
Sandra yang sudah berada di dalam ruangan itu, melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana.
Kedua pria itu kini masing-masing mengendalikan, penghuni ruangan itu. Yaitu, anak laki-laki yang menjaga putrinya, juga sang nahkoda kapal yang kini terkena pukul bertubi-tubi, saat mencoba menyelamatkan, bayinya juga anak laki-laki itu.
Dengan wajah suram, Sandra mengangkat tangannya yang terdapat benda tajam, ia melayangkan benda tajam itu, tepat di punggung pria pemilik wajah buruk.
"Akh!" Pekik kesakitan pria buruk rupa itu, saat merasakan sebuah benda tajam menusuk daging punggungnya.
Rekannya yang sedang memukuli sang nahkoda kapal kini terkejut dengan wajah pias.
"B-bos!" Ujarnya dengan terbata.
"Sial!" Erang pria berwajah buruk itu.
Sedangkan anak laki-laki yang masih menggendong putri Sandra, beringsut ke bawah meja. Sambil memeluk tubuh bayi kecil di gendongannya itu.
Wajah anak laki-laki itu terlihat begitu ketakutan dengan tubuh bergetar, ia terus mencoba menenangkan, bayi Sandra yang terus menangis.
"Diamlah bayi kecil cantik," bisik anak laki-laki itu, mencoba mendiamkan Aurora.
"Kalau, kau diam. Aku berjanji, kelak saat kau dewasa aku akan menikahimu," ucap anak laki-laki itu dengan polosnya juga sambil mendiamkan, Aurora. Meskipun rasa ketakutan terus menghantuinya.
"Mommy, daddy, Leo takut," gumam anak laki-laki itu kembali.
Sedangkan, Sandra kini menghajar kedua pria penjahat itu dengan amarah yang begitu membuncah.
"Lepas, wanita sialan!" Gertak sang pemimpi penjahat tersebut.
Kini tubuhnya diseret mendekati pagar pembatas kapal, sesuai ucapan Sandra, ia akan membuang pria itu ke dasar lautan.
"Lepas! Dasar wanita brengsek," maki pria itu yang terus berusaha memberontak.
Sementara rekannya, kini sudah terkapar dengan cairan merah mengucur di bagian lehernya.
Sang nahkoda kapal, hanya bisa menampilkan wajah syok juga tertekan, menyaksikan peristiwa buruk di hadapannya.
Para kru kapal sendiri dalam pengaruh obat bius, membuat mereka semua tidak sadarkan diri.
"Bukan kah' aku sudah mengatakan akan, melemparkanmu ke lautan," bisik Sandra.
"Kau wanita kasar!" Pekik pria berwajah buruk itu.
"Setiap wanita akan berubah mengerikan, saat sesuatu yang ia sayangi dalam ancaman," ungkap Sandra yang semakin menyudutkan pria itu.
"Lepas!" Pinta sekali lagi pimpinan para pembajak kapal.
"Baiklah, aku akan melepaskanmu," sahut Sandra.
Yang tiba-tiba, melepaskan tangannya di leher pria itu yang sedang berada di ambang pembatas kapal.
"Akh!" Teriak pria itu dengan tatapan mata membola sempurna.
"Kau yang meminta untuk dilepaskan, jadi aku melepaskanmu," gumam Sandra memandangi pria jahat itu yang kini terhempas kuat di atas air laut.
Sandra tersendak, ketika mendengar rengekan putrinya. Wanita tangguh itu, segera mendekati ke arah sumber suara putrinya.
……
Sandra berhenti di depan sebuah meja besar, ia berjongkok dan melihat anak laki-laki di dalam sana yang sedang mencoba menenangkan — putrinya.
"Keluarlah!" Perintah Sandra.
Anak laki-laki itu terlihat terkejut juga ketakutan, ternyata ia merasa trauma dengan peristiwa yang dialaminya hari ini.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah aman," lanjut Sandra.
Anak laki-laki tampan itu pun keluar dari persembunyiannya, ia penuh hati-hati membawa, bayi di dalam gendongannya.
"Berikan, kepadaku!" Pinta Sandra kepada anak laki-laki di depannya. Ia akan mengambil alih putrinya.
Dengan ragu anak laki-laki berwajah tampan juga berpakaian mahal namun terkesan sederhana itu, menyerahkan bayi tersebut kepada — Sandra.
"Terimakasih!" Ucap Sandra tulus sambil mengusap rambut anak laki-laki tampan.
"Bibi terluka," sentak anak laki-laki itu dengan wajah syok.
"Tidak masalah, ini hanya luka kecil," sahut Sandra.
Anak laki-laki tampan itu, hanya bisa tercengang dengan jawaban Sandra. Luka menganga seperti itu dianggap kecil.
"Nyonya!" Seru seseorang yang berasal dari belakang mereka.
Sandra juga anak laki-laki menoleh bersamaan. Mereka melihat sang nahkoda kapal dengan wajah memar berjalan mendekat.
"Tuan!" Sahut Sandra ramah.
"Terimakasih, sudah menyelamatkan para penumpang, nyonya," ungkap sang nahkoda kapal.
Sandra hanya menampilkan senyum tipis, ia juga kembali menatap putrinya.
"Izinkan, aku memakai kamar mandi anda," izin Sandra dengan sopan.
