
Terlihat begitu jelas, ketegangan di ruangan kepala sekolah. Terdengar helaan nafas menggebu dari sosok wanita berkelas, yang kini menatap sinis ke arah gadis kecil cantik yang sejak tadi berdiri di hadapan mereka.
Aurora tidak memperlihatkan wajah ketakutan di depan semua orang yang berada di sana. Ia menegakkan kepalanya dengan pandangan lurus ke depan. Secara sekilas, orang-orang akan menilai nya gadis normal, namun mereka akan tersadar dengan kekurangan gadis cantik itu saat berinteraksi dengannya.
Wanita berwajah sinis dan arogan, kini duduk dengan elegan di sofa mewah yang hanya dikhususkan untuknya.
Di sampingnya, Charlotte duduk dengan wajah kepuasan terlihat di sana, melihat Aurora dalam kesusahan.
Kepala sekolah sendiri kini hanya bisa menatap penuh arti ke arah gadis malang itu. Sikap wibawa dan tegasnya, membantu Aurora keluar dari kesulitan.
Mereka harus menunggu Sandra terlebih dahulu, untuk memulai permasalah yang sedang mereka selesaikan.
Tapi … sepertinya, mommy dari Charlotte tidak sabaran untuk memberi pelajaran kepada — Aurora.
"Sebagai pemegang saham terbesar di sekolah ini, saya memerintahkan, gadis pembawa berita buruk ini, keluar dari sekolah." Wanita penuh penampilan mewah, memulai berbicara sarkas, sambil menunjuk Aurora dengan ekspresi jijik.
"Saya tidak terima sekolah ini, dicemari oleh manusia-manusia rendahan. Apa kata para calon siswa yang dari kalangan berkelas, melihat salah satu siswanya seorang yang cacat." Wanita itu terus mencerca penuh diskriminasi kepada — Aurora.
Gadis kecil itu hanya bisa diam dengan tampilan wajah tenang. Ia selalu mendengar pesan sang mommy. Agar tidak memperlihatkan kesedihan kepada orang-orang sombong yang sering menindasnya. Ia harus tetap tenang dan menjaga harga dirinya.
Sekarang Aurora berdiri di depan semua orang yang melihatnya penuh hinaan. Beruntung, gadis itu tidak bisa melihat tatapan hina mereka kepadanya, hingga ia begitu tenang. Namun ia tetap lah' gadis kecil yang rapuh dan merindukan pelindung di sisinya.
Aurora sekuat tenaga menjaga ketakutan dalam dirinya. Menggenggam kuat kedua telapak tangannya, menahan tubuhnya agar tidak bergetar.
Setiap wanita itu berkata hinaan kepadanya, setiap itu juga perasaan gadis kecil itu terluka. Mungkin Aurora akan selalu menyimpan hinaan yang setiap hari ia dapatkan dan menyimpannya rapat dalam memori ingatan.
Beruntung jiwa kuat lebih mendominasi kepadanya, hingga ia mampu menahan segala perasaan terluka yang ia dapatkan.
Gadis kecil yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari sosok pria tangguh yang di sebut, daddy.
Namun gadis malang itu harus memendam kerinduan itu dengan sikap sabar. Ia tidak ingin menyinggung perasaan sang mommy.
Walaupun masih kecil, Aurora paham dengan keadaan mommynya yang hanya seorang, single mom untuknya.
"Mommy!" Aurora menyebut sang mommy dengan lirih.
"Saya ingin dia dikeluarkan dari sekolah elite ini. Agar images sekolah ini tidak tercemar. Kami menaruh harapan di sekolah ini, agar lebih memikirkan popularitas kami, sebagai pemilik saham terbesar disini." Wanita itu mengeluarkan sebuah titah.
Aurora terkejut, dirinya tidak boleh keluar dari sekolah itu, Aurora menginginkan agar impiannya tercapai dan mampu membuat mommynya bangga.
"Dia murid berprestasi dan memiliki bakat, nyonya," sela seorang guru yang selama ini membantu, Aurora. Wanita itu berusaha membantu Aurora untuk tetap bersekolah di sana.
"Masih banyak murid, yang berprestasi dan memiliki bakat emas dari kalangan konglomerat," jawab wanita sombong itu.
"Tapi dia anak yang berbeda, nyonya. Saya yakin, Aurora bisa membawa nama baik, sekolah ini," sahut guru tersebut.
"Kalau begitu anda bisa mengajarinya di luar dan anda harus, kehilangan pekerjaan di sini," wanita arogan itu mengancam.
Guru itu pun terdiam dengan kepala menunduk, apalagi mendapatkan tatapan mata tajam dari, wanita arogan dan kepala sekolah.
Aurora menjadi bimbang, apakah dirinya harus keluar dari sekolah ini dan mengubur impiannya.
Sedangkan Charlotte terlihat puas, ia tidak hentinya tersenyum licik. Gadis kecil kaya itu, begitu membenci Aurora yang lebih unggul darinya dalam memainkan biola.
