
"Selamat pagi, nyonya sandra Matthew!" Sapa dokter yang kini berada di kamar rawat — Sandra dengan wajah ramah.
Sandra yang pandangannya tidak beralih ke arah troli bayi, yang masih dikuasai oleh perawat tersebut.
Shandra mengalihkan perhatiannya kepada sang dokter wanita yang terlihat seumur dengannya itu dan membalas sapa ramah sang dokter.
"Selamat pagi juga, dokter," balas Sandra yang terlihat begitu bahagia.
Dokter itu pun ikut bahagia melihat wajah Sandra yang begitu antusias ingin melihat bayinya.
Nenek Grace juga kakek Benjamin, hanya bisa terdiam dengan wajah was-was, namun keduanya berusaha menyembunyikan kepada — Sandra.
"Izinkan, kami memeriksa keadaan anda, nona!" Seru sang dokter dengan suara begitu lembut dan wajahnya begitu bersahaja.
Sandra hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab perkataan dokter di depannya.
Segera dokter cantik itu lebih mendekat kepada — Sandra, untuk memeriksa kondisi wanita itu.
Dokter wanita itu pun melakukan tugasnya dengan penuh kelembutan juga sikap ramah.
Ia sengaja mengalihkan perhatian Sandra, sebelum ia mengungkapkan sesuatu yang akan membuat — Sandra syok nantinya.
"Baik, nyonya Sandra Matthew, keadaan anda sudah mulai stabil, namun, anda harus tetap perbanyak istirahat dan juga memakan makanan bergizi, agar jalan asi anda lancar," pungkas sang dokter dengan suara begitu lembut dan bersahabat.
"Syukurlah," sela nenek Grace bernafas lega, mendengar kondisi — Sandra.
"Bagaimana dengan … bayiku, dok," potong Sandra. Menyela ucapannya dokter itu sebelum mengeluarkan suara.
Sang dokter melirik sejenak bayi Sandra, kembali menatap Sandra lekat dengan senyum ramah.
"Keadaan bayi anda, sangat sehat," jawab sang dokter wanita.
Sandra terlihat melebarkan senyumnya, memperlihatkan jejeran gigi rapi miliknya.
"Benarkah," sentaknya dengan perasaan bahagia.
Sang dokter mengangguk dengan tersenyum canggung. Wanita berwajah ramah itu melirik ke arah kedua pasangan tersebut.
Nenek Grace dan kakek Benjamin, hanya bisa menampilkan wajah pasrah mereka.
"Bolehkah, aku menggendongnya?" Sandra meminta izin terlebih dahulu kepada sang dokter. Ia harus menghargai seseorang dan tidak boleh mengikuti ego nya sendiri.
"Sejak tadi, bagian dadaku terasa sakit," lanjutnya dengan suara lirih.
Dokter wanita cantik itu terkekeh mendengar ucapan segan — Sandra.
"Boleh, itu suatu hal wajar, nyonya. Berarti, produksi asi anda sangat baik," seloroh dokter itu. Mencoba membuat perasaan Sandra lebih tenang dahulu.
"Berikan, kepadanya!" Pinta sang dokter kepada, sang perawat.
Perawat itu pun segera meraih tubuh mungil bayi, menggemaskan — Sandra. Bayi itu terdengar melenguh halus dengan bibir mungilnya mengerucut seperti bayi yang sedang kehausan.
"Sepertinya dia lapar?" Timpal sang dokter.
Sandra segera menerima bayinya, setelah perawat itu menyerahkan kepadanya. Sandra menatap wajah imut bayi perempuannya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bayiku?! Batinnya haru.
Sandra menciumi wajah mungil bayinya yang … sudah terbungkus rapi dengan selimut bayi. Bayinya terlihat nyaman berada di pelukannya dengan bibir yang bergerak-gerak seperti sedang — menyusu.
Sandra terkekeh dengan linangan air mata, melihat wajah putrinya yang begitu imut dan cantik. Ia lalu terpaku, saat menyadari sesuatu dari wajah, bayinya itu.
Ternyata bayinya memiliki garis wajah sama persis dengan mantan kekasihnya, ayah biologis putrinya.
Ia lalu memejamkan matanya, untuk menghilangkan segenap rasa indah juga sakit yang sudah pria itu torehkan kepadanya.
Sandra mendongakan wajahnya ke atas, ia berharap air matanya berhenti mengalir dan membuat wajahnya terlihat menyedihkan.
Ia menoleh, saat merasakan sentuhan lembut, nenek Grace yang mengerti dengan perasaan, cucu angkatnya mencoba menghibur.
"Berikan, dia asi!" Bisik sang nenek dengan halus. Tangan tuanya menyentuh pipi lembut, bayi Sandra.
