Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 54



"Sayang, mommy pulang!" Sandra yang baru saja tiba di dalam unit apartemen sederhananya, segera memanggil sang putri tercinta.


"Sayang!" Panggilnya sekali lagi dengan suara begitu lembut dan hangat.


Sandra melepaskan jaket Hoodie nya dan meletakkan di sandaran sofa, ia berjalan ke arah kamar putrinya sambil tersenyum bahagia.


"Sayang!" Seru Sandra saat membuka pintu kamar putrinya, ia mengerutkan wajah melihat kamar Aurora sudah rapi dan tanpa keberadaan putrinya.


Sandra berdiri di depan meja belajar, auroraku. Ia melihat lembaran kertas kecil yang merupakan pesan tulisannya dari putrinya. Tulisan yang dihasilkan dari alat tulis khusus tunanetra.


Wanita dengan wajah yang masih terlihat kacau itu, hanya bisa menghela nafas. melihat pesan putrinya yang mengatakan akan keluar bermain dengan Jastin.


Sandra tentu tahu maksud putrinya itu, bermain biola di keramaian dan menghibur banyak orang.


Sandra berulang kali melarang putrinya untuk tidak bermain biola di keramaian dengan imbalan. Namun sang putri memberikan sahutan yang membuat Sandra terdiam.


"Mommy, aku bermain biola untuk menghibur orang di sana. Aku juga tidak melihat mereka memberikan upah." Jawaban Aurora membuat Sandra hanya bisa diam dan menghela nafas panjang.


"Putriku semakin pintar," keluh Sandra lirih.


Sandra menghampiri tempat tidur kecil putrinya, merebahkan tubuh lelahnya di sana. Saat memejamkan mata, Gracia datang dan membuatnya terkejut.


"Kakak, sudah pulang!" Seru Garcia yang terlihat baru saja selesai mandi.


"Hum!" Gumam Sandra yang masih terbaring.


"OH Tuhan!" Gadis manis itu berteriak. Ketika melihat wajah Sandra yang dipenuhi luka memar.


"Apa yang terjadi dengan wajah kakak?" Tanya Gracia dengan wajah khawatir.


Sandra meraba wajahnya sendiri dan dengan santai menjawab pertanyaan Gracia.


"Ini resiko pekerjaan," Sandra menyahuti sambil bangkit. Ia berjalan ke luar dari kamar Aurora dan menuju kamarnya yang terletak di sebelah kamar Aurora.


Gracia mengikuti dengan setia di belakangnya dengan wajah khawatir. Gadis itu mengambil kotak obat di laci meja rias Sandra, lantas menarik tangan Sandra yang ingin mengganti pakaiannya.


"Biar aku mengobatinya." Gracia memaksa Sandra untuk mengobati luka memar di wajahnya.


"Tidak perlu, ini hanya luka kecil," sela Sandra, berusaha menjauh.


"Tidak! Aku harus mengobati luka kakak. Lihatlah, ini bukan luka kecil." Gadis itu terus memaksa dan bersungut-sungut kesal sambil mengobati luka di wajah Sandra.


Sandra hanya bisa pasrah, niatnya yang ingin mencari Aurora terhenti dan harus menghadapi kecerewetan — Gracia.


…….


"Kakak mau kemana?" Gracia yang selesai membuat sarapan bertanya saat melihat penampilan Sandra yang terlihat lebih baik.


"Mencari Aurora," sahut Sandra.


Wanita itu sambil menikmati sandwich yang dibuat oleh Gracia.


"Kakak harusnya istirahat saja, biar aku yang mencarinya," ucap gadis berambut panjang itu.


"Kakak baik, jadi tidak perlu repot," tolak Sandra.


"No! Kakak harus tetap istirahat, biar aku yang menjemputnya." Gracia tetap bersikeras.


Sandra memandangi Gracia dengan wajah menyelidik, tatapannya pun kini begitu intens.


"Dia berada di museum kota," terang Gracia. Ia tahu dengan tatapan Sandra.


Gracia yang duduk di depan Sandra hanya bisa tersenyum kikuk.


"Seharusnya, kau melarangnya," ujar Sandra.


"Apa kakak lupa, gadis kecil itu terlalu menggemaskan untuk, memarahinya." Garcia mengatakan alasan yang lagi-lagi membuat Sandra hanya bisa menarik nafas panjang.


"Pokoknya, kakak harus istirahat hari ini." Gracia terus mendesak Sandra untuk beristirahat saja di apartemen.


