Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 32



Nyonya Louis menghentikan langkahnya, ia segera menoleh ke belakang di mana, sepasang pria dan wanita saling berpelukan erat.


Nyonya Louis menajamkan tatapannya, sampai-sampai kedua kelopak matanya menyipit sempurna. Kerutan di dahi pun tampak terlihat jelas akibat menatap sepasang pria dan wanita di kursi roda.


Wajah wanita berkelas itu, berubah sinis dan mencebikkan bibirnya, ia juga mengeluarkan perkataan pedas dengan apa yang ia saksikan ini.


"Cih! Dasar manusia-manusia tidak bermoral, melakukan hal menjijikkan di ruangan terbuka. Dasar sampah. Penampilannya terlihat mewah, tapi… perilakunya begitu memalukan, cih." Nyonya Louis begitu merendahkan kedua pasangan itu dengan kata-kata sarkas.


Sandra hanya mampu mengepalkan kedua telapak tangannya dengan wajah merah padam di balik perut bidang, Austin.


Tidak jauh berbeda dengan raut wajah Sandra, Austin begitu geram atas ucapan kasar, nyonya Louis.


Austin ingin menjauhkan tubuhnya dari pelukan Sandra, tapi … wanita itu menolak untuk melepaskan.


Membuat Austin terlihat semakin gugup saat merasakan getaran aneh di dalam dirinya.


"Nyonya, tunggu!" Seru Austin.


Pria itu berhasil menghentikan kembali langkah nyonya Louis dan membalas tatapan remeh wanita setengah baya itu dengan arogan.


"Anda tidak boleh merendahkan wanitaku, nyonya." Austin berkata dengan tatapan mata tajam.


Sandra masih terus memeluk pinggang Austin dengan cengkraman tangannya begitu erat.


Sedangkan Austin tambah sadar mengusap belakang kepala, Sandra. Pria itu seperti sosok, kekasih yang begitu melindungi wanitanya.


"Cih! Terus saya harus mengatakan apa? Sepasang kekasih memamerkan kemesraan menjijikkan, begitu?" Nyonya Louis semakin mencibir.


"Terus, letak kesalahan kami di mana? Bukankah, sepantasnya sepasang kekasih saling menyayangi dengan terus melakukan hal romantis?" Austin menjawab dengan ekspresi tenang.


"Atau anda tidak mampu melakukannya dengan… pasangan, anda?" Pria itu melanjutkan ucapnya semakin sinis.


"Hey, anak anda!" Hardik nyonya Louis yang tidak terima dengan, ucapan Austin.


"Why?! Tanya Austin dengan senyum usil.


"Kau tidak tahu siapa, saya!" Seru nyonya Louis dengan bentakan.


Austin hanya menampilkan senyum miring dan menatap nyonya Louis penuh maksud.


Sandra masih menahan gejolak amarahnya, sejak tadi ia terus meredam makian untuk ia berikan kepada, nyonya besar Louis.


"Tahu!" Timpal Austin kembali. Raut wajahnya semakin membuat, nyonya Louis berubah geram.


"Apa yang kamu ketahui anak, muda," sentaknya yang diiringi senyum remeh juga bahasa tubuh yang terlukis sangat meremehkan.


"Nyonya Louisiana Louis, wanita terpandang juga bergaya sosialita terkenal di negara ini. Istri dari pengusaha sukses tuan Louis, memiliki putra yang memiliki karir sukses. Tapi …."


Austin sengaja menggantung ucapnya, ia melihat wajah arogan wanita di depannya sangat lekat. Sementara nyonya Louis menatap penuh curiga kepada pria tampan di hadapannya.


"Aku harap kau masih menyayangi, nyawamu. Kau sangat mengetahui keluarga ku bukan? Jadi jangan mengatakan rumor buruk tentang keluarga, Loius. Nyonya Louis berkata penuh nada ancaman.'


"Kau masih mengharapkan hidup di dunia ini, bukan? Jadi jaga ucapanmu," nyonya Louis berkata begitu berapi-api.


