
"Apa kau sudah benar-benar yakin, nak?"
Nenek Grace, yang tampak khawatir juga tidak rela, Aurora pergi. Bagaimanapun, nenek Grace sudah begitu menyayangi bayi cantik itu.
Sandra yang sudah berada di luar rumah, menarik nafas dan menghembuskannya bersamaan dengan kepala mengangguk disertai senyum kesedihan.
"Aku harus melakukannya, nek. Demi Aurora," gumam Sandra dengan air mata kembali menetes.
Dengan langkah perlahan, nenek Grace mendekati Sandra dengan sang bayi berada di gendongannya. Dibungkus oleh selimut tebal juga baju hangat.
Musim semi kini melanda kota besar itu, membuat udara begitu amat begitu dingin.
"Nenek, hanya bisa berdoa, semoga urusanmu lancar dan juga kebahagiaan, cicit ku yang penting," ucap sang nenek yang kini menciumi wajah — Aurora yang begitu nyenyak.
"Hm!" Sandra bergumam dengan kesedihan yang begitu menyelimuti wajahnya yang cantik.
"Aku akan, segera kembali," lanjutnya sambil merangkul pundak renta nenek Grace.
"Pegang lah' ini, nak," timpal nenek Grace.
Menyelipkan beberapa lembar dollar di saku mantel kusam — Sandra.
"Tidak nek. Simpan lah' untuk nenek," tolak Sandra dan mencoba mengembalikan uang nenek Grace, tapi … wanita tua itu menahan tangan — Sandra.
"Pegang lah' nenek tahu, kau tidak memiliki simpanan, nak," tandas nenek Grace.
Wanita tua itu begitu memahami keadaan Shandra, yang nekat ke kota besar dengan simpan uang yang, hanya menyanggupi ongkos perjalanan saja.
Tabungan Sandra habis terpakai dengan, membeli keperluan bayinya, apalagi sebulan sudah ia tidak memiliki pekerjaan.
"Terimakasih, nek," ucap Shandra tulus.
Wanita itu begitu bersyukur, di tengah keadaan kesulitan, masih ada orang baik yang mengulurkan tangan kepadanya.
"Nenek hanya bisa mendoakan keselamatan kalian," ujar nenek Grace.
"Hm! Nenek hati-hati di rumah, aku akan segera kembali," pesan Sandra tulus dan di akhirat ciuman kasih sayang di kedua pipi, nenek Grace.
"Sebentar, nak!" Sela nenek Grace.
Shandra berhenti sesaat, lalu menatap nenek Grace bingung. Ia semakin bingung, saat nenek Grace meraih sesuatu dari saku mantel tua nya.
"Ambil dan peganglah'!" Pinta nenek Grace.
"Ini apa, nek?" Tanya Sandra penasaran.
"Kunci rumah ini dan juga sebuah gubuk di pulau seberang," terang nenek Grace.
Sandra mengerutkan keningnya semakin dalam dengan wajah bingung. "Bila, nenek sudah tiada sebelum kamu kembali, kau bisa menjual rumah ini dan pindahlah di lingkungan yang bisa menerima keadaanmu," tutur sang nenek dengan wajah serius.
"Apa yang nenek, katakan," sentak Shandra.
"Nenek tidak akan kemana-mana, tunggu aku kembali dan jangan mengucapkan kalimat itu lagi," sambung Shandra.
Nenek Grace hanya bisa tersenyum hangat, ia juga mengusap rambut Sandra penuh kasih sayang.
"Tunggu aku kembali," pesan Sandra.
Setelah mengatakan pesannya, Sandra pun memutar tubuhnya dan berjalan ke pagar kayu rumah sederhana nenek — Grace.
Ketika sebuah mobil minibus, menunggunya. Mobil yang akan mengantar Sandra ke pelabuhan penyeberangan, untuk menuju ke kota besar. Sandra harus menunggu beberapa jam agar tiba di kota ramai tersebut.
……..
Sandra kini duduk dengan tenang di paling pojok perahu penumpang yang tidak terlalu besar itu. Sandra tidak sedikitpun mengendurkan pelukannya di tubuh mungil sang putri. Ia bahkan menyembunyikan tubuh putrinya, saat udara kian dingin.
Sandra juga harus terjaga untuk terus waspada juga berhati-hati dari tindakan kejahatan di atas perahu.
Beberapa pria dicurigai adalah seorang maling, yang sering mengambil barang berharga milik orang lain di atas desakan kapal penyeberangan.
Tatapan Sandra terus dalam pengawasan, jiwa peka nya kini dalam mode — waspada. Ia bahkan membalas tatapan tajam seorang pria yang ia curigai tanpa perasaan takut sedikitpun.
