
"Mommy!" Panggil Aurora.
Sandra kini berada di kamar putrinya yang berukuran kecil itu, hanya ada ranjang kecil dan lemari pakaian juga meja belajar.
Sandra kini menemani putrinya untuk tidur, keduanya baru tiba di apartemen sederhana mereka menjelang malam. Setelah Sandra menemani remaja laki-laki itu dan ia juga mendapatkan perawatan di beberapa luka di tubuhnya.
"Tidurlah, sayang!" Pinta Sandra. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping putrinya itu dan memeluknya penuh semangat.
"Mommy," panggil Aurora kembali dengan nada lembut.
"Hum!" Gumam Sandra sambil memejamkan matanya.
"Kenapa mommy menolong orang itu? Bisa saja mommy dalam bahaya," pungkas Aurora. Sandra membuka matanya dan menatap putrinya yang kedua kelopak matanya masih terbuka lebar.
"Dengarlah, menolong seseorang tidak perlu memandang siapa dirinya, dari mana dia berasal, statusnya apa? Kita harus menolongnya saat dia dalam masalah dan membutuhkan bantuan. meskipun orang itu berbuat jahat kepadamu, kamu harus membantunya. Karena berbuat baik itu, akan berbalik kepada kita juga." Sandra terus memberikan nilai baik kepada putrinya. Menanamkan benih hati baik dan rendah hati. Sosok ibu yang menginginkan putrinya memiliki pribadi rendah hati.
"Aku ingin menjadi seperti mommy, wanita cantik, baik hati dan suka menolong," sela Aurora begitu semangat.
"Hum! Itu harus. Ingat, jangan pernah menyesali keadaan kamu sekarang, kamu harus tetap bersyukur dan tetaplah percaya diri, jangan merendahkan diri kamu kepada siapapun, meskipun kita tidak memiliki apa-apa, kita harus tetap mempunyai harga diri. Apa kamu mengerti?"
"Yes, mom," sahut Aurora sambil mengeratkan pelukannya.
"Sekarang waktunya untuk tidur! Pinta Sandra. Menyelimuti tubuh putrinya dengan benar dan menepuk lembut pundak putrinya.
Sambil bersenandung lirih untuk mengiringi tidur Aurora. Gadis kecil itu pun menutup matanya dan tidak lama kemudian, terdengar dengkuran halus dan deru nafas teratur.
Sandra dengan perlahan bangun dan bangkit, ia membenarkan selimut Aurora dan letak bantal putrinya.
Tidak lupa Sandra mengecup kening putrinya itu dengan lama. Ia juga membisikkan ucapan selamat malam.
"Selamat malam, semoga mimpimu indah sayang," bisik Sandra.
Sandra menatap putrinya sebentar sebelum keluar dari kamar — Aurora.
Sandra bersiap untuk melakukan pekerjaan paruh waktu di sebuah klub terkenal di kota metropolitan itu. Gajinya pun lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sewa apartemen.
Malam ini Sandra juga harus mendapatkan uang sebanyak, 1 juta dollar. Sandra harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa mengumpulkan uang. Mungkin kali ini ia akan meminta kepada manajer klub malam untuk memberikan akses untuk melayani para pengunjung di ruangan VVIP.
Menurut rekannya, dalam satu malam bisa mendapat lima puluh dollar. Namun Sandra tidak tertarik, karena mereka pasti akan menerima banyak perbuatan kurang ajar dari pengunjung.
Namun kali ini Sandra ingin melakukannya, yang terpenting dirinya tidak menjual diri. Hanya sekedar melayani.
"Aku pasti bisa," gumam Sandra. Ia pun berjalan keluar dari kamarnya dengan penampilan biasa saja. Celana jeans, kaos polos yang dilapisi jaket Hoodie. Wajahnya pun tidak diberi polesan apapun. Namun wanita satu anak itu begitu terlihat cantik dan berseri.
"Kakak, serius ingin melakukannya?" Gracia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku akan meminjam kepada, atasanku," lanjut Gracia. Ia tidak mungkin membiarkan Sandra berbuat nekat.
"Tidak perlu. Percayalah kepada kakak, semuanya akan baik-baik saja dan kakak bisa mendapatkan uangnya," tolak Sandra dengan lembut.
Sandra yang sudah melangkah dan mendekati pintu apartemen membalikkan kembali tubuhnya dan tersenyum kepada Gracia.
"Kakak harus mendapatkannya, demi kebahagian Aurora dan kakak bersumpah, akan mendapatkannya. Tenanglah, kakak akan baik-baik saja." Sandra menyakinkan Gracia yang terlihat begitu khawatir.
"Tolong, jaga Aurora," pesan Sandra sebelum benar-benar meninggal apartemen sederhana mereka.
Gracia hanya bisa terdiam dengan tatapan nanar melihat punggung tegap Sandra. Punggung yang terlihat kokoh namun begitu banyak menyimpan luka dan kerapuhan.
Gracia mengusap air matanya yang mengalir di ujung matanya, ia berbalik dan mendapati Aurora di sana yang terdiam dengan wajah sedih.
"Mommy! Panggilnya lirih.
…….
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Remaja yang baru saja mendapatkan musibah kini mulai sadar. Beruntung ia tidak mendapatkan luka serius. Hanya ia perlu duduk di kursi roda karena kedua kakinya retak, akibat terhimpit di dalam mobil.
"Yang mulia!" Seru pria bersetelan rapi dengan postur tubuh profesional menghampiri remaja laki-laki itu.
"Apa kamu sudah menemukannya?" Tanya pria remaja itu yang ternyata seorang pangeran.
"Kami kehilangan jejak mereka, yang mulia," ucap pengawal pribadinya dengan tubuh setengah membungkuk.
Remaja itu pun hanya terdiam, ia lagi-lagi mengingat kembali wajah yang menolongnya. Wajah yang 6 tahun yang lalu menolongnya juga.
"Dia kembali menyelamatkan ku," gumam remaja tampan itu dengan tatapan menerawang ke depan.
"Temukan dia dan putrinya!" Perintahnya penuh penekanan juga wajah tegas.
"Baik, yang mulia," sahut pengawal itu.
Setelah pengawalannya keluar, pangeran Erland Dallin Harrison, remaja berusia 16 tahun itu, menjalankan kursi roda nya ke arah jendela kamarnya.
Ia mengeluarkan sebuah kalung di lehernya dan ia menatap liontin perak di kalung tersebut. Liontin yang memiliki pasangan dan pasangannya ia berikan kepada bayi Sandra.
"Pasti dia sudah menjadi gadis cantik," gumam pangeran Erland. Menatap liontin di tangannya. Langit malam di luar sana membuat suasana menjadi lebih tenang.
Kawasan Mansion pangeran Erland terletak jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Sekitar Mansion itu, ditumbuhi pohon-pohon tinggi dan terdapat hutan buatan yang begitu luas.
"Sesuai janji, aku akan menjadikan dia pendampingku."
"Tiba saatnya aku akan datang menjemputnya." Remaja rupawan itu terus bermonolog sendiri.
Mata tajam nan tegasnya kini memandangi langit malam yang terlihat mendung.
Pangeran Erland Dallin Harrison akan selalu memegang janjinya dan saat waktunya tiba, ia akan menjemput calon istrinya itu.