"Saya tidak takut, karena saya memiliki kekuatan untuk melawan, anda," balas Louis sengit.


Nyonya Louis begitu melototkan kedua kelopak matanya marah, wanita itu begitu membenci seorang yang berani melawannya.


"Memangnya, siapa dirimu?" Tanya nyonya Louis remeh.


Salah satu bodyguardnya membisikkan sesuatu kepadanya, yang membuat ia terlihat kaget dan menatap Louis serius.


"Apakah anda mengetahui sesuatu, nyonya?" Sela Louis sambil berdecih.


"Jadi… kau tuan muda, Cooper?" Sahut nyonya Louis dengan ekspresi terkejut.


"Tapi, tetap saja perlakuan tuan muda terhormat sepertimu, tidaklah benar." Wanita itu masih memperlihatkan wajah pongahnya dan juga cibiran pedasnya.


"Tidak ada salahnya kalau dia wanitaku," sahut Austin. Pria itu kembali mengusap rambut Sandra dan mendaratkan sebuah kecupan manis di puncak kepala — Sandra.


Membuat wanita tua yang terus memantaunya, terperanjat kaget dan memperlihatkan ekspresi wajah berlebihan.


Louis hanya tersenyum miring dan mengedipkan matanya. Wanita tua itu tampak merungut kesal.


Nyonya Louis kehabisan kata-kata untuk melawan tuan muda yang kedudukannya sama di negara itu. Kalangan konglomerat yang sangat disegani dan terpandang.


"Yang terpenting, aku tidak melakukan hal keji bukan?" Sela Austin tiba-tiba.


"Membuang keturunan sendiri demi harkat dan martabat. Sungguh manusia seperti mereka sangat pantas, di kutuk dan di berikan sumpah keji juga." Lanjut Austin.


Wajah pria itu tampak puas, melihat wajah nyonya Loius yang terkejut dan tegang.


"Sungguh manusia-manusia keji dan kejam."


"Seharusnya mereka sadar, dari mana kutukan itu datang. Bisa saja tetua dari bayi malang itu sedang menerima, sebuah kutukan dari langit." Austin terus mengucapkan kata-kata yang mampu membuat seluruh tubuh nyonya Louis kepanasan.


Tidak tahan dengan segala ucapan pria tampan di hadapannya, nyonya Louis segera membalikkan badannya dan melanjutkan langkah untuk keluar dari rumah sakit mewah itu.


Sandra masih betah di posisinya. Ia masih merangkul kedua sisi pinggang Austin dan menyembunyikan wajahnya di perut bidang, pria itu.


Austin menatap kepergian nyonya Louis dengan senyum puas. Ia bisa mematahkan sikap arogan wanita itu dengan mudah.


Tanpa mereka sadari, Kendrick sejak tadi menyaksikan perdebatan sang mommy dengan pria tampan.


Kendrick hanya terpaku di satu titik, yaitu, wanita yang duduk di atas kursi roda. Ia merasa tidak asing dengan postur tubuh wanita itu.


Tidak ingin menduga-duga, Kendrick melanjutkan langkahnya untuk menyusul sang mommy dengan kepala menunduk.


…..


Sandra menjauhkan wajahnya dari tubuh Austin. Ia juga melepaskan rangkulannya dan mendongakkan kepala diiringi senyum indah.


Ia menatap Austin dengan tatapan tulus dan lembut. " Terimakasih!" Ucapnya tanpa suara.


Austin membalasnya dengan anggukan kecil sambil mengusap belakang kepala — Sandra.


Pria itu juga kembali ke arah belakang Sandra dan mulai mendorong kursi roda wanita itu.


Namun lagi-lagi, langkah mereka terhenti saat mendengar seruan sinis dari seorang pria yang tepat berada di depan mereka.


"Jadi selama ini yang keluarga ku pikirkan tentang dirimu adalah, benar. Kalau kau wanita, murahan." Kendrick yang begitu terkejut, melihat Sandra yang melepaskan rangkulannya di tubuh Austin. Dan sikap dan perlakuan manis Austin, bisa Kendrick saksikan sendiri dengan gejolak dada yang berdebar kencang dan amarah yang begitu membuncah.


