Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 34



Restoran mewah yang berada di pinggiran pantai itu, terlihat dihias semenarik mungkin. Seakan sedang menyambut tamu istimewa.


Para pelayan restoran sibuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Dengan dikawal oleh wanita cantik yang berpenampilan sebegitu menariknya.


"Cepatlah!" Pekik nona Belleza.


"Hey, jangan letakkan di sana," peliknya kembali.


"Dasar pelayan tidak becus." Wanita itu memarahi pelayannya dengan kata-kata sarkas.


"Cepatlah, sebentar lagi tuan muda Cooper tiba." Kembali wanita itu berteriak sekencang mungkin.


"Dasar para pelayan malas," bentaknya kencang.


"Apa kalian tahu, kalau kita kedatangan seorang pria tampan." Wanita itu berkata sambil tersipu malu.


"Wah, sepertinya nyonya Belleza terlihat bahagia," seloroh salah satu pelayan di restoran miliknya.


Wanita dengan dandanan seperti biasa yang begitu dramatis itu terlihat tersenyum simpel dan memperbaiki dandanannya.


"Semoga aku bisa membuatnya luluh." Wanita itu berdoa penuh harapan. Agar bisa mengambil perhatian tuan muda Cooper.


"Nyonya!" Seru seorang pria muda dari arah depan pintu utama restoran.


"Ada apa!" Sahut wanita itu dengan nada ketus.


"Tuan muda Cooper akan segera, tiba." Lapor pria itu.


Nyonya Belleza pun segera berlari ke arah luar dan berdiri di depan restoran miliknya bersiap menyambut pria terpandang di negara mereka.


…….


Helikopter milik Austin sudah mendarat di sebuah lapangan luas tidak jauh dari restoran milik nyonya Belleza.


Austin turun terlebih dahulu yang membuat orang-orang yang berdiri 10 meter darinya berdecak kagum melihat wajah tampan pria itu.


Namun mereka terkejut, begitu juga nyonya Belleza saat melihat bayi yang berada di gendongan Austin.


Lebih mengejutkan lagi saat… melihat wanita yang menyusul tuan muda Cooper turun dari helikopter mewah itu.


Apalagi tuan muda begitu penuh hati-hati membantu wanita itu turun dari helikopter.


Semua karyawan restoran juga pemilik restoran mewah satu-satunya di pulau itu menganga juga membulatkan kelopak mata mereka.


Melihat Sandra turun dan berjalan berdampingan dengan tuan muda Cooper.


Mereka pun saling menduga-duga, kalau bayi yang Sandra lahirkan adalah milik tuan Cooper.


Nyonya Belleza menatap nyalang genggaman tangan Austin dan Sandra yang sedang berjalan ke arahnya.


Ia begitu tidak terima, Sandra mengalahkan pesonanya untuk mendapatkan pria pujaannya itu.


"Aku tidak akan membuat wanita murahan itu, menang. Tuan Cooper hanya milikku." Wanita itu berkata dalam hati sambil menatap tidak suka ke arah Sandra.


……


Sandra yang berjalan dengan Austin saling bergandengan tangan terasa tidak nyaman, apalagi sebelah tangan pria itu menggendong bayinya.


Apalagi melihat tatapan orang-orang yang berkumpul di sana dan melihat tatapan sinis mantan atasannya.


Sandra pun menghentikan langkah mereka. Austin menatap wanita itu dengan wajah keheranan.


"Ada apa?" Tanyanya dengan alis tebal pria itu saling bertautan.


"Biar kita berjalan masing-masing." Sandra berujar sambil menatap orang-orang.


"Kamu merasa tidak nyaman?" Tanya Austin.


Sandra menggeleng dan tersenyum. "Tidak!"


"Lalu?" Tanya Austin kembali.


"Saya akan kembali ke rumah, nenek," jawab Sandra sambil menatap jalur jalan setapak kecil.


Austin mengikuti arah pandang Sandra dengan kening berkerut tajam.


"Rumahnya masih jauh?" Austin bertanya sambil kembali menarik Sandra berjalan.


"Tuan!" Seru Sandra.


"Diamlah, biar saya mengantar kamu," sela Austin.


"Tapi …."


"Diamlah!" Sentak Austin dengan nada kembali ketus.


Nyonya Belleza yang melihat tuan muda Cooper yang akan berjalan ke arah rumah Sandra, segera mengikuti kedua orang itu.


"Tuan muda Cooper!" Panggil nyonya Belleza.


Wanita itu berusaha menghalang-halangi langkah Sandra juga Austin.


Sandra menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Austin pun ikut membalikkan badannya. Tiba-tiba ia bergidik geli saat melihat nyonya Belleza.


"Iya." Austin hanya menjawab singkat dan tanpa memandangi wajah nyonya Belleza.


"Perkenalkan, saya Belleza Cosmos." Wanita itu dengan tingkat kepercayaan diri tinggi, memperkenalkan dirinya.


