
Kedua kelopak mata yang tadinya tertutup kini terlihat terbuka secara perlahan. Kedua kelopak mata lebar dengan bulu mata lentik itu mengerjap untuk, menyesuaikan pencahayaan.
Setelah penglihatannya dapat terlihat jelas, kelopak mata dengan iris coklat berkilau itu, akhirnya terbuka lebar.
Sandra akhirnya terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua hari, setelah masa pemulihan.
Wanita itu terperanjat bangun dari tidurnya, saat mengingat bayi mungil yang cantik.
Sandra memandangi sekitar yang terlihat begitu mewah, ia menduga dirinya sedang berada di salah satu hotel mewah.
Namun ia segera tersadar, saat merasakan ngilu di salah satu pergelangan tangannya yang terdapat infus.
Sandra sekali lagi merotasi isi ruangan mewah itu dengan wajah penasaran.
"Aku di mana?" Gumamnya pelan.
Tidak lama, pintu ruangan mewah terbuka dan seorang wanita dengan pakaian perawat masuk.
Perawat wanita berusia 40 tahun itu, terkejut saat melihat Sandra yang sedang duduk dan memandangnya.
Wanita itu pun segera berseru dengan aura kebahagiaan dan perasaan lega.
"Nyonya!" Serunya sambil berjalan dengan langkah cepat, mendekati Sandra.
"Anda, sudah sadar," lanjutnya dengan wajah berseri bahagia.
"Aku di mana?" Tanya Sandra yang suaranya terdengar masih berat dan lemah.
"Di rumah sakit, nyonya," jawab perawat wanita dengan wajah hangat penuh keramahan.
"Rumah sakit?! Sandra membeo.
Wajahnya pun seakan kebingungan, ia memijat pelipisnya mencoba mewanti-wanti keadaan sebelum ia mendapatkan dirinya berada di ruangan mewah ini.
"Anda, tidak boleh terlalu banyak berpikir keras dulu. Anda, baru saja melakukan perawatan serius," sang perawat ramah itu menjelaskan kepada — Sandra dengan sabar.
Sandra menelisik seluruh tubuhnya, kedua matanya bisa melihat beberapa perban terlihat menghiasi di beberapa bagian kulit tertentu.
"Luka anda, begitu serius. Jadi, kami terpaksa melakukan operasi darurat," tutur sang perawat.
Sandra termenung, ia menurut saat perawat ramah itu membantunya berganti pakaian dan memeriksa kesehatannya.
"Kondisi, nyonya sudah mulai membaik. Sebaiknya, anda beristirahat terlebih dahulu. sebelum, tuan muda Cooper mendatangi, anda," ucap sang perawat sambil melakukan tugas terakhir, yaitu menyisir rambut panjang, Sandra.
"Kau, bisa memotongnya!" Seru Sandra tiba-tiba dengan wajah melamun.
Perawat itu terkejut dan ia menatap Sandra untuk menyakinkan.
"Lakukanlah! Itu lebih, membuatku bebas dan melupakan semua keburukan ku!" Pinta Sandra yakin.
Perawat itu pun, menurut. Memotong rambut panjang yang tampak lepek itu. Sedangkan Sandra menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Ia merasa kondisi tubuhnya sudah membaik, hanya luka besar yang terdapat di bagian perutnya yang masih terasa — ngilu.
"Selesai!" Seru perawat tersebut diiringi senyum puas.
Sandra tersadar dari lamunannya, ia mendekatkan telapak tangan kirinya untuk menyentuh rambutnya yang terpotong hingga menyisakan potongan rambut pendek di atas tengkuk lehernya.
"Anda, terlihat lebih fresh dan cantik," puji perawat tulus.
Sandra hanya tersenyum tipis dengan tatapan terlihat masih menyimpan banyak penderitaan.
"Aku serius!" Lanjut sang perawat.
"Coba, anda lihat sendiri," sambungnya lagi.
Wanita ramah itu pun, menyerahkan sebuah kaca kepada — Sandra.
Sandra menyunggingkan senyum tipis melihat, penampilan barunya. Ia sengaja memotong rambutnya, agar bisa kembali melanjutkan kehidupan baru bersama sang putri.
"Bagaimana? Apa, anda menyukainya?" Tanya sang perawat tiba-tiba.
"Hum! Sangat suka dan memuaskan," jawab Sandra, jujur.
"Sekarang, kembalilah berbaring!" Perintah perawat itu sambil membantu Sandra, membaringkan tubuhnya.
"Tubuhku, terasa kaku," sela Sandra di ikuti kekehan lirih.
"Itu, karena anda tertidur hingga dua hari. Tapi, anda tenang saja, sebentar juga rasa kaku itu akan hilang," terang perawat tersebut.
"Terimakasih" ucap Sandra tulus.