Pria yang terus menatap Sandra dengan tatapan nakal itu … mendekat, dengan sebuah seringai mesum terlihat di wajah pria berwajah buruk.
Bukannya menampilkan raut ketakutan, Sandra balik menantang pria itu. Beberapa orang kini mulai beraksi dengan memeriksa tas para penumpang lain.
"Lihatlah, ternyata dia tidak terpengaruh dengan obat bius!" Seru pria bertubuh pendek dengan gigi kuning itu, kepada teman-temannya. Saat sudah berada dua langkah dari jarak — Sandra.
Kawan-kawan pria itu tertawa lepas, sambil mengambil semua barang-barang berharga penumpang.
"Jadi, kalian kelompok pembajak itu?" Sela Sandra dengan nada dingin, juga tatapan semakin tajam.
Pria yang di hadapannya terlihat menyeringai, ketika melihat wajah Sandra yang menurutnya sangat menggoda.
"Jangan, menatapku seperti itu, kalau kau tidak ingin kehilangan kedua matamu," ujar Sandra dingin.
Para kelompok pembajak itu menghentikan aktivitas mereka mengambil barang-barang berharga para penumpang yang sudah diberikan obat bius.
Tiba-tiba pria di depan Sandra tertawa lepas, ia menganggap ucapan Sandra adalah sebuah lelucon. Yang membuat pria itu merasa terhibur.
"Wah, wah, wah, dia wanita berbeda. Membuatku begitu tergoda," timpal pimpinan dari kelompok pembajak itu.
"Dia mempunyai bayi, bos," celetuk, salah satu dari mereka.
Pria yang berada di dekat — Sandra memindai ke arah bawah dan ia bisa melihat bayi mungil yang terbungkus hangat.
"Barang berharga," gumam pria itu.
"Jangan berani menyentuhnya!" Potong Sandra penuh peringatan.
"Cih! Kami juga akan menjualmu, nona. Aku yakin, para pria bermata lapar akan tertarik kepadamu," seloroh pria itu sambil tertawa mengejek.
Sandra masih terdiam sambil membaca situasi, ia melirik ke arah sampingnya, di mana seorang anak laki-laki berusia 12 tahun sedang pura-pura menutup matanya.
"Aku lebih, tertarik melemparkan kalian ke lautan lepas, dimana para ikan hiu kelaparan," sahut Sandra dengan ucapan penuh keseriusan.
Pria berwajah buruk itu, mengeraskan rahangnya dengan tatapan ngeri di tujukan kepada — Sandra.
"Sialan!" Teriak pria itu sambil mengangkat tangannya yang akan menampar wajah — Sandra.
Namun belum juga tangan pria itu mengenai wajah Sandra, terdengar sebuah suara tendangan kuat. Sandra lebih dulu melayangkan kakinya ke arah alat vital pria itu.
Hingga pria berwajah buruk itu terpental ke belakang dengan suara kesakitan teramat sangat.
Para rekan kelompok pembajak itu mendekati sang pemimpi mereka dengan tatapan terkejut melihat reaksi gesit — Sandra.
Wanita dengan bayi di dalam gendongannya itu, berdiri dan menarik anak laki-laki yang sejak tadi beringsut ketakutan.
"Bibi, apa yang anda lakukan," ucap anak laki-laki itu dengan nada bergetar takut.
"Ikutlah' dengan bibi," pinta Sandra, menarik pergelangan tangan anak laki-laki itu.
Sandra berjalan ke arah pintu khusus pengemudi kapal penumpang itu, bersamaan seorang pria dengan pakaian khusus keluar dengan wajah panik.
"Ada apa?" Tanyanya dengan wajah khawatir.
Sandra tidak menjawab, ia hanya memberikan perintah kepada nahkoda kapal tersebut untuk segera kembali ke dalam ruangannya.
"Aku titip putriku, biarkan aku menyelesaikan semuanya," timpal Sandra.
Ia menitipkan putrinya kepada anak laki-laki itu juga kepada pria dewasa di depannya.
"Anda, mau kemana nona. Sangat berbahaya melawan mereka, semua," sela sang nahkoda kapal.
"Tidak masalah, aku hanya menitipkan putriku dan jangan membuka pintu ruangan anda, meskipun ada yang berusaha membukanya," pesan Sandra dan segera keluar dari ruangan yang terdapat kemudi kapal.
Pria berbaju pelaut itu, hanya bisa melongo dengan wajah kebingungan, sementara anak laki-laki tersebut, kini bersembunyi di suatu tempat dengan — Aurora di pelukannya yang erat.
"Tenanglah, bayi kecil. Kita akan selamat," ucap pria kecil itu, mencoba menenangkan bayi Sandra yang terlihat gelisah.