Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 36



Menempuh perjalanan laut, selama sehari semalam. Kini Sandra telah tiba di satu kota yang terletak di negara tetangga, tempatnya berasal.


Sandra kini melakukan pemeriksaan identitas sebelum keluar dari area kapal. Sandra, Aurora dan gadis bersamanya kini berdiri di loket pemeriksaan identitas mereka.


Beruntung, paspor yang Sandra miliknya masih berlaku, sedangkan identitas putrinya ia hanya mengandalkan surat keterangan dari rumah sakit. Begitu juga dengan gadis yang bersamanya, melakukan pemeriksaan agar bisa hidup aman di negara asing.


Ketiganya kini sudah berada di area pelabuhan internasional kota indah juga ramai itu. Garcia terlihat mengajak Sandra berjalan ke arah bus kota yang akan mengantar mereka ke sebuah desa yang ada di pinggiran kota indah itu.


"Apa kamu yakin mengetahui letaknya?" Tanya Sandra, saat mereka berada di dalam bus.


Gadis itu mengangguk yakin sambil memainkan jari-jari mungil Aurora yang sejak tadi terbangun.


"Nenek Grace dan kekek Benjamin, pernah mengajakku kesini," ujar Garcia.


"Benarkah?!


"Hum! Dan kita akan tinggal di desa indah. Letaknya di pinggiran kota. Mungkin kita akan melalui sekitar satu jam perjalanan." Garcia terus menjelaskan kepada Sandra, tentang kehidupan di tempat tinggal baru mereka dan keadaannya.


Sandra hanya diam sambil menatap gadis manis yang, duduk di sampingnya ini.


"Disana, nona bisa merangkai bunga. kata nenek, nona sangat pandai merangkai bunga? Apa nona tahu? Desa itu dipenuhi oleh bunga indah." Gracia kembali menerangkan dengan wajah ceria.


"Bisakah, kamu tidak memanggilku nona. Sekarang kita sama-sama tidak memiliki keluarga dan kita akan hidup bersama, jadi, mulai sekarang panggil aku kakak," timpal Sandra. Tidak lupa ia tersenyum hangat kepada gadis di sampingnya itu.


Gracia yang merasa terharu dengan perkataan Sandra. Segera gadis remaja memeluk Sandra.


"Sekarang kita akan memulai kehidupan baru kita bertiga. Dengan, keluarga baru, tempat tinggal baru dan kehidupan baru," ucap Sandra.


"Mulai sekarang, kakak adalah keluarga kamu. Kita akan memulai kembali kehidupan kita." Sandra berkata begitu tulus. Membuat Gracia begitu terharu.


"Terimakasih!" Ucap gadis manis itu dengan lirih. Air matanya pun sudah mengalir membasahi wajahnya yang cantik juga manis.


"Hum, berhentilah menangis. Mulai sekarang hanya ada canda tawa di kehidupan baru kita," sela Sandra penuh semangat.


"Baiklah, aku berjanji akan selalu ceria dan menyayangi kalian." Garcia segera memeluk Sandra dan baby Aurora.


Sepanjang perjalanan mereka melaluinya dengan ceria. Keduanya bermain dengan Aurora yang mulai mengeluarkan kata-kata lucu, meskipun sekali-sekali.


Sandra memandangi sekitar jalanan yang mereka lalui, begitu indah dan menyejukkan yang dapat ia lihat sepanjang jalan. Jalanan terlihat masih ditutupi kabut putih, meskipun hari sudah menjelang siang.


Tidak lama kemudian, mereka pun tiba di sebuah desa yang terlihat asri. Pemandangan di sekitar dikelilingi bukit-bukit indah dan rumah-rumah sederhana.


Terdapat juga sungai kecil dengan air jernih, Sandra merasa terlahir kembali saat merasakan kesejukan di desa tersebut.


Kini ketiganya sudah berdiri di depan bangunan rumah bertingkat dua. Bangunan rumah khas pedesaan Eropa.


Sandra menghirup udara asri dan menyejukkan itu dengan senyuman indah terlihat di wajahnya. Ia memandangi rumah pemberian nenek Grace juga kakek Benjamin.


Tidak ada kata satu yang mampu Sandra ucapkan selain, terimakasih. Ternyata hidupnya masih beruntung dan dipertemukan dengan orang baik hati.


"Kakak!" Panggil Gracia.


Sandra menoleh dan tersenyum bahagia. Baby Aurora juga terlihat bahagia berada di lingkungan baru juga indah ini.


"Kita masuk kak!" Ajak Gracia dengan perasaan riang.


"Tempat ini sungguh indah!" Seru Sandra terpesona dengan rumah baru mereka.


"Nenek Grace terlahir di desa ini, beliau pindah setelah menikah dengan kakek," jelas Gracia.


"Begitukah!" Seru Sandra, merasa tertarik dengan kisan nenek Grace dan kakek Benjamin.


"Hum! Sekarang apa rencana kakak?" Tanya Gracia.


"Bagaimana, kalau kita membuka toko bunga," Sandra berkata dengan antusias.


