
"Nona Sandra!" Seruan suara lembut di belakangnya, membuat Sandra segera berbalik.
Wanita dengan penampilan rambut pendek itu, mendapati seorang gadis remaja di sana. Tatapan Sandra terlihat bingung juga penasaran.
Ia lantas melayangkan pertanyaan untuk mengetahui siapa sebenarnya gadis di hadapannya ini.
"Kamu siapa?" Sandra bertanya dengan tatapan lekat.
Gadis berusia 17 tahun, bergerak mendekati Sandra dengan senyum ramah. Gadis yang memiliki, tubuh mungil, wajah cantik dan manis.
"Perkenalkan, saya Garcia Steward," ujar gadis cantik dengan tangan terulur ke arah Sandra.
Sandra masih tercengang dengan kehadiran gadis asing di kediaman, nenek Grace. Tatapan mata Sandra menelisik penampilan gadis manis di hadapannya dengan begitu seksama.
"Saya cucu angkat, nenek Grace," sela gadis manis itu, tiba-tiba. Gadis bertubuh mungil itu mengerti raut kebingungan — Sandra.
Sandra masih terdiam, ia mencerna dengan apa yang dikatakan gadis mungil di depannya.
"Saya tinggal di pulau sebrang," lanjut gadis pemilik manik hijau dengan terus tersenyum ramah.
"Kakek Benjamin dan nenek Grace, mengirim saya kesana untuk melanjutkan pendidikan," ungkap gadis itu kembali.
"Nen —"
"Nenek Grace di mana?" Sandra memotong ucapan gadis itu saat, mengingat nenek Grace.
Entah mengapa, raut wajah gadis dengan tampilan sederhana itu terlihat gelisah. Ia meremas ujung bagian bawah pakainya dan menggigit bibir bawahnya. Tampak sekali gadis cantik, menyimpan sesuatu penting.
"N-nenek —" Garcia terlihat begitu gugup, hingga terdengar menyampaikan sesuatu dengan nada terbata.
Bahasa tubuh gelisahnya, tidak luput dari tatapan tajam Sandra. Wanita satu anak itu, merasakan hal aneh juga firasat buruk.
"Katakan!" Pinta Sandra. Nada ucapnya terdengar dingin.
"Katakan!" Sentak Sandra menaikkan beberapa oktaf suaranya.
"N-nenek … menitipkan ini kepada anda." Garcia yang terlihat ketakutan dengan bentak Sandra, segera menyerahkan sebuah map biru.
Sandra menerima map tersebut, perasaan Sandra pun semakin tidak karuan. Ia mempunyai firasat buruk tentang, nenek Grace.
"Beliau, menitipkan nya satu Minggu yang lalu," ungkap Garcia.
Sandra menatap gadis itu dengan mata mulai berkaca-kaca saat, muncul hal memilu dari dipikirannya.
Sandra menggelengkan kepalanya masih menatap wajah gadis yang langsung tertunduk sambil mengusap air mata.
"Tidak!" Ucap Sandra dengan wajah tidak percaya.
Gadis di depannya lantas terdengar terisak. Membuat Sandra semakin terlihat shock.
"Tidak, itu tidak mungkin" Sandra berujar sambil tubuh mundur ke belakang. Wajah berubah pias dengan air mata yang menetes tanpa sadar.
"Kau pasti berbohong. iya, kan?! Ujar Sandra memastikan. Ia berharap ini hanya mimpi buruk.
Melihat gadis di depannya menggeleng, Sandra pun jatuh terduduk di atas ranjang, nenek Grace dengan wajah tidak percaya.
"Tidak, nenek tidak boleh meninggalkan aku," ucap Sandra lirih. Bersamaan air mata menetes di kedua kelopak matanya.
"Nenek,"
"Kenapa nenek tega meninggalkan aku."
"Tahukah nenek, salah satu alasan saya bangkit adalah nenek."
"Tapi sekarang nenek telah pergi. Meninggalkan kami."
Sandra terus menangis sambil memeluk atau mengusap bingkai foto nenek Grace. Sandra begitu amat kehilangan, sosok wanita baik hati yang selalu ada di saat dirinya terpuruk dan tertekan.
Sandra begitu merasakan kehilangan dengan sosok nenek Grace yang selalu memberikan dirinya cinta dan kasih sayang seorang — keluarga.
Namun kini wanita tua penyelamatnya itu sudah pergi jauh, meninggalkan dirinya bersama Aurora. Belum sempat, Sandra mengucapkan kata-kata terimakasih, nenek Grace sudah tiada. Meninggalkan rasa penyesalan di hati Sandra. Yang tega meninggalkan nenek Grace seorang diri. Dan kini wanita baik hati itu sudah pergi untuk selamanya.
"Maaf, maafkan aku nek. Aku belum membalas semua kebaikan nenek. Maaf, aku terlalu lama meninggalkan nenek." Sandra terdengar begitu sedih. Suaranya terdengar parau dan sengau, akibat menangis terisak.
"Nenek!" Sandra pun berteriak, untuk mengeluarkan sesak yang kini rasakan. Begitu menyakitkan, orang satu-satunya yang menyayanginya kini telah tiada. Dengan siapa lagi Sandra akan mengadu dan meminta pelukan kehangatan saat ia terpuruk.
Siapa lagi yang akan memberikannya kata-kata positif yang akan membuatnya bersemangat dalam menjalani hidup.
Kini wanita yang begitu menyayanginya, lebih dari seorang ibu atau keluarganya kini sudah pergi.
"Maaf!" Ucapnya lirih yang masih terdengar sisa-sisa tangisannya.
Sandra semakin terisak dengan perasaan bersalah. Seandainya dirinya tidak meninggalkan nenek sendiri, pasti sekarang nenek Grace masih bersamanya.