"Sekali lagi, terima kasih," ucap Sandra dengan tulus.
Sandra berjalan ke sebuah pintu yang berada di sudut ruangan itu yang terdapat tempat untuk beristirahat. Sandra meletakkan bayinya di atas ranjang.
"Bibi, lukanya harus segera diobati!" Seru anak laki-laki yang sejak tadi mengikuti — Sandra.
"Tidak perlu, nanti juga akan membaik," jawab Sandra enteng.
"Itu berbahaya untuk kesehatan tubuh, bibi," lanjut anak laki-laki itu lagi.
Sandra hanya tersenyum, ia sibuk membersihkan kotoran bayinya, ia juga memberikan asi kepada — Aurora. Tidak lama lagi mereka akan tiba di kota. Dan Sandra ingin menghabiskan waktu bersama — putrinya. Juga menyiapkan mental untuk menghadapi keluarga besar — ayah biologis sang putri.
..
"Dia sangat cantik!" Seru anak laki-laki di samping kiri — Aurora.
Sandra menatap pria kecil di depannya dengan seksama, ia mengerutkan keningnya saat menyadari sesuatu.
"Apa yang kau lakukan di pulau terpencil?" Tanya Sandra penasaran.
Ia menangkap hal tidak biasa dari bocah laki-laki di hadapannya.
"Aku, mendapatkan hukuman," sahut anak laki-laki itu dengan polos.
Sandra semakin penasaran juga bingung, hukuman macam apa yang mengirimkan, anak kecil di sebuah pulau terpencil.
"Aku, melakukan kesalahan. Daddy dan mommy menghukumku."
"Kau, bukan dari kalangan biasa?" Sela Sandra dengan tatapan menyelidik.
Anak laki-laki itu hanya tersenyum dengan gaya elegan. Tatapan Sandra pun tidak luput dari pria kecil di hadapannya ini.
"Dia, begitu cantik. Boleh aku memanggilnya, Eliza?" Ujarnya dengan senyum tampan.
"Boleh? Aurora. Namanya Aurora Matthew." Potong Shandra.
"Nama yang indah. Aku akan menikahinya kelak," gumam anak laki-laki itu.
Sandra hanya tersenyum dengan kepala menggeleng. Bisa-bisanya seorang anak laki-laki melamar putrinya dengan — perkataan polos.
"Aku, menitipkan ini kepadanya!" Seru anak kecil tampan di depan – Sandra dengan sebuah Bros mawar putih di tangan — anak laki-laki tersebut.
Sandra menganga dengan wajah syok, saat melihat Bros antik yang ada di tangan anak laki-laki itu.
Ia kembali menatap anak laki-laki di depannya dengan tatapan lekat juga menilai.
"Kau, seorang bangsawan?" Tanya Sandra dengan raut wajah terkejut.
Anak laki-laki itu hanya tersenyum sambil memainkan kedua pipi — Aurora. Sedangkan Sandra masih menatap Bros yang diberikan pria kecil di hadapan.
"Pangeran!" Seru dengan nada khawatir seorang pria setengah baya juga seorang wanita dewasa masuk dengan — wajah panik.
Sandra segera menoleh begitu juga dengan pria kecil yang di panggil pangeran oleh dua orang. Sedangkan pria kecil itu hanya menampilkan wajah jengah.
"P-pangeran?! Batin Sandra.
"Pangeran tidak apa-apa?" Tanya wanita dengan penampilan ala seorang pelayan.
Pria kecil itu tersenyum canggung, saat melihat ekspresi wajah — Sandra.
"Pangeran, maafkan kami, maafkan kami," ucap kedua orang yang mengenal anak laki-laki di depan Sandra.
Sandra semakin melongo tidak percaya, seorang keturunan bangsawan yang bergelar pangeran berada di dekatnya.
…….
Kini kapal penumpang itu, sudah berada di sebuah pelabuhan khusus, seluruh penumpang pun turun dengan tertib.
Sandra sendiri kini sudah berada di sebuah halte bus kota, dengan pria kecil itu masih mengikutinya.
"Terima Kasih nyonya, sudah menolong yang mulia kami," ucap seorang pria yang merupakan, pengawal pribadi pria kecil yang ternyata seorang — pangeran.
"Tidak masalah, aku juga melakukan semua itu demi, keselamatan kita semua," sahut Sandra apa adanya.
"Terima ini, nyonya," tiba-tiba pengasuh pribadi sang pangeran menyerah segenggam uang kepadanya.
"Tidak! Tidak! Aku melakukannya dengan ikhlas," tolak Sandra dan bersiap untuk melanjutkan tujuannya.
"Biar kami mengantar, bibi," timpal sang pangeran tampan itu.
"Tidak perlu, terimakasih atas tawaran juga kebaikan, anda," tolak Sandra halus.
"Kami, permisi," izin Sandra kepada ketiga orang di hadapannya.
"Tunggu, bibi!" Sentak pangeran kecil.
"Ada apa, pangeran," sahut Sandra dengan menundukkan kepalanya dan tubuhnya.
Pangeran tampan itu terdiam, namun tangannya kini, mengambil sesuatu dari ranselnya, diam-diam, sang pangeran kecil itu menyelipkan segenggam uang di saku mantel Sandra. Tentu saja, tanpa sepengetahuan Sandra.