
"Lihatlah, akhirnya aku bisa memiliki seorang menantu yang tepat dan setara dengan kita." Nyonya Louis kini tersenyum puas dan bahagia.
Menyaksikan pernikahan kedua putranya dengan wanita yang sangat tepat, menurutnya. Dari segi kekayaan dan kekuasaan di negara mereka.
"Bagaimana dengan wanita itu?" Tuan Louis yang berada di samping istrinya bertanya, raut wajah begitu terlihat datar dan dingin.
"Cih, aku tidak peduli dengannya sekarang. Yang terpenting sekarang kita bisa memperkuat derajat dan kekuasaan kita," jelas nyonya Loius.
Wajahnya begitu terlihat puas dan gembira dapat menjalin hubungan dekat dengan keluarga Wingston. Pengusaha sukses dan owroengaru di beberapa bagian negara lain.
"Dia akan menjadi bumerang buat kita," timpal tuan Louis, secara tidak sengaja membuat mood bagus istrinya menjadi kacau.
"Wanita itu tidak akan berani bertemu dengan kita," sentak nyonya Loius begitu marah.
"Dia pasti akan kembali dan membawa kehancuran untuk kita," ujar tuan Louis. Pandangannya lurus kedepan. Entah mengapa putri dari Sandra akan menjadi bumerang buat keluarga — Loius.
"Omong kosong!" Ucap nyonya Louis sambil berdecak muak.
Jengah mendengar ucapan suaminya yang terus membahas tentang Sandra dan putrinya, nyonya Louis mendekati putra dan menantu barunya.
…
Sementara tuan Wingston tampak terdiam, pandang terus fokus ke depan. Ia memikirkan nasib putri yang lain. Demi membahagiakan putri berharga, pria itu tega menyembunyikan status putri yang tidak di anggap.
David Wingston, sosok pria gagah dengan postur tubuhnya yang profesional itu, terlihat begitu menawan di usianya tidak muda lagi.
Pria yang menyimpan begitu banyak kegundahan juga rasa bersalah. Namun ego nya begitu menguasai dirinya, hingga tega membuat darah dagingnya hidup menderita.
"Tuan David!" Seru seorang wanita menawan yang sekarang berada di sampingnya.
Tuan David menolehkan wajahnya dan tatapan tajamnya kini menyoroti wanita itu. Wanita yang sengaja menggoda sisi gelapnya selama ini.
David Wingston, adalah seorang pria player yang begitu menggilai hal berbau gairah. Ia sosok pria perkasa dengan menyukai hal keindahan tubuh seksi seorang wanita.
Karena kegilaannya itu lah' ia tega menjadi sahabat istrinya sendiri sebagai budak kegilaan nya, hingga membuat hidupnya dihantui rasa bersalah dan kegundahan.
Dengan perasaan itu, tidak berarti membuat pria dewasa itu berubah. Tidak! Tuan David semakin menggila. Ia bahkan bergonta-ganti pasangan setiap harinya dan ia paling tidak sanggup melihat pemandangan indah, seperti sekarang ini.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya wanita itu yang penampilannya begitu membuat jiwa liarnya memberontak.
"Temui aku di mobil!" Pinta tuan David dingin dan segera berjalan meninggalkan area pesta meriah itu.
Wanita itu pun bersorak kegirangan, bisa membuat tuan David takluk kepadanya.
Siapapun tidak akan menolak pesona pria dewasa itu, apalagi didukung oleh materi dan kedudukan tinggi.
Stella yang melihat gerak-gerik sang daddy, hanya tersenyum sinis dan tidak peduli dengan perbuatan menjijikkan daddy-nya itu.
Ia tidak akan pernah peduli, karena dia tahu posisinya sangat berarti di hidup pria berkuasa itu.
……
Sementara di belahan benua lainnya.
"Selamat siang!" Teriak seorang pengantar barang.
"Nyonya Sandra!" Panggilnya sambil mencatat sesuatu di buku yang ada di tangan.
"Nyonya sand …." Ucapnya terhenti, saat melihat sosok wanita cantik muncul di balik susunan bunga mawar putih.
Mata pria berkacamata itu berbinar-binar kagum, melihat wanita rupawan itu yang kecantikannya mengalahkan keindahan bunga mawar tersebut.
"Merry!" Sentak Sandra. Ia terkejut saat melihat pemuda itu di toko bunganya.
"Micky, nyonya," protesnya, membenarkan namanya.
Sandra tertawa lepas, menambah kecantikan wanita satu ibu itu, Micky pun semakin di buat terpesona.
Meskipun pria itu mengaku tidak menyukai seorang wanita, namun nyatanya ia tidak bisa menolak pesona rupawan, seorang Sandra Matthew.
