
"Sayang!" Sandra berlari mendekat ke putrinya yang sudah mendapatkan perawatan dari pihak medis.
Aurora yang sedang berbincang dengan Erland menoleh, ke asal suara. Gadis itu tersenyum dan rentangkan kedua lengannya.
"Mommy!" Seru si cantik Aurora.
Erland yang sejak tadi menemani gadis kecilnya itu, berdirinya dan menjauh. Memberikan privasi untuk ibu dan anak itu.
Austin juga ikut keluar, setelah meminta izin kepada wanita muda dan meninggalkan satu kecupan.
Sandra kini memegang kedua telapak tangan mungil putrinya dan menatap lekat wajah Aurora yang terdapat banyak luka memar.
Aurora memindai wajah sang mommy, dengan jari-jari mungilnya.
"Apa ini terasa sakit?" Tanya Sandra, mengecup bekas luka di kening putrinya.
Aurora menggeleng sambil tersenyum, gadis kecil itu mengajak sang mommy untuk duduk bersama di atas ranjang pasien.
Sandra menurut, ia segera merangkul hangat putrinya dengan kecupan tidak hentinya ia berikan di puncak kepala sang putri tercinta.
"Tidak, ini sama sekali tidak sakit. Bukankah, mommy mengajari aku untuk selalu kuat? Jadi aku mencoba menahan rasa sakitnya," ucap polos Aurora.
Sandra tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil sang putri.
"Maaf, maafkan mommy membuatmu ketakutan dan harus mengalami peristiwa mengejutkan hari ini," bisik Sandra dengan wajah penuh sesal.
Sandra merasakan lalai untuk menjaga putrinya dan membuatnya merasa bersalah dan lalai, tidak berguna menjadi seorang ibu.
Aurora menjauhkan kepalanya di dada sang mommy, mendongak ke atas tepat, di depan wajah wanita yang begitu ia sayangi itu. Menyentuh dengan penuh cinta, wajah sang mommy.
"Tidak, mommy. Aku begitu beruntung memiliki mommy yang rela melakukan apapun hanya untuk melindungiku," sahut Aurora dengan senyum manis.
Sandra semakin terharu dengan ucapan kasih sayang putrinya. Ia begitu beruntung, memiliki putri cantik dalam pelukannya itu.
"Apa mereka keluarga kita?" Pertanyaan Aurora membuat Sandra terkejut.
Sandra melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah cantik putrinya itu.
"Apa mereka mengatakan sesuatu?" Sandra berbalik, bertanya.
"Tidak! Aku hanya merasakan mereka adalah, keluarga," jawab Aurora deh wajah sendu.
Sandra menghela nafas sesaat, ia hari mengatakan yang sebenarnya kepada putrinya yang begitu peka dan genius ini.
"Mereka, nenek dan kakek biologis kamu, nak," ucap Sandra. Wanita itu menatap putrinya yang terlihat terkejut.
"Tapi mengapa mereka ingin melukai kita, mom?" Pertanyaan polos putrinya, membuat Sandra tersenyum miris.
"Entahlah, mereka menginginkan sesuatu darimu," jelas Sandra yang kembali memeluk putrinya.
"Mereka menginginkan apa? Kita tidak memiliki harta berharga," sela si cantik Aurora.
"Mereka menginginkan kamu sayang," bisik Sandra.
Aurora terlihat terkejut, hingga menjauhkan wajahnya dari pelukan sang mommy.
"Kenapa?" Tanya gadis mungil itu dengan wajah terkejut.
"Apa mereka ingin memisahkan aku dengan mommy?! Sentak Aurora dengan wajah ketakutan.
"Itu tidak mungkin terjadi, nak. Mereka tidak akan memisahkan kita. Kamu hanya putriku, akan selalu seperti itu," bisik Sandra dan memeluk tubuh mungil Aurora.
"Aku tidak ingin berpisah dengan, mommy," si cantik Aurora terdengar terisak dengan wajah ketakutan.
"Tidak, itu tidak akan terjadi sayang," sahut Sandra.
"Mereka akan melangkahi mommy terlebih dahulu, sebelum berhasil mengambilmu," gumam Sandra.
Wanita itu pun masih begitu ketakutan berpisah denganmu putrinya. Peristiwa yang mereka alami hari ini, membuat Sandra begitu trauma juga ketakutan
pintu terbuka dari luar, sosok bocah laki-laki masuk dengan wajah panik. Sandra tersenyum kepada Lewis. Pria kecil itu begitu takut sesuatu terjadi, kepada saudarinya.
