
Tangisan bayi masih terdengar di salah satu ruangan perawatan khusus bayi di bawah satu tahun. Para perawat penjaga kebingungan untuk menenangkan bayi cantik itu.
Mereka bahkan terlihat panik, saat berubah wajah bayi itu berubah merah kebiruan-biruan. Suaranya pun tidak terdengar parau.
"Bagaimana ini!" Ucap salah satu perawat yang mencoba menenangkan si mungil — Aurora dengan botol susu.
"Kita harus memanggil, ibunya," jawab perawat wanita satunya yang menggendong — Aurora.
"Sebentar, aku akan mencarinya," sahut perawat itu. Lalu berjalan ke luar ruangan.
"Sabar lah' bayi kecil. Sebentar lagi, mommy kamu akan kembali," bisik sang perawat sambil menimbang bayi cantik itu.
….
"Cepatlah, kita harus melakukannya segera. Klien kita sudah berada di parkiran!" Seru seorang wanita yang mengenakan jas putih khas seorang dokter profesional.
"Tenanglah, apa kau tidak melihat, dia masih berada di dalam sana!" Gertak wanita berjas putih itu dengan wajah geram.
Rekannya mengintip dan ia bisa melihat perawat itu terus mencoba menenangkan bayi cantik yang merupakan target — penculikan keduanya.
"Aku, akan masuk mengurus dia. Setelah dia keluar, kau harus menyusul ku," terang wanita itu dengan rencana jahatnya.
"Hm, baiklah," sahut rekannya dengan anggukan yakin.
Wanita yang memakai setelan perawat, mendekati ruangan khusus perawatan bayi. Wajahnya ditutupi dengan masker, hingga tidak ada satupun yang mencurigainya.
Wanita dengan tubuh semampai itu mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu, setelah itu berjalan mendekati perawat yang sejak tadi menenangkan bayi menangis dengan raut wajah kelelahan.
"Kau, siapa?" Tanya perawat itu dengan pandangan menelisik penasaran.
Wanita yang menyamar menjadi perawat pun menjawab dengan nada tenang tanpa kegugupan.
"Saya, Liza. Perawat magang disini," jawabnya ramah dan penuh sahaja.
"Kapan, kau berada disini?" Tanya perawat itu lagi dengan bingung.
"Saya sudah berada sejak pagi, senior," jawabnya tenang.
"Aneh, padahal aku juga lagi sift pagi. Tapi tidak melihatmu berada di area rumah sakit," timpal sang perawat dengan tatapan curiga.
Wanita yang mengenakan masker, terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia mengeluarkan id card miliknya.
Setelah itu menunjukkan kepada perawat asli di rumah sakit mewah tersebut.
Setelah melihat id card wanita di depannya, perawat senior itu pun percaya.
"Maaf, sudah meragukanmu," sesalnya dengan nada sopan.
"Tidak mengapa, senior," balas wanita jahat itu. Ia pun menyeringai di balik masker yang ia kenakan.
"Maaf, tapi kepala perawat membutuhkan anda," timpal sang wanita licik.
"Benarkah!" Perawat senior terlihat kaget.
Wajahnya pun terlihat bingung juga heran, tidak biasanya kepala perawat membutuhkan bantuannya, karena orang yang di maksud sudah memiliki asisten.
"Iya, sekarang dia menunggu di ruangannya," sahut wanita licik dengan senyum miring terbit di sudut bibir.
Perawat senior masih terlihat berpikir, sambil memandangi sosok wanita di depannya, ia merasa aneh dengan wanita ini.
"Aku, berharap kepala perawat tidak akan marah," sentak wanita licik sedikit menyindir.
"Ahh, baiklah," ujar perawat senior pasrah.
"Aku titip mereka kepadamu,"pinta perawat itu dengan tergesa-gesa.
"Jangan khawatir, aku pasti akan menjaga mereka," jawab wanita licik itu.
Kini Aurora berada di tangan wanita jahat itu, ia berpura-pura menimang dengan senyum palsu ke arah — perawat senior.
Setelah perawat senior keluar ruangan itu, senyum licik penuh rencana terlihat di bibir, wanita jahat.
"Sekarang, kau menjadi milik kami dan menghasilkan uang yang berlimpah," gumamnya dengan seringai licik.
"Diam!" Gertak wanita itu tertahan.
"Berhentilah, menangis bayi sialan!" Geramnya dengan nada pelan.
"Hey! Apa yang kau lakukan," sentak rekannya yang segera memasuki ruangan perawatan khusus bayi itu, saat melihat perawat yang bertugas di sana keluar.
"Berikan padaku!" Pinta wanita berjas putih.
Rekannya pun menyerahkan Aurora dengan wajah kesal.
"Bisakah, kau mendiamkannya," celetuknya dengan wajah jengah.
"Sabarlah, aku akan memberikan dia bius."
"Cepatlah!" Perintah rekan yang berbaju perawat.
"Hm!" Sahut wanita berjas putih.
Keduanya lantas membaringkan tubuh mungil, Aurora di atas ranjang khusus bayi dan menyuntik sesuatu di paha kiri bayi itu.
Seketika tangis Aurora bertambah kencang dan semakin menagis kesakitan.
"Apa yang kau, lakukan," bisik wanita berbaju perawat.
"Diamlah! Sekarang kita segera meninggalkan tempat, ini!" Ajaknya kepada rekannya itu.
Keduanya pun bersiap untuk membawa Aurora keluar dari area rumah sakit dan akan melakukan transaksi di sebuah tempat rahasia.
Wanita berbaju jas dokter, duduk di kursi roda yang sudah disiapkan, lalu melepaskan pakaian yang melekat di tubuh bagian atas, menyisakan sebuah kaos polos. Ia juga merupakan penampilannya seakan-akan seorang ibu sehabis melahirkan.
