Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 31



"Ini, apa?" Sandra menerima amplop coklat cukup tebal dari uluran tangan sang perawat yang, sudah ditugaskan untuk menjaga nya.


"Uang?! Sandra berkata lirih dengan kedua alis saling bertautan.


Kedua mata lebarnya, menatap perawat itu tajam dengan raut wajah penasaran.


"Salah satu petugas Loudry di rumah sakit ini, menemukannya di saku mantel, anda." Sang perawat menerangkan sambil merapikan pakaian, Sandra yang sudah bersih.


Sandra masih menatap amplop coklat di tangannya dengan mimik kebingungan. Setahunya, ia tidak memiliki uang sebanyak ini dan itu tidak mungkin nenek Grace yang menyelipkan.


Tiba-tiba, sebuah liontin perak dengan bentuk langka dan dihiasi berlian berharga, jatuh di atas pangkuannya.


"Liontin?! Sandra membeo sambil menatap perawat di depannya yang terlihat membukakan kedua kelopak matanya.


"OH Tuhan!" Serunya antusias.


"Ini liontin langka di dunia, hanya keturunan bangsawan yang memilikinya. Katakan, apa, nyonya seorang bangsawan?" Perawat wanita itu menatap Sandra dengan binar penasaran.


Sandra terlihat bingung dan tercengang, ia pun menggeleng samar kepada perawat itu. Ia bahkan menerbitkan senyum sinis.


"Wanita, sepertiku tidak mungkin terlahir dari keturunan bangsawan," sahut Sandra sambil terkekeh hambar.


"Terus dimana anda menemukan benda istimewa, ini?" Tanya perawat itu lagi.


"Karena yang saya tahu, benda ini begitu berharga," lanjutnya penasaran.


Sandra terdiam dan mencoba mengingat sesuatu, ia pun tersenyum saat mengingat anak laki-laki yang merupakan seorang pangeran.


"Kenapa, anda tertawa?! Perawat itu kembali bertanya.


Sandra tersenyum sesaat, setelah itu menjelaskan kepada perawat yang sudah begitu baik kepadanya.


"Mungkin ini dari pangeran kecil itu," ujar Sandra sambil memandangi liontin tersebut juga uang yang begitu banyak buatnya.


Sang perawat pun hanya terdiam untuk memahami perkataan — Sandra.


"Dia, melamar putriku di kapal penumpang," sambung Sandra dan tertawa lirih.


"Benarkah!" Pekik sang perawat dengan ekspresi terkejut.


"OH Tuhan! Saya, tidak menyangka putri cantik anda, dilamar oleh seorang pangeran," sela sang perawat dengan menimbulkan kehebohan.


"Beliau, mungkin hanya bercanda. Beliau juga masih terlihat sangat muda," tutur Sandra dan tersenyum indah.


"Juga … pria berperingkat bangsawan tidak mungkin menginginkan putriku yang memiliki kekurangan," lanjutnya yang kini senyumnya berubah pilu.


Perawat itu segera merangkul pundak lemah Sandra dan mencoba memberikan sebuah dukungan.


"Tidak semua anak seberuntung putri anda. Seorang keturunan bangsawan sangat memegang sumpah dan janji mereka. Jadi … saya sangat yakin, Aurora kecil akan berjodoh dengan pangeran baik hati." Tutur perawat itu dengan begitu bersemangat.


Sandra membalas dengan senyuman tipis. entahlah, ia hanya memikirkan kehidupan normal putrinya sekarang ini. 


Tidak lama kemudian, sosok pria yang mempunyai kedudukan di rumah sakit itu, muncul dengan penampilan gagah penuh kharisma.


"Selamat, pagi!" Serunya dengan senyum tersungging di kedua sudut bibirnya yang begitu menawan.


Sandra menyambut pria itu dengan wajah ramah juga membalas senyum pria itu tak kalah menawannya.


Sampai-sampai, membuat tuan muda Cooper terpaku di tempatnya, ia begitu terkesan dengan senyum indah — Sandra.


"Selamat pagi juga, tuan," balas Sandra.


Raut wajah wanita itu terlihat lebih fresh, apalagi potongan rambut pendek yang begitu serasi dengan garis wajahnya.


Wajah pucat kini berganti lebih bercahaya, meskipun bibirnya masih terlihat sedikit pucat, tapi… tidak mengurangi kecantikan wanita itu.


"Ehem!" Austin terdengar berdehem.


Entah mengapa ia merasa agak sedikit canggung, setelah menyaksikan wajah cantik Sandra yang selama ini ditutupi oleh  — permasalahan sedihnya.


