemis, cih, dasar wanita tidak memiliki harga diri," komentar salah satu dari mereka kembali.
"Aku hanya ingin menyelamatkan putriku, memberikan hak atas kehidupan layak, apa itu salah?" Sahut Sandra dengan nada getir penuh sesak.
"Tidak, salah kalau berada di tempat yang benar," balas Kendrick.
"TAPI DIA ANAKMU!"
"DIA HASIL CINTA PALSU YANG KAU BERIKAN PADAKU!"
"DIA ANAKMU… ANAKMU, KAU DENGAR A-N-A-K-MU!"
Sandra yang sudah terlanjur terluka dan disertai perasaan marah, berkata lancang hingga menggema di ruangan mewah itu.
"Aku bersumpah, dia darah daging mu!" Tumpah sudah tangisan yang sejak tadi ia tahan. Hingga kini tubuh rapuh itu lunglai ke atas keramik. Tepat di depan kedua kaki — Kendrick juga nyonya Louis.
Tangisan perih juga mengiris perasaan terdengar ruangan tersebut. Tangisan seorang ibu tangguh yang memperjuangkan hak juga kebahagiaan putrinya.
Namun hanya penolakan juga hina yang ia terima dari keluarga konglomerat terpandang di depannya.
Yang membuatnya lebih terluka dan teriris perih, saat, mendengar hinaan mereka kepada putrinya.
Sandra menangis sesegukan di sana, di depan mereka semua dengan posisi berlutut dan sang bayi di dekapannya, di hadapan keluarga kaya itu, Sandra rela berlutut demi keselamatan juga kebahagiaan — putrinya.
"Terima lah' dia, aku akan meminum racun dari kalian sekarang juga, agar bisa membuktikan kebenaran tentang, bayiku," ucap Sandra dengan nada lirih menyedihkan.
"Aku, mohon, terima lah' dia." Sandra maju dengan menggunakan kedua lututnya, ia bahkan tidak menghiraukan saat, sebuah pecahan bekas vas kristal melukai salah satu lututnya.
Ia kini tepat berada di bawah kaki, Kendrick juga nyonya Louis, para keluarga pun semakin memandang Sandra hina. Tidak ada yang melihatnya dengan perasaan, selain wanita yang sejak tadi bersembunyi dan menangis dalam diam.
"Ken, aku tahu kau pasti percaya padaku." Kepala mendongak ke atas untuk melihat wajah pria yang membuat hidupnya hancur itu. Sekarang pria di depannya akan menghancurkan kehidupan darah dagingnya sendiri.
Kendrick masih diam dengan wajah datar, ia bahkan tidak menatap wajah bayinya. Nyonya Louis hanya bisa menampilkan senyum miring.
"Ken …."
"Lepaskan! Kau sungguh tidak tahu malu juga tidak punya kepribadian baik, memaksa seseorang yang bukan miliknya. Dia suamiku dan di dalam perutku adalah, benihnya. Jadi … jangan bermimpi menginginkan pengakuan." Cindy yang tiba-tiba datang dan mendorong tubuh Sandra yang berusaha menyentuh Kendrick dengan menggunakan salah satu kakinya. Wanita hamil itu bahkan berkata sarkas kepada — Sandra.
Sedangkan Sandra lagi-lagi mendapatkan perlakuan kasar, beruntung ia segera melindungi bayinya dengan menjadikan punggungnya yang menjadi sasaran — Cindy.
"Pergi lah' dari sini wanita, hina!" Pekik nyonya Louis.
"PERGI!" Teriaknya.
Sandra berusaha bangkit dengan wajah, menyedihkan. Ia sekali lagi memeriksa keadaan putrinya yang ternyata tertidur.
Sungguh bayi yang pengertian, disaat kesulitan sang bayi begitu tenang.
Kini Sandra kembali berdiri, namun tatapannya masih menghibah kepada Kendrick.
Ia harus terus menyakinkan ayah biologis putrinya, demi keselamatan Aurora demi masa depan — putrinya. Ia rela melakukan ini semua, merendahkan martabatnya sendiri juga rela berlutut di depan pria yamg ia benci.
"Aku …."
"Pergilah dan jangan muncul dihadapanku dengan membawa bayi kutukan itu, karena aku tidak akan mengakuinya, meskipun aku berada di ujung kematian." Kendrick segera memotong perkataan Sandra dengan ucapan menyakitkan.
Tubuh Sandra membeku, kepala menunduk dan tubuh semakin bergetar, kini terdengar tangisan juga kekehan getir memilukan.
Sandra memejamkan matanya, ia menarik nafas dan membuangnya dengan begitu kasar.
Ia menggenggam kuat kain selimut bayinya dengan garis wajah mengetat. Giginya pun kini saling bergesekan, ia kembali terkekeh dan berubah tawa setelah. Tawa yang terdengar mengerikan.
Tatapan menyedihkan kini berubah begitu menakutkan, tatapan itu hanya tertuju kepada — keluarga inti dari Louis.
"Ingatlah, ingat, kau yang menolaknya. Jadi… jangan salahkan siapapun, saat kelak kau menginginkannya. Jangan memaksanya, karena kalian yang membuangnya. Jangan, mengakuinya karena kalian yang membuangnya. Di mata kalian dia hanya seorang yang cacat, tapi … suatu saat, kalian pasti menginginkannya. Bagiku dia putriku yang cantik, dia berharga, dia paling berharga di dunia ini."
"Terimakasih, kalian menolaknya, terimakasih, kalian menjadikan dia sepenuhnya milikku. Suatu saat kalian akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang."
"Aku berdoa, semoga kalian selalu bahagia dan mendapatkan keturunan yang sempurna."
"Ingat! Jangan pernah mengakui putri di masa akan datang. Karena kalian tidak berhak, atas dirinya."
Sandra berkata penuh penegasan juga suara lantang. Ia bahkan merubah raut wajahnya penuh kengerian. Sumpah yang diucapkan Sandra selalu disertai rasa sakit oleh — Cindy.
Setelah mengatakan ucapan terakhirnya, Sandra meninggalkan kediaman mewah itu dengan sejuta luka hati. Ia bersumpah, ini yang terakhir ia menginjakkan kakinya di kediaman mewah tersebut.
Seluruh keluarga Louis terpaku dengan sumpah dengan iringan air mata yang diucapkan Sandra.
Begitu juga dengan tuan Loius, ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruang rahasianya.
Nyonya Louis hanya bisa menatap nyalang punggung — Sandra dengan tatapan sulit diartikan.
Kendrick hanya memikirkan sang istri yang terus merasakan sakit, entah ia akan melahirkan atau hanya sebuah peringatan untuk wanita — arogan itu..