
"Apa kalian sudah memberikan mereka balasan?" Sosok remaja tampan penuh kharisma pemimpin, terlihat menatap tajam ke depan. Pandangannya begitu dingin juga raut wajahnya yang begitu datar.
Nada suara berat penuh ketegasan yang setiap perintah harus segera dilaksanakan. Erland kini berada di Mansion pribadinya yang bangunan terlihat, layaknya istana.
Remaja laki-laki itu sedang menunggu laporan pengawal pribadinya, yang diberikan tugas untuk membalas keluarga sombong yang sudah berani menyentuh miliknya.
"Sudah, yang mulia," sahut sang pengawal pribadi. Tubuh setengah membungkuk untuk menghormati sang pangeran mahkota.
"Hum!" Gumam Erland dan membalikkan tubuhnya yang tinggi dan tegap itu.
"Apa dia terluka?" Tanya Erland kembali. Tatapan remaja itu seketika menajam ke arah pengawalnya.
Sang pengawal hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, ia takut mengatakan sesuatu tentang kondisi — gadis milik tuannya itu.
"Katakan!" Erland berkata penuh penekan.
"Hanya di wajah dan sudut bibir," sahut pengawal itu dengan terbata takut.
"Plak!" Satu tamparan mengenai wajah datar pengawal itu dan sudut bibirnya terluka.
"Aku akan memenggal kepalamu, apabila kau lalai menjaganya," ujar Erland dingin. Tatapan remaja tampan itu begitu dingin.
"B-baik, yang mulia," sahut sang pengawal pribadi. Pria itu menahan rasa sakit di pipinya dan sudut bibir. Ia menerima semua hukuman tuannya karena ini merupakan kesalahannya yang lalai mengawasi, gadis milik sang pangeran.
"Aku ingin, tangan yang ia gunakan melukai gadisku, menghilang dari anggota tubuhnya." Erland memberikan titah yang tidak terbantahkan.
"Baik, yang mulia." Sahut sang pengawal.
Setelah memberikan perintah mutlak kepada pengawalnya, Erland berjalan keluar meninggalkan ruangan pribadi yang begitu mewah.
Ia berjalan menuju pintu keluar Mansion, dengan ratusan pelayan yang berjejer rapi di setiap lorong Mansion. Tidak lupa, beberapa pengawal pribadi handal, dengan setia mengikuti di belakang, remaja bangsawan.
"Pangeran!" Seru seorang wanita berusia setengah baya dengan tampilan anggun dan berkelas, menyambut Erland.
Erland yang sudah melewati wanita berwajah cantik itu dan terlihat dua wanita lain yang berbeda usia.
Erland menghentikan langkah gagahnya dan membalikkan badan, ia hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun kepada ketiga wanita di depannya.
"Selamat pagi, pangeran!" Sapa wanita lain yang sebaya dengan wanita sebelumnya. Sambil memberikan penghormatan. Disusul oleh gadis yang seusia dengan Erland.
Erland tidak membalas sapaan akrab dan ramah mereka, remaja laki-laki itu, tetap dengan ekspresinya, datar.
Ketiga wanita di hadapannya hanya saling melempar senyum canggung, karena tidak mendapatkan respon hangat.
Sunyi, hanya kebisuan dan tatapan dingin yang menjawab, pertanyaan wanita itu.
"Sebaiknya, anda Sarapan terlebih dahulu. Kami sudah menyiapkan sarapan istimewa untuk anda. Nona Isabelle memasak makan khusus untuk anda." Wanita itu berkata dan terus memamerkan senyumnya dan merangkul pundak gadis remaja di sampingnya.
Kembali, Erland hanya diam dan tidak tertarik sedikitpun. Remaja itu pun tidak tertarik melirik gadis yang sejak tadi tersenyum malu.
Karena suasana begitu canggung, wanita yang berpenampilan mencolok itu, ingin menyentuh tangan Erland. Namun segera ditepis oleh remaja itu.
"Jangan pernah berani menyentuhku. Anda bukan siapa-siapa disini dan anda tidak berhak mengaturku ataupun bersikap akrab kepadaku." Erland pun mengeluarkan sebuah kata-kata yang membuat ketiga wanita itu terdiam.
"Tapi aku adalah, istri Ayahmu. Raja Dallin Harrison," sahut wanita itu. Wajahnya begitu pias menahan rasa malu.
Erland terdengar berdecak dan melempar tatapan remeh kepada wanita seusia ibunya itu.
"Ingat, kau hanyalah seorang selir. Berbeda dengan seorang istri. Kamu tidak jauh bedanya dengan wanita murahan." Bisik Erland dengan penuh suara penekanan.
Wajah remaja itu bahkan begitu mengerikan, ia memberikan tatapan elang mematikan kepada kedua wanita beda usia depannya.
Membuat keduanya bergetar ketakutan, gadis remaja itu bahkan berubah pucat.
"Lain kali jangan membiarkan orang asing memasuki wilayah pribadiku." Erland kini, melempar tatapan tajam kepada kepala pelayan.
Kepala pelayan pun turun bergetar ketakutan. Begitu juga para pelayan lain yang tidak berani mengangkat kepala.
Erland terkenal kejam. Ia tidak akan mentolerir kesalahan walaupun sedikit. Erland bahkan tidak berpikir dua kali untuk melenyapkan nyawa seseorang yang berani menyinggungnya.
"Lemparkan mereka. Bersihkan jejak mereka dari wilayahku ini." Erland memberikan sebuah titah yang segera dilaksanakan oleh seluruh pelayan.
Ketiga wanita itu pun segera ditarik paksa dan di lempar melalui pintu terowongan bawah tanah.
Sedangkan Erland kini berjalan ke arah bangun tersendiri yang merupakan tempat, deretan mobil mewah, berharga fantastis di dalam sana. Terlihat juga dua kendaraan udara yang terparkir di landasan pribadi milik pangeran Erland.
Kali ini pangeran berwajah tampan itu memilih kendaraan sport berwarna hitam pekat, yang terdapat sebuah lambang kuda di jok depan mobil itu.
Dengan sigap, sang pengawal membuka pintu mobil itu ke atas. Mempersilahkan sang calon penguasa memasuki mobil sambil membungkuk badannya.
Setelah yakin dengan keamanan sang pangeran, pengawal itu pun siap untuk melajukan mobil berharga selangit itu membelah jalan sepi di kawasan Mansion milik pangeran Erland.
Diikuti beberapa mobil mewah khusus pengawal lainnya di belakang. Sebagai seorang putra mahkota, Erland senantiasa dalam penjagaan ketat.