Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 68



Cindy kini sudah berada jauh dari jangkauan keluarga egois itu. Wanita berwajah cantik itu kini sedang berjuang melindungi anaknya dari cibiran dan cemoohan setiap orang yang melihat, fisik putranya.


Setelah mendapat penolakan dari kedua orang tuanya, yang menolak keras membawa putranya. Kedua orang tuanya sangat membenci cucu mereka yang terlahir cacat.


Cindy pun tidak memiliki pilihan, selain membawa putranya jauh dari jangkauan orang yang mengenalinya.


Wanita itu kini berada di sebuah rumah sewaan sederhana dan Cindy sudah satu Minggu bekerja di salah satu restoran.


Meskipun terlahir dari keluarga kaya dan memiliki suami konglomerat, Cindy tidak memiliki materi cukup. wanita itu hanya membawa uang uang bertahan selama 1 Minggu.


"Lewis!" Seru Cindy sambil berjongkok dan memegang kedua tangan putranya.


Menatap penuh cinta dan kasih sayang, Cindy hanya ingin menjelaskan kepada putranya untuk tidak, kemana-mana selama dirinya berangkat bekerja.


"Ingat, kamu tidak boleh keluar dari rumah ataupun membuka pintu. Kamu harus berhati-hati nak," jelas Cindy.


Putra yang memiliki wajah aneh, hanya mengangguk dan mematuhi ucapan mommynya.


Cindy tersenyum dan memeluk putranya, sebelum keluar dari rumah sederhana yang mereka tempati, Cindy meninggalkan kecupan di wajah putranya, hingga bocah laki-laki itu tertawa.


Lewis menatap kepergian mommynya melalui jendela, ia begitu antusias sambil melambai tangan untuk mengantar sang mommy bekerja.


Tapi kedua mata bocah itu, melihat mantel sang mommy ketinggalan. Padahal, diluar suhu cuaca begitu dingin.


Tanpa berpikir panjang, Lewis meraih mantel sang mommy dan berlari keluar dengan susah payah untuk mengejar mommynya.


Bocah itu begitu menyayangi dan perhatian kepada mommynya, hingga ia sendiri melupakan untuk menghilangkan mantel hangat.


Pria kecil itu terus berteriak dan berlari dengan susah payah. Miliki kedua kaki yang tidak sempurna, membuat Lewis kesusahan untuk menyimbangkan postur tubuhnya.


Lewis terjatuh di tengah-tengah lalu lalang orang-orang, namun tidak ada yang peduli dengan pria kecil itu yang terus berteriak memanggil — mommynya.


Malahan, mereka menatap aneh kepada pria kecil itu dan berjalan tanpa memperdulikan kesusahan Lewis.


"Hey!" Tegur seorang wanita cantik yang segera membantunya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya sambil membersihkan kedua lutut dan tangan Lewis.


"Astaga, kau tidak menggunakan mantelmu boy," ujar wanita yang memiliki wajah teduh.


Lewis masih terus menatap ke arah jejak sang mommy tadi dan tidak memperdulikan wanita yang kini menolongnya.


Sedangkan, wanita itu menautkan alis melihat ucapan pria kecil dihadapannya yang sulit dimengerti.


Ia ikut menatap ke arah pandangan si pria kecil itu penuh kebingungan.


"Ke mana mommy kamu jagoan?" Tanyanya lagi.


Kali ini Lewis bisa mengalihkan pandangannya kepada wanita itu. Ia sesaat terdiam, seakan mengenali wajah wanita itu dan detik berikutnya ia menyebut kata mommy tidak jelas.


"Apa kamu mengatakan, mommy?" Tanyanya dengan ragu.


Lewis mengangukuk dan wanita itu pun ikut mengakukkan kepalanya.


"Kalau boleh bibi tahu? Ke mana mommy kamu?" Tanyanya lagi sambil mengusap air mata Lewis.


Pria kecil itu menunjuk ke depan dengan perkataan yang terburu-buru dan gerakan memberontak.


"Dia ke sana? Apa kamu tahu dia pergi ke mana sayang?" Wanita itu terus bertanya dengan nada lembut.


Lewis menggeleng dan ia terlihat menangis. Wanita yang kini berjongkok di depannya, segera memeluknya.


"Mommy!" Seru seorang perempuan kecil di belakangnya bersama seorang pria dewasa.


Wanita itu menoleh dan tersenyum. Ia juga segera bangkit dan menyambut putrinya.


"Aurora, sayang," sahutnya dan segera memeluk putri kesayangannya itu.


"Honey!" Tegur pria dewasa yang bersama Aurora.


Sandra tersenyum kepada Austin. Wanita itu hanya diam saat mendapatkan pelukan dan kecupan hangat di keningnya.


"Maaf, kami membuat mommy menunggu. Daddy membawaku ke kedai es krim," seloroh Aurora dan benar saja, di tangan gadis kecil itu terdapat dua es krim.


"Tidak apa-apa, sayang," sahut Sandra.


"Aku merindukanmu," timpal Austin dan pria itu kembali memeluk Sandra.


Sandra hanya bisa pasrah dan memutar bola matanya, melihat tingkah Austin. Padahal mereka baru beberapa menit berpisah.


Perhatian ketiganya kini tertuju kepada bocah laki-laki di belakang Sandra.


Sandra tersentak kaget, saat mengingat keberadaan Lewis. Aurora pun terkejut, saat mendengar suara menangis. Ia mendekati Lewis dan menyodorkan salah satu es krimnya.