Namun tiba-tiba, tepuk di pundak menyadarkan pria berkacamata itu.
"Anda sangat cantik," Seloroh pria itu tanpa sadar.
Sandra hanya memperlihatkan wajah biasa saja, karena pria itu selalu memuji. Bukan hanya karyawannya, tapi beberapa pelanggan pria sengaja menemuinya dan mengatakan ketertarikan mereka.
"Apa pikiranmu sudah kembali normal?" Tanya Sandra sambil membuat rangkaian bunga mawar pesanan kliennya. Sebuah rangkaian bunga mawar merah yang akan ditujukan kepada — seorang wanita.
"Aku tidak berdusta, anda begitu sangat cantik," ucap pria itu yang jari-jarinya terlihat indah.
"Semua pria datang kesini mengatakan hal sepertimu," sahut Sandra tidak acuh.
"Ck! Anda begitu menyebalkan. Anda seharusnya beruntung, karena aku bisa terpesona dengan anda," sungut pria melambai itu dan masuk ke dalam penyimpanan bunga pesan klien.
Sandra hanya menggeleng kepalanya dan tersenyum geli. Hidup di negara asing dan lingkungan baru, membuatnya bangkit dan membangun kehidupan barunya.
Sandra membuka bangunan toko bunga di wilayah desa yang terletak di pinggiran kota ramai. Toko bunga yang terdapat beberapa macam bunga dan warna yang begitu indah.
Sandra sendiri mendapatkan bunga-bunga itu dari para petani bunga di desa itu. Sandra juga menjadikan para petani bunga begitu terjamin. Tiga hari sekali, bunga-bunga segar akan datang, bahkan setiap hari bermacam bunga akan datang dari petani, apabila Sandra memiliki banyak pesan.
Memiliki rangkaian bunga indah dan unik, membuat orang-orang tertarik untuk memesan nya. Micky sebagai pengantar pesanan buket ataupun rangkaian bunga besar. Gracia sebagai pemasaran yang memasarkan berbagai buket, rangkaian bunga dan karangan bunga, hasil keterampilan Sandra.
Hingga satu tahun kemudian, hasil kerja keras mereka kini telah menjadikan toko bunga Sandra terkenal.
Sandra juga bersyukur hidup di lingkungan barunya, semua penduduk desa menerimanya dan juga putrinya. Mereka sangat menghargai Sandra, apalagi sang putri.
Tidak ada gunjingan ataupun cibiran, yang ada, putrinya mendapatkan kasih sayang dari mereka.
Tapi, ada saja orang-orang yang tidak menyukainya, entah mereka iri atau memang tidak menyukainya.
Apalagi kini Sandra mulai sukses dan orang-orang yang membencinya pun, semakin ingin menghancurkan nya.
Sandra hanya menanggapi mereka dengan diam dan bersabar, selama mereka tidak menyinggung kekurangan putrinya.
"Bibi!" Teriak suara bocah laki-laki yang baru memasuki, Toko bunga Sandra.
"Boy," sahut Sandra yang muncul dari ruangan penyimpanan di susul Micky.
"Bibi," ucap anak laki-laki bertubuh gempal itu.
"Hey, ada apa dengan wajah jelekmu itu?" Sela Micky dengan wajah mencibir.
Sandra menangkap hal buruk dari raut wajah ketakutan bocah laki-laki itu.
"Ada apa?" Tanya Sandra dengan pandangan lekat.
"kakak Gracia," bocah itu berkata gugup.
Sandra segera menjatuhkan buket pesanan kliennya yang ia pegang, beruntung, Micky tepat waktu menyelamatkan buket pesanan Klein mereka.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sandra dengan wajah panik da penasaran.
"Katakan!" Teriak Sandra tanpa sadar.
Bocah itu semakin terlihat ketakutan, Sandra yang menyadari ekspresi yang berlebihan, menarik nafas sejenak dan membuangnya. Ia kembali menatap bocah laki-laki itu dengan mensejajarkan tubuh. Sandra kini berlutut di depan bocah itu dan memegang kedua pundak bergetarnya.
"Katakan, apa yang terjadi dengannya?" Tanya Sandra hati-hati meskipun perasaannya kini dilanda rasa khawatir.
Bocah laki-laki itu pun memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap mata teduh Sandra.
"kakak berada di ladang nenek, Betty dan mereka …."
Belum selesai bocah itu berkata, Sandra segera berlari dan berlari ke luar toko.
"Micky, titip tokonya!" Teriak Sandra dan segera melanjutkan untuk berlari ke arah ladang yang tidak jauh dari toko mereka.
"Dasar manusia-manusia tidak punya rasa takut. Bukankah, mereka pernah merasakan amukan Sandra." Micky terus berceloteh sinis di dalam toko.
"Hentikan"