Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 65



Kendrick, Stella, nyonya Louis dan tuan Winston, berlari menuju kamar seorang gadis kecil berusia 5 tahun, mereka bergegas mendatangi putri cantik dari dua keluarga besar itu, saat mendengar teriakan juga tangisan.


Stella dan Kendrick membuka kasar pintu mewah di depannya dan begitu terkejut, melihat putri cantik mereka sudah berada di atas lantai dengan tubuh terkulai lemah.


Terlihat juga seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 6 tahun yang sejak tadi menangis dan berteriak tidak jelas.


Stella segera mendekati putrinya juga Kendrick. Wajah kedua begitu pucat dengan seluruh tubuh dingin.


"Queen, bangun nak!" Seru Stella. Mencoba menyadarkan putri dengan wajah panik juga tangan wanita itu bergetar.


"Princess daddy, bangunlah," timpal Kendrick yang segera memindahkan tubuh lemah putrinya di atas ranjang mewah.


Sedangkan, nyonya besar Louis dan tuan Winston kini menatap nyalang kepada bocah laki-laki yang memiliki wajah khas anak-anak terkena down sindrom. Juga fisik yang sempurna namun terdapat kelainan kepada kedua kakinya.


"Apa yang kau lakukan dengan cucuku, hah!" Nyonya Louis membentak anak laki-laki itu dengan suara lantang, yang merupakan cucu kandungnya sendiri.


Hanya karena memiliki fisik yang tidak sempurna, anak laki-laki itu terkucilkan di sebuah paviliun khusus bersama para pelayan.


"Kenapa dia bisa berada disini? Sudah berapa kali aku katakan, dia tidak boleh keluar dari tempatnya dan membuat keluarga ini malu!" Kendrick menatap dingin putra kandungnya sendiri dan berteriak nyaring. Membuat bocah laki-laki malang itu ketakutan dan mengucapkan kata-kata yang tidak seorang pun memahaminya.


Bocah laki-laki itu terlihat, berjalan tertatih ke arah Kendrick yang sedang menciumi putrinya. Saat ingin menyentuh pria yang merupakan ayah kandungnya, tubuh bocah laki-laki itu terhempas di atas lantai saat, Kendrick dengan kasar menyerakkan tangan putrinya.


"Jangan menyentuhku!" Teriak Kendrick nyalang. Pandangannya begitu menjijikkan kepada putranya sendiri.


Bocah itu hanya bisa menangis dan berusaha merangkak mendekati Kendrick. Bocah laki-laki itu hanya ingin menjelaskan dan meminta maaf karena sudah lancang memasuki Mansion dan ingin bertemu dengan saudarinya.


"Lepaskan!" Kendrick menarik kakinya yang sudah di pelukan oleh putranya itu dan mendorongnya kasar menggunakan kakinya.


Bocah itu pun menangis kencang, ia hanya ingin menyentuh ayah kandungnya untuk merasakan kehangatan seorang daddy yah tidak pernah ia rasakan.


"DIAM!" Bentak Stella.


Wajah wanita itu begitu marah dan semakin marah saat melihat wajah anak tirinya itu.


"Diam kataku! Teriak Stella dengan kencang.


Tuan Winston segera menenangkan putrinya itu yang terlihat frustasi. Sedangkan nyonya Louis menarik kasar cucu laki-lakinya keluar dari kamar cucu kesayangannya.


"Tenanglah, nak. Sebentar lagi dokter akan segera datang," ucap tuan Winston mencoba menenangkan putrinya dan menatap cucu kesayangannya dengan wajah sedih.


Kendrick pun terlihat panik, ia terus terlihat mondar-mandir di dekat ranjang putrinya. Ia tidak menginginkan kondisi putrinya kembali memburuk.


Putrinya kini dalam keadaan sangat mengkhawatirkan. Setiap minggunya harus melakukan pengobatan rutin untuk mencegah penyakit mematikan yang dialami sang putri.


Mereka belum menemukan pendonor sumsum tulang belakang untuk putri kecil mereka. Membuat mereka begitu was-was.


Tuan Winston dan Kendrick, masih terus mencari keberadaan Sandra dan putrinya itu yang kebetulan DNA putrinya dengan Aurora sangat cocok dan besar kemungkinan, sumsum tulang belakang mereka pun cocok.


Mereka sudah melakukan tes DNA dengan putra Kendrick yang cacat, sebenarnya sumsum tulang belakang putranya sangat cocok dengan sang putri, namun dokter tidak menjamin keselamatan hidup bocah laki-laki itu.


Stella dan Kendrick sempat berpikir egois dengan merelakan nyawa, putranya untuk menyelamatkan putri tercintanya.


Beruntung, Cindy menolak keras, bagaimana pun ia seorang ibu yang tidak mungkin kehilangan darah dagingnya yang sudah ia melahirkan, susah payah.


