Mommy, My Angel

Mommy, My Angel
bab 81



Helikopter yang akan digunakan tuan Winston dan nyonya Louis kini mulai mendarat. dari kejauhan, terlihat tuan Winston berjalan dengan langkah pincang, sementara nyonya Louis terlihat menyeret paksa Aurora yang berusaha memberontak.


"Lepaskan saya, nyonya. Biarkan saya bersama mommy." Aurora peregangan di sebuah pot bunga hias besar, membuat nyonya Louis kesusahan.


"Dasar gadis sialan!" Maki wanita setengah baya itu dan menarik rambut Aurora.


Refleks Aurora melepaskan pegang tangannya sambil menahan tangan nyonya Louis di belakang kepalanya yang begitu terasa sakit.


"Sakit," rintih Aurora.


"Mommy, sakit," ucap Aurora sambil menangis, gadis kecil itu di tarik kasar mendekati helikopter dengan rambut yang terikat di genggaman dan ditarik oleh nenek biologisnya sendiri.


"Diam!" Bentak nyonya Louis dan mendorong Aurora saat berada di dekat helikopter.


Aurora pun kembali terbentur oleh bebatuan di atas tanah yang di tumbuhi rumput hijau.


Suara gadis itu semakin kencang, membuat nyonya Louis begitu emosi bercampur geram.


Sedangkan tuan wiston mengarah co pilot untuk segera meninggalkan tempat tersebut, sebelum Sandra dnw yang lain dapat menyusul mereka.


"Mommy, sakit!" Teriak Aurora kesakitan, ketika dengan kejinya, nyonya Louis menarik rambut Aurora untuk berdiri.


"Diam, gadis terkutuk!" Gertak nyonya Louis dengan raut wajah begitu emosi.


Dengan kesabaran yang minim, nyonya Louis bersiap mengayunkan salah satu telapak tangannya untuk memukul — Aurora.


Gadis kecil itu hanya bisa terdiam dengan tangisan pilu, ia tidak bisa melihat pergerakan nenek biologisnya itu.


"Dor, akh!" Sebelum telapak tangan nyonya Louis, menyentuh wajah mungil Aurora, sebuah peluru panas kini tepat, bersarang di telapak tangannya.


Nyonya Louis berteriak histeris saat merasakan begitu kesakitan di telapak tangannya, wanita itu bahkan meluruh ke atas tanah dengan wajah menahan rasa sakit.


Erland menatap semuanya dengan tajam, apalagi melihat kondisi gadis kecilnya yang penuh dengan luka dan tangisan kesakitan.


Erland mengencangkan kedua sisi rahangnya, rasanya belum cukup ia mengeluarkan peluru untuk wanita yang sudah menganiaya gadis kecil miliknya itu.


"Aurora!" Teriak Sandra, di tengah kebisingan suara helikopter.


Tuan Winston menjadi panik dan segera mendekati Aurora, lantas kembali tubuh mungil itu ditarik paksa mendekati helikopter.


Nyonya Louis pun kini di tuntun oleh salah satu anak buah sewaannya yang masih tersisa.


"Mommy!" Teriak Aurora, saat berhasil dimasukkan paksa ke dalam helikopter.


Sandra dan yang lain berusaha mendekati helikopter yang siap untuk terbang itu.


Sandra semakin berlari kencang, disusul Erland. Wanita itu segera merebut senjata api yang Erland miliki, lalu menempatkan sasarannya kini di kepala, pilot yang akan menerbangkan helikopter itu.


Tembakan pertama gagal, Sandra lalu berlari sambil menembak senjata api, helikopter pun mulai bergerak dan … "dor" sang pilot pun seketika mati saat mendapatkan tembakan kedua.


Nyonya Louis dan tuan wiston menjadi panik, saat helikopter itu yang sudah berada di ketinggian satu meter dan sang pilot kini tak bernyawa.


"Maaf saya tuan, saya tidak mengerti melakukannya," timpal sang penjahat.


Tuan Winston pun, hanya bisa mengerang kesal dan nyonya Louis mulai terlihat panik berada di ketinggian satu meter.


Sandra mencoba melompat ke atas helikopter dan wanita itu berhasil, di susul Erland yang segera mengenali helikopter tersebut.


Tanpa, aba-aba Sandra memukuli wajah ayah biologisnya dan begitu juga dengan nyonya Loius.


Pria penjahat yang tersisa, mencoba menyerang Sandra dengan senjata api.


Sandra yang pergerakannya begitu gesit, mampu menyerang kembali pria itu dengan tendangan kuat dan senjata tajam pria itu kini Sandra gunakan untuk mengiris leher sang penjahat.


Nyonya Louis hanya bisa berteriak histeris melihat darah mengenainya, ia segera melepaskan Aurora ke samping dan ia segera meloncat keluar dari helikopter.


Erland kembali mendatarkan helikopter itu dan mengamankan Aurora, sebelumnya ia membiarkan tamparan kepada nyonya Louis yang begitu ketakutan.


"Lepaskan, kalian akan menyesal. Sudah membuatku seperti ini, akh!"


"Kau, berani-beraninya kau menamparku wanita murahan!" Gertak wanita yang kini penampilan anggunnya menjadi berantakan.


"Aku bahkan sangat wajib membunuh anda," sahut Cindy, wajah wanita itu dipenuhi dendam dan Lewis terlihat bersembunyi di belakang tubuh mommynya.


"Kurang ajar," pekik nyonya Louis, lantas bangkit dengan wajah kacau, salah satu tangannya kini terlihat begitu buruk.