"Rencana yang bagus. Nenek sudah menyiapkan ruangan kosong di depan sana," sahut Gracia sambil menunjuk ke arah luar.


"Kita akan membeli bunga milik warga," lanjut Gracia.


"Terus merangkainya," sambung Sandra begitu bersemangat.


"Hum. Tempat ini terkenal dengan tempat indahnya, para wisatawan sering berdatangan," ucap Gracia.


"Benarkah?!


"Hum! Desa ini memiliki destinasi wisata pegunungan indah. Tidak jauh dari sini ada resort terkenal. Mereka selalu memesan bunga dari penduduk desa dan merangkainya sendiri." Gracia menerangkan semua keadaan tempat tinggal baru mereka.


Sandra terdiam, kini dalam pikirannya hanya dipenuhi rencana masa depan mereka.


Tidak seperti di pulau, dirinya harus terus mendengarkan cibiran mereka dan gunjingan sekitar tempat tinggalnya.


"Sebaiknya, kita beristirahat dan esok hari kita akan mengelilingi desa ini," timpal Gracia.


Gadis itu kini berjalan ke arah tangga, sambil membawa baby Aurora. Sandra masih terdiam. Ia akan memantau sekitar rumah juga di dalam rumah.


……..


Satu jam, setelah kepergian Sandra dari pulau. Austin yang sudah merasa muak berada di dekat keluarga nyonya Belleza, meninggalkan restoran itu dengan wajah muak.


Pria itu berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Sandra, agar bisa menemukan rumah sederhana milik wanita pujaannya.


Sambil berjalan Austin bersungut-sungut kesal. Tampak penduduk yang melihat pria rupawan berjalan ke arah rumah Sandra, mereka terkagum dengan ketampanan pria itu.


Sementara nyonya Belleza, yang mengikuti dari belakang. Wanita itu masih berusaha menjerat tuan muda Cooper dengan cara liciknya.


Beruntung, Austin mengetahui dan segera pergi setelah mengeluarkan amarahnya.


"Anda tahu dimana Sandra dan putrinya tinggal?" Tanya pria itu kepada salah satu penduduk.


Wanita tua yang ditanya pun menoleh ke arah nyonya Belleza, wanita itu menggertaknya agar tidak memberitahukan kepada Austin, dimana Sandra tinggal.


"Bibi Sandra, tinggal di rumah itu paman!" Seru anak perempuan kecil.


Sambil menunjuk ke arah depan. Dimana rumah sederhana itu berada.


Austin pun berterima kasih dan memberikan imbalan beberapa uang kepada anak kecil itu.


Nyonya Belleza hanya bisa mengumpat dan mengancam wanita itu dengan anaknya.


Austin segera mendekati rumah Sandra dengan wajah penuh bahagia, namun, seseorang menghentikan langkahnya.


"Anda mau kemana tuan?" Tanya pria yang berada di belakang Austin.


Austin membalikkan badannya dan menatap pria tua di hadapannya. Sambil menjawab pertanyaan pria tersebut.


"Menemui Sandra dan bayinya," jawab Austin dengan wajah datar.


"Mereka sudah pergi," sela pria itu.


Austin terkejut, namun dia tidak akan percaya begitu saja. Pria tampan itu berjalan menuju depan pintu rumah sederhana Sandra.


Austin mencoba memanggil Sandra dan membuka pintu rumah Sandra dengan paksa.


"Mereka sudah pindah tuan!" Seru pria itu kembali.


"Sejak kapan?" Tanya Austin yang raut wajahnya terlihat emosi.


"Satu jam yang lalu," jawab pria itu dengan kepala menunduk. Pria di depannya begitu menakutkan.


Sedangkan nyonya Belleza tampak gemetar takut, melihat tatapan tajam pria pujaannya. Tatapan penuh kehancuran dan ancaman.


"Kemana dia pergi."


"Saya tidak tahu, tapi seorang gadis membawanya untuk meninggalkan pulau," jelas pria tua itu.


"Sial!" Austin mengerang tertahan.


Kini tatapannya kembali tertuju kepada nyonya Belleza, bersamaan sebuah mobil mewah bergerak mendekati mereka.


"Tuan," sapa pria bersetelan rapi yang keluar dari mobil mewah.


Tanpa banyak berkata-kata, Austin memasuki mobil mewah miliknya. Namun sebelum itu, ia memberikan perintah untuk menghancurkan usaha nyonya Belleza juga seluruh keluarganya.


"Kita ke pelabuhan kota!" Titah Austin.


Pria itu berharap belum terlambat untuk bertemu dengan Sandra juga bayi Aurora.


"Cepatlah!" Pekik Austin tidak sabar.


Sementara nyonya Belleza kini terlihat terkejut saat mendengar perintah Austin. Tidak lama kemudian, terdengar suara ledakan yang berasal dari restoran miliknya dan disusul amukan si jago merah.


Nyonya Belleza segera berlari ke restoran mewah miliknya, ia terlihat linglung melihat restorannya di lahap si jago merah dengan begitu cepatnya.


"T-tidak."


"Tidak … tidak …."