Seandainya ia tidak bersikeras mendatangi kediaman orang-orang sombong itu, pasti ia masih bisa merasakan pelukan hangat nenek Grace.
"Bersabarlah, saya juga begitu kehilangan dia," Garcia duduk di lantai sambil memegang kedua lutut kaki Sandra.
Gadis remaja itu, tiba-tiba meletakkan kepalanya di atas pengakuan — Sandra dan ikut terisak.
"Dia penyelamat bagi saya, dia yang sudah menyelamatkan saya dari kekejaman kedua orang tua jahat. Saya bersyukur di pertemukan beliau. Namun sekarang dia sudah pergi dengan tenang. Kita hanya butuh mendoakan agar, Tuhan membalas semua kebaikannya." Mendengar ucapan dewasa gadis di bawahnya, Sandra mengangguk setuju. Tanpa sadar, ia mengelus rambut gadis manis tersebut.
"Bacalah, titipan surat nenek. Biar saya yang menemaninya." Gadis itu segera menggendong, baby Aurora saat terdengar merengek. Sedangkan Sandra mulai membaca surat yang dititipkan nenek Grace untuk dirinya.
Sandra membaca surat nenek Grace begitu serius, sesekali ia menatap ke atas dengan dada yang terlihat begitu sesak. Atau menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak pilu.
"Nenek, terimakasih!" Hanya itu yang mampu Sandra ucapkan dengan isakan perih yang begitu terlihat menyakitkan.
Suasana di dalam rumah sederhana itu pun terasa begitu kehilangan. Kehangatan kini tiba-tiba menghilang, menyisakan kenangan yang mampu membuat Sandra terus menangis.
Mengingat perjuangan kedua pasangan suami-istri itu untuk membantunya bangkit. Membela nya saat seseorang menghina atau menggunjing dirinya. Mengorbankan harta benda mereka, hanya untuk bisa melihat dirinya bebas.
Sungguh kebaikan yang tidak akan pernah Sandra lupakan, banyak pelajaran hidup yang Sandra ambil dalam pribadi, pasangan suami-istri itu. Yang bisa menjadi bekal untuk membesarkan putrinya dengan didikan baik.
……
"Apa nona sudah siap?" Gracia yang baru saja dari arah luar rumah bertanya.
Sandra yang terlihat mengelilingi rumah sederhana itu, mengangguk dan tersenyum. Wajahnya masih tampak sedih meninggalkan rumah yang penuh suka cita dan pulau yang menjadi tempat tinggalnya.
"Apa kita harus meninggalkan rumah ini dan pulau?" Tanya Sandra dengan suara perih.
"Hum! Ini pesan nenek. Juga, demi kebaikan nona," jawab Gracia.
"Padahal aku sudah merasa nyaman," sela Sandra.
Ia sekali lagi menatap rumah sederhana milik nenek Grace. Sandra terpaksa untuk meninggalkan pulau itu, atas perintah nenek Grace. Mendiang nenek Grace sudah membeli rumah untuknya di negara tetangga. Nenek Grace hanya ingin Sandra hidup damai tanpa gunjingan siapapun. Terutama di tempat baru, tidak akan ada yang mengunjunginya, karena tidak akan ada yang mengetahui kehidupan — Sandra.
"Ayo!" Ajak Gracia.
"Hum!" Sandra menurut dan berjalan keluar rumah.
Di luar rumah sudah ada seseorang yang menunggu mereka berdua. Sandra yang melihatnya terlihat kebingungan.
"Dia yang akan mengantar kita ke pelabuhan penyeberangan," timpal Gracia.
"Dia pemilik baru rumah ini," lanjutnya lagi.
Sandra terlihat terkejut, dengan apa yang dikatakan — Gracia.
"Apa maksud kamu? Rumah ini dijual?" Tanya Sandra. Wajahnya tampak tidak terima.
"Nenek yang menjualnya, agar uang untuk membeli rumah baru tercukupi," jawab Gracia lembut.
Sandra terdiam sejenak. Lagi-lagi ia dibuat terkejut dengan apa yang didengarnya. Kenapa nenek Grace begitu baik kepadanya? Wanita tua itu sudah mempersiapkan, sesuatu istimewa untuk masa depannya dengan sang putri.
"Nenek." Ucapnya dengan linangan air mata.
"Kita pergi sekarang? Saya takut, kapal untuk ke negara tetangga akan segera berangkat." Sentak Gracia.
Sandra pun mengikuti gadis itu menaiki mobil sederhana itu, ia masih menatap rumah nenek Grace dan sekelilingnya. Sepanjang jalan untuk meninggalkan lingkungan baru Sandra itu, ia terus menatap dengan penuh kesedihan. Hingga ia berada di depan restoran nyonya Belleza, saat ingin meminta mobil berhenti sejenak, untuk berpamitan kepada tuan besar Cooper, Sandra melihat, tuan muda itu sedang bercengkrama dengan keluarga besar nyonya Belleza.
Sandra pun hanya tersenyum getir, ia pun mengurungkan niatnya dan meminta melanjutkan perjalanan.
"Selamat tinggal kenangan yang penuh haru juga kesedihan." Batin Sandra.
Ia pun menatap bayinya yang terlihat membuka matanya dan seakan mengajaknya berbicara.
Hanya baby Aurora lah' yang menjadi penyemangatnya sekarang ini, ia berjanji akan hidup baik-baik saja di negara asing baginya. Dan memulai hidup baru. Meskipun harus berada di titik awal kembali.
…
"Jadi dia benar-benar darah daging putraku?"
"Iya nyonya."
"Aku menginginkan bayi itu sekarang."
"Baik nyonya."
"Ambil paksa yang menjadi milik, keturunan — Louis."