
"SANDRA, SANDRA!" Teriakkan seorang wanita menggema di area gudang penyimpanan — bangunan restoran mewah.
"Sandra Matthew!" Pekiknya. Saat melihat Sandra sedang mengistirahatkan tubuhnya dengan menyadarkan punggung lelah itu di sebuah tumpukan — kardus.
Sandra terkejut dan segera melebarkan matanya yang baru saja terpejam. Sisa keringat hasil pekerjaan kerasnya masih terlihat jelas di wajah — lesu wanita itu.
"Nyonya, Belleza?!" Ucap Sandra terkejut.
Dengan perlahan Sandra, berusaha bangkit dengan gerakan susah, dalam keadaan perutnya yang membesar.
Wanita yang disebut nyonya Belleza berjalan dengan wajah garang ke arah — Sandra.
"Ada yang anda butuhkan, nyonya?" Tanya Sandra yang sudah berdiri sambil mengelus perutnya yang tiba-tiba — terasa nyeri.
"Apa yang kau lakukan, di sini!" Sentak nyonya Belleza. Tidak lupa tatapan mata tajam yang ia berikan kepada — Sandra.
Sandra berusaha tersenyum dan bersikap ramah di tengah, rasa ngilu dan nyeri ia rasakan.
"Saya sedang istirahat, nyonya," jawab Sandra yang diikuti desisan ngilu.
Wanita dengan dandanan dramatis di depannya, semakin menatap Sandra nyalang, mendengar jawaban wanita itu.
"Siapa yang memberikanmu, izin untuk istirahat, hah," bentak nyonya Belleza.
Sandra tercengang mendengar ucapan atasannya itu, sambil meremas ujung pakai lusuh yang ia kenakan. Ketika rasa sakit teramat sangat pada perutnya.
"Siapa, hah!" Bentak nyonya Belleza kembali kali ini lebih dekat kepada — Sandra, sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan wajah arogan.
"Aku, hanya istirahat sebentar, nyonya. Pekerjaan ku juga sudah selesai," sahut Sandra sambil mengatur nafasnya.
"Selesai, dari mana, hah," hardik nyonya Belleza.
Ia begitu marah mendengar sahutan Sandra. Soalnya dia melihat masih banyak tumpukan cucian piring dan juga bekas alat masak yang belum dibersihkan.
"Aku sudah membersihkan semua bekas piring makanan juga alat masak, nyonya," sahut Sandra dengan wajah bingung.
"Tapi apa yang aku lihat tadi, begitu banyak pekerja yang belum kamu selesaikan," ujar nyonya Belleza sarkas.
Sandra semakin terlihat bingung, baru 10 menit ia meninggal area tempat pencucian piring juga barang-barang kotor dan apa yang baru saja ia dengar. "Tidak mungkin, aku baru saja membersihkan semua pelengkap makan dan juga masak," batin Sandra.
"Ikut dengan ku," sentak nyonya Belleza.
Wanita dengan pakaian mewah dengan warna cerah itu, menarik kasar pergelangan tangan — Sandra.
Membuat wanita hamil itu, tersaruk-saruk. Menahan rasa sakit pada perutnya. Ia merasa sesuatu akan terjatuh dari dalam perutnya itu.
"Sepertinya, akhir-akhir ini kau terlihat santai dan bermalas-malasan," ujar nyonya Belleza. Masih menarik kasar tangan kanan — Sandra, menuju area dapur basah. Di mana semua alat-alat makan juga masak yang kotor di letakkan di sana.
Sandra lah' yang menjadi pembersih di sana seorang diri. Bahkan nyonya Belleza memerintahkan Sandra untuk membersihkan alat makan yang menurutnya masih kotor dan berminyak hingga — Sandra membersihkannya berulang kali.
"Lihat! Apa ini yang kamu katakan sudah selesai membersihkannya," pekik nyonya Belleza lantang. Membuat para pekerjanya yang sedang berganti beristirahat mencoba mengintip.
Sandra terlihat terkejut dengan wajah tidak percaya, ia meninggalkan tempat ini dalam keadaan bersih 10 menit yang lalu dan kini sudah terlihat begitu berantakan.
"T-tapi a-aku …." Ucapan terbata Sandra terhenti, saat mendengar ucapan selaan pedas atasannya.
"Dasar tidak becus, kau sudah membuatku rugi dengan memberikan gaji. Dan lihat hasil pekerjaanmu, sungguh tidak becus. Gaji kamu bulan ini aku potong," titah nyonya Belleza dengan wajah angkuh.
"Tapi nyonya, aku sungguh sudah menyelesaikan pekerjaan ku disini," ujar Sandra mencoba membela dirinya.