Sandra hanya terdiam mendengarkannya, tatapan matanya pun begitu tajam ke arah pria di depannya. Sandra sudah kehilangan minat lagi untuk melihat ataupun berbicara dengan sosok pria pecundang di hadapannya ini.


"Maaf! Apa kita saling kenal? Atau anda sedang mengalami penyakit hilang ingatan, hingga mengakui orang lain sebagai wanita murahan," timpal Sandra dengan ekspresi wajah datar.


"Apa kamu, benar-benar tidak mengenalnya?" Tanya Austin.


"Tidak!" Sahut Sandra tidak acuh.


Kendrick hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya dengan raut wajah marah. Rahang pria itu bahkan sudah tampak mengeras dengan warna wajah merah menyala.


Sandra memberikan perintah kepada Austin agar segera membawanya ke ruangan sang putri. Ia tidak ingin terlalu lama bertatap muka dengan pria masa lalunya. Sandra tidak yakin, bisa mencegah diri untuk memberikan pukulan untuk pria ini.


"Jadi, anak cacatmu benar-benar bukan milikku. Syukurlah, aku berusaha menolak. kau memang wanita licik, menginginkan materi dengan begitu hina dan mendekati kalangan pria dengan derajat tinggi, hanya bisa menutupi derajat rendahan mu." Kendrick mengeluarkan perkataan yang begitu kasar. Austin ingin sekali memberikan pukulan di wajah pria di depannya ini.


Sandra hanya bisa terdiam sambil menahan pergelangan tangan Austin, ia masih bisa mempertahankan emosinya dan mendiamkan hinaan — Kendrick.


"Pantas, bayi itu mengalami kebutaan. Semoga saja dia tidak tumbuh seperti dirimu menjadi gadis, buruk." Kendrick kembali mengeluarkan hinaan.


Kali ini, hinaan Kendrick mampu melepaskan cengkraman amarah Sandra yang sejak tadi ia tahan.


Karena sudah berani menyinggung bayinya, Sandra bangkit dari kursi roda dengan begitu gesitnya dan memberikan pukulan kuat di kedua pipi — Kendrick.


Sandra juga memberikan pria itu tendangan kuat di wajah juga perut, hingga, Kendrick terlempar jauh. Suasana rumah sakit mendadak riuh.


Austin menganga lebar dengan kedua kelopak matanya terbuka lebar melihat aksi tangguh, Sandra.


Begitu juga dengan nenek tua yang sejak tadi terus memantau lekat. Raut wajahnya tiba-tiba berbinar cerah, saat melihat aksi heroik — Sandra.


"Wow, mengagumkan!" Serunya.


Sandra berjalan tertatih, menghampiri Kendrick. Ia menundukkan kepalanya dan menatap ngeri wajah kesakitan mantan kekasihnya itu.


"Akh!" Pekik Kendrick, saat salah satu kaki Sandra berada tepat di ulu hatinya.


"Kau, boleh menghinaku. Tapi, jangan sekalipun menghina putriku. Karena dia begitu suci untuk menerima hinaan dari mulut munafikmu, sialan."


"Argh! Bugh!" Sekali lagi Sandra menendang tubuh kesakitan Kendrick dengan begitu kuat.


Austin hanya bisa mengedipkan kedua matanya tidak percaya, tenyata wanita itu begitu hebat.


Segera Austin mendekati Sandra dan meraih tubuh wanita itu yang sedang menggila memberikan pelajaran kepada — Kendrick.


Austin memanggil beberapa perawat laki-laki untuk membawa tubuh lemah, Kendrick keruangan UGD.


"Akhh! Aku akan membunuhnya. Biarkan aku membunuh pria sialan itu."


Sandra terus berteriak dan mengamuk sejadi-jadinya, ia tidak akan mentolerir seseorang yang berani merendahkan dan menghina sang putri.