"Dia sangat, cantik," puji nenek Grace dengan tulus. Wanita paruh baya itu begitu jatuh hati melihat wajah cantik, bayi Sandra.
"Dia, mewarisi semua wajahnya." Sandra menyahut dengan nada halus, yang masih didengar oleh, nenek Grace.
Sandra menghapus air matanya sambil menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Ia kembali menatap wajah cantik putrinya itu penuh kasih sayang seorang ibu.
Ia lantas mengarahkan sang bayi ke bagian dadanya yang sedikit terbuka, Sandra memberikan asi kepada bayinya, setelah kakek Benjamin pamit untuk keluar sejenak.
Bayi cantik itu kini, mengisap sumber makanannya dengan begitu lahap dan tergesa-gesa. Terkadang terdengar rengekkan halus sang bayi, saat, tidak merasakan sumber makanannya. Sandra menikmati proses pengalaman pertama dalam merawat bayi dengan sungguh-sungguh.
Ia tidak hentinya menatap wajahnya sang bayi dan mengecup, jari jemari mungil itu. Sandra juga membelai rambut tebal bayinya yang berwarna gelap. Turun ke setiap sisi wajah mungil — bayinya.
Perasaan yang dirasakan Sandra, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Semua emosi kini menguasai dirinya. Meskipun perasaannya hancur juga rapuh yang dominan, namun sebisa mungkin Sandra mengalihkan dengan — senyuman juga kebahagiaan.
Sang dokter yang sejak tadi menyaksikan — suasana haru itu, ikut merasakan apa yang sekarang ini yang sedang, Sandra rasakan.
Namun sang dokter harus segera menyampaikan sesuatu yang begitu amat penting saat ini. Demi keselamatan putrinya sendiri.
"Ehem!" Dokter muda itu berdehem.
Membuat Sandra juga nenek Grace menatapnya dengan mimik wajah berbeda.
Sandra baru sadar, kalau dokter yang merawatnya dengan sang bayi masih berada di kamar pasien.
Sedangkan nenek Grace, hanya bisa menampilkan wajah sedih. Ia sangat yakin, Sandra akan begitu, terpukul mendengar kabar tentang kondisi — bayinya yang sebenarnya.
"Maaf, dokter. Saya terlalu bersemangat, hingga melupakan, dokter," ucap Sandra dengan senyum canggung.
"Tidak masalah," sahut sang dokter.
"Saya, hanya ingin menyampaikan sesuatu!" Seru sang dokter dengan mimik wajah serius.
Sandra mengkerut penasaran dengan perkataan, dokter wanita penuh wibawa di depannya.
"Tentang apa?! Tanya Sandra.
Entah mengapa ia tiba-tiba menunduk, menatap wajah bayinya yang kembali terlelap.
"Ini tentang bayi, anda," ujar sang dokter dengan tatapan serius.
Sandra tersentak dengan wajah semakin penasaran juga jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ia melirik sang nenek yang terlihat — gelisah.
"Ada apa, nek?" Sandra bertanya kepada, nenek Grace.
Wanita tua itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Biar, Bu dokter yang mengatakannya," tandas sang nenek.
Sandra pun semakin panik dan khawatir. Ia refleks, menelisik seluruh tubuh bayinya. Namun tidak di temukan hal mengkhawatirkan, bayinya terlihat sempurna, malahan terlihat sangat sempurna dengan — wajah elok yang sang bayi miliki.
"Dia terlihat sempurna, namun ada sesuatu yang terjadi kepadanya," sela sang dokter tiba-tiba. Membuat Sandra segera mengangkat pandangannya dengan tatapan tajam.
"Katakan, apa yang anda maksud," titah Sandra dengan raut wajah, penasaran juga jengah dengan ucapan setengah-setengah sang dokter.
"Ada kekurangan dari kedua mata, putri anda," ungkap sang dokter.
Sandra masih belum memahami ucapan dokter tersebut, hingga wajahnya terlihat kebingungan.
"Dia mengalami …." Dokter itu pun, menjeda ucapannya sambil memperhatikan ekspresi wajah Sandra.
"Kenapa, ada apa dengan… putriku?" Tanya Sandra yang mulai terlihat khawatir.
"KATAKAN!" pekiknya dengan nada membentak.
"Tenanglah, nak!" Seru nenek Grace.
Berusaha menenangkan, Sandra yang mulai terlihat kacau. Nenek Grace memeluk tubuh Sandra yang terasa tegang.
"Putri anda mengalami kebutaan." Dokter itu pun mengatakan kondisi bayi Sandra yang ternyata mengalami kebutaan.
Sandra terlihat terkejut. Ia membeku di tempatnya dengan tubuh membatu. Ucapan sang dokter kini terngiang-ngiang di pikirannya.
"B-buta?! Monolog Sandra halus.