Aurora juga lebih unggul dari segi kecantikan wajah dan juga kecerdasan. Semua murid sangat menyukai Aurora, hingga ia merasa terasing dan terhina.
Sebagai gadis dari keturunan kaya, harga dirinya terhina oleh seorang gadis miskin dan buta.
Ia pun terus membuat perhitungan kepada Aurora setiap harinya, namun terkadang harus gagal.
"Tapi, saya tidak bersalah!" Lama terdiam, Aurora membuka suara. Ia mencoba membela diri dalam tekanan wanita di depannya.
"Apa! Kamu tidak salah? Lalu apa yang kamu lakukan kepada putri berharga saya, dia harus mengalami keburukan berkali-kali karenamu!" Wanita itu berkata dengan nada membentak.
Kepala sekolah dan guru wanita itu hanya bisa diam. Tidak kuasa membantu Aurora yang sedang kesulitan.
"Jadi kamu menyalahkan putriku, hah!" Wanita itu tidak terima putrinya di salahkan, ia segera bangkit dan mendekati Aurora. Wanita itu memandang Aurora begitu sinis.
"Saya tidak mengetahui apapun," ucap Aurora lirih.
"Itu karena kamu seorang buta!" Hardik wanita sombong dengan ekspresi menakutkan.
Aurora menyiut, lagi-lagi perasaannya terluka. Kenapa dengan seorang yang buta? Apakah semegerikan itu, hingga membuat wanita di depannya menjadi khawatir.
"S-saya …."
"Diam!" Wanita sombong itu membentak Aurora kembali.
"Maa …."
"Saya bilang diam!" Gertak wanita itu lebih kencang. Membuat Aurora terkejut.
"Dasar gadis buta!" Hina wanita itu dengan kejamnya.
"Saya memang buta, tapi bisa membedakan pribadi seseorang. Seperti pribadi anda yang sering menindas kaum lemas." Aurora begitu berani dan bijaksana dalam mengeluarkan pendapatnya.
Wanita sombong itu semakin menatap Aurora nyalang, ia sungguh terhina dengan perkataan — Aurora.
"Buta mata bukanlah sebuah penyakit menakutkan ataupun aib. Namun, buta hatilah, penyakit yang paling berbahaya dan menyimpan banyak aib." Ucapan bijaksana Aurora membuat, kepala sekolah tersentak. Begitu juga guru wanita.
Sedangkan wanita sombong dengan penampilan penuh anggun begitu marah. Ia lebih mendekiti Aurora dan bersiap untuk menampar gadis kecil itu.
"Dasar gadis tidak tahu etika!"hardik wanita arogan tersebut, bersiap untuk melayangkan salah satu telapak tangannya di wajah mungil — Aurora.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan menahan tangan wanita itu. Tatapan wanita tersebut begitu mencekam, hingga ia mengenggam tangan wanita sombong begitu kuat. Membuatnya berteriak kesakitan.
"Mommy!" Panggil Aurora lirih. Mengetahui sang mommy kini berada di hadapannya, menjadi tamengnya.
"Akh, lepaskan!" Teriak wanita itu.
"Nona Sandra!" Seru guru wanita segera mencegah Sandra yang kini dalam keadaan emosi.
Ia tidak akan pernah menerima, seseorang berani melukai putrinya ataupun menghinanya.
"Lepaskan!" Pekik wanita sombong itu, raut wajahnya merah menahan rasa sakit.
"Saya tidak akan membiarkan siapapun menyentuh putriku." Sandra berkata begitu dingin.
Ia lalu melepaskan genggaman tangannya dan segera memeluk Aurora. Sandra mengecup penuh kesakitan hati kepada putrinya itu.
"Jadi kamu orang tua dari gadis sialan ini?"
"Tutup mulut anda!" Sentak Sandra dingin, tatapannya begitu menakutkan.
Wanita itu tidak puas untuk menghina Aurora, hingga kini ia merasa senang bisa membuat Sandra, ikut terhina juga.
"Sungguh, wanita kasar," gumam wanita sombong itu.
"Pantas putri kamu begitu menyedihkan. Mungkin dia mendapatkan, sebuah kutukan dan gadis pembawa sial. Seharusnya dia sekolah di sekolah berkebutuhan khusus. Bukan di sekolah elite. Sungguh gadis yang hina. Oh iya, dia juga tidak memiliki seorang daddy? Apa dia anak haram?" Wanita itu berkata penuh hina dan sarkas.
"PRANG!"
"AKH!"
Sandra yang mendengar kata-kata hinaan tentang putrinya pun lantas memukul meja di depannya, hingga terpecah dan berserakan di lantai.
"Saya tidak takut hukuman mati. jadi … jaga ucapan anda sebelum menjadi ucapan terakhir." Sandra berkata penuh tekanan dan bernada dingin.