
"Hiduplah bersama ku, maka aku akan memenuhi hidupnya dengan cinta dan kasih sayang. Bukan itu saja, aku juga akan menyayangi putri kita." Austin menatap dalam mata jernih Sandra. Pria itu menangkup kedua wajah wanitanya lembut dan menempelkan kening keduanya.
Sandra memejamkan mata, merasakan hangatnya bibir Austin yang menempel di keningnya.
Sandra menjauhkan wajahnya dan mendongakkan sedikit kepala, menatap pandangan penuh cinta pria di hadapannya ini.
Sandra menyentuh wajah rupawan itu dan tersenyum. Ia begitu beruntung bisa dicintai oleh pria seperti Austin.
"Aku tidak pantas untukmu, aku hanya wanita penuh masa lalu kelam dan juga hidup begitu rumit." Sandra mengubah posisi dengan kembali memunggungi Austin.
Sandra memeluk kedua sisi pundaknya erat, malam semakin larut juga cuaca begitu sangat dingin.
Sandra menghembuskan nafas ke udara, hingga terlihat asap putih keluar dari mulutnya.
Ia tersentak, saat merasakan kembali kedua tangan kekar itu memeluk pinggangnya dan merasakan ciuman hangat Austin di ceruk leher jenjangnya.
"Aku tidak peduli dengan semua itu. Bagiku memilikimu sudah cukup. Aku menginginkan dirimu, bukan masa lalumu ataupun keterpurukan mu." Austin, berbisik tepat di ceruk leher Sandra.
Membuat wanita itu, menggenggam erat pundaknya sendiri. Merasakan sensasi menyenangkan di dalam dirinya.
"Aku wanita yang penuh masalah, aku juga tidak tahu, apakah keluargamu bisa menerima kami," Sandra membalikkan kembali tubuhnya dan kini mereka saling berhadapan.
Austin mengecup singkat bibir Sandra dan menjawab ucapan wanitanya itu.
"Aku tidak peduli masalahmu dan aku juga tidak peduli dengan tanggapan mereka. Karena yang menginginkanmu adalah aku, bukan mereka." Austin membuat Sandra tidak bisa mengucapkan kata-kata, ia masih menatap pria tampan di hadapannya dengan lekat.
"Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik dariku," sahut Sandra dengan kedua kelopak matanya mulai berkilau oleh genangan air mata.
Austin tersenyum, sebelum mengatakan sesuatu. Pria itu mencium kedua kelopak mata Sandra yang refleks tertutup dan air mata kini membasahi kedua pipinya.
"Wanita memang banyak yang menginginkan ku, namun aku hanya membutuhkan dirimu dan mencintaimu. Aku bahkan menanti selama enam tahun dan itu sungguh membuatku gila." Pria itu berkata dengan kesungguhan hati yang sangat besar.
Sandra bahkan, bisa melihat cinta tulus di kedua mata teduh Austin. Ia begitu tersentuh dan merasakan kehangatan. Apakah ia harus menarik kembali sumpahnya? Dan membuka kembali hati yang sempat terluka? Untuk pria tulus di hadapannya ini, yang selalu ada untuk dirinya dan sang putri.
Tiba-tiba Sandra terkejut, saat Austin kini berlutut di depannya dengan sebuah kotak cincin di telapak tangan pria itu dan Sandra menganga melihat sebuah cincin berkilau di sana.
Sandra tercengang, ia menatap Austin dengan tatapan kebingungan juga merasa linglung.
"Apa yang kau …."
"Menikahlah denganku," potong Austin. Membuat Sandra semakin terkejut.
"Aku tahu, kau masih menutup rapat pintu hatimu untuk seorang pria, aku tahu luka itu masih ada, aku tahu masa lalu seperti apa, dan aku tahu, kau begitu menderita.
"Maka, terimalah permintaan pria yang mungkin bagimu tidak pantas untuk dirimu. Aku berjanji akan selalu mencintaimu, menyayangimu juga putri kita. Aku tidak peduli semua tentang masa lalumu, yang aku inginkan hanya … engkau terima cinta dan lamaran ku." Austin berkata dengan pandangan berharap.
Sementara Sandra masih diam sambil menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir membasahi kedua pipi.
Austin sendiri kini berdebar-debar menunggu jawaban, Sandra dengan kepala masih mendongkak.
Lama terdiam, akhirnya Sandra mengangguk samar dengan senyum yang ceria bercampur tangisan.