Lewis yang menyukai es krim terdiam dan mengambil es krim yang diserahkan Aurora, meski Aurora menyerahkan tidak tepat kepadanya.


"Dia siapa mommy?" Tanya Aurora penasaran.


Austin terkekeh, menangkap tangan Sandra dan membawanya ke depan bibirnya dan mengecup telapak tangan wanitanya itu.


"Mommy juga tidak mengenalnya, dia terjatuh di sini," jelas Sandra sambil memandangi wajah Lewis yang sedang menikmati es krim vanilla.


Ada perasaan kasihan dan tidak tega kepada Lewis, ia membelai rambut anak laki-laki itu penuh kesedihan.


"Siapa yang tega membuangnya?" Austin menyela dengan mendegus kasar.


"Apa kamu berpikir dia sedang dibuang?" Sandra balik bertanya kepada pria yang berdiri di sampingnya.


Austin menggakuk dan menatap wajah Lewis yang memiliki ciri-ciri anak khusus down syndrome.


"Dia terlahir tidak sempurna. Kemungkinan besar dia diabaikan," jelas Austin. Sebagai seorang dokter, pria itu tahu tentang banyak hal orang tua yang tidak menerima, anak mereka terlahir cacat.


"Mereka begitu kejam," ucap Sandra lirih dan mengusap kepala Lewis.


"Mommy, apa dia sebaya denganku?" Tanya Aurora.


"Hum, sepertinya," sahut Sandra.


"Bolehkah dia menjadi temanku?" Aurora bertanya kepada mommynya dengan wajah gembira.


"Boleh, tapi kita harus mengantar dia ke tempat kedua orang tuanya dahulu," pungkas Sandra.


Kini Sandra kembali menatap Lewis dan bertanya kepada bocah laki-laki itu.


"Apa kamu mommy pergi ke mana?" Tanya Sandra hati-hati.


Lewis yang masih menikmati es krimnya menggelengkan kepalanya.


"Rumah? Apa kamu tahu?" Tanya Sandra kembali.


Kali ini Lewis menganggukkan kepalanya dan menunjukkan sebuah gg kecil di depan sana.


Sandra dan Austin menoleh, ke arah yang ditunjuk Lewis. Sandra pun meraih tangan Lewis dan menuntut nya menuju gg. Sandra juga meraih mantel bermerek di tangan Lewis dengan dahi terlipat heran.


Kalau bocah ini dari keluarga kaya, kenapa mereka tinggal di lingkungan kumuh dan sempit. Begitu lah pikiran Sandra.


Austin berjalan di belakang Sandra dengan Aurora di gendongan pria itu. Austin begitu setia menemani wanitanya ke manapun, Sandra pergi.


"Kamu tinggal disini?" Kini mereka berada di depan sebuah rumah sederhana dan sudah tidak layak untuk ditempati.


Tiba-tiba Sandra menitikkan air matanya, begitu tersentuh dengan kehidupan pria kecil di depannya ini.


Lewis mengangguk dan segera masuk ke dalam rumahnya. Sandra dan Austin mengikuti di belakang sambil menatap sekeliling di dalam rumah.


Lewis memberikan isyarat untuk mempersilahkan Sandra, Austin dan Aurora.


Gadis kecil itu segera duduk di sofa yang terlihat lusuh. Aurora meraba-raba di depannya dan saat menemukan telapak tangan Lewis, gadis itu menariknya duduk di sampingnya.


Keduanya terlihat akrab dan Lewis merasa memiliki seorang teman baru. Aurora berucap, meskipun di balas oleh celotehan tidak jelas Lewis. Tapi Aurora seakan mengerti maksud dan ucapan Lewis.


"Kamu mengerti sayang?" Sandra dan Austin yang merasa heran dengan kedua anak di depannya.


"Hum, aku bisa memahami apa yang Lewis katakan," sahut Aurora.


"Lewis?! Sandra dan Austin membeo.


"Hum, dia mengatakan namanya Lewis," ujar Aurora.


Sandra dan Austin hanya menganggukkan kepala mereka dan kembali memperhatikan suasana rumah sederhana itu.


"Jangan bersedih!" Seru Austin sambil merangkul pundak wanitanya.


Sandra menoleh ke samping dan tersenyum. Wanita itu meletakkan kepalanya di dada Austin.


Austin dengan penuh cinta merangkul tubuh Sandra dan memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya.


"Aku hanya teringat masa tersulit kami," ucap Sandra pelan.


"Aku bisa mengingat jelas masa-masa itu, yang penuh kesedihan," lanjut Sandra. Matanya kini mulai berair dan tumpah membasahi kedua pipinya.


Austin semakin merapatkan rangkulannya dan mencium puncak kepala Sandra lama dan penuh cinta.


"Semuanya sudah berlalu dan sekarang saatnya kamu menikmati kebahagian itu," bisik Austin lembut.


Sandra menganggukkan kepalanya di balik dada Austin. Pria itu benar. Saatnya ia berbahagia bersama putrinya.


Tiba-tiba pintu rumah sederhana itu terbuka dan seorang wanita masuk dengan wajah pucat kedinginan.


"Lew …." Ucapan wanita itu terhenti saat melihat keberadaan Sandra di rumahnya.


Wajah Cindy terlihat shock dan membeku di tempatnya. Begitu pula dengan Sandra yang segera bangkit dan menatap Cindy.


"Kau!? Bersamaan wanita itu berseru dengan raut wajah terkejut.