"Cih! Aku tidak akan pernah percaya dengan wanita pembual, sepertimu," sinis wanita sombong itu dengan melipat kedua tangannya di dada. Melihat Sandra dengan pandangan hina.
"Aku, tidak bohong," sela Sandra protes.
"Anda tidak berhak memotong gajiku, nyonya," lanjut Sandra yang memperlihatkan wajah jengahnya. Kesabarannya kini sudah habis untuk menghadapi perlakuan arogan atasannya juga perlakuan rekan kerjanya yang selalu membuatnya dalam masalah.
Seperti saat ini, mereka dengan sengaja mengotori semua alat-alat masak dan makan yang sudah dibersihkannya. Hingga membuat ia kembali mendapatkan masalah dengan atasannya.
"Hey, wanita rendahan," pekik nyonya Belleza sambil menunjuk wajah — Sandra yang tampak merah. menahan emosi juga rasa sakit pada perutnya.
"Seharusnya, kau bersyukur karena aku menerima mu bekerja di sini. Yang hanya wanita murahan, sedang hamil tanpa seorang suami," hina nyonya Belleza dengan wajah mengintimidasi — Sandra.
"Kasih anakmu yang akan menjadi anak, haram," lanjut nyonya Belleza dengan wajah mencemooh.
"Plak, plak!"
Suara tamparan itu berasal dari telapak tangan kiri Sandra. Wanita itu begitu berang, saat mendengar sang calon buah hatinya dihina rendah. Sebagai naluri keibuannya, Sandra tidak terima atas perkataan, nyonya Belleza.
"Kau!" Sentak nyonya Belleza dengan wajah melongo sambil memegangi pipinya.
Rekan kerja Sandra pun dibuat terkejut dengan tindakan Sandra yang berani melawan atasan arogannya itu.
Wanita yang dikenal pendiam tidak banyak berkata-kata saat mendapatkan tindakan intimidasi atau gunjingan mereka
Ternyata wanita itu terlihat begitu mengerikan saat marah, dan tidak berpikir dua kali untuk melukai seseorang yang sudah menyinggungnya.
"Anda boleh menekankan ku, menghinaku, mengejekku, bahkan melukai ku, aku akan menerimanya, tapi …." Sandra menggantung ucapannya dengan tatapan mata kelam diberikan kepada nyonya Belleza yang terlihat menciut saat melihat pandangan kelam — Sandra.
"Jangan pernah menghinanya," sambung Sandra sambil menyentuh perutnya, bersamaan Sandra dapat merasakan tendangan kuat di dalam perutnya itu. Seakan calon buah hatinya mendengar ucapannya yang begitu sangat — tulus.
"Apa yang aku katakan, benar, dia akan terlahir tanpa ayah dan itu sama saja dengan anak haram," sengit nyonya Belleza dengan suara lantang.
"TUTUP MULUT ANDA NYONYA!"
"AKH! PRANG!"
Membuat nyonya Belleza terjeramba dan membentur dinding di belakangnya.
Sandra yang masih begitu emosi, meraih sebuah alat masak yang berukuran lumayan besar dan melemparkannya kepada — nyonya Belleza yang sudah memucat.
"Sandra! Hentikan, dasar wanita gila!" Pekik rekan-rekannya yang sejak tadi bersembunyi.
Mereka segera menghentikan amukan Sandra dengan perut besarnya, wanita itu kembali ingin menghantamkan sesuatu kepada atasan arogan itu, tapi seseorang mencekalnya dari belakang. Hingga tangannya kini tergantung di udara.
Deru nafas penuh amarah terus terdengar dari mulut —- Sandra. Apalagi tatapan kelam wanita itu, merah bagaikan seekor predator betina yang selalu melindungi anaknya. Wajah merah kelam dengan dipenuhi keringat yang keluar dari pori-pori kepalanya. Rambut yang semula rapi kini terlihat begitu berantakan.
"Kau sudah gila, ingin membunuhnya!" Bentak rekan kerja Sandra yang seorang pria.
Rekan lainnya kini membantu atasan mereka yang terlihat pucat pasi dengan tubuh gemetar takut, melihat amukan mengerikan — Sandra.
Sandra masih melayang tatapan tajam menakutkan kepada —- nyonya Belleza, membuat wanita dewasa itu bergidik ketakutan.
"Usir dia dari, sini," perintah nyonya Belleza dengan nada bergetar takut.
Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik pakaian karyawan lain.
"Sebaiknya, kita bawa saja dia ke kantor polisi," timpal salah satu karyawan yang — selalu mencari masalah dengan, Sandra.
"Kamu benar, bawa dia ke kantor polisi. Aku akan menuntutnya yang sudah berani berlaku kasar kepadaku," sahut nyonya Belleza menggebu.