"Dia tidak apa-apa," ucap Sandra, mengusap kepala putra Cindy itu.
"Lewis!" Seru Aurora mengajak saudara laki-lakinya itu untuk bergabung bersama mereka.
Wanita itu meneteskan air matanya dan tiba-tiba, sosok pria dengan jas putih berdiri di belakang Cindy.
"Permisi!" Seru dokter berwajah tampan dan bersahaja itu.
Cindy terkejut dan segera menggeser tubuhnya yang menghalangi pintu masuk ke kamar pasien yang Aurora tempati.
"Maaf, dokter," ujar wanita itu sambil tersenyum kikuk.
Sang dokter tampan dengan kacamata bertengger di hidungnya itu pun melewati Cindy yang masih terpaku di tempatnya.
Ia berulang kali menelan salivanya, saat melihat wajah tampan sang dokter. Wajah yang begitu sejuk dan ramah.
"Selamat malam, cantik!" Sapaan suara berat, membuat Sandra dan kedua bocah di sisinya menoleh.
"Hai, selamat malam dokter Frans," balas Sandra.
Pria itu membalas dengan senyum begitu tampan dan ramah.
Austin yang baru datang, segera mendekati Sandra dan menatap pria di depannya yang sedang tebar pesona itu tajam.
"Jangan, terlalu banyak tersenyum kepadanya!" Titah sang pria posesif.
Dokter tampan itu pun hanya membalasnya dengan cibiran dan wajah jengah, melihat sikap posesif sahabatnya ini.
Ia pun beralih menatap Aurora yang masih bermain dengan pria kecil di sampingnya.
"Hai, gadis cantik!" Sapanya kepada Aurora.
"Hai, paman dokter."sahut Aurora dengan wajah ceria.
"Bisakah, anda bersikap biasa saja!" Suara berat nan dingin terdengar menginstruksi.
"Dia tidak akan tertarik dengan wajah anda, jadi berhentilah bersikap manis kepadanya," lanjut remaja yang masuk ke kamar pasien Aurora dengan raut tidak suka.
Apalagi Aurora begitu ceria mendengar sapaan dokter tampan di depannya ini.
Sang dokter hanya bisa menghela nafas, pria itu harus berhadapan dengan para pria-pria posesif.
…..
Di tempat lain.
Suara kekacauan terdengar di salah satu kamar di rumah sakit. Suasana terlihat begitu mencekam.
Apalagi sosok pria berusia 50 tahun itu, kini menatap sang istri dengan tatapan kecewa dan sakit hati.
Seluruh kota begitu gempar dengan beredarnya sebuah rekaman video dan beberapa foto-foto adegan asusila yang diperankan, oleh sosok yang selama ini di sanjung dan hormati.
Taun Louis menatap jauh ke depan di ruangannya. Setelah mendapatkan kabar dengan penggelapan uang perusahaan yang dilakukan sang istri, membuat perusahaan yang selama ini ia bangun, seketika hancur.
Tuan Louis harus berpikir keras untuk mendapatkan uang untuk mengganti saham rekan bisnisnya.
Belum lagi tuan Louis harus menerima berbagai penolakan kerjasama atas video sang istri yang sedang viral di dunia maya dan media.
Para rekan yang melakukan kerjasama sebelumnya kini, menarik semua saham mereka.
Hancur sudah semua usaha dan kerjasama yang selama puluhan tahun ia bangun, hanya karena sang istri.
Putra semata wayang yang ia harapkan, kini hanya meratapi nasib keluarganya, tanpa ikut berpikir untuk mengembalikan nama baik keluarga Louis.
Padahal semua biaya rumah sakit dan pengobatan putrinya, berasal dari uang tuan Louis.
Pria yang masih terlihat gagah itu, kini merenungi semua kesalahannya. Pria itu menganggap ia sudah lalai, membangun keluarga yang harmonis.
Lalai dari tanggung jawab, sebagai seorang suami dan ayah. Hingga sikap putranya tidak memiliki perasaan empati dan tanggung jawab.
Apalagi kesalahan kelam sang istri, membuat pernikahan mereka mendapat kutukan juga sumpah dari salah satu keluarga yang mereka hancurkan hidupnya.
Hingga kini kutukan itu berangsur-angsur melanda keluarganya hingga kini hanya menyisakan penjelasan.
"Aku begitu payah dan pecundang." Gumam pria yang begitu terlihat kacau. Tanpa siapapun yang kini bisa menghiburnya