Sandra tersadar, ia melupakan bayi cantiknya. Wanita itu kembali bangkit dan hendak turun dari ranjang. Namun perawat yang ada di sisinya berseru cepat.
"Tenanglah, tuan muda sedang bersamanya. Putri, anda juga terlihat lebih ceria," sahut perawat yang memiliki wajah lembut.
"Tapi, aku merindukannya," ujar Sandra yang begitu tidak sabar untuk menemui — putrinya.
Perawat itu kembali tersenyum dan mengusap punggung lemah Sandra dengan lembut.
"Anda harus melakukan pemeriksaan lagi, agar bisa menemui bayi, anda," tandas sang perawat.
Sandra menautkan kedua alisnya bingung, apa hubungannya dengan kondisi tubuhnya dengan bertemu sang bayi?
"Bayi cantik, tidak boleh terlalu bersentuhan dengan orang luar, bayi anda terlalu sensitif, jadi… dia butuh ruangan khusus," perawat menjelaskan sambil mengusap punggung — Sandra.
"Jadi, aku tidak bisa menemuinya?" Sandra bertanya dengan perasaan sedih.
"Tidak!anda hanya perlu memeriksakan kondisi kesehatan, anda," jawab wanita ramah itu.
"Sekarang, tidur lah'!" Pinta perawat itu.
Sandra pun menurut dan mulai tenang saat mendengar kabar kesehatan putrinya. Namun perasaan rindu seorang ibu, begitu menyiksanya dan membuatnya gelisah.
………
"Bagaimana?" Suara tergesa-gesa itu, berasal dari mulut tuan muda — Cooper.
Pria itu menatap penuh tidak sabar kepada sahabatnya yang duduk dengan wajah mengejek di depannya.
"Katakan, Lucas!" Gertak tuan muda Cooper.
Raut wajah penuh penasaran itu, mengetat kuat dan melayangkan tatapan mengintimidasi sosok rupawan di depannya.
"Tenanglah, bro," sahut pria bertubuh kekar itu dengan balutan jas putih.
"Bedebah!" Pekik Austin Cooper dengan aura mengintimidasi.
Lucas hanya terkekeh santai dengan wajah mencibir ia arahkan kepada, sosok pria di depannya.
Hingga sebuah ponsel mewah, melayang ke arahnya dan tepat, mengenai hidung mancung pria berwajah Arab itu.
"Sialan, kau Austin!"
"Aku!" Dokter rupawan itu berteriak kesakitan.
Tuan muda Cooper tidak mengindahkan ringis sakit sahabatnya itu, ia lebih tertarik mendengar kabar tentang kesehatan, bayi kecil yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Brengsek!" Erang Lucas berwajah kesal.
"Sepertinya, bayi itu begitu spesial bagimu. Katakan, wanita mana yang datang kepadamu dan menawarkan pertanggungjawaban," Lucas tertawa lepas sambil mengolok-olok sahabatnya.
"Sialan kau, Lucas Anthony," bentak Austin mengelak ucapan sahabatnya.
"Aku, bukanlah' pria murahan sepertimu," lanjut Austin dan diakhiri wajah sinis ke arah — sahabatnya.
"Hum!" Gumam pria tampan tersebut.
"Cepatlah, jelaskan kepadaku tentang Aurora!" Pinta Austin begitu penasaran dan tidak sabar.
"Dia, perlu pengobatan khusus agar kondisi kedua matanya tidak menjadi buta permanen. Kalaupun itu terjadi, kita bisa mencari donor mata untuknya, tapi … kita membutuhkan waktu lama untuk melakukan operasi. Tingkat resikonya tinggi melakukan operasi besar, pada bayi." Lucas menjelaskan dalam mode sikap juga raut serius.
Austin terdiam sesaat. Ia berpikir bagaimana menjelaskan kepada ibu dari bayi — cantik itu.
"Apa yang kau, pikirkan?" Tanya Lucas.
"Sekarang katakan, dia bayi siapa? Apa kau menikah secara rahasia," Lucas membuat wajah seakan terkejut saat mengucapkan ucapan terakhir.
"Pletak!" Kembali Lucas mendapatkan lemparan kuat.
Namun lemparan kali ini membuatnya tersenyum berseri. Segulung lembaran dollar mendarat di kening pria rupawan itu.
"Cih!" Austin berdecak kesal.
"Kau seperti baru merasakan uang. Padahal kau seorang pewaris, ck!" Ujar Austin sinis.
"Asal kau tahu, perbedaan mendapatkan uang dari mu sungguh membuatku ingin dilempar, kembali," ucap pria itu sambil menampilkan wajah mengesalkan.
Tiba-tiba, sebuah sepatu hitam mengkilap melayang kembali ke arahnya. Lucas yang tidak sempat menghindar hanya bisa pasrah.
"Itu lebih mahal dari uang yang ku berikan kepadamu." Austin tertawa lepas melihat wajah kesakitan sahabatnya.