Wanita itu menolak sang putra, menjadi tumbal keegoisan Kendrick dan Stella. Cindy mengekang mereka dengan ancaman penyebaran informasi nama baik keluarga suaminya itu.


"Dasar anak cacat! Keluar," nyonya Louis mendorong tubuh cucunya kasar, membuat bocah malang itu terbentur di dinding.


Bocah laki-laki malang itu hanya bisa menangis dengan perkataan yang tidak dimengerti oleh orang lain.


Nyonya Louis menoleh dengan wajah datar, ia melihat suaminya dan Cindy berjalan mendekat.


"Lewis!" Seru Cindy. Meraih tubuh lemah putranya yang menangis terisak.


"Mommy, apa yang kamu lakukan. Dia juga cucumu," ujar Cindy yang tidak bisa menyimpan kesedihan, melihat kening putranya terluka.


Cindy tidak bisa melakukan apapun untuk bisa melindungi putranya dari sikap arogan suami dan ibu mertuanya. Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa, saat mereka mengucilkan putranya yang malang, hanya terlahir tidak sempurna.


"Dia bukan cucuku. Dia hanya pembawa sial dan pengaruh buruk kelak untuk cucu kesayanganku. Dasar, bocah tidak bisa diandalkan. Seharusnya dia menjadi tumbal untuk cucu yang terlahir sempurna, tidak seperti dia yang cacat dan buruk rupa." Nyonya Louis begitu mencemooh cucunya sendiri dengan perilaku Arogan.


"Melinda!"


"Mommy!"


Cindy dan tuan besar Louis terlihat tidak terima dengan ucapan wanita itu. Nyonya Louis hanya mencebikkan bibirnya.


"Dia adalah seorang monster," lanjutnya dan menatap hina kepada cucu laki-lakinya.


"Cukup, mom!" Pekik Cindy dengan wajah kesedihan.


Bagaimanapun hatinya akan hancur putranya dihina dan direndahkan oleh seorang nenek dari putranya.


"Cukup, dia hanya seorang anak yang malang. Siapapun tidak ada yang terlahir dengan kondisi seperti ini. Mungkin dia memang jauh dari sempurna, tapi dia tetap darah daging seorang Louis dan anda tidak bisa mencegah itu. Lihatlah, dia anak yang terlahir spesial. Coba anda menatapnya dengan hangat sekali saja." Cindy begitu terluka. Ibu manapun akan hancur melihat darah daging kita di kucilkan.


"Jangan pernah berharap. Dia hanya seorang putra cacat dan membuat keluarga kehilangan wajah dari orang luar," sahut nyonya Louis dengan gaya sombong.


Anak laki-laki itu terdengar masih terisak di pelukan ibunya dan menatap takut ke arah sang granny.


"Kenapa kalian begitu kejam dan tidak adil. Ingatlah, setiap perbuatan akan selalu ada mendapatkan imbalan nya. Jangan sampai sikap angkuh anda kepada cucu sendiri mendapat kutukan," Cindy berkata sambil menatap lancang, mertuanya itu.


Nyonya Louis ingin melayangkan tamparan kepada Cindy, tapi segera dicegah oleh tuan besar Louis.


"Melinda, cukup!" Sentak tuan Louis dengan nada datar.


"Dia sudah melukai cucu kita, Queen," ujar nyonya Louis.


"Dia juga cucuku," jawab tuan Louis sambil meraih tubuh cucu laki-lakinya.


"Cih, itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan pernah mengakuinya." Nyonya Louis pun kembali ke kamar cucu kesayangannya dan meninggalkan Cindy juga suaminya.


"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya tuan Louis kepada cucunya.


Bocah laki-laki itu menggeleng kepalanya dan terus menangis. Cindy dengan setia menenangkan sang putra.


"Kenapa kamu bisa berada di sini, nak?" Cindy bertanya dengan menggunakan gerakan tangan.


Bocah itu pun membalasnya dengan kata-kata sulit diartikan, namun gerakan tangannya mampu dimengerti oleh Cindy dan tuan Louis.


"Lainnya kali kamu harus mengatakan kepada, mommy," ucap Cindy lembut. Nada suaranya terdengar tercekat perih. Melihat nasib putranya. Terlahir dari keturunan terpandang, namun tidak menjamin kehidupan layak putranya.


Bocah laki-laki itu hanya kembali mengangguk dan memeluk sang mommy. Tuan Louis pun begitu sakit melihat nasib cucu laki-lakinya.


Bocah laki-laki itu hanya ingin bermain dengan saudarinya dan ia begitu menyayangi adiknya. Mereka sering bermain secara sembunyi-sembunyi, apabila sang penguasa Mansion tidak ada di sana.


Bocah itu hanya ingin Mendokan adiknya yang sedang sakit, namun baru memasuki kamar, ia melihat adiknya terkapar di lantai dan ia pun berteriak histeris karena terkejut juga ketakutan.