Sandra hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan erat Austin yang sekarang adalah, kekasihnya.
"Terimakasih!" Bisik Austin lirih, tepat di depan wajah Sandra.
Sandra mengangguk dengan kepala menunduk dan kedua tangannya berada di pundak Austin. Dahinya kini menempel di bibir pria-nya sekarang.
"Aku mencintaimu," bisik Austin lagi. Ia meraih dagu kekasihnya, hingga tatapan mereka kini kembali sejajar.
Sandra membuka matanya yang terpejam, merasakan sentuhan hangat nafas Austin di permukaan kulit wajahnya.
"Aku bahkan sangat, sangat, mencintaimu, baby," lanjut Austin.
Pria tampan itu, kembali mengatup, wajah Sandra. Mempertemukan hidung mancung keduanya.
"Aku tahu," ucap Sandra, yang sengaja menggesekan hidungnya di hidung mancung Austin.
"Kau tidak ingin mengatakan cinta kepadaku, baby?" Ujar Austin dengan tatapan menunggu dan mengharap.
Sandra terdiam, memandangi wajah rupawan prianya ini. Wajah yang sangat tampan, yang membuat para wanita terjatuh dalam pesona rupawan prianya ini.
"I love you too!" Bisik Sandra lembut yang wajahnya begitu dekat dengan wajah Austin.
Pria itu bahkan terlihat menutup matanya dan merasakan ucapan cinta dari wanitanya.
"I love more, honey," balas Austin.
Kembali mereka saling menatap, hingga tidak terasa bibir keduanya kini saling menempel. Sandra sudah kembali memejamkan mata, merasakan kelembutan bibir pria-nya itu yang begitu hangat.
Sandra membuka mulutnya sedikit, saat Austin mulai ******* bibir bagian bawahnya dengan kelembutan yang begitu, memabukkan.
Kedua tangan kekar Austin kini, berada di tubuh kekasih sambil, merapatkan tubuh mereka.
Larut dalam kenikmatan saling membelit lidah dan mengecup bibir, keduanya harus menghentikan suasana romantis yang menyenangkan itu, saat Sandra dan Austin, mendengar rengekan — Aurora.
Mereka memisahkan tubuh dan saling memandang juga melemparkan senyuman. Austin mendaratkan kecupan di kening kekasihnya, sebelum Sandra masuk kedalam menemui putrinya itu.
"Mommy!" Seru Aurora yang terlihat cemas dan ketakutan.
Sandra segera berlari mendekati putrinya itu dan memeluknya.
"Hey, ada apa sayang?" Tanya Sandra sambil mengusap punggung mungil putrinya.
Aurora tidak menjawab, ia hanya memeluk tubuh sang mommy begitu erat.
"Apa kau bermimpi?" Tanya Sandra kembali.
Putrinya mengangguk dan Sandra tersenyum. ia memandangi wajah putrinya yang terlihat masih mengantuk.
"Tidur lah lagi! Mommy akan menemanimu," ucap Sandra dan membimbing putrinya itu kembali berbaring.
Aurora memeluk mommynya begitu posesif dan Sandra setia menepuk punggung putrinya lembut. Tidak lama ia merasakan nafas teratur putrinya yang menandakan, Aurora sudah kembali tidur.
Sandra berniat untuk menyusul putrinya terlelap, ia berpikir pria yang baru saja melamarnya sudah kembali.
Namun ia kembali terkejut, saat merasakan kecupan lembut di pipinya dan tangan yang melingkar sempurna di pinggang rampingnya.
Austin kini bergabung tidur di ranjang pasien milik Aurora yang muat untuk tiga orang.
Pria itu mengecupi leher kekasihnya, setelah menyingkirkan rambut Sandra ke arah lain.
"Kau, belum kembali?" Sandra bertanya sambil menggenggam telapak tangan besar, Austin yang berada di perutnya.
"Aku tidak akan bisa jauh darimu, honey," bisik pria tampan itu dengan suara dalam nan berat.
Ia masih betah, meletakkan wajahnya di tengkuk kekasihnya sambil menghirup wangi manis, wanitanya itu.
"Tidurlah, bukankah besok kau akan bekerja?" Sandra bagaikan seorang istri yang begitu lembut, penuh kasih sayang menyuruh kekasihnya itu untuk tidur.
Austin pun menurut, memejamkan matanya dengan senyum mengembang. Malam ini ia akan tertidur lelap dengan damai, saat mendapatkan cinta terbalaskan dari wnqitanya.