Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 90



Hari terus berlalu, kehidupan baru dan kebahagiaan Sandra terus ia lalui dengan wajah syukur, hingga semuanya berjalan hingga 4 tahun berlalu.


Wanita itu kini menjadi seorang ibu rumah tangga di dalam kediaman mewahnya. Sandra dilimpahkan begitu banyak cinta dari sosok suami juga putrinya yang semakin hari tumbuh menjadi putri yang berparas cantik.


Sandra begitu di ratu kan di keluarga barunya, dilimpahkan kemewahan juga perhatian dari sang suami.


Ia juga masih terus melindungi putrinya dan selalu berada di sisi putri tercintanya itu.


Menemani buah hatinya menuju kesuksesan yang kini Aurora dapatkan. Gadis itu berhasil menjadi seorang musisi cilik yang berbakat.


Hingga Aurora mendapat, banyak tawaran untuk mengisi berbagai acara. Gadis yang meskipun memiliki kekurangan, namun semangat dan kepercayaan diri membuat banyak orang terinspirasi.


Aurora juga menjadi sosok figur untuk memberikan semangat kepada anak-anak yang memiliki kekurangan.


Di usianya yang sudah menginjak 10 tahun, gadis berbakat juga genius itu, mendirikan sebuah yayasan untuk para anak-anak yang memiliki kekurangan, agar mereka tidak pernah merasa terkucilkan.


Paras cantiknya terus berada di berbagai media, meskipun ia harus menyembunyikan wajah aslinya dengan mengenakan masker atau topeng, yang menjadi ciri khasnya dalam dunia musik.


……


Kini tepat hari ini, gadis berparas cantik itu merayakan hari ulang tahunnya yang ke 10. Aurora mengadakan acara pesta penuh kemeriahan di kediaman mewahnya.


Ia mengadakan pesta khusus bagi, anak-anak yang berkebutuhan khusus dan memiliki kekurangan sepertinya.


Namun juga dihadiri oleh banyak tamu undangan yang berasal dari kolega bisnis sang daddy sambungnya.


Kediaman megah yang terletak di kawasan pribadi itu, kini sudah dipenuhi oleh para tamu undangan.


Suasana yang penuh kehangatan terlihat jelas di sana, membuat para tamu undangan menikmati acara mewah tersebut.


Aurora sendiri, kini sedang memainkan biolanya di hadapan banyak anak-anak yang memiliki kekurangan sepertinya.


Wajah cantik itu, terus dihiasi senyum kebahagiaan. Aurora sosok gadis yang tidak pernah mengeluh dengan kekurangannya.


….


Di salah satu kamar di kediaman mewah itu, kini seorang wanita sedang berusaha menahan rasa sakit di bagian pangkal perutnya.


Ia meninggal keramaian pesta dan mendekati kamar pribadinya untuk mencari obat yang biasa wanita itu minum, untuk menghilangkan rasa sakit yang begitu menyiksanya, beberapa bulan belakangan ini.


"OH Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menahan ini semua," batin wanita cantik itu, ia kini membongkar semua laci yang ada di lama kamar, sambil menahan rasa sakit.


"Aku sepertinya, menyimpan di sini?" Ujarnya sambil menahan bobot tubuhnya dengan berpegang di ujung meja rias.


Gaun indah yang ia kenakan kini, sudah terlihat berantakan juga basah di beberapa bagian karena keringat dingin.


Kini matanya menemukan apa yang ia cari, tidak menunggu lama, Sandra mengambil beberapa pil obat penahan rasa sakit, dengan tangan gemetar.


Ia memejamkan matanya untuk menahan rasa sakitnya itu, wajahnya bahkan memucat. Air mata terlihat mengalir dari ujung matanya.


Sandra sekuat tenaga, menahan rasa sakit yang berasal dari bagian atas kanan perutnya.


Sandra mendekat ke arah ranjang, merebahkan tubuhnya untuk sesaat, tanpa kembali menyembunyikan botol obat miliknya yang sudah ia konsumsi beberapa bulan terakhir.


Wanita itu termenung dengan pandangan kosong, hingga air mata kini mengalir hingga membasahi ranjang yang ia gunakan.


Sambil melipat tubuhnya yang berbaring dengan posisi miring untuk menghilangkan rasa sakitnya itu.


"Apakah, aku masih memiliki kesempatan untuk hidup? Aku masih ingin menemani putriku dan aku belum memberikan kebahagiaan kepada, suamiku." Sandra kini berkata lirih dengan air mata terus mengalir, ia menangis dalam diam.


"Mungkin ini adalah akhir dari kisahku di dunia, aku hanya ingin menghabiskan hari-hari terakhirku bersama mereka. Hanya tersisa satu Minggu bukan?" Tangis wanita itu pun semakin menjadi, membasahi wajah yang terlihat sekarat, namun ditutupi dengan keceriaan dan senyum bahagia.


Sandra tidak ingin, membuat suami tercintanya menjadi khawatir. Beruntung putrinya tidak bisa melihat wajahnya yang semakin hari terlihat semakin kesakitan.