"Akh" wanita berusia 49 tahun itu, kembali berteriak saat Cindy sengaja menggenggam kuat telapak tangan wanita itu.


Bukan itu saja, Cindy bahkan menghantukkan kepala nyonya Louis di pohon besar, membuat darah ini mengalir dari pangkal kepalanya.


" Ini hukum, untuk wanita sombong dan tamak seperti anda!" Teriak Cindy dengan derai air mata, ia begitu banyak menyimpan luka sakit hati kepada sosok nyonya Louis.


Sementara Sandra berhadapan dengan ayah biologis dengan menodongkan senjata api tepat di kepala pria itu.


Tuan Winston hanya bisa terdiam dengar wajah mengkerut menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya atas pukulan Sandra yang bertubi-tubi.


Sandra menatap dengan kedua bola matanya yang merah, antara kemarahan juga air mata kesedihan.


Ayah dan anak itu kini saling menatap penuh sengit.


"Seharusnya, anda tidak perlu lagi mengacaukan kehidupan saya yang sudah anda hancurkan, sejak saya dilahirkan. Apakah tidak ada perasaan bersalah anda kepadaku yang sejak dulu tidak diinginkan? Setidaknya berpura-puralah, tidak mengenalku daripada anda harus mengusik kehidupanku lagi." Sandra menurut senjata api di tangan, namun tuan wiston tidak dapat kembali bergerak, saat kedua kakinya sudah dilumpuhkan.


"Haruskah, aku membunuh anda, apakah aku harus melakukannya, hah!" Pekik Sandra begitu terpukul.


"Akh! Sandra berteriak sambil menarik tuan Winston keluar dari helikopter dan menghempaskan nya di tanah.


Austin hanya bisa menatap wanitanya yang sedang kacau sambil mengawasinya. Sementara Erland segera membawa Aurora untuk mendapatkan pertolongan dengan bantuan Gracia.


Cindy masih mengawasi ibu mertuanya yang sejak dulu begitu kejam, kepadanya.


Semuanya begitu terkejut, saat Sandra mengarahkan senjata api ke atas langit dan mengeluarkan peluru senjata bertubi-tubi, berteriak, mengeluarkan sesak yang selama ini ia tahan.


Tuan Winston masih diam dengan wajah datarnya, pria itu tidak bisa melakukan apapun lagi saat ini.


"Seharusnya, anda tidak menampakkan wajah di hadapan saya, membuat luka ini kembali sakit dan sesak," ucap Sandra lirih sambil memukul dadanya yang begitu menyesakkan.


Hati mana tidak begitu sakit, melihat sosok ayah yang selama ini begitu ia rindukan, harus melakukan hal yang membuat rasa kebencian itu hadir kembali.


Sosok ayah yang seharusnya ia kagumi sejak dulu dan mendapatkan pelukan hangat, namun sosok yang ia dambakan begitu, picik kepadanya.


Apakah pria di hadapannya ini, begitu mati rasa kepadanya? hingga tidak ada sedikitpun perasaan ibah dan bersalah terhadapnya.


Orang mengatakan, hubungan batin seorang ayah dan anak perempuannya begitu kuat, membuat ayah yang sudah lama tidak bertemu dengan putrinya akan merasakan kehangatan.


Namun apa yang ia dapatkan, hanya perlakuan yang begitu menyesakkan dada — Sandra.


"Kau harusnya membunuhku saja, daripada aku harus diperlakukan seperti ini," ucap tuan Winston dengan nada dingin.


Sandra kembali tertawa getir, mendengar ucapan ayah biologisnya. Apa kedudukan pria itu lebih penting, dari keturunannya?


"Saya bukan seorang pembunuh dan licik seperti anda. Saya masih memiliki perasaan kemanusiaan, teruntuk anda adalah, sosok ayah buat saya, tidak mungkin saya, membunuh ayah kandung sendiri.


"Biarlah, sang penguasa langit yang menghukum perbuatan kalian. Bagaimanapun, saya tidak mungkin melakukannya, saya harus memberi contoh baik kepada putri kecil saya, agar kedepannya hidupnya akan lebih baik," Sandra mengungkapkan segala perasaannya kepada ayah biologisnya.


Bagaimanapun ia adalah seorang anak dan tidak mungkin membunuh ayahnya sendiri. sebesar apapun ia membenci ayahnya, Sandra tetap menjaga kewarasan dan hatinya yang tulus.


Tuan Winston adalah ayahnya, karena pria itu ia bisa hidup di dunia, meskipun ia harus menderita, Sandra bisa bersyukur dan kini memiliki putri yang sangat ia cintai.


Biarlah, kesalahan ayah biologisnya, Tuhan yang membalas nya. Ia hanya bisa menunggu waktu itu datang.


"Semoga kedepannya, anda tidak mengganggu kehidupan kami lagi," ucap Sandra dan meninggalkan tuan Winston yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kedua kakinya yang terluka oleh tembakan.


Austin segera menuntun wanitanya itu dan Cindy mengikuti dari belakang.


Nyonya Louis kini tidak sadarkan diri dan tuan Winston hanya bisa menatap kepergian Sandra dengan tatapan sulit diartikan.


"Kembalikan mereka dan buat hidup mereka susah. Sebarkan perbuatan tercela mereka yang telah kamu dapatkan. Jangan biarkan dari keluarga mereka menginjakkan kaki, wilayah kekuasaanku!" Austin menghampiri asistennya dan memberikan perintah yang begitu mutlak.