
"Hentikan!" Seruan dengan nada berat, menghentikan aksi Sandra untuk membuat nyonya Louis terluka.
Sandra menoleh, seketika wajahnya terlihat shock dan serangannya kepada nyonya Louis terlepas.
Nyonya Louis meluruh di atas tanah berumput lebat, mengatur nafasnya. Wajah begitu pucat ketakutan. Wanita itu menjauh dari Sandra dan mendekati tuan Winston.
Sandra masih menatap lekat dan tajam pria dewasa di depannya, yang tatapan mata mereka begitu sama dengan garis wajah pun begitu mirip. Sandra bagaikan gambaran wajah tuan Winston versi wanita.
Wajah Sandra tiba-tiba semakin mencekam, dadanya begitu bergemuruh dahsyat juga sesak secara bersamaan.
Ada sebuah bongkahan besar yang kini menghimpit, tenggorokannya hingga ke rongga dada wanita itu.
Kedua matanya memanas dengan terus menatap tajam sosok pria yang begitu amat ia benci dan ingin ia ketahui.
Selama bertahun-tahun, Sandra mencari sosok ayah biologisnya ini. Ayah yang tega menolaknya dan membuangnya.
Sandra bisa mengenalinya dari kisah kedua orang tuanya yang sudah mengasuhnya itu, yang merupakan mantan pelayan tuan Winston.
Wajah Sandra tersirat kebencian juga kesedihan. Kebencian, karena pria ini begitu tega kepadanya. Kesedihan, karena dia terlahir dari darah seorang terhormat, namun terbuang begitu saja.
Sebisa mungkin, Sandra menahan rasa sesak di dadanya. Ia mengepalkan kedua tinjuan tangannya. Berusaha menahan emosi yang begitu bergejolak dahsyat.
…..
Wanita itu tiba-tiba terkekeh hambar dan penuh kesedihan, saat menyadari sesuatu.
"Jadi, anda di balik semua ini? Jadi anda seorang ayah yang rela melukai darah dagingnya sendiri demi seorang putri yang begitu terhormat? Sandra berusaha menahan gejolak sesaknya itu. Kedua kelopak matanya kini mulai berair.
Tuan Winston yang sejak tadi diam dengan wajah datar dan sikap dingin itu, terkejut mendengar penuturan Sandra.
Pria itu menatap darah dagingnya dengan begitu dingin, wajahnya bahkan tidak tersirat penyesalan ataupun kerinduan seorang ayah.
Sandra kembali tertawa hambar, bahkan diselingi tangisan samar. Hatinya begitu sakit melihat wajah ayah biologisnya.
Apakah semua sosok ayah memiliki sikap seperti pria di hadapannya?
"Daddy?" Sandra bergumam lirih dan air matanya pun mengalir bersamaan.
"Daddy?" Sandra berkata dengan nada tercekat ngilu. Wanita itu bahkan menepuk dadanya yang terasa terhimpit.
"Apakah, anda pantas di panggil seorang daddy? Setelah apa yang kalian lakukan kepada sosok bayi suci? Katakan, apakah anda pantas disebut seorang daddy, hah!" Tangisan Sandra pun meledak dan juga emosi yang selama ini ia tahan.
Begitu sakit saat mengingat nasibnya yang begitu menyedihkan, kenapa dia harus dilahirkan, kalau akhirnya ia harus hidup dengan perjuangan juga kesedihan.
Tuan Winston masih terdiam. Pria berusia 50 tahun itu tidak bisa berkata apapun. Baginya kelahiran Sandra adalah kesalahan fatal.
"Ck! Wanita itu ternyata membodohiku, aku pikir dia akan melenyapkanmu, tapi ternyata aku salah. Seharusnya aku melenyapkan dirimu saja, hingga akhirnya kau tidak membuat masalah dengan kehidupanku juga putriku." Tuan Winston berkata dengan wajah kebencian. Pria itu bahkan begitu mengerikan.
"Lalu kenapa anda melakukan kesalahan, hingga aku pun terlahir darinya. Seharusnya kalian membuangku saat berada di kegelapan, namun kalian membiarkan aku hidup dan secara kejamnya membuat hidupku menderita.
"Kalian begitu kejam. Anda seorang pria pecundang kejam. Aku membencimu. Aku begitu membenci anda!" Sandra berteriak nyaring. Mengeluarkan semua emosi yang sejak dulu ia tahan.
"Anda tahu? Kenapa aku memakai nama depan anda, tuan Matthew Winston?" Sandra berkata lirih dengan terkekeh getir.
"Agar aku bisa mengingat anda dan aku bisa terus membenci anda," jelas Sandra dengan tatapan penuh kebencian juga luka.
"Tutup mulutmu!" Bentak tuan Winston dengan wajah marah.
"Kamu hanya terlahir dari wanita ******. Dan aku tidak ingin memiliki anak dari hasil seorang ****** yang kotor, seperti dirimu. Aku yakin kau juga menjadi ******, bukan?" Dengan wajah mencomooh, tuan Winston menghina putrinya.
Sandra semakin tersakiti dengan ucapan seorang pria yang darah mengalir dari pria di hadapannya ini.
"Jadi aku berhak mengambil putrimu, karena kau tidak pantas menjadi seorang ibu," sambung tuan Winston.
"Lalu bagaimana dengan anda? Apakah anda pantas menjadi seorang ayah?" Tanya Sandra dengan tersenyum getir.
"Bagiku, anda pantas di panggil seorang pengecut," lanjut Sandra kembali.
"Jaga ucapanmu!" Gertak tuan Winston geram.
Kembali kedua saling menatap sengit. Sandra bahkan terlihat begitu emosi. Terlihat dari raut wajahnya juga deru nafas wanita itu.
"Aku akan tetap mengambilnya dan aku akan melakukan apapun demi bisa mendapatkannya," ujar pria setengah baya itu tegas.
"Apa anda juga ingin menjadikan putriku, bernasib sama denganku?" Sahut Sandra sedih.
Tatapan tuan Winston kian menajam dan wajah merah penuh amarah. Pria itu tidak percaya, bayi yang ia campakkan begitu pemberani dan tangguh.
"Putriku hanya milikku, tidak ada yang berhak atas dirinya. Kalian tidak akan bisa menyentuhnya walaupun seujung kuku saja," ucap Sandra, suara terdengar begitu mencekam tajam.
"Kau pasti akan kalah," timpal tuan Winston dengan tersenyum remeh.
"Maka aku pastikan akan membunuh kalian," sahut Sandra dan mengeluarkan sebuah pistol dari balik punggungnya dan mengarahkan kepada ayah biologisnya itu.
Tuan Winston hanya tersenyum miring, pria itu hanya menanggapi ancaman Sandra dengan cibiran saja.
"Anda ingin melihatnya?" Tanya Sandra. Wanita itu menarik pelatuk senjata api tersebut sambil mengarahkan kepada tuan Winston.
"Dor!"
Suara tembakan terdengar, wajah tuan Winston begitu terkejut saat Sandra benar-benar melakukannya.
Lengannya kini mulai mengeluarkan darah segar dan pria setengah baya itu meringis kesakitan.