Hanya Austin yang melihat perubahan sang istri, namun Sandra selalu meyakinkan suaminya, kalau dirinya baik-baik saja.


Kondisi tubuhnya secara perlahan menurun drastis, akibat penyakit mematikan yang ia alami.


3 bulan lalu, Sandra melakukan pengecekan kesehatan di salah satu rumah sakit, ia pikir sedang mengandung, namun kenyataan mengejutkan harus ia dengar. Saat sang dokter memberikan hasil pemeriksaan yang mengatakan, kalau dirinya mengindap kanker hati stadium 4, kondisinya sudah dalam masa darurat.


Di mana organ hatinya sudah rusak dan menyebar ke organ lainnya. Dokter pun, menyarankan Sandra untuk melakukan operasi pencangkokan hati, namun itu tidak akan menjamin kehidupan panjang Sandra.


Sandra terdiam mendengar diagnosis sang dokter dengan wajah membeku tidak percaya.


Tiga bulan, Sandra hanya butuh tiga bulan untuk bisa bersama keluarga kecilnya.


Dan kini ia tinggal menunggu hari-hari terakhirnya dengan membahagiakan putri juga suaminya.


Sandra menyimpan ini semua seorang diri dan tidak ingin membebani suaminya dan membuatnya bersedih.


…..


Sandra masa terdiam dengan mata terpejam, juga dengan wajah yang mulai membaik.


Sandra hanya bisa berharap, semua akan baik-baik saja dan putrinya akan tumbuh dengan baik tanpa kehadirannya.


"Kakak!" Suara seruan mengejutkan Sandra. Segera wanita itu bangun dan membenarkan penampilannya kembali.


"Kakak disini?" Gracia mendekati Sandra yang sedang memunggunginya.


Sandra menoleh dengan tersenyum seperti biasa, namun Gracia merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Garcia, kau di sini?" Tanya Sandra, sambil meletakkan botol obatnya di dalam laci.


"Aurora mencari kakak," sahut Gracia dengan tatapan lekatnya.


"Benarkah? Baiklah, aku akan segera ke bawah!" Seru Sandra, mengabaikan tatapan Gracia.


"Kakak, benar baik-baik saja? Kakak tidak sedang menyembunyikan sesuatu?" Gracia berdiri tepat di depan Sandra, sambil mengamati wajah wanita di depannya yang begitu banyak perubahan.


"Tidak, kakak baik-baik saja. Mungkin ini efek terlalu lelah," ucapnya sambil mencoba menghindari Gracia.


Tapi Gracia, sangat yakin. Kalau Sandra menyembunyikan sesuatu yang begitu penting.


"Sebaiknya, kita kembali ke bawah, kakak takut Aurora akan mencari kita," timpal Sandra, yang mendahului Gracia berjalan menuju pintu. Sambil mencoba menahan rasa sakit yang begitu menyiksa.


"Apa yang kakak sembunyikan dari kami?" Batin Gracia, memperhatikan punggung ramping Sandra.


Sementara Sandra melangkah ke arah taman belakang yang luas, wanita itu begitu pintar menyembunyikan kesakitan di dalam tubuhnya.


"Honey!" Tegur Austin yang kebetulan baru keluar dari ruangan pribadinya.


"Sayang," sahut Sandra, segera menghampiri suaminya itu dan memeluk tubuh kekar, pria yang begitu dicintainya.


"Kau darimana, hm?" Tanya Austin, sambil mengecup kening juga bibir istrinya.


Sandra kini menempel wajahnya di dada keras sang suami, ia bersikap begitu manja, membuat Austin begitu bahagia.


"Aku merindukanmu," ucap Sandra lirih dan pelukan itu semakin mengetat.


"Hey, aku di sini honey," jawab Austin yang membalas pelukan istrinya dan mengecup puncak kepala Sandra berkali-kali.


"Tapi aku begitu merindukanmu," ucap Sandra kembali, mendongakkan sedikit kepalanya menatap wajah rupawan sang suami dan mengecup sekilas bibir suaminya itu.


Austin terkekeh, ia juga mencubit pelan hidung istrinya. Tanpa merasakan sedikit curiga dengan sikap istrinya yang tidak biasa.


Para pelayan yang melintas di dekat keduanya, ikut merasakan kebahagiaan.


"Sebentar, aku ke kamar dulu!" Seru Austin tiba-tiba, melepaskan pelukan dan menatap wajah cemberut istrinya itu.


Austin hanya tersenyum dan sekali lagi ia mencium seluruh wajah istrinya itu.


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan, honey," lanjut Austin.


Sandra pun akhirnya mengalah dan membiarkan suaminya itu pergi.


"Tunggu aku, ini hanya sebentar," pungkas Austin dan melangkah menuju kamar mereka di lantai atas.


"Semoga kau selalu bahagia, tanpaku."


Sandra menatap nanar punggung suaminya dan tidak terasa air matanya mengalir.