Di saat sedang berdebat, suara pintu apartemen mereka terdengar di ketuk.


Sandra dan Gracia saling menatap dan mengangkat kedua bahu mereka. Sandra bahkan melanjutkan sarapannya. Tanpa menghiraukan ketukan pintu.


Gracia yang segera berdiri dan membuka pintu tersebut. Wajah gadis itu bahkan masih terlihat kesal. Pagi-pagi seperti ini siapa yang bertamu.


"Anda mencari siapa, tuan?" Gracia segera mengkondisikan wajah dan juga jantungnya yang sekarang ini sedang berdetak kencang.


Kedua pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah datar, hanya menatap Gracia dinginnya.


Membuat gadis itu merasa aneh dan menggaruk kepalanya yang tidak


gatal.


"Tuan …."


"Siapa yang bertamu?" Pertanyaan dari arah dalam apartemen, berhasil membuat pria rupawan di hadapannya beraksi.


"Sandra?! Gumam pria itu.


Gracia mengerutkan keningnya tajam, menelisik pria wajah tampan di depannya penuh curiga.


"Anda mencari kak …." Lagi-lagi ucapan gadis itu terpotong, saat pria yang ia anggap asing itu, menerobos masuk tanpa menghiraukan nya.


"Hey, tuan!" Pekik Gracia yang mencoba menghalangi sosok berpostur tegap itu.


Namun pria lain menahannya dan membekap mulutmu. Sandra yang merasa heran segera menyusul — Gracia.


"Gracia, siapa …."


"Anda!"


"Sandra."


Sandra begitu terkejut, melihat pria dihadapannya. Pria yang merupakan penyelamatnya di masa lalu.


Sedangkan Austin Cooper, tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Ia selama 6 tahun mencari keberadaan Sandra kini bisa melihatnya kembali.


Segera Austin mendekati Sandra dan memeluk wanita itu dengan perasaan syukur dan lega.


Sandra hanya bisa terdiam dengan tubuh membatu, wajahnya juga masih terlihat syok.


"Akhirnya, aku menemukanmu!" Bisik Austin.


……


"Aku begitu senang bisa, bertemu denganmu lagi." Austin dan Sandra kini berada di sebuah kedai kopi di lingkungan apartemennya.


Austin sejak tadi terus menatap Sandra tanpa rasa bosan sedikitpun, memberi tatapan yang bisa melelehkan perasaan seorang wanita. Namun tidak dengan Sandra yang hanya menampilkan wajah biasa saja.


Sandra bahkan merasa sungkan terus ditatap seperti itu dan ia merasa tidak nyaman.


"Anda mengikuti ku?" Tanya Sandra sambil menyesap coklat hangat yang tersaji.


"Enam tahun, aku berusaha mencarimu selama enam tahun," sentak Austin halus.


Pria itu meraih telapak tangan Sandra dan menggenggamnya lembut. Pria itu berjanji tidak akan pernah melepaskan wanita di depannya ini.


Sandra terkejut, namun ia hanya bisa terdiam dengan tubuh tegang. Ini adalah sentuhan pertama dari seorang pria selama ia bersumpah untuk tidak berinteraksi dengan pria manapun lagi.


"Kenapa anda mencariku? Apakah, tentang tagihan rumah sakit?" Sandra berusaha melepaskan telapak tangannya dan berkata dengan canggung.


Austin tersenyum melihat wajah tidak nyaman Sandra, ia pun melepaskan genggaman tangannya dan kini mendekatkan wajahnya ke arah Sandra dan berbisik.


"Ini tentang sesuatu yang sangat penting." Austin berisik dengan jarak sangat dekat.


Wajah datar Sandra tiba-tiba tegang dan terasa hangat. Ia refleks menjauhkan wajahnya dan menoleh kesamping.


"P-penting?! Ucap Sandra gugup.


"Hum!" Gumam Austin sambil menangkup dagunya dan terus memandangi wajah Sandra.


"Apakah itu mengenai utang budi?" Sandra mencoba menebak. Namun Austin memberikan respon wajah dingin.


"Apakah aku terlihat sejahat itu dan kekurangan uang. Aku bahkan semakin kaya." Pria itu mulai dengan tabiat nya yang selalu percaya diri.


"Terus apa yang membuat anda mencari kami?" Sandra kembali bertanya dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke arah Austin.


"Aku merindukan mu." Bisik Austin tepat di depan wajah Sandra.