Sandra masih terdiam dengan tatapan tajamnya, ia seakan tidak peduli ucapan orang-orang di sekitarnya, ia hanya mencoba menetralisir emosinya yang kini sedang menggebu dan segera untuk di lampiaskan.
"Seret dia dan lemparkan dia ke dalam penjara buruk!" Bentak nyonya Belleza kepada pria yang berada di belakang — Sandra.
Sandra merespon ucapan nyonya Belleza, namun ia tidak merasa terancam. Ia tetap dengan raut wajah kelamnya dengan tatapan dingin mengerikan.
Pantang, baginya untuk menghibah kepada wanita arogan di depannya, Sandra lebih memilih, berada di balik jeruji besi daripada harus memohon sambil berlutut di depan sang atasan.
Sandra hanya menampilkan wajah datarnya, saat digiring oleh beberapa rekan kerjanya di restoran itu. Yang akan membawanya ke kantor polisi.
Sandra melirik tajam kepada seorang wanita seusianya yang memberikan senyum licik kepadanya. Juga yang lainnya terlihat bahagia atas apa yang menimpanya sekarang.
"Aku bersumpah, akan membuatmu membusuk di dalam penjara," teriak nyonya Belleza.
Sandra diam dengan pikiran kemana-mana. Ia terus mengelus perutnya, beruntung sang calon bayi begitu tenang, saat dirinya memberikan nyonya — Belleza pelajaran.
Sandra sekarang berada di dalam mobil box khusus, pengantar pesanan makanan. Ia kini diapit oleh dua orang rekannya dan salah satu dari mereka berada di balik kemudi.
…………
"Nak!" Seru suara tua penuh kekhawatiran juga kesedihan.
Sandra yang sedang duduk termenung di dalam sel tahanan, menoleh. Ia memberikan senyum baik-baik saja kepada, nenek Grace juga kakek Benjamin.
Sandra mencoba berdiri dari duduknya di atas sebuah lantai dingin dan bau. Ia kini melangkah dengan hati-hati membawa perut besarnya mendekati, pasangan suami-istri di depannya.
"Kalian di sini," sahut Sandra dengan nada lirih. Tidak lupa, senyum penuh kegetiran ia perlihatkan.
"Kami mendapatkan kabar dari, Amanda," jawab sang kakek sambil menenangkan istrinya yang terus menangis. Tidak tega melihat keadaan Sandra yang begitu menyedihkan.
"Aku baik-baik saja, nek. Dia juga," ucap Sandra yang masih memamerkan senyum tanpa bebannya dan matanya terarah kepada perutnya.
"Bagaimana, kamu bisa setenang ini nak. Masih bisa tersenyum," ujar sang nenek yang semakin terisak.
Sandra meraih telapak tangan tua, nenek Grace yang berada di jeruji besi di depannya, ia mencium telapak tangan itu penuh sayang juga ketulusan.
"Aku hanya butuh dukungan kalian dan aku, akan baik-baik saja," jawab Sandra dengan suara parau.
"Kakek akan mencoba mengeluarkan mu dari sini, nak," timpal sang kakek.
Sandra menggeleng kepalanya dan tersenyum tipis. "Kakek jangan melakukan apapun demi diriku lagi," ucap Sandra.
Sang kakek pun hanya diam dengan segera membalikkan badannya, pria tua itu juga merasa tidak tega melihat keadaan — cucu angkatnya.
"Percayalah, aku akan baik-baik saja dan juga menjaganya," timpal Sandra yakin.
Tangan nenek Grace terulur, untuk menyentuh perut besar Sandra, mengelusnya dengan lembut. Nenek Grace juga mengajak janin, Sandra berbicara dengan lelehan air mata.
Sandra pun meneteskan air mata kesedihannya yang sejak tadi terkumpul di dalam rongga dadanya hingga membuatnya sesak dan ngilu.
"Apa kau tidak merasakan sakit, nak?" Tanya nenek Grace dengan sisa tangisan masih terdengar.
"Aku hanya merasakannya sebentar," sahut Sandra.
"Kau harus meminta bantuan seseorang, apabila kau merasa sakit," nasehat nenek Grace.
"Iya, nek!" Jawab Sandra.
"Nenek merasa kau akan segera melahirkan, lihat," ucapnya sambil memperhatikan bentuk perut Sandra yang semakin ke bawah.
"Dia semakin kebawah," lanjut nenek Grace.
"Dia akan selamat dan aku akan melindunginya," sela Sandra yang mengetahui tatapan kegelisahan pasangan suami-istri di hadapannya.
"Kami percaya."
Ketiganya pun saling bertatapan dengan mata berkaca-kaca. Kedua pasangan itu begitu sakit melihat — kehidupan Sandra yang penuh kesulitan juga kesedihan.
Keduanya hanya bisa berdoa, agar Sandra menemukan kebahagiaannya kelak.