"Bagaimana dengan keadaan anda, nyonya?" Austin berjalan mendekat dan bertanya. 


"Saya sudah merasa lebih, baik," sahut Sandra.


"Hum! Syukurlah." Pria itu sudah berdiri di sebelah, Sandra. Ia juga memberikan perintah kepada sang perawat agar meninggalkan mereka dengan lirikan mata.


"Aku ingin menemui, bayiku," pinta Sandra yang sudah tidak sabar untuk melihat putrinya.


"Saya akan memeriksa anda, terlebih dahulu," sela pria tampan tersebut.


"Baiklah," jawab Sandra menurut.


Wajahnya berhasil membuat pria rupawan itu tidak berkedip, ternyata wanita tangguh di depannya begitu terlihat menggemaskan.


"Berapa usia, anda?" Austin mencoba membuat suasana canggung itu lebih santai.


Sandra mengerutkan wajahnya heran dengan pertanyaan pria pemilik mata biru terang itu, alisnya sampai bertemu karena begitu bingung dengan tingkah pria yang terlihat begitu berwibawa.


"Bukankah, seluruh data diri saya sudah berada, di rumah sakit ini?" Sandra balik bertanya.


"Ah! Anda benar juga," timpal Austin yang wajah putihnya terlihat merah dan tingkahnya terlihat salah tingkah.


"Sial! Sikap konyol apa yang aku perlihatkan, sungguh menjijikkan," batinnya, memaki dirinya sendiri.


"Anda tidak apa-apa?" 


"Tidak! Saya … hanya lebih serius memeriksa keadaan, anda," ujar pria itu yang tergugup.


Sandra hanya mengangguk tidak acuh, ia hanya ingin segera bertemu putrinya. Sudah tiga hari, Sandra tidak melihat sang putri, membuat dirinya begitu sangat merindukannya.



"Anda seharusnya, tidak perlu repot mengantar saya!" Sandra berkata dengan wajah tidak nyaman, ketika pria yang memiliki jabatan tinggi di rumah sakit itu, kini mendorong kursi rodanya.


"Dia begitu keras kepala," batin Sandra sambil menghela nafas panjang.


Sudah berulang kali wanita itu menolak untuk merepotkan pria tampan itu, namun sang pria begitu memaksa. Membuat Sandra tidak bisa berbuat apa-apa.


Sandra bahkan mendengar bisikan di sepanjang koridor rumah sakit, tentang dirinya yang begitu beruntung, bisa sedekat ini dengan — pria yang terkenal dingin dan arogan di lingkungan rumah sakit.


"Aku, hanya ingin beramal," sahut Austin yang jawabannya selalu sama.


"Seharusnya, anda membantu nenek itu." Sandra menjawab sambil menunjuk ke arah nenek tua yang sedang kesusahan untuk berjalan.


Austin mengikuti arah telunjuk Sandra, seketika raut wajahnya berganti salah tingkah. 


"Ehem! Biar para perawat yang membantu," sahutnya yang menatap wanita tua itu kesal. 


"Kenapa, nyonya tua itu berada di sini?" Monolog pria iitu. 


"Ck! Dasar, nenek-nenek tua," Austin mengumpat dalam hati. 


"Selalu saja penasaran dengan, apa yang aku lakukan," lanjut sambil bersungut-sungut. 


Sedangkan  Sandra tiba-tiba membeku di tempatnya, saat melihat sosok wanita penuh kepercayaan diri sedang berjalan di depannya, diiringi beberapa pria berbadan besar. 


Semakin wanita berwajah angkuh itu berjalan mendekat, maka Sandra semakin meremas kuat pergelangan pria di belakangnya. 


Saat nyonya besar Louis sudah berada sangat dekat dengannya, segera Sandra menarik pergelangan, Austin menuju kedepannya dan segera menyembunyikan wajahnya di balik perut bidang pria itu.


Sandra semakin memeluk erat pinggang tuan muda Cooper. Yang berhasil membuat pria tampan itu terdiam dengan wajah melongo.


"Biar seperti ini!" Bisik Sandra dengan kepala mendongak.


Wajah merah pria itu mengangguk dan melirik nenek tua yang menatapnya lekat.


Jantung Sandra berdetak kencang saat nyonya Louis melewatinya, matanya terus terpejam erat sambil merapalkan doa.


Nyonya Louis sudah melaluinya, tapi… wanita arogan itu menghentikan langkahnya tiba-tiba dan memutar pandangan ke arah — Sandra dan Austin.