
Dengan sedikit kasar, para petugas sel tahanan wanita mendorong punggung Sandra, ke dalam sebuah sel tahanan khusus — bagi, para tahanan yang mendapatkan hukuman.
"Kau, akan berada di sini, selama 24 jam. Terima hukumanmu!" Seru petugas itu dengan wajah mencibir.
Setelah menyampaikan sebuah titah dengan wajah mengejek, wanita itu menutup pintu besi itu.
Sandra hanya bisa diam dengan menelisik ruangan remang-remang di sekitarnya. Ruang yang sangat kecil juga pengap. Udara di dalam sana begitu panas, hanya ada celah sedikit saja yang membuat udara masuk dan Sandra bisa sedikit menghirup udara.
Wanita itu membuka pakaian tahanan yang ia kenakan, menyisakan sebuah bra sport dengan memamerkan perut besarnya.
Tidak terdapat apapun di dalam ruangan itu, hanya sebuah ruangan kosong juga kotor.
Tanpa memperdulikan kondisi juga keadaan di sekelilingnya, Sandra mengibaskan pakaian ia kenakan ke atas lantai, lalu ia berbaring di sana dengan menggunakan selembar pakaian tahanan yang sudah lusuh.
Sandra menatap langit-langit ruangan itu yang terdapat beberapa sarang laba-laba. Sandra merenungi nasibnya yang begitu sulit.
Salah satu telapak tangannya, terulur di atas perut besarnya, mengelus penuh kasih sayang juga cinta.
Sandra hanya bisa berdoa dan berusaha, agar hidup putrinya tidak begitu menyedihkan seperti dirinya.
Sandra tidak masalah tidur di tempat sekarang ia berada. Nyatanya, sejak kecil ia sudah bersama dengan kegelapan juga hidup terlantar.
Sandra kecil, bahkan pernah tidur di sebuah terowongan kotor, dimana semua hewan terkenal menjijikkan berada di sana.
Sandra kecil, hanya bisa menangis dalam diam dengan memeluk dirinya sendiri. Tidur di tempat begitu kotor.
Ia bahkan tidak makan dalam waktu dua hari, Sandra kecil akan bersembunyi di balik tempat sampah restoran mewah, hanya untuk mencari sepotong roti sisa atau secuil makanan sisa yang dibuang.
Demi mengisi perutnya yang begitu lapar.
Berulang kali Sandra kecil, mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang kalangan atas atau ia akan terusir kasar saat pemilik restoran mengetahui keberadaannya.
Sejak kecil Sandra terkenal, kuat dan tangguh, terbukti ia tidak pernah menangis atau meminta di depan orang banyak.
Sandra kecil akan menawarkan tenaganya di sebuah kedai kecil di kotanya, beruntung pemilik kedai kecil itu, merasa bersimpati kepada Sandra kecil, ia pun memberikan pekerjaan sebagai pencuci piring di kedai tersebut juga memberikan Sandra tempat tinggal di rumahnya.
Namun itu tidak bertahan lama, karena istri juga pemilik kedai itu tidak menyukai kehadiran — Sandra, yang menurutnya sebagai benalu.
Sandra pun kembali terusir, ia pun menyusuri jalan kota besar itu dengan tanpa alas kaki ataupun uang sedikitpun.
Sandra kecil, mencoba kembali ke rumah peninggalan kedua orang tuanya yang dihuni oleh sang paman yang merupakan adik ayahnya itu.
Bukannya mendapatkan tangan terbuka juga pelukan hangat yang sangat dibutuhkan — Sandra kecil yang masih berusia 10 tahun itu, namun sebuah cacian juga kekerasan yang ia dapatkan.
Sang paman juga tega mengirimkannya ke sebuah panti asuhan, setelah sang paman mengambil alih seluruh harta peninggalan kedua orang tuanya.
Sandra kecil pun hidup di lingkungan panti asuhan. Ia mendapatkan tempat tidur kayak di sana, juga makanan yang enak. Bukan itu saja, Sandra bisa melanjutkan sekolahnya.
…..
Tidak terasa air mata Sandra menetes, saat mengingat masa-masa kecilnya yang begitu sulit.
Ia hanya bisa berharap, kelak sang buah hati tidak hidup seperti dirinya.
"Mommy, akan selalu memberikan kehidupan lengkap juga layak kepadamu. Mommy tidak akan membiarkanmu hidup seperti, mommy."
"Kamu, harus hidup bahagia. Dan mommy bersumpah, akan memberikan kebahagiaan itu."
"Mommy, rela kehilangan sebagian anggota tubuh mommy, agar bisa membuatmu bahagia. Mommy, bahkan rela menyelami lautan untuk membawamu ke kehidupan layak."
Sandra terus mengelus perutnya dengan suara isakan lirih sambil mengajak sang buah hati di dalam rahimnya itu.
Sandra merasakan sebuah tendangan kuat dari janinnya itu, disusul dengan rasa nyeri di sekitar pinggang hingga ke perutnya.
Sandra menggigit bibir bawahnya, guna menahan rasa sakit tersebut.
"Apa ini yang dikatakan nenek? Kalau tanda-tanda, kelahiran akan terasa menyakitkan."
Kembali Sandra mendesis menahan rasa sakit kembali di perutnya. "Akh! Sakit," desis Sandra sambil mencoba bangun dan menyandarkan punggungnya di tembok ruangan itu.
"Apa ini saatnya kamu keluar, nak. Atau ini karena mommy, kelelahan," gumam Sandra yang masih mengelus perutnya.
Kejadian demi kejadian yang Sandra alami seharian ini membuatnya begitu lelah. Namun pantang baginya untuk mengeluh kesah.
"Akh!" Teriak Sandra tertahan, saat merasakan sakit begitu dahsyat.
"Astaga, nenek ini begitu sakit," gumamnya sambil menggenggam kuat, kedua telapak tangannya sendiri.
Keringat dingin kini membanjiri wajah merah Sandra, wajahnya pun terlihat begitu tegang, saat lagi-lagi, merasakan rasa sakit itu.
Sandra mengatur nafasnya, yang sering nenek Grace ajarkan. Sandra juga memperbaiki posisi duduknya dengan nyaman dan lagi-lagi berteriak dengan mulut tersumpal kain tahanan.
"Nenek, sakit!" Ucapnya lirih dengan dada naik turun dengan cepatnya, mengatur nafas saat refleks — Sandra mengejan.
Sandra terus mengurut bagian pinggang belakangnya, dengan wajah yang begitu menahan rasa sakit.
"OH Tuhan!" Seru Sandra yang kembali berteriak tertahan.
"Nenek," panggil Sandra lirih.
Sandra begitu terkejut, saat melihat cairan bening mengalir dari pangkal pahanya, begitu banyak, bersamaan rasa sakit yang begitu tak tertahankan membuat, Sandra berteriak kencang.