
Seminggu telah berlalu, kini saatnya Aurora membuktikan kepada semua orang yang pernah menghinanya buruk dan tidak bisa memiliki masa depan baik.
Saatnya Aurora membuktikan bakatnya dengan alat musik kesayangannya yang kini berada di tangan. Dengan penampilan anggun, wajah gadis berusia 6 tahun itu terlihat berbeda hari ini. Rambut diikat tinggi, gaun indah putih dengan corak merah, menambah kesan anggun dan elegan.
Aurora akan membuat para penonton terbawa dengan alunan irama biola yang ia mainkan.
Kini gadis cantik itu sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang m menyayanginya dan selalu ada disisinya.
Aurora mengatur nafas, untuk menetralisir kegugupan yang melandanya saat ini. Sang mommy sejak tadi mendorongnya agar tidak gugup ataupun tegang.
"Tenanglah, sayang." Sandra yang kini memeluk putrinya dan terus mengusap rambutnya.
"Apa semuanya akan baik-baik saja?" Tanya Aurora dengan ekspresi wajah panik.
"Kamu pasti bisa, fokuslah dengan permainan musik kamu dan buat semua orang yang melihat, ikut merasakan setiap irama yang kamu mainkan. Ayo, tunjukkan kepada mereka kalau putri mommy, sangat hebat." Sandra memegang kedua pipi Aurora dan memberikan semangat.
"Sekarang, ayo tersenyum," timpal Austin. Pria itu ikuti menyemangati Aurora.
Aurora pun mulai tersenyum dengan wajah percaya diri. Berada di pelukan sang mommy, membuat Aurora begitu tenang. Ditambah, kehangatan sentuhan Austin yang sudah ia anggap sebagai — daddy.
Seorang remaja datang ke ruangan khusus para peserta lomba. Remaja dengan penampilan sederhana itu langsung mendekati Aurora.
"Hay, princess!" Sapa Erland.
Sandra dan Austin menoleh, begitu juga dengan Aurora yang segera melepaskan diri dari pelukan sang mommy.
"Kakak," sahut Aurora yang semakin terlihat ceria.
Erland mengusap rambut Aurora dan ia terlihat begitu kagum, dengan wajah cantik Aurora.
"Kamu terlihat, semakin cantik," bisik Erland sambil berjongkok di depan Aurora.
"Terimakasih," balas Aurora yang terlihat malu-malu.
"Kamu pasti menjadi juara," pungkas Erland, memberikan semangat kepada Aurora.
"Hum, aku akan membawakan lagu khusus buat kakak," ungkap gadis kecil itu.
"Oh ya!" Seru Erland dengan hati berbunga-bunga.
"Hum, lagu yang khusus aku buat untukmu," ucap gadis itu malu-malu, membuat semburan merah menerpa kedua pipi lembutnya yang menggemaskan.
Erland menatap Aurora semakin tajam, entah mengapa setiap bersama Aurora, hati remaja itu menghangat.
Tiba-tiba suara deheman berat, membuat tatapan Erland terputus. Ia melihat kebelakang, dimana Austin menatapnya penuh curiga dan Sandra tersenyum hangat.
"Hay, Erland!" Sapa Sandra ramah.
"Hay, bibi," balas Erland. Tanpa memperdulikan tatapan Austin yang begitu tidak suka dirinya terlalu dekat dengan — Aurora.
Erland hanya diam,. Ia malas menanggapi perkataan Austin yang selalu ketus kepadanya.
"Jangan sedekat itu kepada putriku. Aku tahu dia begitu cantik, sama dengan mommynya, tapi ingat, dia masih sangat kecil," sambung pria rupawan itu dengan nada peringatan. Layaknya seorang ayah yang begitu posesif kepada putrinya.
Sandra hanya tersenyum kikuk, kepada Erland atas sikap Austin yang menurutnya begitu berlebihan.
"Sebaiknya, orang-orang tidak perlu mengenali wajahnya." Erland berujar sambil menatap Sandra penuh arti.
Sandra yang mendengar ucapan Erland terheran dan tampak begitu penasaran, maksud dari remaja tampan di depannya ini.
"Saya hanya ingin melindungi dari mereka, yang sejak dulu menginginkan dirinya," lanjut Erland kembali. Tatapannya begitu terlihat serius.
Tubuh Sandra mendadak, membeku. Ia tahu maksud dari Erland. Hampir saja ia melupakan keluarga ayah biologis putrinya itu.
"Apa maksud kamu," timpal Austin dengan kening mengkerutkan.
"Bagaimana orang-orang akan mengenali wajahnya dan membuat orang-orang yang selalu menghinanya tertampar." Lanjut Austin sengit.
"Ini demi keselamatannya." Erland berkata dengan pelan.
"Tapi …."
"Aku setuju!" Seru Sandra, menghentikan ucapan Austin.
"Kita akan menutup wajahnya dari orang luar. Ini juga bisa, menjadi ciri khas dia nantinya," sambung Sandra lagi.
Aurora hanya bisa terdiam, mendengar perkataan ketiganya dengan wajah binggung.
Apalagi, saat sang mommy, menutupi wajahnya dengan masker. Hingga yang terlihat hanya mata Aurora saja.
Meskipun kebingungan. Aurora tetap menurut dan tidak terlalu banyak tanya. Ia tahu, semua demi keselamatannya sendiri.
"Sudah siap?" Tanya salah satu kru dalam acara pencarian bakat tersebar. Acara yang akan ditayangkan secara live di beberapa negara tetangga.
Sandra menganggukkan kepalanya dan memberikan sekali lagi wejangan kepada putrinya agar tidak memikirkan yang lain, selain bakatnya.
……
Kini suara tepuk tangan menggema di salah satu gedung besar, dimana acara untuk mencari bintang berbakat di antara ribuan peserta, namun hanya 100 lebih yang lolos, termaksud Aurora.
Sandra juga menutupi wajahnya dengan masker, karena sejak tadi kamera menangkap sosoknya dan meminta wawancara tentang bakat Aurora di tengah keterbatasannya.
Kini Aurora membuat semua terlihat menikmati dan terharu, melihat bakat bermusik Aurora di tengah-tengah kekurangannya.
Tidak ada yang tahu, gadis mungil di atas panggung seorang tuna netra. Mereka begitu kagum dengan kepercayaan diri gadis itu dan bakatnya yang mampu membuat keempat juri di depannya, tercengang melihat bakat alami — Aurora.