Mereka membungkus tubuh mungil Aurora yang mulai tenang dengan seluruh tubuh mungil itu dan memangkunya.
"Ayo!" Ujarnya kepada rekannya yang sejak tadi mengintai keamanan di luar.
Setelah di yakin aman, mereka pun keluar dengan berpura-pura sebagai pasien sehabis melahirkan.
Keduanya pun berjalan dengan wajah biasa di koridor rumah sakit.
Dari kejauhan, Sandra terlihat berlari dengan penampilan begitu berantakan.
Kedua wanita itu tiba-tiba, membeku dan bergeming di sana. Keduanya begitu bingung harus melakukan apa untuk menghindari keberadaan — Sandra.
"Teruslah, berjalan," bisik salah satu dari mereka.
Kedua wanita jahat pun … melanjutkan langkah mereka tanpa menghiraukan keberadaan, Sandra, saat mereka berpapasan.
"Tunggu!" Seru Sandra tiba-tiba. Ia tanpa sengaja mendengar suara lenguhan bayi yang berada di pangkuan seorang wanita di kursi roda. Lenguhan yang sangat ia kenali.
Sandra menghentikan langkah saat kedua wanita jahat melewatinya. Sandra membalikkan tubuhnya, ia menukik kedua alisnya tajam dengan tatapan penuh kecurigaan kepada bayi yang ada di pangkuan, wanita jahat itu.
Sandra menyipitkan kelopak matanya, saat menangkap sesuatu yang sangat ia kenali. Ia pun berjalan ke arah kedua wanita itu dengan tatapan dingin.
Wanita dengan penampilan berantakan itu, yakin, kalau bayi yang berada di pangkuan wanita di depannya adalah — putrinya, Aurora.
Sedangkan kedua wanita jahat itu, berubah tegak. Namun tiba-tiba mereka berubah mimik wajah keduanya.
Ia kini menatap sengit kearah — Sandra dengan pandangan hina.
"Ada apa!" Seru salah satu wanita jahat.
Sandra terus menatap pada gendongan wanita yang berada di kursi roda dengan begitu leka.
"Berikan, padaku," sentak Sandra dengan nada datar juga pandangan dingin.
Kedua wanita itu terkejut dan seketika saling memandang, keduanya pun menampilkan wajah protes.
"Hey! Apa yang kau katakan, bayi kecil ini adalah, milik saudaraku!" Bentak wanita yang berada di belakang kursi roda.
Sandra tidak memperdulikan bentakan wanita jahat itu, ia terus mendekat dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa yang kau lakukan, menjauhlah, jangan sentuh anakku!" Pekik wanita yang berada di kursi roda, saat — Sandra berusaha melihat wajah bayi yang berada di pengakuan sang wanita jahat.
"Hey! wanita kotor, jangan menyentuh bayi suci dengan tangan burukmu!" Pekik kasar wanita yang berada di balik kursi roda.
Ia juga berusaha menghentikan Sandra yang terus memberontak untuk merebut bayi itu.
Sandra bahkan tidak menghiraukan bentak kasar mereka, ia hanya ingin bayi itu berada di tangannya. Tanpa rasa takut ataupun merasa dalam bahaya, apabila orang-orang menganggap dirinya seorang yang jahat.
"Lepaskan!" Bentak wanita itu lagi.
"Tidak akan, dia bayiku," balas Sandra dingin juga tatapan mengerikan.
"Berikan kepadaku, atau …."
"Atau apa, hah!" Hardik salah satu dari mereka.
"Tolong, tolong!" Teriak menggema wanita yang berpakaian perawat.
Teriakkan wanita itu mengundang perhatian orang-orang yang melintas, mereka pun mendekat dan bertanya.
"Ada apa, nyonya?" Tanya salah satu pengunjung rumah sakit.
"Tolong, wanita sakit jiwa ini, ingin menculik anakku," ujarnya dengan wajah sedih juga ketakutan.
Sandra tetap ingin mengambil bayi itu yang sangat yakin adalah — putrinya.
"Dia putriku, kalian yang menculiknya," tandas Sandra dengan wajah suram.
"Bohong! Mana ada wanita tidak sehat sepertimu memiliki, bayi," sahut wanita jahat yang mengenakan pakaian perawat.
"Hey, lepaskan!" Seru salah satu pengunjung yang percaya kalau Sandra adalah seorang wanita sakit jiwa.
"Tidak! Dia bayiku," bentak Sandra dan sekali ayunan kakinya yang sakit, ia arahkan tepat di perut wanita di kursi roda.
"Dasar wanita, sakit jiwa!" Teriak wanita jahat yang lain dengan wajah syok melihat aksi brutal — Sandra.
"Nyonya berikan bayi itu kepada, ibunya!" Pinta seorang wanita dewasa yang mencoba membujuk — Sandra, yang menganggap wanita itu mengalami depresi akibat kehilangan, bayinya.
"Tidak! Dia putriku," tolak Sandra sambil memeluk erat tubuh mungil — Aurora.
Keributan pun terjadi, mereka semua memojokkan Sandra yang menganggap wanita itu tidak waras.
Kedua wanita jahat, melakukan drama dramatis mereka dengan menangis sedih. Hingga sebuah seruan menghentikan suasana rusuh itu.
"ADA APA INI! Seru pria rupawan dari arah belakang.
Bersamaan, perawat senior muncul dengan wajah kesal, ia merasa sedang di tipu oleh… perawat magang.
Kedua wanita jahat itu membeku dengan mimik wajah pucat, keduanya berusaha menampilkan wajah biasa. Saat pria tampan yang merupakan pemilik rumah sakit itu, mendekat. Juga perawat senior dengan wajah bingung.