"Hum!" Gumam Austin yang berusaha menghindari wanita mengelola baginya.


Nyonya Belleza terlihat tersenyum tidak nyaman, atas balasan sambutan ramahnya.


"Maaf tuan, anda mau kemana?" Tanya nyonya Belleza.


Austin mengernyit heran dengan wanita mengelikan itu yang begitu merasa Akrab dengannya.


"Anda siapa?" Tanya Austin datar.


Tiba-tiba wajah nyonya Belleza berubah merah karena malu. Apalagi melihat senyum miring Sandra.


"Apa anda begitu penting untuk saya? Sehingga anda berani mengganggu hak privasi saya?" Austin memberikan perkataan sarkas kepada nyonya Belleza dengan wajah dingin.


"B-bukan seperti itu. Daddy, m-maksud sah bilaya, tuan Cosmos sudah menunggu anda." Nyonya Belleza terlihat gugup hingga berbicara pun terdengar terbata.


"Anda putri tuan Cosmos?" Tanya Austin tanpa menatap nyonya Bellkegiah


Wanita yang ditanyakan pun terlihat bangga, ia segera menjawab dengan wajah pongahnya. Wanita itu seakan mengatakan kenapa Sandra kalau dirinya yang lebih pantas bersama tuan mudaGadis — Cooper.


"Iya," jawabnya dengan tersipu malu.


"Hum! Katakan kepadanya, kalau pertemuannya di tunda," pungkas Austin.


Pria itu kembali akan menarik pergelangan Sandra. Namun mommy dari bayi Aurora itu menghentikannya.


"Ada apa?" Tanya Austin.


Sandra mengambil alih bayinya dan tersenyum indah kepada Austin


"Lakukan kegiatan anda. Biarkan saya berjalan sendiri menuju gubuk kami." Sandra persilahkan Austin untuk mengurus urusan penting.


Tidak mungkin Sandra terus-menerus merepotkan tuan muda Cooper.


Sandra tahu diri dan harus menempatkan dirinya di mana.


"Tidak!" Tolak Austin dan memandangi nyonya Belleza kesal.


"Daddy saya sejak tadi menunggu anda, tuan," timpal nyonya Belleza.


Wanita itu tidak akan rela pria incarannya menjadi milik Sandra, yang menurutnya adalah seorang wanita miskin.


Nyonya Belleza melirik Sandra dengan bibir mencibir dan mata sinis. Ia memperlihatkan keunggulannya kepada Sandra.


"Pergilah tuan, saya akan berjalan sendiri." Sandra mencoba membujuk tuan muda Cooper tersebut yang ternyata begitu keras kepala.


"Anda bisa menyusul nanti," lanjutnya dengan wajah ramah.


Austin pun menghela nafas pasrah. Ia tidak mungkin terlalu berlebihan kepada Sandra, takut wanita yang ia sukai jengah kepadanya.


"Baiklah," sahut Austin dengan wajah kesal.


Pria itu melirik kembali ke arah nyonya Belleza yang terlihat tersenyum senang.


"Cih, menggelikan," batin Austin.


Sandra menatap punggung pria penyelamatnya itu yang terlihat menghindar dari nyonya Belleza yang lebih agresif.


Sandra memutar tubuhnya dan melanjutkan langkah untuk sampai ke rumah sederhana nenek Grace.


Sandra berjalan dengan wajah bahagia, sesekali ia melihat bayinya yang begitu tenang. Para warga pulau yang melihat kepulangan Sandra dengan sang bayi hanya menatap sinis juga mencibirnya.


Sandra tidak menghiraukan tatapan sinis mereka juga cibiran para tetangga nya yang tidak pernah menyukainya.


Sandra berhenti tepat di depan rumah nenek Grace, senyum pun terbit dari wajahnya dan menundukkan kepalanya, berisik kepada sang bayi.


"Kita sudah sampai di rumah nenek, nak," bisiknya dengan wajah bahagia.


Sandra pun segera berjalan cepat memasuki rumah sederhana itu. Yang sudah menjadi tempat tinggalnya beberapa bulan belakangan ini.


"Nenek!" Sandra berteriak dengan wajah begitu bahagia dan terlihat kerinduan di tatapan matanya.


"Nenek!"


"Nenek, aku pulang."


"Nenek!


Sandra yang memanggil sang nenek dan tidak mendapatkan sahut, merasa aneh. Ia pun terlihat tegang dan Panik.


Ia berjalan memasuki kamar nenek Grace dan berharap wanita tua itu berada di dalam kamarnya.


Namun hanya kesunyian dan tidak terlihat wanita tua itu di sana. Kamarnya pun terlihat begitu rapi.


Sandra tercengang, ia menaruh bayinya di atas ranjang dan mencoba mencari nenek Grace.


"Nona Sandra."